Malam itu, Lorena—seorang perawat yang lelah membanting tulang demi menghidupi rumah tangganya—menemukan seorang pria sekarat berlumuran darah di tepi jalan, dan memilih menyelamatkan nyawanya. Ia tak pernah tahu bahwa pria itu adalah Ravi Dumont: penguasa kasino, seorang Don mafia yang dingin, dan sejak malam itu, terobsesi hanya pada satu perempuan—dirinya.
Ketika suami Lorena yang kecanduan judi terjerat utang setengah juta euro, ia memberikan satu-satunya "harta" yang tersisa untuk melunasinya: istrinya sendiri. Dalam sekejap, Lorena berpindah dari pernikahan yang menghancurkan ke tangan pria yang bersumpah takkan pernah melepaskannya.
Ravi bisa mendapatkan apa pun yang ia mau. Ia membelikan Lorena rumah sakit, menaburinya dengan kemewahan, memujanya seperti ratu—tapi cinta tak bisa dibeli, dan hati Lorena penuh amarah pada pria yang menjadikannya barang dagangan. Di balik senyum tenang Ravi tersembunyi sisi tergelap seorang mafia: kejam pada dunia, namun memuja perempuannya dengan obsesi yang berbahaya.
Di antara kilau meja judi, ancaman para pengkhianat, rahasia keluarga, dan gairah yang perlahan membakar segala pertahanan, kebencian mulai berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih menakutkan: keinginan untuk tinggal.
Bisakah cinta tumbuh dari sebuah transaksi? Bisakah seorang perempuan yang pernah dijual belajar mencintai pria yang membelinya—dan bisakah sang Don yang tak kenal ampun membuktikan bahwa perempuannya bukan lagi harta yang dimiliki, melainkan satu-satunya hal yang tak sanggup ia hidupi tanpanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dayane Castro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
POV Lorena
Sebelumnya...
Aku menggedor pintu sampai kedua tanganku mulai terasa sakit, memintanya mengeluarkanku dari sini, aku tak percaya dia akan membiarkanku terkurung di sini. Tapi, aku sadar dia memang akan melakukannya, saat beberapa menit berlalu dan dia tak kunjung kembali.
"Sial, Jorge, kenapa kau tak bisa bersikap benar, kenapa kau tak menjalani hidupmu sendiri, setelah mengacaukan hidupku?" Kataku sendirian, lalu duduk di atas kasur yang tergeletak di lantai ruang bawah tanah.
Aku terus teringat pertama kali kami bertemu, aku sedang kuliah keperawatan dan dia bekerja di kantin. Setiap kali membeli sesuatu untuk kumakan, aku menerima catatan manis darinya. Jorge memang tak bisa berpikir jernih soal judi, tapi dia bukan pria jahat. Dia membuatku jatuh cinta justru karena kesederhanaannya. Dia tak pernah memberiku barang mahal, tapi dia memberiku hadiah dari hati.
Ravi belum juga membunuhnya karena aku selalu memohon untuknya, bukan karena aku ingin kembali dengan Jorge, tapi karena itu sebuah nyawa. Hanya orang yang bekerja di rumah sakit yang tahu bagaimana rasanya melihat seseorang dengan penyakit terminal berjuang untuk hidup. Menyakitkan mengetahui bahwa seseorang akan merenggut nyawa orang lain tanpa sedikit pun peduli betapa berharganya sebuah kehidupan. Kalau ada yang bertanya apakah aku punya prasangka terhadap jenis orang tertentu, akan kujawab: para pembunuh, yang menganggap diri mereka Tuhan yang berhak mencabut nyawa orang lain.
Aku menyandarkan punggung ke dinding, menekuk kedua kakiku, memeluk lututku sambil memikirkan apa yang telah kuperbuat pada hidupku. Entah sudah berapa lama berlalu, tapi pintu terbuka dan ibunya masuk.
"Kita makan siang, yuk, Lorena?" Aku menggeleng. "Kau harus makan. Aku tak tahu apa yang telah diperbuat Ravi sampai membuatmu terkurung di sini, tapi kau tak boleh berhenti menjalani hidup gara-gara dia."
"Aku sudah menikah sebelum mengenal putramu." Aku mulai bicara tanpa penyesalan sedikit pun. "Mantan suamiku suka berjudi, dan begitulah cara Ravi membuatnya terlilit utang. Lima ratus ribu adalah jumlah utangnya, dan satu setengah juta adalah nilai yang dia bayar untuk mendapatkanku." Dia mendekat ke arahku dan duduk di kursi di hadapanku.
"Dia pergi untuk membunuh mantanmu?" Aku mengangguk. "Lorena, aku ingin bisa bilang bahwa ini hal serius, tapi ini normal di dunia kami. Terutama Ravi, yang membunuh tanpa penyesalan. Sudah kuberi tahu bagaimana sifatnya, sudah kuperingatkan kau, tapi kaupikir aku berbohong. Dia mungkin punya sisi baiknya, tapi dia tak akan pernah berhenti menjadi si haus darah seperti sekarang. Ayo ke dapur, kau ceritakan lebih banyak padaku sambil makan sesuatu."
"Aku tak lapar, tapi terima kasih." Kutundukkan kepala, menyembunyikannya di antara kedua lenganku. Dulu kukira dia ingin membuatku mengurungkan pernikahan ini, mungkin karena ingin teman masa kecil Ravi itu yang menikahinya. Tapi sekarang aku mengerti dia hanya memperingatkanku.
"Satu-satunya cara membatalkan pernikahan adalah kalau kau tidak hamil. Tapi, itu pun harus dia yang membatalkannya. Kalau dia tak mau, kau akan tetap menikah dengannya selamanya. Aku sungguh turut sedih atas apa yang kaualami, sungguh."
Kutarik napas dan kuembuskan perlahan. Dia bangkit dan keluar dari ruang bawah tanah, meninggalkanku di sini bersama pikiran-pikiranku. Jam demi jam berlalu, dan aku masih di sini meringkuk, masih memikirkan bagaimana caranya agar Ravi tak begitu mengendalikan hidupku seperti yang sedang dia lakukan. Madre kembali masuk ke ruang bawah tanah, meninggalkan camilan untukku, sekali lagi menekankan bahwa aku perlu makan. Tapi aku sama sekali tak merasa lapar, jadi tak kusentuh sedikit pun. Sampai akhirnya dia muncul di pintu, dan begitu melihatnya, kupalingkan wajahku ke samping.
* * *
Setelah percakapan kami, aku berbaring di ranjang untuk tidur, tapi tak lama kemudian dia masuk ke kamar. Dan seolah belum cukup, dia bahkan menarikku agar tidur bergelung dalam pelukannya. Kusingkirkan tangannya dari tubuhku, lalu bangkit berdiri.
"Ayo berhenti bertengkar, mia bella, tak ada cara untuk mengembalikan apa yang sudah terjadi."
"Aku tidak sedang bertengkar denganmu, aku hanya mau sedikit ruang."
"Tak ada yang namanya ruang setelah menikah. Kita bukan lagi dua orang, kita cuma satu. Tak ada lagi kamu dan aku, yang ada hanya kita. Jadi, kembalilah berbaring di sini bersamaku, karena aku tak bisa tidur tanpa aroma tubuhmu."
"Kalau begitu kau akan tidur dengan sangat buruk malam ini, Ravi. Karena aku tak akan tidur denganmu." Kupasang sandal di kakiku, dan saat aku menuju ke arah pintu, dia bangkit dan mencengkeram lenganku erat-erat. "Kau menyakitiku, lepaskan aku."
"Kadang aku harus pakai sedikit kekerasan supaya kau paham sekali dan untuk selamanya bahwa merajuk itu tak ada gunanya sama sekali. Kita sudah menikah, dan akan begitu selamanya."
"Kau bisa membatalkan pernikahan ini, jadi batalkan saja, karena kita tak akan punya anak, aku bahkan tak sudi lagi berbaring di ranjang yang sama denganmu."
"Kita pasti akan punya anak, dan aku tak butuh ranjang untuk bercinta nikmat denganmu. Dan bahkan seandainya kau tak hamil, karena melakukan kecurangan apa pun, kita akan tetap menikah, sebab dari 4 miliar wanita, hanya kau yang menarik perhatianku, hanya karena kau aku jatuh cinta, jadi, maaf mengecewakanmu, tapi tak akan ada pembatalan. Kalau Madre menanamkan gagasan itu di kepalamu sebagai cara untuk kabur dariku, dia cuma membohongimu."
Dia menarikku kembali ke ranjang dan membaringkanku lagi. Dia berbaring di belakangku, memelukku dari belakang, membuatku benar-benar terkurung dalam lengannya.
* * *
Menjelang pagi, kurasakan dia melepaskanku dan bangkit dari ranjang. Aku bahkan tak bisa tidur sama sekali. Tapi, tak sedetik pun dia melepaskanku.
"Ganti bajumu, kita pergi hari ini, sebelum Madre makin banyak memengaruhi kepala kecilmu."
"Kita pulang ke rumah?"
"Belum tentu. Kau sudah bertemu mertua perempuanmu, sekarang aku ingin bertemu mertuaku."
"Aku tak mau ke rumah Madre-ku, sudah kubilang begitu padamu."
"Kau tak akan pergi sendirian, kau akan ditemani suamimu. Tapi jangan khawatirkan apa pun, mereka hanya akan menerima persis sebanyak yang mereka tawarkan padamu."
"Ravi, aku tak mau pergi." Kataku mengeja tiap suku kata, dan dia hanya tersenyum. Diraihnya tanganku, dan disematkannya sebuah ciuman di sana.
"Cukup percaya padaku, mia bella, aku akan melindungimu dari segalanya dan dari semua orang."