Setiap hari aku difitnah mertuaku.
_"Kamu pembawa sial! Perempuan boros!"_
Aku berharap suamiku, Arman, membelaku. Tapi ia hanya diam.
_"Maafkan Ibu, Alya. Aku gak mau jadi anak durhaka."_
Sampai akhirnya aku diusir dan diceraikan di depan anak-anakku.
_"Talak satu aku jatuhkan padamu."_
Kini aku janda dua anak, hidup dari jualan kue sambil menahan gunjingan.
Saat aku mulai bahagia dengan Farhan, mantan suamiku datang ingin rujuk.
Bukan aku yang jahat, Mas. Kenapa semua menyalahkanku?
Note :
Dilarang boom like ❌
Dilarang lompat bab ❌
Jika kalian suka dengan cerita ini,jangan lupa tinggalkan jejak dengan like ,komen dan jangan pelit-pelit untuk kasih vote & kotak hadiahnya 🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 Lamaran
Pagi itu adalah pagi yang sangat berbeda di kampung halaman Alya yang sederhana. Rumah panggung kayu milik Ayah Harun dan Ibu Lastri yang biasanya sepi dan tenang kini terlihat sangat ramai dan penuh dengan persiapan.
Sejak subuh, Ibu Lastri sudah sibuk memasak di dapur kayu bersama para tetangga. Aroma opor ayam, rendang, dan sambal goreng kentang tercium sampai ke jalan. Ayah Harun dengan baju koko putih dan peci hitamnya mondar-mandir di teras sambil menata kursi-kursi plastik yang ia pinjam dari masjid.
Hari itu adalah hari yang sudah lama ditunggu-tunggu. Hari di mana Ilham akan melamar Alya secara resmi.
Tiga hari setelah Ilham mengutarakan niatnya ke Alya akhirnya Alya memberikan jawaban.Jawaban yang ia dapatkan setelah melaksanakan sholat istikharah selama tiga malam berturut-turut. Jawabannya adalah iya, setelah itu Alya memutuskan pulang kerumah orangtuanya dikampung bersama dua anaknya .
Dan satu hari setelah kepulangan Alya ilham memutuskan untuk ke rumah orangtua alya.Ia tidak datang sendirian, ia datang secara resmi dengan membawa rombongan keluarga besar.
Tepat jam sembilan pagi, dari kejauhan terdengar suara mobil beriringan masuk ke dalam gang kecil kampung itu. Tiga mobil Avanza putih dan satu mobil pick up yang membawa hantaran berhenti di depan rumah panggung kayu milik Ayah Harun.
Pintu mobil pertama terbuka, keluar Ustadzah Munah dengan gamis hitam elegan dan kerudung putih, didampingi oleh Mbak Zahra dan Mas Fikri. Pintu mobil kedua terbuka, keluar Paman Mahmud dan Bibi Aminah, paman dan bibi Ilham dari pihak ayah yang sudah dianggap sebagai orang tua Ilham setelah ayah Ilham meninggal. Pintu mobil ketiga terbuka, keluar Ilham.
Ilham hari itu terlihat sangat tampan dan sangat berwibawa. Ia memakai baju koko putih bersih yang disetrika rapi mengenakan peci hitam beludru, sarung tenun Bugis yang melilit di pinggangnya, dan membawa sebuah kotak kayu ukir yang sangat indah di tangannya. Wajahnya yang biasanya gugup kini terlihat sangat mantap dan penuh dengan kesungguhan.
Rombongan keluarga Ilham berjalan beriringan menuju rumah Alya sambil membawa hantaran yang tertata indah. Hantaran itu bukan hantaran mewah yang berlebihan, tapi hantaran yang penuh dengan makna. Ada seperangkat alat sholat, Al-Quran terjemahan yang besar, mukena putih yang cantik, cincin lamaran perak sederhana, kue-kue tradisional, buah-buahan segar dari kebun dan uang panai yang dibungkus dengan kain sutra.
Ayah Harun dan Ibu Lastri langsung menyambut rombongan itu dengan wajah yang penuh dengan kebahagiaan dan air mata yang hampir jatuh.
"Assalamualaikum, Ustadzah, Paman, Bibi, Ilham, selamat datang, selamat datang. Silakan masuk, silakan masuk," ucap Ayah Harun dengan suara yang bergetar.
"Waalaikumsalam, Pak Harun, Bu Lastri, terima kasih banyak sudah menerima kami dengan baik," jawab Ustadzah Munah dengan senyum yang sangat santun.
Mereka semua duduk melingkar di ruang tengah rumah panggung yang sudah dihias dengan kain putih sederhana tapi terlihat sangat bersih dan rapi. Alya sendiri tidak terlihat di ruang tengah, ia berada di dalam kamar bersama Nisa dan Raffi, dengan jantung yang berdegup sangat kencang.
Acara lamaran resmi itu dimulai dengan pembacaan doa oleh Paman Mahmud.
Setelah doa selesai, Paman Mahmud sebagai perwakilan keluarga Ilham berdiri dan menyampaikan maksud kedatangan mereka dengan bahasa yang sangat santun, sangat resmi, dan sangat indah.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bapak Harun, Ibu Lastri, dan keluarga besar yang kami hormati. Pertama-tama kami ucapkan terima kasih banyak karena sudah menerima kedatangan kami dengan sangat baik pada pagi hari ini. Maksud dan tujuan kami datang ke sini pada pagi hari ini adalah untuk menjalankan sunnah Rasulullah, yaitu untuk melamar secara resmi."
Semua orang di ruangan itu terdiam dan mendengarkan dengan penuh khidmat.
"Anak kami, Ilham bin Haji Mahmud, anak bungsu dari almarhum Haji Mahmud dan Ustadzah Munah, telah menyampaikan keinginan hatinya kepada kami, bahwa ia ingin meminang putri Bapak dan Ibu, yaitu Alya binti Harun, untuk dijadikan pendamping hidupnya yang sah, menjadi istrinya yang halal, dan menjadi ibu bagi anak-anaknya kelak. Ilham juga berniat untuk menjadikan Nisa dan Raffi sebagai anak-anaknya sendiri dan akan bertanggung jawab sepenuhnya kepada mereka. Oleh karena itu, pada hari ini kami datang secara resmi untuk meminang Alya binti Harun untuk Ilham bin Haji Mahmud. Kami mohon jawaban dan restu dari Bapak Harun dan Ibu Lastri."
Setelah Paman Mahmud selesai berbicara, suasana ruangan menjadi sangat hening . Semua mata tertuju kepada Ayah Harun.
Ayah Harun yang sudah tua itu mengusap air matanya, lalu ia menatap Ilham yang duduk dengan kepala menunduk.
"Nak Ilham," ucap Ayah Harun dengan suara yang pelan tapi tegas.
"Iya pak," jawab Ilham dengan sopan.
"Bapak sudah melihat sendiri bagaimana kamu menjaga anak bapak selama diberada disana.Bapak sudah mendengar cerita dari Alya tentang bagaimana kamu menghormati Alya,Bapak juga sudah melihat bagaimana kamu menyayangi Nisa dan Raffi dengan tulus. Bapak sebagai orang tua, tidak melihat seseorang dari hartanya,Bapak melihat akhlak dan Bapak melihat akhlak kamu sangat mulia.
Ilham menunduk semakin dalam, air matanya hampir jatuh mendengar pujian itu.
Ayah Harun melanjutkan sambil menatap ke dalam kamar tempat Alya berada.
"Alya keluarlah nak, Ayah dan Ibu ingin mendengar jawaban langsung dari kamu."
Pintu kamar terbuka pelan. Alya keluar dengan langkah yang sangat pelan dan terlihat sangat gugup. Ia memakai gamis putih sederhana yang sangat bersih, kerudung putih yang menutupi dada dengan rapi, tanpa riasan sama sekali, tapi wajahnya terlihat sangat cantik dan teduh karena cahaya keikhlasan. Ia menggandeng Nisa dan Raffi yang juga memakai baju senada.
Alya duduk di samping Ibu Lastri dengan menundukan wajahnya dalam-dalam,dia tidak berani menatap Ilham.
"Alya,tadi Paman Mahmud sudah menyampaikan lamaran resmi dari Nak Ilham untuk kamu. Ayah dan Ibu sudah merestui.Sekarang Ayah tanya sama kamu,apakah kamu menerima lamaran Nak Ilham ini dan menerima dis menjadi suami kamu? " tanya Ayah Harun dengan lembut.
Alya terdiam sejenak, air matanya menetes pelan membasahi kerudung putihnya. Ia teringat semua luka masa lalunya bersama Arman, ia teringat bagaimana ia dihina miskin, diusir dan diceraikan. Dan kini, di depannya ada seorang laki-laki sholeh yang datang melamarnya secara resmi dengan membawa rombongan keluarga, dengan hantaran yang penuh makna dan dengan niat yang tulus karena Allah.
Dengan suara yang bergetar tapi terdengar sangat jelas, Alya menjawab.
"Yah, Bu, dengan bismillah dan setelah memohon petunjuk dari Allah, Alya menerima lamaran Mas Ilham, Yah, Bu. Alya menerima Mas Ilham sebagai calon suami Alya.
Jawaban Alya itu membuat seluruh ruangan langsung mengucapkan alhamdulillah dengan serempak.
"Alhamdulillah!"
Ustadzah Munah langsung menangis penuh haru dan memeluk Ibu Lastri.
Ilham yang mendengar jawaban itu langsung bersujud syukur di atas lantai kayu rumah panggung itu. Air matanya jatuh deras karena rasa bahagia yang luar biasa.
Setelah sujud syukur, Ilham maju dengan kotak kayu ukiran yang ia bawa. Ia menyerahkan kotak itu kepada Alya dengan kedua tangannya sambil menunduk.
"Mbak Alya, ini hantaran lamaran resmi dari saya. Di dalamnya ada seperangkat alat sholat, Al-Quran dan cincin lamaran. Mohon diterima, Mbak."
Alya menerima kotak itu dengan tangan yang gemetar.
"Saya terima mas terima kasih banyak."
Setelah itu, cincin lamaran perak sederhana itu dipasangkan ke jari manis Alya oleh Ustadzah Munah, bukan oleh Ilham, untuk menjaga adab. Cincin itu sangat pas di jari Alya, seolah memang dibuat untuknya.
Nisa dan Raffi yang melihat itu bertepuk tangan dengan riang.
"Yeay, Mama dilamar Om Ilham! Yeay!"
Semua orang di ruangan itu tertawa bahagia mendengar teriakan polos Nisa dan Raffi.
Hari itu, lamaran resmi Ilham kepada Alya berlangsung dengan sangat khidmat dan sederhana tidak ada musik yang keras, tidak ada pesta yang berlebihan, yang ada hanya doa, restu, air mata haru, dan kebahagiaan yang tulus.
Dan di luar rumah panggung kayu itu, di bawah langit kampung yang cerah, para tetangga yang melihat rombongan lamaran itu berbisik dengan penuh kekaguman.
"Alhamdulillah ya, Alya akhirnya dapat jodoh yang sholeh dan terhormat,setelah disakiti mantan suaminya dulu."
Bersambung