Melisa Monaco memalsukan tahun lahirnya demi mendaftar pekerjaan dengan gaji lebih tinggi, tapi tidak sepenuhnya membaca kontrak. Ternyata isi kontrak adalah persetujuan pernikahan. Ia terpaksa tetap menjalaninya sebab jika mundur sepihak maka harus membayar denda yang jumlahnya sangat besar.
Sejak pernikahan digelar, hidupnya berubah tiga ratus enam puluh derajat. Ia yang muak direndahkan, nekat berusaha merebut hati Dharma Panjalu dan membuktikan pada seluruh keluarga bahwa ia bukan perempuan yang layak direndahkan.
Dalam perjalanan membuktikan diri, ia mengalami banyak kejadian buruk. Tanpa disangka kejadian buruk yang dialaminya justru membantu keluarga itu menguak penyebab kematian istri Dharma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosella Nona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dituduh Mencuri
Selama tinggal di kamar Dharma, Melisa selalu tidur di sofa. Ia tahu diri untuk tidak ikut naik ke ranjang Dharma sebab mereka hanya pasangan suami istri dalam kertas. Keduanya juga belum pernah membahas hubungan mereka atau kesepakatan apapun selama hidup bersama.
Melisa juga tidak terburu-buru atau menuntut apapun, sejak awal tujuannya adalah gaji yang besar di lowongan kerja. Meskipun sempat berencana untuk memikat hati Dharma, sampai sekarang ia belum berminat untuk melancarkan aksinya sejauh itu. Jadi, mereka berdua sama-sama hanya tinggal dalam kamar yang sama karena terpaksa melakukan pernikahan itu kemarin.
Pagi hari, Melisa selalu bangun lebih dulu. ia terbiasa menyiapkan kebutuhannya sendiri.
“Sampai kapan ya baju-bajuku tetap dalam koper seperti itu?” gumam Melisa.
Ia berpikir untuk mengecek lemari baju Dharma, siapa tahu ada ruang tersisa untuk menyimpan baju-baju miliknya yang tidak seberapa itu.
“Cari apa?” Dharma yang tadinya masih tidur ternyata terbangun begitu mendengar suara pintu lemari terbuka dan tertutup beberapa kali.
Melisa membuka semua pintu lemari itu, lalu mulai menyusun ulang agar ada ruang untuk bajunya sendiri.
“Aku menata ulang lemarimu, agar ada sedikit ruang untuk bajuku.” Melisa tidak berniat meminta izin dahulu. Jadi, ia hanya memberi tahu Dharma apa yang sedang ia lakukan saat ditanya begitu.
Dharma sempat keheranan sebentar, lalu kembali berbalik dan menutupi tubuhnya dengan selimut tebal. Belum lama, di luar terdengar suara ribut. Ia jadi kembali membuka selimutnya dan turun dari ranjang untuk coba mencari tahu siapa yang membuat kegaduhan di rumahnya pagi-pagi begini.
Rosa dan satu pembantu lain berdebat kecil di dekat pintu kamar Dharma. Begitu ia membuka pintu, keduanya langsung diam dan saling sikut. Seperti anak sd yang ketahuan melakukan kesalahan dan saling melempar tanggung jawab untuk klarifikasi.
“Maaf, Pak Dharma. Kami bukan berniat mengganggu, tapi ada barangku yang sangat penting hilang. Sebelum-sebelumnya hanya barang sepele, tapi yang ini gelang pemberian Nona Sheila dari Edinburg. Lalu ada juga dompet baru Bu Nani yang isinya kartu-kartu penting dan sejumlah uang. Dari pada saling tuduh, kami mau membahas ini dengan seluruh penghuni rumah,” jelasnya panjang lebar.
“Maksudmu, ada kemungkinan kalau kami yang mengambil barang-barang itu?”
“Eh, bukan begitu, Pak Dharma. Masalahnya barang-barang kami mulai hilang satu per satu sejak seminggu yang lalu, itu tepat dengan lamanya Nona Melisa tinggal di sini.” Rosa mengatakan itu dengan menunduk.
Hah?
Melisa yang sedang sibuk merapikan baju-baju Dharma terkejut begitu namanya disebut-sebut. “Aku apa kamu bilang? Kalian menuduhku?”
“Maafkan kami, Nona. Bukannya menuduh, tapi ini memang sering terjadi sejak semingguan yang lalu.”
Dharma menatap Melisa.
“Apa? Kamu juga menuduhku?” Melisa kelimpungan, bagaimana ia akan membela diri kalau semua orang menuduhnya begini. Bukannya mengatakan apa-apa, Dharma juga menatapnya seolah menuduh.
“Katakan sesuatu Pak Dharma, aku kan istrimu, mana mungkin aku mengambil barang-barang pembantu? Aku bisa membeli apapun dengan uangmu, kan? Tidak masuk akal banget deh,” oceh Melisa.
“Kamu yakin sudah mencari barang-barang yang hilang itu di seluruh bagian rumah?” tanya Dharma pada dua orang pembantu itu.
“Sudah, Pak. Kami sudah coba mencari di seluruh bagian rumah, kecuali kamar Pak Dharma.”
Nah, Melisa tahu ini arahnya ke mana. Ia membuka pintu itu lebar-lebar. “Silakan. Cari sepuas kalian!” tantangnya.
Rosa ragu-ragu melangkah masuk, Pak Dharma hanya diam tanpa memberi izin apapun. Akhirnya Melisa sendiri yang menyeret kopernya keluar. Untungnya, ia belum membongkarnya tadi. Jadi lebih mudah memberi ruang kepada mereka untuk membuktikan ketidakbenaran tuduhan yang ditunjukkan kepadanya.
Ia membuka dua kopernya dan menuang semua isinya dengan geram. Bisa-bisanya ia yang jadi tersangka soal kehilangan ini. Begitu semua barang keluar dari koper, muncul dompet panjang berwarna cokelat muda yang bukan miliknya.
“Apa ini? Ini bukan punyaku.” Melisa sendiri justru yang paling terkejut. Ia tidak pernah melihat barang itu sebelumnya.
Ia melihat ke arah Dharma, berharapa laki-laki itu cukup bijak untuk menyikapi situasi ini.
“Ini sungguhan bukan milikku, Pak Dharma.” Melisa ketakutan.
Bel pintu depan berbunyi. Suaranya jadi terdengar sangat nyaring di situasi genting seperti ini.
“Permisi, Gais.” Sheila datang di waktu yang tidak tepat. Ia tersenyum menyaksikan semua orang berkumpul di depan kamar Dharma, sesuai instruksinya.
“Waw, maaf mengganggu sepagi ini. Tapi, apa boleh tahu apa yang terjadi sampai berantakan begini?” ia mendekat ke tempat keributan itu terjadi dan ikut melihat-lihat barang Melisa yang berserakan di lantai.
“Sampaikan keperluanmu atau tunggu di ruang tamu saja, Sheila. Ini urusan rumah kami.” Dharma memperingatkan Sheila untuk tidak ikut campur.
“Oke. Aku akan tunggu di sana dan tidak mengganggu kalian.” Matanya tertuju pada kotak kecil yang ujungnya sedikit tersembul dari balik tumpukan baju Melisa. Ia mengambilnya dan menunjukkan itu di wajah Dharma. “Apa ini pemberianmu? Aku sepertinya kenal kotak ini karena pernah membelinya juga.”
Rosa langsung ikut berbicara begitu kotak kecil itu muncul. “Itu milik saya, Non. Yang dari Nona Sheila kemarin.”
“Kenapa kamu berikan hadiahku pada orang lain?” tanyanya pura-pura polos.
“Bukan, Non. Itu hilang kemarin, aku sudah mencarinya ke mana-mana tidak ketemu. Jadi, coba melapor pada Pak Dharma. Aku juga tidak menyangka ternyata ditemukan di sini.”
Melisa semakin terpojok, harus bagaimana ia membela diri kalau semua barang yang dinyatakan hilang justru ditemukan bersama tumpukan bajunya begini.
“Wah wah, dari mana kamu memungut pencuri murahan seperti ini, Dharma? Memalukan.” Sheila semakin memperkeruh suasana.
Dharma yang tidak bisa percaya pada semua ini coba meredam situasi agar tidak semakin parah. “Tunggu di ruang tamu atau keluar dari rumah ini, Sheila. Aku sedang tidak menerima tamu.”
Sheila pergi dengan sebal. Begitu berbalik dan berjalan menuju ruang tamu, ia tersenyum puas melihat Melisa bersimpuh di lantai bersama rongsokan-rongsokan itu. “Rendahan sekali,” ejeknya.
Melisa berdiri. Menatap Dharma sekali lagi sambil menggeleng pelan, ia menegaskan pada laki-laki itu bahwa ia bukan pelakunya. Melisa coba memperhatikan sudut-sudut ruangan, ia begitu heran saat tidak menemukan satu pun cctv dan alat pantau lain yang terpasang di sana. Dengan apa ia akan membersihkan namanya.
“Aku bukan pencuri. Aku tidak pernah menyentuh barang-barang itu dan tidak tahu bagaimana itu semua berada dalam koperku. Kalau tidak percaya, kamu bisa amankan barang-barang itu dulu, Dharma. Ayo kita lakukan pemeriksaan sidik jari, aku jamin seratus persen tidak akan ditemukan sidik jariku di sana.” Melisa coba membela dirinya dengan apapun yang melintas di kepalanya.
Dharma mengangguk. Ia menyita barang-barang itu untuk diuji sungguhan.
Melisa sedikit lega. Kali ini tatapannya terarah tajam pada Rosa. Perempuan itu pasti sengaja menjebaknya.
“Maafkan kami mengganggu waktu anda, pak Dharma. Kalau begitu kami permisi dulu.”
Melisa mengikuti langkah mereka begitu menjauh dari pandangannya. Rosa melewati Sheila yang sedang duduk di ruang tamu dan saling melempar kode jari jempol sambil tersenyum-senyum.