NovelToon NovelToon
Suami Kontrakku, Cleaning Service

Suami Kontrakku, Cleaning Service

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Pernikahan Kilat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Fitri Wardani

"Saya tidak sedang berusaha menghukum kamu, dan saya juga tidak peduli kamu ini OB, kuli, atau apa pun. Saya butuh seorang suami dalam waktu cepat, dan kamu butuh uang untuk biaya rumah sakit ibumu. Sederhana, kan?"

"Tapi pernikahan bukan transaksi main-main seperti ini, Bu!" sergah Mirza, untuk pertama kalinya memberanikan diri menatap mata sang CEO dengan nada protes yang agak meninggi.

Alana terpaksa menikah kontrak dengan seorang Cleaning Service di perusahaanya agar bisa terlepas dari perjodohan orang tuanya. namun ketika hubungan kontrak itu berubah menjadi perasaan cinta, mampukan mereka mengganti komitmen dan bersatu atas nama cinta? atau berakhir sebagai ikatan kontrak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jangan Usir Saya

***

"Ibu! Astaga, Ibu!" jerit Mirza histeris ketika melihat tubuh renta ibunya tiba-tiba meluruh dan ambruk ke lantai.

Maya yang terkejut luar biasa mendengar kenyataan pahit itu tak sanggup menahan beban di dadanya. Tangan tuanya yang sempat mencengkeram kain bajunya terkulai lemas saat kesadarannya menghilang sepenuhnya.

"Ibu! Bangun, Bu!" Mirza berlutut, memangku kepala ibunya dengan panik sembari menepuk-nepuk pipinya.

Alana ikut panik, jantungnya berdegup kencang diliputi rasa bersalah yang mendalam.

"Mirza, bagaimana ini?! Ibu tidak respon sama sekali!"

"Kita harus ke rumah sakit sekarang!" seru Mirza tanpa membuang waktu.

Dengan cepat, Mirza memapah dan menggendong tubuh ibunya yang tak sadarkan diri ke luar rumah. Alana berlari mendahului untuk membukakan pintu mobil mewahnya.

Tanpa memikirkan gengsi atau rasa canggung lagi, Alana memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan, sementara Mirza terus memangku dan memanggil nama ibunya di kursi belakang dengan derai air mata.

Setibanya di rumah sakit, Maya langsung dilarikan ke ruang darurat oleh tim medis karena kondisinya tak kunjung sadarkan diri dan detak jantungnya melemah.

Dokter keluar dari ruang darurat dengan raut wajah serba salah, menggelengkan kepalanya perlahan di hadapan Mirza dan Alana.

"Maafkan kami ... Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi tubuh Bu Maya tidak merespons tindakan resusitasi. Nyawa beliau tidak bisa diselamatkan," ucap dokter itu lirih.

Kalimat pendek itu menghantam dada Mirza bagaikan hantaman godam yang menghancurkan seluruh dunianya. Udara di sekitarnya serasa tersedot habis. Lututnya seketika melemas, dan detik berikutnya tubuh tinggi pria itu tersungkur hebat ke atas lantai rumah sakit yang dingin.

"Ibu ... enggak mungkin ... Ibu!" raung Mirza pecah, suaranya parau menahan rasa sakit luar biasa yang mencabik jiwanya. Tangannya mencengkeram lantai keramik, menangisi satu-satunya alasan dia bertahan hidup dan berjuang selama ini.

Alana membeku di tempatnya. Rasa bersalah yang teramat sangat menyengat ulu hatinya hingga membuat dadanya sesak. Kebohongan mereka, pertengkaran dengan orang tuanya, dan rahasia kontrak itu, semua menjadi pemicu yang merenggut nyawa wanita polos yang begitu menyayanginya.

Melihat Mirza yang terpuruk hancur di lantai, Alana tak mampu lagi menahan air matanya. Dia ikut berjongkok di samping pria itu, melepaskan seluruh keangkuhannya sebagai CEO.

Dengan tangan bergetar, Alana melingkarkan kedua lengannya ke bahu Mirza, memeluk tubuh pria itu dengan erat.

"Mirza ... maafkan saya ... maafin saya ...." bisik Alana terisak di leher Mirza, air matanya menetes meresap ke dalam kain baju pria itu.

Mirza tidak menolak pelukan itu. Dia justru membenamkan wajahnya di pundak Alana, mencengkeram lengan baju istrinya sambil terisak makin histeris. Di koridor rumah sakit yang dingin dan sepi itu, dua insan yang terikat pernikahan semu itu saling memeluk dalam duka yang teramat dalam, sebuah penyesalan abadi yang kini harus mereka pikul bersama.

***

Langkah kaki Alana terdengar begitu berat menyusuri lorong rumah kontrakan yang mendadak terasa begitu asing dan sunyi. Rumah yang biasanya hangat oleh aroma masakan dan sapaan lembut Maya, kini berubah bagaikan ruangan tanpa nyawa.

Hujan gerimis yang mengguyur tanah pemakaman tadi siang seolah masih menyisakan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang.

Alana mendorong pelan pintu kamar yang sedikit terbuka. Di sana, di sudut remang cahaya lampu minyak, Mirza terduduk di tepi ranjang kayu mereka. Pria itu masih mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung asal-asalan. Matanya menatap kosong ke arah lantai semen, sementara kedua tangannya mengepal erat di atas lutut. Tidak ada air mata yang menetes, namun raut mukanya menyiratkan kehancuran yang jauh lebih kelam dari sekadar tangisan.

Alana menghentikan langkahnya di ambang pintu, menelan ludah dengan tenggorokan yang terasa sangat menyengat. Rasa bersalah bergulung-gulung mengikis dadanya. Jika saja dia tidak membawa pertengkaran orang tuanya ke rumah ini, jika saja dia tidak membiarkan kebohongan soal pernikahan kontrak itu terbongkar dengan cara yang begitu kasar, Maya mungkin masih ada di sini. Masih tersenyum dan menyambut mereka dengan hangat.

Dengan perlahan, Alana melangkah mendekati ranjang. Setiap pijakannya terasa sengaja diringankan, seolah takut merusak keheningan rapuh di antara mereka. Dia merapatkan tubuhnya, lalu perlahan mendudukkan diri di samping Mirza.

"Mirza ...." panggil Alana lirih. Suaranya serak, nyaris tenggelam dalam kesunyian kamar.

Mirza tidak bergerak sedikit pun. Posisi duduknya tetap kaku, pandangannya tak beralih sama sekali dari lantai. Keheningan yang menyelimuti pria itu terasa jauh lebih menyiksa bagi Alana daripada bentakan atau makian.

"Mirza, tolong ... katakan sesuatu," bisik Alana lagi, memberanikan diri menyentuh jemari Mirza yang terkepal tegang. Lengannya bergetar hebat saat merasakan betapa dinginnya kulit pria itu.

"Kamu boleh marah sama saya. Kamu boleh maki-maki saya sepuas kamu. Tapi tolong, jangan diam seperti ini ...."

Mendengar bisikan itu, jemari Mirza yang berada dalam genggaman Alana perlahan melonggar. Pria itu menoleh patah-patah, mengarahkan pandangannya pada Alana. Matanya yang biasa memancarkan ketenangan kini terlihat sembab, merah, dan benar-benar kosong.

"Marah?" suara Mirza terdengar begitu parau dan dalam, nyaris tak berketinggalan nada emosi di dalamnya.

"Untuk apa aku marah, Bu Alana?"

Panggilan Bu Alana yang kembali diucapkan Mirza menghantam dada Alana tepat di ulu hati. Sekat tebal yang sempat terkikis kini membentang kembali, jauh lebih tinggi dan dingin.

"Semua ini salah saya, Mirza ...." air mata yang sejak tadi ditahan Alana akhirnya luruh juga membasahi pipinya. Dia mencengkeram tangan Mirza lebih erat, tak peduli lagi pada harga dirinya.

"Kalau saja saya tidak bohong dari awal, kalau saja orang tua saya tidak datang dan menghina tempat ini ... Ibu pasti tidak akan terkejut. Saya yang sudah merenggut Ibu dari kamu ...."

Mirza menarik napas panjang, sebuah tarikan napas yang terasa begitu berat seolah menahan beban dunia di dadanya. Dia memalingkan wajah kembali menatap lurus ke depan, melepaskan genggaman tangan Alana secara perlahan namun tegas.

"Tidak ada yang perlu disalahkan," gumam Mirza datar.

"Semua sudah takdir. Ibu memang sudah waktunya pergi."

Pria itu lalu bangkit berdiri dari tepi ranjang, membuat Alana mendongak menatapnya dengan tatapan nanar. Mirza berjalan mendekati lemari kayu kecil di sudut kamar, mengambil selembar kain sarung milik almarhumah ibunya, lalu memeluknya erat di dada.

"Alana," panggil Mirza tanpa menoleh. Ini pertama kalinya pria itu menyebut namanya tanpa embel-embel, namun dengan nada yang sangat dingin.

"Pernikahan kontrak kita ... alasan utamanya sudah tidak ada lagi. Ibu sudah tidak butuh biaya pengobatan apa pun."

Alana membeku di tempat duduknya, jantungnya serasa berhenti berdetak.

Mirza membalikkan badan, menatap Alana dengan mata sayunya.

"Kamu bisa pulang ke rumah kamu kapan pun kamu mau. Kamu tidak perlu berpura-pura lagi di sini."

"Saya enggak mau, Mirza!" seru Alana tegar, langsung bangkit dari ranjang. Air matanya menetes makin deras, namun sorot matanya menunjukkan penolakan yang sangat kuat.

"Saya enggak akan pernah pulang ke rumah orang tua saya!"

Mirza menatapnya datar, tidak ada riak emosi di wajah yang kini nampak begitu lelah itu.

"Untuk apa kamu bertahan di sini, Alana? Sandiwara ini sudah selesai. Kamu tidak perlu berpura-pura lagi di rumah sempit ini."

"Ini bukan cuma soal sandiwara!" potong Alana cepat, melangkah maju mendekati Mirza.

"Kalau saya pulang sekarang, orang tua saya pasti akan langsung menjodohkan saya dengan pria pilihan mereka! Saya enggak mau, Mirza! Saya tidak mau hidup saya diatur-atur lagi!"

Alana mencengkeram lengan kemeja Mirza, menatap pria itu dengan pandangan memohon yang amat sangat.

"Tolong ... biarkan pernikahan ini tetap berjalan sesuai perjanjian awal sampai batas waktunya habis. Jangan putuskan sekarang."

Mirza menggeleng pelan, lalu mencoba melepaskan cengkeraman tangan Alana dari lengannya.

"Alana, dengar ... Alasan utama saya menerima kontrak gila ini cuma demi biaya pengobatan Ibu. Sekarang Ibu sudah tidak ada. Saya sudah tidak punya alasan lagi untuk melanjutkan semua ini. Pergilah."

"Enggak! Saya enggak mau pergi!"

Sebelum Mirza sempat menjauhkan diri, Alana menubrukkan tubuhnya dan memeluk pinggang Mirza erat-erat. Wanita angkuh yang biasanya selalu menjaga jarak itu kini menyandarkan kepalanya di dada Mirza, menangis sejadi-jadinya sambil meremas bagian belakang kemeja pria itu.

"Jangan usir saya, Mirza .... Tolong, jangan usir saya ...." bisik Alana terisak parau di dada Mirza.

"Bagaimanapun juga, kita menikah secara sah di mata hukum dan agama. Tolong ... jangan ceraikan saya dengan cara tragis seperti ini."

Mirza membeku. Tangan yang tadinya hendak mendorong Alana perlahan menggantung di udara, menegang mendengar jeritan hati wanita yang kini bersandar penuh padanya.

Dada Mirza naik turun menahan guncangan emosi yang berkecamuk di dalam dirinya. Dia perlahan memegang kedua bahu Alana, mendorongnya pelan agar wanita itu menatap matanya.

"Kamu sadar enggak sih sama apa yang kamu tanyakan, Alana?!" bentak Mirza dengan suara parau yang bergetar.

"Pernikahan ini dari awal cuma kebohongan! Dan kebohongan kita ini baru saja membunuh Ibu saya!"

"Mirza, tolong ... jangan bicarakan itu lagi, saya mohon ...." tangis Alana makin pecah.

"Terus kamu mau kita gimana?!" Mirza menaikkan nadanya, menatap Alana penuh luka.

"Kamu mau kita terus pura-pura jadi suami istri di atas penderitaan Ibu? Kamu cuma memanfaatkan saya dan pernikahan ini demi ego kamu sendiri, Alana!"

"Enggak, Mirza! Demi Allah bukan cuma karena ego saya!" Alana menggeleng keras, mencengkeram erat kemeja Mirza.

"Saya butuh kamu! Saya enggak bisa kalau harus kehilangan kamu sekarang!"

Mirza tertawa sumbang, tatapannya menyipit dingin.

"Butuh saya? Atau butuh tameng buat menghindari orang tua kamu?"

"Bukan begitu ...."

"Dengar, Alana," potong Mirza tegas, suaranya mendadak berubah sangat dingin.

"Saya sudah kehilangan satu-satunya alasan saya untuk hidup di dunia ini. Saya enggak punya tenaga lagi buat melayani permainan kamu."

"Saya enggak pernah anggap ini permainan, Mirza!" pekik Alana tak terima.

"Kita sudah janji satu tahun, kan?! Perjanjian itu masih berlaku!"

"Masa bodoh sama perjanjian itu!" seru Mirza membentak.

"Tolong, Alana ... pergi dari sini. Saya cuma mau sendiri."

"Saya enggak akan pergi!" Alana makin mempererat pelukannya di tubuh Mirza, menempelkan wajahnya di dada pria itu.

"Kamu boleh benci saya, kamu boleh diamkan saya seumur hidup kamu, tapi jangan ceraikan saya. Jangan paksa saya pergi!"

Mirza mengepalkan tangannya di udara. Dia ingin sekali mendorong Alana keluar dari rumahnya saat ini juga, tapi rasa lelah yang amat sangat menahan seluruh tubuhnya.

"Kenapa kamu harus sekeras kepala ini, Alana?" bisik Mirza pasrah, suaranya mendadak kehilangan tenaga.

"Karena saya cuma mau sama kamu, Mirza ..." sahut Alana lirih di balik dadanya.

"Cuma kamu."

1
dibyanto byl
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!