WARNING ***
Terdapat kata-**** ***** dan beberapa ****** ******
Ketika kejadian masa lalu membuat seorang gadis yang sedang merayakan ulang tahunnya justru harus kehilangan keluarganya, pembantaian yang terjadi tepat di depan mata seorang gadis kecil yang berusia 5 tahun yang sedang memeluk adik laki-lakinya yang berusia 3 tahun supaya tidak melihat ke jadian mengerikan itu walaupun dia yakin adiknya bisa mendengar suara jeritan dan kesakitan dari orang yang mereka cintai,mereka hanya mampu menangis dalam diam di balik tempat persembunyiannya
Membuat rasa trauma dan rasa takut yang berlebihan muncul di dalam diri gadis itu sampai membentuk jiwa baru yang tinggal bersama raganya
Apakah gadis itu mampu mengendalikan jiwa barunya atau jiwa baru itu lah yang akan menguasai tubuh sang gadis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desty Haris Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA JIWA.
Alluna baru saja keluar dari sekolah dan segera menuju ke tempat seseorang yang paling ia sayangi dengan kecepatan tinggi, setibanya ia disana dengan hati-hati memarkirkan mobilnya agak jauh, memakai hoodie hitam dan masker untuk menjaga identitasnya tetap rahasia
Kaki jenjangnya terhenti tepat di depan batu nisan bertuliskan Albertson Thomson dan Elena Skhaya, tempat peristirahatan terakhir kedua orang tua Alluna
"Hai ayah, bunda... Alluna datang, Luna kangen banget maafin Luna belum bisa jagain adek, adek jauh lebih terluka dari yang aku tahu bun dan aku baru saja mengetahui semuanya
sekarang. Tapi sekarang Alluna sudah kembali dan Luna akan jagain adek walaupun nyawa aku yang menjadi bayarannya bahkan Luna akan akan membalas mereka semua termasuk orang yang sudah membunuh kalian. Ayah, bunda Luna pamit yah maaf aku gak bisa lama-lama, tenanglah disana Luna sayang kalian " ujar Alluna yang bahkan tidak mengeluarkan setetes air matanya seakan air matanya habis di malam pembantaian kedua orangtuanya
Alluna kembali ke Mension miliknya, semua para maid yang melihat kehadirannya bergerak cepat menyambutnya dengan menundukkan kepala mereka
"Selamat datang Nona muda" ucap semua Maid
"Biar saya bantu nona" ujar salah satu maid yang berniat membantu Alluna membawakan tasnya, Alluna hanya menganggukkan kepalanya pelan
"Maaf Nona, Tuan besar menunggu anda di ruang kerja" ujar maid lainnya
Alluna tidak menjawab tapi ia langsung melangkah menaiki Lift menuju lantai dua ruang kerja papa angkatnya itu
Tanpa mengetuk pintu Alluna masuk dan langsung duduk di hadapan Alexander dengan wajah tenangnya
"Bisakah kau sopan dengan mengetuk pintu ruang kerja papamu ini Luna?" ujar Alexander menegur sikap putri kesayangannya itu
"Apa salahnya ini Mension pemberian papa dan papa adalah ayahku saat ini" ujar Alluna datar
"Kau memang sangan senang membuat papa darah tinggi Luna" ujar Alexander mencibir anak angkatnya itu
"Aku bercanda pah, ada apa memanggilku" ujarnya terkekeh pelan sungguh Alluna senang menggoda papa angkatnya itu
"Papa mendapatkan satu tikus kecil untukmu, anak buah dari orang itu" ujar Alexander
"Aku akan mengambil alih pah" jawab Alluna
"Papah akan mengizinkanmu asalkan kau sanggup mengontrol emosimu" peringat Alexander
"Hm, aku kesana pah" balas Alluna
"Katakan kamu menyanggupinya atau papa pastikan kamu tidak akan melangkah keluar dari rumah ini"
"Alluna" peringat Alexander lagi membuat Alluna memutar matanya malas
"Iya papaku sayang aku akan mendengarkan mu" ucap Alluna terpaksa
Alluna menuju ruang bawah tanah tempat yang sangat ia sukai, ruangan penyiksaan untuk orang-orang yang ia cari atau bahkan berani mengusiknya,, Alluna berjalan di lorong gelap menuju ke ruangan bawah tanah dengan santai seakan raungan memohon dan aroma anyir darah bukanlah sesuatu yang mengganggunya
Tap
Tap
Tap
Suara langkah kaki memenuhi ruangan itu membuat salah satu orang yang sedang terikat dengan posisi berdiri itu tanpa sadar mengangkat kepalanya melihat siapa sosok yang akan datang menghampirinya
"Hei anak kecil lepaskan ikatan ini" ucap pria yang diperkirakan berusia 30 tahunan, tatapannya menajam saat sosok gadis muda menjadi seseorang yang datang menghampirinya
"Kenapa buru-buru paman" ujar Alluna tersenyum miring
Seketika aura di ruangan itu serasa mencekam bahkan mampu membuat pria itu merinding melihat tatapan berbeda dari gadis di hadapannya
"Siapa kamu sebenarnya" tanya Pria itu
"Harusnya aku tidak mengatakannya tapi karna kau akan mati jadi aku akan mengatakannya, Alluna Skhaya Thompson kau pasti mengenalnya bukan?" ujar Alluna dingin dan menekankan setiap kata dari namanya
"K-kamu anak A-albertson Thompson" tanya pria itu terbata
"Hm, kau pasti tidak bodoh untuk mengetahui maksudku menculikmu" seringai tipis Alluna
"Kau tidak akan mendapatkan informasi apapun dariku, anak kecil" ujar pria itu memberanikan diri
"Hahahahaha" sungguh Alluna tertawa tapi terdengar sangat mengerikan
"Anda tahu Tuan, mendapatkan informasi darimu ataupun tidak itu sama sekali tidak masalah untukku karena saya masih memiliki banyak waktu untuk mencari kalian semua dan saat ini saya hanya berniat untuk membuat berita besar tentang kematian tikus-tikus kotor seperti kalian sampai nantinya bos kalian lah yang merasa tidak tenang dan keluar dari tempat persembunyiannya menampilkan dirinya sendiri" jelas Alluna menyeringai
"Ck, lo sudah terlalu banyak bicara bodoh, biarkan gue yang bermain" cibir Allana jauh di dalam diri Alluna yang tak terdengar oleh siapapun selain dirinya sendiri
"Bisakah kau tidak mengusikku disaat seperti ini Allana" kesal Alluna
Yahh, dia adalah Allana nama yang Alluna berikan untuk Alter Egonya sosok yang tak akan terlihat wujudnya namun suaranya akan selalu Alluna dengar. Allana sudah beberapa tahun hidup dalam dirinya, keduanya mempunyai sifat yang jauh berbeda dalam 1 tubuh yang sama,, Alluna mempunyai sifat yang dingin, cuek, jarang tersenyum dan irit bicara sedangkan Allana memiliki sifat ceria, mudah tersenyum, dan sangat cerewet tapi jangan tertipu dengannya ia memang jauh lebih sadis dibandingkan Alluna yang terus saja menahan dirinya
"Hey, apa kau sudah gila anak kecil" ujar pria itu sarkas saat melihat Alluna berbicara sendiri
"Sepertinya kau mau bermain dengannya" ujar Alluna dingin
"Biarkan gue keluar" pinta Allana
"Hm" jawab Alluna yang mulai memejamkan matanya sejenak
Ketika Alluna membuka matanya lagi, pria itu dapat melihat tatapan yang berbeda dari gadis yang sama, kali ini tatapan gadis itu tidak sedingin dan tajam seperti tadi
"Hai calon mayat" Sapa Allana dengan riang
"D-dasar gilaa" cibir pria itu merasa aneh
"Cih, gue udah nyapa lo selembut itu sebelum lo mati dan respon lo seperti itu? ya sudah gue langsung aja " ucap Allana mengambil pisau yang tersedia di situ
"APA YANG KAU LAKUKAN HA?" teriak pria itu panik
"Hanya ingin bermain-main " jawab Allana dengan tersenyum manis
Lana mendekatkan pisaunya ke wajah pria itu kemudian turun ke bawah dan berhenti ke tangannya yang penuh tato membuat tubuh pria itu menegang
"Gimana kalau kita mulai dengan tangan ini, bukan kah tangan ini yang sangat senang memegang pistol, hm" ucap Allana menyeringai
Krekkk
Arrgghhhhhhh
Teriak pria itu keras ketika Allana dengan santainya memotong satu jarinya hingga putus
Arrgghhhhhhh
Dua jari telah putus
Arrgghhhhhhh
Tiga jari telah putus
"S-saya mohon berhenti" pinta pria itu memohon bahkan darah dari tangannya tidak berhenti mengalir deras
"S-saya sungguh tidak tahu siapa orang itu, dia hanya mengatakan akan membayar kami jika kami mengikuti perintahnya" sambung pria itu yang mulai terlihat pucat
"Karna lo udah bocorin sedikit informasi jadi gue bakal langsung ke intinya biar lo gak sakit lama-lama hihihihi" ujar Allana tertawa
Jleb
Arghhhhhhh
Jleb
Arggghhhh
Jleb
Pria itu mati saat tikaman Allana yang terakhir tepat di jantungnya bahkan Allana dengan senang menarik pisau itu ke bawah sehingga menjadi robekan panjang dan lebar di dada pria itu
"Gue udah selesai Lun" ucap Allana kemudian memejamkan matanya setelah itu Alluna kembali membuka matanya dan ia sudah tidak kaget lagi melihat keadaan mengenaskan korbannya yang sudah tidak bernyawa bahkan Alluna pernah lebih sadis dari ini
Alluna keluar dari ruangan gelap itu setelah menyuruh anak buahnya mebereskan ruangannya, semua maid yang melihat penampilan Alluna saat keluar dari ruangan itu hanya diam seolah tidak ada kejadian apapun walaupun tubuh mereka sudah menegang di tempatnya
"Apa kamu bersenang-senang nak?" tanya Alexander yang baru turun ke lantai satu
"Dia bukan aku pah" jawab Alluna jengah
"Kalian sama saja, bersihkan tubuhmu dan turun makan bersama papah, jangan terlalu lama Mama dan adikmu akan segera tiba dari London"
"Sungguh?" Tanya Alluna bersemangat
Mata gelap gadis yang baru saja membunuh mangsanya itu kini justru terlihat berbinar, Alluna sangat menyayangi perempuan parubaya yang menjadi istri dari Alexander dan kini menjadi ibu angkatnya. Alexander Skhaya adalah adik kandung dari mendiang bunda Elena Skhaya Thompson tidak ada yang tau mengenai hal itu karna keduanya dengan sengaja menyembunyikan identitas mereka
"Giliran dengar tentang mamanya aja langsung semangat gitu" sindir Alexander
"Biarin, Luna mandi dulu pah, baybay" ujar Alluna bersemangat
"Anak itu kalo menyangkut mamanya langsung berubah ceria gitu" ujar Alexander menggelengkan kepalanya geli
Alluna segera membersihkan tubuhnya yang penuh dengan darah dari pria itu, ia tak ingin mamanya mengomelinya karena melihat tubuhnya yang bermandikan darah manusia lainnya
Setelah itu ia turun ke bawah dengan mengenakan piyama sederhana berwarna putih, disana sudah ada mamanya yang baru saja tiba dan juga adiknya Reyfaldo Skhaya anak kandung dari Alexander dan istrinya Melani
"Mamah" panggil Alluna dan kemudian berlari kecil memeluk mamanya erat
"Apa anak gadis mama ini berbuat nakal lagi, hm" tanya Melani curiga
"Pasti papa yang laporin kan" jawab Alluna menguraikan pelukannya
" Loh padahal mama hanya menebaknya, kok gak nungguin gue kak" ujar Reyfaldo anak semata wayang papa dan mama angkatnya dan anak laki-laki itu sangat senang melihat kesadisan saudara angkatnya ini
"Mama ngapain bawa pulang nih bocah sih" ujar Alluna membuat rey mengerucutkan bibirnya
"Dasar tembok" balas Rey kesal
"Dia akan masuk ke sekolah kamu sayang, Rey mama tugaskan untuk membantumu melindungi Alfin dan juga untuk menjagamu" jelas Melani lembut
"Yang ada aku jagain bocah nakal itu mah" balas Alluna penuh sindiran membuat mereka semua terkekeh kecil mendengar keluhannya
"apa kamu sudah bertemu dengannya sayang" tanya Melani lagi
"Dia sedang mengikuti olimpiade mah mungkin besok dia baru balik, aku juga belum ingin dia tau bahwa aku adalah kakaknya. Aku takut..., dia pasti sudah sangat membenciku oleh karena itu untuk sekarang aku cukup menjaganya dari jauh" jelas Alluna sendu
"Tapi kenapa kak bukan kah kau sangat merindukannya" tanya Rey
"Aku hanya tidak ingin semua musuhku mengetahui dia adikku, hal itu akan sangat berbahaya untuknya dan aku tidak mau itu" sambung Alluna serius
"Papa mengerti nak, sekarang biarkan kalian merahasiakan identitas kalian termasuk kamu Rey" ucap Alexander
"Dan untukmu Rey kamu akan masuk ke sekolah itu besok" ucap sang mamah
"Siap Mah" jawab Rey patuh
"Sekarang kita makan malam dan langsung beristirahat " ujar Alexander
....