NovelToon NovelToon
BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM

BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:653
Nilai: 5
Nama Author: Imron Tohari

Maya Kirana, perancang busana berjiwa halus, berselisih dengan Rendra, konsultan teknis yang dingin dan kaku di ajang Indonesian Fashion Week. Sentuhan tak sengaja pada relief candi kuno melempar kesadaran mereka ke masa lalu, mengungkap takdir reinkarnasi sebagai sepasang kekasih kerajaan, Raden Jayendra dan Putri Kirana.

Saat persaingan memanas, studio Maya disabotase dan lisensinya dibekukan akibat fitnah plagiarisme dari rival mereka, Victor dan Clarissa. Di tengah krisis, Maya dan Rendra bersatu memadukan kelembutan sutra dengan kriya logam presisi. Didukung Rian, kakak Maya, mereka menggelar uji materi terbuka untuk membersihkan nama baik.

Jelang panggung Grand Final, Rendra mengorbankan material karya rahasianya dan mengundurkan diri sebagai desainer misterius berinisial REN demi menyelamatkan gaun Maya sekaligus menjebak Victor ke jalur hukum. Mahakarya kolaborasi sutra dan logam tersebut akhirnya meraih Juara Utama IFW, menyatukan kembali cinta serta takdir masa lalu Maya dan Rendra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imron Tohari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM BAB 30

BAB 30

Baskoro dengan cepat menarik lengan Clarissa yang berdiri mematung, menuntun wanita itu menerobos kerumunan wartawan yang mendadak memberondong mereka dengan pertanyaan-pertanyaan menyudutkan. Senyum licik Baskoro di tengah kekalahan itu menyisakan tanda tanya besar di benak Rendra.

Satu jam kemudian, di dalam lorong tenang belakang Gedung Pusat Kurasi Mode, langkah kaki Maya dan Rendra bergema perlahan. Peti kayu berisi gaun dan kerangka kuningan telah diamankan kembali oleh Dito ke dalam mobil studio.

Maya menghentikan langkahnya di dekat jendela besar yang menghadap ke arah kota. Ia menatap Rendra yang sedang menggulung kembali lengan kemejanya. Ada rasa haru dan ketakjuban yang tak tertahan bergulung di dalam dadanya. Pria ini baru saja mempertaruhkan seluruh reputasinya sebagai konsultan penjurian di arena pengujian publik yang dingin.

"Kamu... kamu tenang sekali saat membandingkan kedua barang bukti tadi, Rendra," bisik Maya tulus, matanya menatap pria itu dengan pendar kehangatan yang dalam. "Kalau tadi tim uji independen tidak memahami perbedaan struktur molekul itu, nama baikmu di industri ini bisa hancur dalam hitungan detik."

Rendra menghentikan gerakannya sejenak. Ia memutar tubuh, menatap Maya dengan binar mata yang tajam namun penuh ketenangan di bawah pendar lampu koridor.

"Batu uji yang sebenarnya tidak pernah berada di dalam ruangan laboratorium steril tadi, Maya," sahut Rendra pelan, suaranya mengalun rendah. "Batu uji seorang seniman terletak pada kejujuran tangannya saat memegang pahat di depan bara api."

Ia melangkah satu tapak lebih dekat ke arah Maya, menatap peti kayu berisi gaun yang tersimpan aman di atas troli. Namun, raut wajah Maya yang mendadak mengerut penuh tanda tanya tak luput dari perhatiannya.

"Ada hal lain yang mengganggu pikiranmu?" tanya Rendra halus.

Maya mengangguk pelan, matanya menerawang mengingat jalannya persidangan dan konfrontasi tadi. "Ada yang sangat janggal, Rendra. Saat di dalam laboratorium tadi, Clarissa dan pengacara Victor menyerang kita habis-habisan dengan isu plagiarisme dan sketsa paten... tapi anehnya, mereka sama sekali tidak menyinggung foto skandal pertemuan kita di galeri yang heboh di televisi dan media sosial. Sikap mereka seolah-olah tidak tahu-menahu tentang rumor itu."

Maya menatap Rendra tajam. "Padahal semula aku sangat yakin Victor dan Clarissa adalah dalang utama di balik penyebaran foto manipulatif itu untuk menjatuhkan kredibilitasmu sebagai konsultan."

Rendra menyipitkan matanya, keningnya berkerut dalam seraya menimbang kejanggalan tersebut. "Kalau mereka yang menyebarkannya, di meja uji publik yang dihadiri belasan wartawan tadi adalah amunisi paling ampuh untuk mematikan karakter kita secara moral," analisis Rendra dingin. "Ketidakhadiran serangan isu foto itu di dalam ruang pengujian bisa berarti dua hal: mereka sengaja menyimpannya untuk serangan pamungkas di panggung final, atau... ada 'tangan ketiga' di luar kubu Victor yang sedang bermain di air keruh."

Rendra memegang bahu Maya, menatapnya penuh penegasan. "Kita tidak boleh lengah. Minta timmu untuk segera melacak sumber pertama yang mengunggah foto itu. Cari tahu siapa orang yang mengambil foto di galeri waktu itu dan siapa yang mendanai penyebarannya ke media."

Hawa dingin AC lorong berpadu dengan ketegangan yang masih menyisa di udara, membuat detak jantung Maya berdegup lebih cepat dari biasanya.

Baru saja kata-kata Rendra terucap, langkah kaki tergesa-gesa terdengar mendekat dari ujung koridor. Nia dan Dito berlari-lari kecil menghampiri mereka dengan raut wajah campur aduk—lega sekaligus tegang.

"Maya!" seru Nia setengah berbisik begitu sampai di hadapan mereka. "Kami tadi berdesakan di barisan belakang penonton. Luar biasa! Tuduhan Clarissa gugur total!"

"Kerja bagus, Rendra! Penjelasan soal relief Candi Sewu Jati tadi bikin pengacara Victor mati kutu!" timpal Dito bangga.

"Terima kasih, Dito, Nia," sahut Maya tersenyum tipis. Wajahnya dengan cepat kembali serius saat menatap Nia. "Nia, aku butuh bantuanmu sekarang. Ada hal penting yang harus kita selidiki malam ini juga."

Nia menata napasnya, menatap Maya lekat-lekat. "Soal apa?"

"Clarissa dan Victor sama sekali tidak menyenggol soal foto rumor di galeri tadi siang," terang Maya tegas. "Rendra dan aku menduga ada pihak lain yang memanfaatkan situasi ini."

"Tepat sekali," tambah Rendra, menatap Nia dan Dito bergantian. "Pelajari kembali metadata foto pertama yang diunggah ke media sosial dan kiriman berita ke stasiun televisi. Lacak sudut pengambilan gambarnya di galeri hari itu, dan cari tahu siapa yang pertama kali melepas narasi skandal tersebut ke media."

Nia mengangguk mantap, pandangannya seketika berubah tajam khas seorang peneliti digital. "Betul juga... kalau Victor yang main, harusnya foto itu dijadikan alat penekan utama tadi. Baik Maya! Aku dan Dito akan menyisir semua jejak digital dan rekaman di sekitar galeri malam ini juga. Begitu ada nama atau petunjuk, aku langsung laporkan!"

"Minta bantuan rekan kita di bagian arsip media kalau perlu," pesan Maya. "Kita harus tahu siapa musuh sebenarnya sebelum panggung final dimulai."

Dito dan Nia mengangguk paham, lalu bergegas menuju mobil studio untuk mengamankan peti kayu gaun. Sepeninggal kedua asistennya, Rendra menatap Maya dengan sebuah senyum tipis yang amat menawan terbit di bibirnya.

"Victor dan Clarissa baru saja mengerahkan amunisi terbesarnya di depan publik dan gagal," lanjut Rendra, suaranya kembali dipenuhi otoritas yang menenangkan. "Sekarang, tempat pengujian yang sebenarnya menanti kita. Selesaikan jahitan terakhirmu, Maya. Kita buat mereka berlutut di panggung final."

Maya menatap Rendra, merasakan desir hangat yang tak asing kembali memenuhi jiwanya. Di koridor gedung kurasi yang megah ini, setelah berhasil melewati badai tuduhan di meja uji netral dan menyusun langkah untuk membongkar dalang rumor sebenarnya, Maya tahu... perjalanannya menuju malam final bukan lagi sekadar mengejar piala, melainkan pembuktian atas martabat karya dan kebenaran yang mereka tempa bersama.

Namun, di belahan kota yang berbeda, jauh dari panggung peragaan mode yang berkilau gemerlap, roda-roda intrik korporasi kelas berat berputar tanpa ampun di atas fondasi beton proyek properti skala raksasa.

Di balik pagar pengamanan ketat tapak konstruksi pusat komersial milik keluarga, deretan truk logistik berseri khusus baru saja merayap keluar gerbang dengan muatan terselubung—memicu getar sinyal darurat pada layar pantau pengawas lapangan yang langsung mendesak perhatian Rian dari lantai anjungan peninjau, menyambut awal pertempuran bisnis yang jauh lebih mematikan.

Sinar inframerah pendeteksi otomatis di sudut zona konstruksi mendadak menyala terang, memancarkan sinyal kuat yang menunjuk ke arah deretan truk logistik asing yang bersiap meluncur keluar gerbang.

Dari atas anjungan peninjau lantai dua, manik mata tajam itu mengawasi layar pantau dengan saksama, sementara tangan kanannya perlahan mengangkat kacamata hitam berbingkai titanium ke pangkal hidungnya—menyambut awal pertempuran hulu yang siap meledak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!