Dikhianati dan dibunuh oleh rekan seperjuangannya sendiri, Dinda, Komandan Pertama Barat yang legendaris, justru mendapat kesempatan kedua setelah jiwanya berpindah ke tubuh Ana Pramudia, gadis lemah yang dibunuh oleh saudara tirinya sendiri.
Kini, dengan jiwa seorang jenderal tangguh dan kekuatan mistis yang masih tersisa, Ana siap membalas dendam, merebut kembali harga dirinya, dan mengguncang Kekaisaran. Namun, di tengah intrik dan musuh yang mengincarnya, kemunculan Tuan Muda Adrian yang terus mengikutinya justru menambah misteri.
Akankah Ana berhasil menaklukkan dunia barunya, dan apa sebenarnya tujuan Adrian mendekatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusriani Yusuf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ajakan ke pesta
Jenderal Arya menatap layar komputer dengan saksama. Di hadapannya, rekaman Ana sedang menembak diputar ulang. Setiap peluru melesat tepat menuju titik tengah sasaran.
“Hahaha! Tepat dan akurat. Dia memang terlahir untuk menjadi penembak jitu,” ujar Jenderal Arya kagum. “Terlebih lagi, Ana Pramudia berasal dari keluarga militer dan latar belakangnya bersih. Ini benar-benar talenta yang datang dengan sendirinya.”
Seorang prajurit berdiri di sampingnya. “Jenderal apakah kita masih perlu berbicara langsung dengan Ana?”
“Jangan terburu-buru,” jawab Jenderal Arya. “Amati dia terlebih dahulu. Kumpulkan semua catatan dan susun menjadi laporan analisis.”
Ia kembali melirik layar.
“Prajurit yang baik bukan hanya memiliki kemampuan luar biasa. Dia juga harus tangguh, berani, dan sadar akan misinya. Semoga saja… dia tidak mengecewakan saya.”
Di kediaman Adrian, pemuda itu berjalan melewati lorong bersama asistennya. Ia baru saja hendak berangkat ketika ibunya memanggil dari ruang tengah.
“Adrian, anakku sayang. Kamu mau berangkat ke pesta, ya?”
Adrian mengangguk. “Iya.”
“Berarti calon menantuku juga datang, dong?”
“Sepertinya dia akan datang.”
Wajah ibunya langsung berseri-seri. “Kalau begitu, Mama boleh ikut?”
“Tidak.”
Ibunya belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika Adrian melanjutkan, “Setiap kali Mama keluar, selalu timbul kehebohan. Itu akan mengganggu rencanaku.”
“Mama janji kali ini tidak akan membuat masalah,” katanya sambil mengangkat tangan.
Adrian hanya tersenyum tipis. “Tidak.”
Ia kemudian pergi meninggalkan ibunya.
“Hm… dasar pelit,” gerutu sang ibu.
Namun, beberapa saat kemudian, di lokasi pesta, ibu Adrian ternyata tetap datang bersama Alex. Ia bersembunyi di balik tiang dengan kepala tertunduk, mengenakan kacamata hitam dan topi lebar.
“Alex, cepat bantu aku mencari calon menantuku!” bisiknya.
Alex segera menghalanginya. “Tante, cepat bersembunyi! Tante orang penting. Kalau sampai terjadi sesuatu, aku tidak bisa bertanggung jawab.”
“Memangnya kenapa? Jangan terlalu heboh.” Ibu Adrian menepuk lengan Alex. “Kamu teman baik Adrian, masa tidak mau menonton tontonan seru?”
“Tante Lin, kenapa tidak mengajak Rehan?”
“Tadinya aku mau mencari Rehan, tapi anak itu sedang mendapat tugas. Terpaksa aku mengajakmu.”
Alex menghela napas. “Jadi aku hanya pengganti?”
Ibu Adrian melepas kacamatanya, lalu melongok ke arah aula. “Aku akan melihat-lihat lagi.”
Ia berjalan mengendap-endap meninggalkan Alex.
“Aduh, Tante…” Alex hanya bisa mengusap wajahnya.
Di aula pesta, seorang pemuda sedang berbicara dengan Jesika yang dirangkul oleh ibunya.
“Nona Jesika, lama tidak berjumpa. Anda semakin menawan saja.”
Seorang perempuan di dekat mereka ikut berkata, “Nyonya Pramudia juga tampak awet muda. Sekilas, saya kira Nyonya dan Nona Jesika adalah kakak adik.”
Dewi tersenyum sopan. “Ah, biasa saja. Terima kasih.”
Tak lama kemudian, Nyonya Aditama dan Aksa Aditama datang menghampiri mereka.
“Hai, Nyonya Pramudia,” sapa Nyonya Aditama.
“Hai, Nyonya Aditama. Lama tidak bertemu,” jawab Dewi.
Nyonya Aditama menggenggam tangan Dewi dan memandang Jesika. “Putrimu semakin cantik saja.”
Aksa Aditama tersenyum kepada Jesika. “Jesika, kamu cantik sekali malam ini.”
“Aksa,” jawab Jesika, sedikit tersipu.
Nyonya Aditama menatap mereka dengan puas.
“Hubungan Aksa dan Nona Jesika tampaknya semakin dekat. Mereka berdua terlihat sangat serasi, bukan?”
Dewi mengangguk pelan. “Mereka memang sudah berteman sejak kecil. Andai Kakek tidak terlalu memaksa soal Ana, mungkin mereka berdua bisa berjodoh.”
Nyonya Aditama tiba-tiba merendahkan suaranya.
“Aku baru-baru ini mendengar rumor bahwa Ana bergaul dengan orang-orang yang tidak jelas. Apa itu benar?”
Dewi langsung berubah tegang. “Hah? Itu… aib keluarga. Jangan disebarkan.”
“Keluarga Aditama tidak ingin seseorang yang tidak bermoral masuk ke dalam keluarga kami,” ujar Nyonya Aditama dingin.
Dewi menepuk pelan tangannya, seolah ingin menghentikan pembicaraan itu. Namun, beberapa tamu di sekitar mereka sudah mulai melirik dan mendengar percakapan tersebut.
Jesika mendekati Aksa Aditama dan berbicara dengan suara pelan.
“Bukankah kamu bilang hari ini akan membatalkan pertunanganmu dengan kakak?” tanyanya. “Kamu benar-benar akan melakukannya, kan?”
Aksa Aditama mengangguk. “Aku sudah membicarakannya dengan Mama dan Papa. Mereka setuju. Nanti, setelah semua tamu berkumpul, aku akan mengumumkan bahwa hubungan kami berakhir.”
“Baguslah,” jawab Jesika.
Namun, di dalam hati, ia tersenyum puas. Hari ini, Ana akan menjadi bahan tertawaan semua orang.
Di sisi lain ruangan, Dewi melihat jam tangannya.
“Jam berapa sekarang? Mengapa Ana belum datang?”
Jesika segera menyahut, “Mama lupa? Ana pernah billing, kalau dia tidak datang tepat waktu, pesta ini tidak akan dimulai.”
Nyonya Aditama tertawa kecil. “Oh, benar juga. Pesta ini disiapkan khusus oleh Kamar Dagang. Siapa sebenarnya Ana sampai berani membuat semua orang menunggu? Dia tidak takut diusir?”
Tawa mereka menyebar di antara para tamu.
Tidak lama kemudian, Aksa Aditama melihat ke arah pintu masuk.
“Itu dia.”
Ana baru saja memasuki ruangan bersama Adit. Ia mengenakan celana pendek, sepatu bot, dan atasan sederhana. Pakaiannya jauh berbeda dari gaun mewah para tamu perempuan, tetapi Ana sama sekali tidak terlihat terganggu.
Nyonya Aditama mengamati dari ujung kepala hingga kaki.
“Pakaiannya aneh sekali. Celana pendek dan sepatu bot? Dia benar-benar tidak terlihat seperti perempuan yang datang ke pesta.”
Jesika ikut menyindir, “Kak, mengapa datang ke pesta tanpa mengenakan gaun?”
Ana tidak menjawab. Ia hanya melirik mereka sekilas, lalu berkata kepada Adit, “Aku tidak tertarik mencari keributan.”
Adit menunjuk ke arah kerumunan. “Kak, mereka ada di sana.”
“Aku ingin sendiri sebentar. Kamu ke sana saja.”
Adit mengangguk dan berjalan menjauh. Ana berdiri sendirian, memperhatikan suasana pesta tanpa menunjukkan minat untuk bergabung.
Tiba-tiba, seorang perempuan menepuk bahunya.
“Ana Pramudia? Kita bertemu lagi.”
Ana menoleh. Ia mengenali perempuan bertopi bisbol yang pernah ditemuinya sebelumnya.
“Kamu masih ingat aku?” tanya perempuan itu.
“Topi bisbol,” jawab Ana singkat.
Perempuan itu tertawa kecil. “Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini. Namaku Siska. Bolehkah aku memanggilmu Ana?”
Ia mengulurkan tangan. Ana membalasnya sekadarnya.
“Terserah.”
Namun, perhatian Ana tertuju pada tangan Siska. Di sela ibu jari dan telunjuknya tampak kapalan yang tebal. Ana pernah melihat tanda seperti itu sebelumnya—tanda seseorang yang terbiasa memegang senjata.
Sebelum ia sempat bertanya, seorang pria memanggil dari kejauhan.
“Hai, Siska!”
Siska menoleh. “Hai, Kak Alex.”
Alex menghampiri mereka dengan langkah cepat.
“Bukankah Paman Cheng sudah melarangmu keluar sendirian? Ayo, kuantar pulang.”
Ia menarik tangan Siska, tetapi Siska segera melepaskannya.
“Tidak mau. Aku baru saja bertemu teman.”
Alex kemudian memperhatikan Ana.
“Ana?”
Ana mengernyit. “Kita pernah bertemu?”
“Pernah. Aku Alex, teman Adrian. Sekitar setengah bulan lalu, kamu membantu dia dalam aksi kebut-kebutan mobil. Aku juga ada di sana. Pertemuan terakhir kita cukup mengesankan.”
Ana mengangguk pelan.
Sebelum percakapan berlanjut, Jesika datang menghampiri.
“Kak, Papa dan Mama ada di sana. Mengapa kamu berdiri di sini?”
“Aku sedang berbicara.”
Jesika tersenyum, tetapi nada suaranya terdengar menyindir. “Aku hanya peduli kepadamu. Mengapa kamu bersikap kasar? Jangan-jangan kamu takut kebohonganmu terbongkar?”
Ana menatapnya dengan tenang. “Kebohongan apa?”
“Kalau kamu tidak datang, pesta ini tidak akan dimulai. Bukankah kamu sendiri yang mengatakannya?”
“Bukan aku yang mengatakan itu.”
Jesika tertawa pendek. “Tidak mau mengaku? Sekarang pasti mulai mencari alasan.”
Ana mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah pintu.
“Itu orangnya.”
Semua orang menoleh. Adrian baru saja memasuki pesta bersama asistennya. Wajahnya tenang, tetapi kehadirannya segera menarik perhatian para tamu.
Jesika membalikkan badan. Matanya melebar ketika melihat Adrian.
“Bukankah dia pria yang berkali-kali membantu Ana?” gumamnya. “Siapa sebenarnya dia?”
Di tengah pesta yang semula dipenuhi tawa, kedatangan Adrian membuat suasana mendadak berubah.