Tiba-tiba menjadi gadis penebus hutang, Aina harus merelakan dirinya dinikahi oleh pria paruh baya, sosok yang lebih pantas menjadi ayahnya.
Namun, siapa sangka, ternyata pria tersebut adalah orang yang terhubung dengan masa lalunya.
Lalu bagaimana Aina keluar dari bayang-bayang itu, sementara masa lalu terus mengejarnya. Bahkan mengikatkan tali tak kasat mata di kakinya.
Salam anu👑
Ig @nitamelia05
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Nomor Tak Dikenal
Setelah kematian Erzan, tiba-tiba saja Naumi mengundurkan diri dari pekerjaannya. Karena saat ini Danesh sudah kembali ke rumah utama, Danesh langsung menunjuk salah seorang untuk menjadi kepala pelayan, menggantikan posisi wanita paruh baya itu.
"Pagi, Tuan," sapa asisten Danesh seraya membukakan pintu mobil.
"Pagi," balas pria itu, lalu duduk di kursi penumpang. Saat kendaraan roda empat itu mulai keluar dari gerbang, Danesh nampak mengeluarkan ponsel. Dia terlihat seperti ingin menghubungi seseorang.
Dia tersenyum sinis sebelum akhirnya menekan ikon panggilan.
Bersamaan dengan itu ponsel milik Aina berdering. Aina yang saat itu berada di dalam taksi, langsung merogoh benda pipih miliknya dari dalam tas.
Dia mengernyit heran, karena panggilan itu masuk dari nomor tak dikenal. Untuk yang pertama, Aina mengabaikannya karena bisa saja salah sambung.
Akan tetapi nomor itu terus menghubunginya, seolah ingin memberitahu dia tentang sesuatu. Aina menghela nafas kecil, dan akhirnya menggeser ikon hijau di layar pintarnya.
"Halo, dengan siapa?" ucap Aina untuk pertama kali, membuat seseorang di ujung sana langsung menyeringai penuh.
Danesh menyandarkan punggungnya di kursi, lalu berkata. "Halo, Aina. Aku Danesh, kamu tidak lupa denganku 'kan?"
Deg!
Jantung Aina mencelos, untuk apa Danesh menghubunginya? Jangan bilang pria ini ingin melakukan sesuatu yang lebih jahat kepada dia dan Gavin.
Aina berusaha untuk menetralkan keterkejutannya. "Untuk apa kamu menelponku?"
"Kamu memang bukan wanita yang suka basa-basi ya. Kalau begitu temui aku di restoran dekat kantor. Aku ingin bicara."
"Aku tidak mau!" tolak Aina mentah-mentah.
"Kalau begitu bersiaplah untuk melihat Gavin membusuk di penjara."
Panggilan langsung diputus secara sepihak. Aina berdecak keras karena tak mungkin bisa mengabaikan ancaman Danesh begitu saja. Karena pria satu ini benar-benar memiliki banyak tipu muslihat.
Akhirnya mau tak mau Aina pun menuruti perkataan Danesh. Dia menemui pria itu sesuai dengan tempat yang sudah ditentukan.
Turun dari taksi Aina sama sekali tak melepas masker yang menutup sebagian wajahnya. Aina terus menyusuri restoran hingga dia melihat Danesh yang sedang duduk menunggunya.
Lantas Aina pun mendekati pria itu dan langsung menarik kursi untuk didudukinya.
"Ada apa?" tanya Aina to the point, tak ingin berlama-lama dengan pria berbahaya ini.
Danesh memperhatikan penampilan Aina yang begitu tertutup. Dia baru sadar, kalau Aina tengah menghindari orang-orang.
"Kamu tidak ingin pesan makan dulu?" tanya Danesh mengulur waktu.
"Aku tidak lapar!" jawab Aina dengan cepat.
"Kalau begitu pesan minum saja."
"Aku juga tidak haus. Aku hanya ingin kamu mengatakan yang sejujurnya, apa tujuanmu memintaku datang?"
Danesh tersenyum remeh, "baiklah kalau begitu. Kamu ingin Gavin bebas 'kan? Aku akan membebaskannya, tapi dengan satu syarat."
Aina mengernyitkan dahi, menunggu Danesh melanjutkan ucapannya.
"Tidur denganku, maka hari itu juga aku akan mencabut laporanku!"
Danesh berpikir bahwa dengan begitu Gavin akan semakin terluka. Karena dia berhasil meniduri gadis yang sangat dicintai adiknya itu.
Lagi pula dia yakin kalau sebenarnya Aina adalah gadis gampangan. Asal dia memberi uang, Aina pasti setuju dengan tawarannya.
Sementara mata Aina langsung terbelalak lebar, tak menyangka kalau Danesh menawarkan sesuatu yang begitu merendahkan harga dirinya.
"Kamu pikir aku adalah gadis murahan? Aku tidak akan sudi tidur denganmu!" tegas Aina dengan suara ketus. Sementara matanya memancarkan api kemarahan.
Namun, Danesh malah tertawa keras. Seolah mengejek perkataan yang baru saja terlontar dari mulut Aina.
"Tidak murahan? Berhubungan dengan anak tirimu sendiri, apakah hal itu tidak bisa membuktikan bahwa kamu itu sebenarnya murahan? Sangat-sangat murah!"
Plak!
Dengan berani Aina menampar pipi Danesh, karena sudah merasa tak tahan dengan semua perkataan pria itu.
"Terserah apa yang akan kamu katakan, tapi ingat sekali lagi, meskipun aku murahan seperti yang kamu sebutkan, aku tidak akan pernah mau menerima tawaran gilamu itu! Lagi pula aku jijik dengan tubuhmu!" tukas Aina dengan dada yang meletup-letup.
Sementara Danesh langsung mengeratkan gigi gerahamnya. Dia ingin sekali membalas perbuatan Aina saat itu juga, tetapi dia ingat bahwa sekarang dia ada di ruangan terbuka.
"Cih, lagakmu benar-benar seperti wanita yang tersakiti, padahal semua orang juga tahu, kalau kamu adalah wanita tidak tahu malu. Kamu bahkan melayani ayah dan anak dalam satu waktu!" ucap Danesh dengan suara keras, dia sengaja karena kini mereka telah menjadi pusat perhatian.
Sontak saja semua orang jadi tahu kalau sosok yang bersama Danesh adalah Aina.
"Hah bukankah dia orang yang sedang terlibat skandal dengan anak tirinya itu?" tanya seorang pengunjung pada temannya.
"Benar, berani sekali dia muncul di muka umum. Apa dia sudah tidak punya malu?" timpal yang lain.
"Mana mungkin dia punya malu, tubuhnya saja sudah dipamerkan di depan anak tirinya."
"Huh, pantas pakaiannya tertutup."
Dan masih banyak bisik-bisik yang lain, yang membuat hati Aina semakin memanas. Dia melirik Danesh, dan pria itu justru tersenyum senang, seolah menunjukkan bahwa dia telah kalah telak.
"Kamu tidak bisa mengabaikan tawaranku, Aina!"
***
Danesh dudungprettt minta dikepret yaaa😌😌
itu akibat tabur tuai Margin, udh mantan suami di srlingkuhin, boroknya du tinggalin di urus mantan msh aja otak jahat suruh anaknya bunuh PP sambung nya. sadis ngk tuh, kena situ padal berlapis habis itu tinggal Terima karma mu😡