NovelToon NovelToon
Pembalasan Raden Roro: Kubuat Suamiku Jadi Gembel

Pembalasan Raden Roro: Kubuat Suamiku Jadi Gembel

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Romansa pedesaan
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Raras hanya ingin pernikahannya berjalan tenang. Ia menutupi nama besar keluarganya, meninggalkan kemewahan di Yogyakarta, lalu memilih hidup sederhana bersama Danang, pedagang yang sedang naik daun.

Hingga suatu malam, Raras melihat pesan mesra di ponsel suaminya. Danang berselingkuh.

Yang lebih menyakitkan, keluarga Danang merendahkannya. Mereka menganggap Raras perempuan tanpa masa depan. Bagi mereka, Danang pantas mendapatkan wanita yang lebih cantik, lebih bergengsi, dan lebih menguntungkan.

Raras tidak menangis. Ia hanya berkemas, lalu pulang ke Yogyakarta.

Di balik pintu dalem keluarganya, kehidupan yang selama ini disembunyikan akhirnya terbuka. Ternyata tanah, sawah, kebun, gudang, hingga jaringan dagang milik keluarga Raras selama ini diam-diam menopang kesuksesan bisnis Danang dari belakang.

Raras tidak menghancurkan mantan suaminya. Ia hanya berhenti menopang. Satu per satu bisnis Danang runtuh. Ketika penyesalan itu datang terlambat, Danang sudah kehilangan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 — Daun Sawo Kecik (Revisi)

“Mbak, sampun jam songo (sudah jam sembilan). Mbak dereng tilem saking Senin enjing (belum tidur sejak Senin pagi).”

“Karung ini belum selesai kuhitung, Pak.” Raras berdiri di tengah gudang Yogya yang sudah lengang, dengan sehelai karung goni terbentang di atas meja kayu. Senin malam, lampu neon berdengung di atas kepalanya, dan bau beras kering memenuhi ruangan. “Tiga puluh dua karung bercap sudah kuhitung. Barang Mas Danang yang sekarang di Sleman, ada capnya?”

“Mboten wonten, Mbak. Itu stok dari pemasok lain, bukan dari gudang kita.”

“Berarti tidak bisa dicap.”

“Mboten saget, Mbak (tidak bisa, Mbak). Cap itu hanya untuk barang yang lewat gudang kita.” Pak Hadi mengusap kepalanya yang berkeringat. “Mbak, ada yang mau saya laporkan. Tadi sore ada yang datang.”

“Siapa?”

“Mas Danang. Sekitar pukul lima, lewat pintu belakang pasar. Dia bertanya-tanya kepada para kuli.”

Raras meletakkan karung itu perlahan. “Dia bertanya apa?”

“Dia memegang karung bercap, Mbak. Karung sampel dari bulan lalu. Lama sekali dia meraba capnya. Lalu dia bertanya kepada salah satu kuli, ‘Pak, kenapa karung ini tidak bisa ditawar harganya?’”

“Kuli itu menjawab apa?”

“Pak Darto bilang, ‘Karung bercap iku ora tau ditawar, Mas (karung bercap itu tidak pernah ditawar, Mas). Sing nyetak yo Ndoro Putri dhewe (yang mencap ya Ndoro Putri sendiri).’”

“Pak Darto menyebut saya Ndoro Putri?”

“Nggih, Mbak. Beliau tidak bermaksud apa-apa. Sudah terbiasa memanggil Mbak begitu.” Hadi menunduk. “Lalu Mas Danang bertanya, ‘Ndoro Putri itu siapa, Pak?’ Pak Darto menjawab, ‘Putrine Ndoro Aditya, sing mbojo karo sampeyan, Mas (putrinya Ndoro Aditya, yang bersuami Anda, Mas).’”

“Pak Darto benar-benar bilang begitu?”

“Nggih, Mbak. Setelah itu Mas Danang diam lama. Dia hanya bilang matur nuwun, lalu pergi.”

“Wajahnya bagaimana?”

“Pucat, Mbak. Seperti orang yang baru disiram air dingin.”

“Dia marah?”

“Mboten, Mbak. Tidak marah. Dia hanya diam, seperti sedang mengingat-ingat sesuatu.”

Raras mengambil karung bercap itu dan menyentuh ujung jahitannya. Di sana, tercetak dalam kuningan panas, sebuah lingkaran kecil dengan satu daun bulat di tengahnya. Daun sawo kecik, setiap urat dibuat teliti oleh tukang cap yang dulu bekerja untuk Eyang.

“Pak, kapan terakhir cap ini dipakai untuk kiriman Pak Hartono?”

“Minggu lalu, Mbak. Setelah itu Mas Danang membeli beras dari pemasok lain.”

“Karena kita tidak lagi memberinya prioritas?”

“Karena beliau tidak tahu cap itu hanya bisa didapat dari kita.” Pak Hadi tampak canggung. “Beliau mengira cap itu cuma biaya cetak biasa yang dibayar kepada pemasok.”

“Tiga tahun.”

“Tiga tahun, Mbak.”

Raras tertawa pendek, serak, lalu menutup mulut dengan punggung tangan. “Dia mengira daun sawo kecik itu cuma hiasan.”

“Mungkin karena Mbak tidak pernah menjelaskan.”

“Itu larangan nomor satu, Pak. Jangan menyebut nama Pramesti.” Suaranya patah. “Saya mematuhi larangan itu sampai harus membayar semahal ini.”

“Mbak, saya juga merasa bersalah. Saya menyimpan cap itu di laci dan tidak pernah menjelaskan kepada Mas Danang.”

“Bapak hanya menjalankan perintah, dan Bapak tidak berbohong kepada siapa pun. Bapak tidak salah.”

“Tapi kalau saya menjelaskannya dari dulu, mungkin Mas Danang tidak akan mengalami semua ini.”

“Mungkin, Pak.” Raras mengangguk. “Tapi mungkin juga hasilnya tetap sama. Orang yang sudah memutuskan sesuatu akan mencari alasannya sendiri.”

“Mbak terlalu baik kepada orang yang sudah menyakiti Mbak.”

“Saya tidak sedang berbaik hati, Pak. Saya hanya tidak mau dendam ikut campur dalam urusan pekerjaan.”

“Mbak, teleponnya.”

Ponsel di meja bergetar. Nama di layar membuat Raras menegakkan punggung: Pak Hartono Semarang.

“Selamat malam, Pak.”

“Selamat malam, Mbak Raras. Maaf mengganggu malam-malam begini.” Suara Pak Hartono tenang. Terdengar bunyi sendok menyentuh cangkir dari ujung sana. “Saya sudah membaca ulang Lampiran Dua kontrak kita. Ada syarat kemasan bertanda daun sawo kecik. Apakah kiriman Pak Danang selama tiga hari terakhir memakai cap itu?”

“Tidak, Pak.”

“Kenapa?”

“Karena barangnya tidak keluar dari gudang kami. Cap itu hanya dipasang pada barang yang melewati gudang kami.”

“Jadi, cap itu bukan milik Pak Danang?”

“Bukan, Pak.”

Hening cukup lama. Raras bisa mendengar napas Pak Hadi di belakangnya.

“Boleh saya bertanya, Mbak? Kenapa memakai daun sawo kecik?”

“Eyang menanam pohon sawo kecik di halaman dalem, Pak. Sawo kecik, sarwo becik. Artinya, semuanya baik.” Raras menelan ludah. “Keluarga kami memakai lambang itu untuk mengingatkan diri sendiri agar menjaga kualitas barang dan tidak mengecewakan pembeli.”

“Alasan yang bagus.” Pak Hartono tertawa kecil. “Saya orang Semarang, Mbak. Saya paham soal merek. Tapi saya juga ingin tahu kenapa lambang itu tidak pernah dijelaskan dalam kontrak Pak Danang.”

“Pak Danang tidak sengaja menyembunyikannya, Pak. Beliau memang tidak tahu.”

“Menurut Mbak, itu membuat perbedaannya besar?”

“Besar, Pak. Kalau tidak tahu, orang masih bisa belajar. Kalau sengaja menyembunyikan, itu perkara lain.”

“Sekarang Mbak malah membela suami sendiri?”

“Saya tidak membela, Pak. Saya hanya menjelaskan apa yang saya tahu.” Raras memejamkan mata. “Soal sampel bercap, saya tidak bisa memberikannya kalau barangnya tidak memenuhi syarat. Tapi kalau Pak Danang membeli sesuai aturan, saya akan mencapnya sendiri.”

“Itu janji?”

“Bukan janji, Pak. Memang begitu aturannya. Siapa pun yang memenuhi syarat akan mendapat perlakuan yang sama.”

“Baik.” Pak Hartono menarik napas. “Saya beri waktu sampai Selasa depan. Tapi sebelum itu, saya ingin bertemu Mbak dan Pak Danang di Semarang. Saya ingin kalian berdua hadir.”

“Saya akan datang, Pak, kalau Pak Danang bersedia.”

“Saya tidak akan memaksa.” Suaranya melembut. “Mbak Raras, saya ingin bertanya satu hal lagi. Ini bukan soal kontrak.”

“Silakan, Pak.”

“Mbak tidak capek mengurus semua ini, sementara rumah tangga sendiri sedang bermasalah?”

“Capek, Pak.” Raras tersenyum tipis, walau lawan bicaranya tidak bisa melihat. “Tapi saya lebih capek kalau harus terus berbohong.”

“Itu jawaban yang bagus.”

“Boleh saya tanya juga, Pak? Kenapa Bapak percaya kepada saya?”

“Karena Mbak tidak meminta saya percaya begitu saja.” Pak Hartono terkekeh. “Mbak menjelaskan apa adanya dan membiarkan saya menilai sendiri.”

Telepon ditutup. Raras meletakkan ponsel dan menyandarkan kedua tangan di meja. Karung bercap di depannya terasa berat, bukan oleh isinya, melainkan oleh nama yang tercetak di ujung jahitannya.

“Mbak,” kata Pak Hadi pelan, “mau pulang?”

“Belum, Pak.” Raras mengusap mata. “Saya mau mencap satu karung sendiri sebelum pulang. Saya ingin melakukannya dengan tangan saya sendiri.”

“Nggih, Mbak.” Pak Hadi membuka laci kayu dan mengeluarkan sebuah cap kuningan sebesar telapak tangan. “Ini, Mbak. Masih ingat cara memakainya?”

“Panaskan di bara, tekan tiga hitungan, lalu angkat lurus.” Raras menerima cap itu dengan tangan kiri. Kuningan itu dingin dan berat. “Eyang mengajari saya waktu umur sepuluh tahun.”

“Waktu itu Mbak menangis karena jarinya melepuh.”

“Eyang bilang, ‘Pramesti tidak menangis karena cap.’” Raras tertawa kecil. “Tapi saya tetap menangis.”

Pak Hadi menyalakan bara kecil di tungku sudut ruangan. Raras meletakkan cap itu di atasnya, menunggu sampai ujung kuningan menggelap, lalu menekannya ke karung kosong sambil menghitung sampai tiga. Bau goni hangus tercium tipis. Ketika ia mengangkat cap itu, lingkaran kecil dengan satu daun tercetak jelas di jahitan.

“Bagus sekali, Mbak.”

“Belum sempurna, Pak. Garisnya sedikit miring.” Raras menunjuk dengan telunjuk. “Tapi setidaknya saya tidak berpura-pura membuatnya lurus.”

“Garis miring itu memang ciri cap Mbak. Cap Eyang lurus, cap Mbak selalu miring.”

“Berarti saya memang tidak bisa menyamar, Pak?”

“Mboten, Mbak. Tapi Mbak juga tidak perlu menyamar.”

“Itu yang baru saya pelajari minggu ini.”

“Belajar apa, Mbak?”

“Bahwa menjaga sesuatu tidak berarti harus menyembunyikannya, Pak.”

“Mbak sudah makan?”

“Baru makan satu mendoan, Pak.”

“Kalau begitu, saya bawakan nasi kucing dari warung depan.”

“Terima kasih, Pak.”

“Mbak, kalau Mas Danang datang besok dan meminta cap itu, bagaimana?”

“Saya akan menjawab seperti kepada Pak Hartono. Kalau barangnya memenuhi syarat, saya cap sendiri.”

“Jadi Mbak tidak akan memberikan cap itu begitu saja?”

“Tidak, Pak. Syarat itu bukan hukuman. Semua orang harus mengikutinya, termasuk Mas Danang.”

Ponselnya bergetar lagi di atas meja. Pesan baru masuk dari nomor yang tidak pernah ia hapus, meski sudah tiga hari tidak ia buka.

Ras. Pak Bambang bilang aku harus tanya kamu langsung. Aku tidak mau menebak-nebak lagi. Besok pukul lima aku ke Wates untuk menemui Pak Wiryo, Pak Sastro, dan Bu Warsih. Kalau kamu mau datang, datanglah. Kamu tidak perlu bicara.

“Dari Mas Danang, Mbak?” tanya Pak Hadi, melihat perubahan wajahnya.

“Dia meminta saya datang ke Wates besok, Pak. Katanya saya tidak perlu bicara.”

“Mbak akan datang?”

“Pukul empat kita berangkat.” Raras memasukkan ponsel ke saku kebaya. Jemarinya tidak lagi gemetar. “Saya akan diam, Pak. Entah kenapa, sekarang justru itu yang paling sulit.”

1
Nurlaila Hidayah
Dia lah yg telah membersihkan jalan untuk ku mempermudah usahaku tnpa adanya hambatan, tapi dengan tidak tahu malu dan tidak tahu diri nya, diri ini berani untuk menduakan dan menceraikan demi wanita lain. padahal dia yg telah membantu usahaku
Sri Widiyarti
lanjut thor semangat up-nya
Erchapram: Mohon sabar menunggu ya Kak, karena aku sedang revisi mulai bab 1. Terima kasih supportnya 🙏
total 1 replies
Sri Widiyarti
Danang kesuksesanmu ternyata bantuan istri yang kau ceraikan demi perempuan lain..
Erchapram
Yang sudah baca sampai bab ini, boleh gak sih aku minta bintang limanya 🙏 Makasih banyak sebelumnya.
Sri Widiyarti
lanjut thor jangan lama2 🙏
Erchapram: Iya, Kak. Terima kasih supportnya 🙏
total 1 replies
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
Raras udh mulai bergerak ,,
Baek chanhun
next thort 💪💪
Muft Smoker
baruuu ini ad cerita byk pake bahasa daerah ,, cerita ny bagus kak ,,
lanjuut
Muft Smoker
hai kak ,, mampir aq ,,
Baek chanhun
thank, saran nya di terimah, yg bab tarakhir itu flasback ya.
🙏💪
Erchapram: Terima kasih kembali Kak dan iya, itu flashback.
total 1 replies
Baek chanhun
senang banget ada bahasa daerah, tapi, kalo ada artinya lebih bagus lagi, gua orang luar jawa ng ngerti apa.yg.di omongin, 🙏🙏
Erchapram: Sudah aku revisi Kak, bisa dibaca ulang. Terima kasih.😍
total 2 replies
Soraya
lanjut thor
Soraya
hadir thor lanjut
Baek chanhun
lanjutkan thort. 💪💪
Erchapram: Baik... terima kasih supportnya.
total 1 replies
Ma Em
mampir Thor , buat Danang menyesal karena sdh menduakan Raras .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!