Bagi Celeste Delacroix, sinar matahari adalah vonis mati. Mengidap penyakit langka, hidupnya terkurung dalam kegelapan dan selalu dibanding-bandingkan dengan kembarannya, Caelia, yang dipuja bagai dewi.
Ketika Caelia menolak dijodohkan dengan Lucian St. Claire, milyarder dingin yang bisu akibat trauma, keluarga Delacroix secara licik menumbalkan Celeste untuk menggantikan posisinya di altar pernikahan.
Di balik gaun pengantin dan rahasia besar penyakitnya, Celeste masuk ke kediaman St. Claire. Namun, Lucian yang tak bersuara justru menjadi satu-satunya orang yang mampu memahami bahasa luka Celeste. Di tengah kebohongan yang rapi, akankah cinta mereka bertahan saat kebenaran akhirnya terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bahasa tanpa suara
Dokter Helena menghela napas panjang, menatap lekat dokumen di tangannya. "Nona Celeste mengidap Xeroderma Pigmentosum. Ini adalah kelainan genetik yang sangat langka. Tubuhnya tidak mampu memperbaiki kerusakan kulit yang disebabkan oleh sinar ultraviolet. Terkena sinar matahari sedikit saja bisa memicu kanker kulit yang mematikan."
Kata-kata dokter itu menggantung di udara seperti vonis mati.
Celeste menundukkan kepalanya dalam-dalam. Air mata yang sejak tadi ia tahan mulai menetes perlahan, jatuh membasahi gaun krem yang ia pegang erat. Tubuhnya gemetar. Selesai sudah, batinnya penuh kepasrahan. Ini adalah akhir dari segalanya. Mana mungkin keluarga konglomerat seperti St. Claire sudi menerima menantu cacat yang bagaikan porselen rapuh dan tak bisa menyentuh dunia luar?
Ia memejamkan mata, bersiap mendengar kata-kata penolakan atau caci maki dari Eleanor.
Namun, yang terjadi selanjutnya justru di luar dugaan. Suara langkah kaki mendekat, dan detik berikutnya, sepasang lengan yang hangat merengkuh tubuh ramping Celeste. Eleanor memeluknya erat, menepuk-nepuk punggungnya dengan penuh kasih sayang.
Celeste membeku. Matanya membelalak tak percaya.
"N-Nyonya...?" bisik Celeste terbata-bata.
"Anak yang malang..." bisik Eleanor lembut, mengusap air mata di pipi Celeste dengan ibu jarinya. "Pasti sangat berat bagimu hidup terkurung selama ini, Nak."
"Nyonya... Nyonya tidak jijik atau marah padaku?" tanya Celeste dengan suara bergetar. "Aku... aku ini seperti cacat. Aku tidak bisa mendampingi Lucian di siang hari."
Eleanor tersenyum tipis, merapikan rambut panjang Celeste dengan penuh kehangatan. "Kenapa harus marah? Ini bukan salahmu, Celeste. Ini bukan penyakit menular, dan kamu tidak memilih untuk lahir seperti ini."
Celeste menelan ludah, dadanya sesak oleh rasa haru yang luar biasa. "Tapi... aku mohon, Nyonya..."
"Mohon apa, Sayang?"
"Jangan beritahu siapa-siapa tentang penyakitku ini. Jangan beritahu media, dan... tolong jangan beritahu Lucian," pintanya lirih, menatap Eleanor penuh permohonan.
Eleanor mengerutkan dahi kebingungan. "Kenapa? Lucian calon suamimu, dia berhak tahu agar bisa melindungimu."
"Aku malu, Nyonya..." Celeste menunduk, meremas gaunnya. "Aku takut dia memandangku kasihan atau makin membenciku. Aku ingin dia menerimaku tanpa rasa iba."
Eleanor menatap Celeste lama, lalu menghela napas mengalah. "Baiklah, kalau itu kemauanmu. Tapi ingat, suatu saat kamu sendiri yang harus jujur padanya, ya?"
Celeste mengangguk cepat. "Terima kasih, Nyonya. Terima kasih banyak."
Setelah merapikan pakaiannya, Celeste berjalan di samping Eleanor keluar dari gedung rumah sakit menuju area parkir khusus. Di sana, sebuah mobil sport sedan hitam sudah terparkir rapi. Di balik kaca depan, terlihat sosok Lucian yang duduk memegang kemudi.
Eleanor menghentikan langkahnya dan berpaling pada Celeste. "Celeste, sepertinya aku tidak bisa ikut fitting baju pengantin malam ini. Ada urusan mendadak di perusahaan yang harus kuurus. Kamu pergi bersama Lucian saja, ya?"
"Eh? Bersama Lucian saja, Nyonya?" Celeste kaget.
"Iya. Sesuai kesepakatan dua keluarga, pernikahan kalian akan digelar seminggu lagi. Dan Lucian sudah memesan gaun pernikahan paling mewah untukmu di boutique langganan kami," ujar Eleanor santai.
Celeste terbelalak. "P-pesta mewah? Nyonya, sebenarnya acara sederhana saja tidak apa-apa—"
"Tidak ada kata sederhana untuk pernikahan seorang St. Claire, Nak," potong Eleanor terkekeh pelan. "Sudah, cepat masuk. Lucian sudah menunggumu."
Celeste hanya bisa mengangguk pasrah. Ia melangkah ragu mendekati mobil hitam itu dan membuka pintu penumpang di depan. Begitu duduk, aroma parfum kayu yang hangat dan jantan langsung menyergap indra penciumannya aroma khas Lucian.
Mobil mulai melaju membelah jalanan malam. Suasana di dalam kabin mendadak menjadi sangat senyap dan canggung. Lucian fokus mengemudi tanpa bersuara, sementara Celeste bingung harus bersikap bagaimana.
Saat mobil mereka berhenti di lampu merah yang menyala merah, Celeste memberanikan diri untuk mencairkan suasana. Ia mengumpulkan keberaniannya, lalu mengulurkan jari dan mencolek pelan lengan jas Lucian.
Lucian menoleh, menaikkan sebelah alisnya dengan tatapan bertanya.
Celeste tersenyum canggung. Ia menggerakkan jari-jarinya dengan kaku, memperagakan bahasa isyarat yang sempat ia pelajari secara singkat di internet.
"Ka-mu... mau... makan... a-pa?" gerak tangan Celeste sangat lambat dan canggung.
Melihat gerakan tangan yang berantakan itu, sudut bibir Lucian terangkat. Pria itu menarik seringaian tipis. Lucian meraih ponselnya di dekat kemudi, mengetik sesuatu dengan cepat, lalu menyodorkan layarnya ke depan wajah Celeste.
[Aku bisu, tapi tidak tuli. Kamu bisa bicara biasa, aku bisa mendengarmu.]
Deg!
Seketika, wajah Celeste memerah padam bagai kepiting rebus! Rasa malu yang luar biasa menghantam dadanya. "A-astaga! Maaf! Maaf sekali, aku kira..." Celeste menutup wajahnya dengan kedua tangan, ingin rasanya amblas ke dalam bumi saat itu juga.
Lucian tertawa tanpa suara, dadanya naik turun mengandalkan kekehannya yang hening. Melihat Celeste yang kelimpungan justru membuat hatinya terhibur.
Celeste menurunkan tangannya, menatap Lucian dengan kesal bercampur malu. "Tapi... tapi aku tetap mau bicara pakai isyarat! Biar kita bisa saling mengerti!" kekeh Celeste.
Lucian mengangkat alis, lalu jarinya bergerak sangat cepat dan lincah memperagakan bahasa isyarat yang lihai.
Celeste membelalak heran. "Wah! Kamu bisa gerakkan tanganmu secepat itu?!"
Lucian tersenyum lebar hingga matanya menyipit menjadi garis tipis yang sangat tampan. Dalam hati, Lucian batin, Lucu juga ternyata perempuan ini.
Melihat senyuman hangat dari pria yang tadinya terlihat sangat dingin itu, rasa takut di hati Celeste perlahan menguap. Ia menegakkan tubuhnya, melupakan sejenak status mereka yang terikat akibat insiden malam itu.
Celeste mengulurkan tangan kanannya ke arah Lucian.
"Kita akan menikah seminggu lagi. Daripada canggung dan aneh, bagaimana kalau kita berteman dulu? Kalau memang belum ada cinta di antara kita, setidaknya kita bisa jadi teman yang baik. Boleh, kan?" tanya Celeste tulus dengan mata hazel-nya yang berbinar.
Lucian menatap tangan mungil yang terulur di hadapannya. Ia tidak langsung menjabatnya. Pria itu justru meraih jemari Celeste, membawa tangan halus itu ke bibirnya, lalu mengecup punggung tangan Celeste dengan lembut dan lama.
Cup.
Sentuhan bibir hangat Lucian di kulitnya membuat tubuh Celeste seketika menegang. Aliran sengatan listrik yang aneh mendadak menjalar dari tangannya hingga menembus dada. Jantungnya berdegup sangat kencang.
Lucian melepaskan ciumannya, lalu mengetik sesuatu di ponselnya dan memperlihatkannya lagi pada Celeste.
[Teman yang akan menjadi suamimu seminggu lagi. Deal.]
Celeste menggigit bibir bawahnya, menahan senyum yang mendadak ingin terbit. "Kau sangat bergaya..." gumamnya pelan.
Lucian kemudian menyodorkan ponselnya lagi, kali ini membuka menu kontak baru. Ia menunjuk ponsel itu, lalu menunjuk ponsel Celeste yang ada di dalam tas.
"Mau tukaran nomor telepon?" tanya Celeste memastikan.
Lucian mengangguk pelan.
Dengan cengiran kecil, Celeste mengambil ponselnya dan mengutip nomor teleponnya ke ponsel Lucian. Setelah menyimpannya, Lucian menekan tombol panggil, membuat ponsel Celeste di dalam tas berdering nyaring.
[Namamu sudah kusimpan sebagai 'Celeste'. Kalau ada apa-apa, langsung kirim pesan. Jangan menghilang lagi seperti pagi itu,] ketik Lucian dengan tatapan usil yang tajam.
HAH