"Aku telah mati karena cinta, kali ini aku ingin hidup untuk diriku sendiri" atau begitulah yang diucapkan Evelyn awalnya sebelum dia mengenal kepribadian Matthew si Pangeran Kulkas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PhepipoOrevi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Samantha untuk Pertama Kalinya
Keheningan yang menenangkan kembali membungkus teras belakang mansion Harrington. Ciuman hangat Matthew perlahan terlepas, meninggalkan kehangatan di bibir Evelyn. Pria itu menatapnya dan membelai rambut Evelyn, seolah memastikan tidak akan ada lagi kematian di loop kali ini.
"Terima kasih sudah mau berjuang sama aku, Eve," bisik Matthew rendah, menyandarkan dahinya sejenak di dahi Evelyn sebelum akhirnya menegakkan tubuhnya kembali.
Pagi berikutnya, suasana di kediaman Harrington mendadak lebih sibuk dari biasanya. Udara dingin pegunungan disambut oleh deru mesin mobil mewah yang berhenti tepat di depan pelataran utama. Evelyn berdiri di samping Matthew di area teras, memperhatikan pintu mobil yang terbuka. Seorang wanita berpenampilan anggun dengan gaun malam berwarna biru navy melangkah keluar, menyapu pandangannya dengan percaya diri yang memikat.
Samantha Pendragon.
Evelyn menahan napas sejenak. Di beberapa loop kehidupan lalu, sosok Samantha selalu dipandangnya sebagai musuh alami—tunangan Cedric yang dingin, angkuh, dan tak tersentuh. Namun saat mata Samantha beradu dengan matanya, tidak ada sedikit pun rasa cemburu atau kebencian di sana. Yang ada hanyalah sorot mata tajam dan dingin khas seorang bangsawan yang siap bertempur.
"Kak Matthew," sapa Samantha singkat, Ia lalu memindahkan pandangannya lurus ke arah Evelyn "Dan kamu pasti Evelyn."
"Hai Samantha..." Evelyn menyapa pelan, sedikit membungkuk hormat.
"Tidak perlu formal, Evelyn," potong Samantha cepat seraya melangkah mendekat, aroma parfum bergamot yang elegan tercium dari tubuhnya. "Matthew sudah menceritakan segalanya padaku. Atau lebih tepatnya... mengenai betapa bodohnya kita berdua di kehidupan-kehidupan lalu karena dimanipulasi oleh pria tak berguna seperti Cedric Ashworth."
Evelyn tertegun. "Apakah kamu juga ingat?"
Samantha tertawa kecil, suara tawa yang sarat akan sarkasme dingin. "Tentu saja tidak Evelyn. Aku tidak diberi apa ya kata-kata yang pas untuk kondisi kalian berdua ini. Anugrah atau kutukan?"
Samantha melangkah masuk ke dalam mansion. Matthew melangkah ke samping Evelyn, merangkul pinggang gadis itu dan ikut juga masuk ke dalam mansion. Di ruang tamu keluarga yang santai, Sebastian sudah menyiapkan berbagai camilan dan minuman.
"Kau benar Sam, anugrah ini adalah kutukan yang menyedihkan. Tapi saat ini, aku menikmati anugrah ini, Sam. Aku bisa bertemu Evelyn dan mungkin kami akan menikah, kau tahu semua itu mungkin kan." Matthew menggoda Eve yang tertunduk malu di sampingnya.
"Yah baiklah itu terserah kakak saja. Lagian posisi keluarga kita udah kuat jadi tidak perlu pernikahan politik." jawab Samantha.
"Eve, kemarin kamu tanya gimana perasaan Samantha kan karena Cedric adalah tunangannya. Kamu tau gak, Samanthalah yang membantuku meretas dan memutus akses tiga bank utama Ashworth dari dalam, Eve. Dia yang memegang data aliran dana ilegal keluarga mereka." kata Matthew yang disambut bangga oleh Samantha.
Samantha melipat kedua tangannya di dada, tatapannya tajam penuh emosi yang membara. "Cedric berpikir dia bisa membodohiku dengan bersikap manis di depan publik sambil merencanakan pembunuhanmu di belakang, dan akan melimpahkan hal itu ke keluarga Pendragon. Gila, benar-benar gila! Dia sama sekali tidak tahu kalau selama ini aku mencatat setiap transaksi keuangan, setiap surat rahasia, dan setiap koneksi gelap yang dibangun ibunya."
Mendengar hal itu, rasa kagum perlahan menggeser keraguan di hati Evelyn. Samantha bukan musuh dalam tragedi ini, wanita itu adalah sekutu kuat yang memiliki dendam yang sama terhadap manipulasi Ashworth.
"Lalu... apa rencanamu selanjutnya, Sam?" tanya Evelyn.
Samantha tersenyum sinis, menatap Evelyn dan Matthew bergantian. "Aku akan membiarkan Cedric berpikir bahwa pertunangan kami masih berjalan sempurna. Aku akan memancing Leonor untuk mengeluarkan seluruh dokumen palsu pengambil alihan aset Pendragon pada pesta dansa malam pesta ulang tahun kekaisaran minggu depan."
"Dan di saat itulah," sela Matthew dengan suara baritonnya yang menekan, "kita akan mengeksekusi mereka di hadapan seluruh bangsawan istana."
Samantha mengangguk puas. Ia menatap Evelyn dengan sorot mata penuh apresiasi. "Cedric akan mengirimkan surat padamu sebentar lagi, Evelyn. Dia bakal memanfaatkan kepolosanmu, aku rasa buat mencuri stempel utama Pendragon. Atau mungkin dia tetap pada rencana pembunuhanmu itu, entahlah. Aku belum bisa membaca arah langkahnya. Tapi kita sudah siap, Eve. Kita akan menangkap atau membunuhnya, dia bisa pilih salah satu."
Evelyn mengepalkan tangannya rapat-rapat. Rasa takut akan delapan kematian di masa lalu kini telah hilang sepenuhnya, berganti menjadi semangat balas dendam.
"Kalau begitu Sam, aku secara sukarela akan menjadi umpan dan memastikan mereka masuk ke dalam perangkap yang sudah kamu siapkan." kata Evelyn.
Matthew menatap Evelyn dari samping, membelai lembut kepala Evelyn dan mengecup keningnya. "Jangan berlebihan tapi Eve. Aku gak mau kehilangan kamu lagi."
Evelyn menatap Matthew, mengelus pipinya dan menariknya kedalam ciuman hangat. Samantha hanya tersenyum melihat mereka berdua sambil menikmati snack dan minuman di atas meja.
Kak Matthew, sebenarnya kalau kubilang aku juga ingat. Akan menambah dalam lukamu dan Evelyn. Ashworth memang keluarga yang harus dihancurkan. Karena mereka merenggutmu, Kak. Aku masih ingat hari setelah kematian Evelyn. Pasukan penjaga menangkap kita dan membunuhmu kak. Sedangkan aku dikirim ke biara tanpa bisa melakukan penguburan yang layak buatmu. Di kehidupan ini, aku yang akan melindungimu Kak.
Batin Samantha berkecamuk hebat mengingat kehidupannya yang lalu. Yah, entah karena darah Pendragon atau kutukan atau apalah. Mereka bertiga terseret dalam peristiwa mengerikan ini. Tetapi Samantha menutup erat kenyataan bahwa ia ingat, ia tahu.