Laras, ibu rumah tangga yang setia, tak sengaja membaca pesan mesra di ponsel suaminya, Dimas. Perempuan di balik pesan itu ternyata Vania, tetangga baru yang selama ini bersikap ramah padanya.
Laras hancur, tapi ia memilih diam dan mengumpulkan bukti. Saat melihat Reza, suami Vania, yang tulus mencintai istrinya, ia memutuskan membalas dengan cara yang sama: merebut apa yang paling Vania sayangi.
Namun semakin dalam Laras bermain, semakin kabur batas antara dendam dan perasaan. Rahasia masa lalu Vania dan Reza mulai terbuka, dan Laras harus memilih antara menuntaskan pembalasan atau menyelamatkan dirinya dan Kenzo, anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TANIA MASUK PAGAR
Ketukan itu tidak diulang.
Tiga kali, sopan, pelan. Seperti tamu kondangan yang takut ganggu tuan rumah.
"Sumi? Laras? Ini Tania. Boleh Ibu masuk? Ibu bawakan kue, seperti dulu."
Sumi tidak langsung menjawab. Tangannya masih memegang ujung kerudungnya yang miring. Matanya menatap pintu pagar yang tidak digembok itu — pagar yang tadi sore sengaja tidak dikunci Laras karena sertifikat sudah atas namanya.
Bu Tuti yang duduk di kursi plastik teras menghela napas panjang. Napas orang asma yang menahan marah sebelas tahun.
"Buka, Sum," kata Bu Tuti pelan. "Sudah sebelas tahun dia nggak bawa kue."
Sumi berjalan. Setiap langkahnya berat. Bukan karena usia. Karena nama Tania Suryani itu terakhir ia dengar di malam pemakaman Jono, suaminya, sopir yang mati di tikungan Puncak.
Pagar dibuka.
Di luar berdiri perempuan kurus. Kerudung cokelat pudar, kebaya lusuh warna krem, rantang susun tiga yang catnya sudah mengelupas di tutupnya. Wajahnya cantik, tapi cantik yang sudah dimakan waktu dan kemoterapi. Alisnya tipis digambar pensil, bibirnya pucat.
Tania Suryani. Sahabat ketiga di foto 1978. Yang memotret Sumi dan Tuti, jadi tidak masuk foto.
"Talam," katanya, mengangkat rantang sedikit, seperti menawarkan. "Sumi dulu suka talam pandan. Saya ingat, kamu kalau makan, pinggirnya nggak dimakan, cuma tengahnya."
Sumi tidak ambil rantang itu. Ia menatap mata Tania.
"Kamu yang kirim orang ke rumah saya minggu lalu?" tanya Sumi, suaranya serak habis menangis.
Tania menggeleng cepat, air matanya langsung jatuh. "Bukan. Demi Allah bukan, Sum. Itu Rudi. Rudi pakai nomor saya. Dia curi HP saya waktu saya opname."
"Rudi anak angkatmu?"
"Bukan anak angkat. Anak kandung." Tania menunduk. "Anak saya dari suami pertama. Suami saya mati di proyek pelabuhan juga, tahun 2004. Saya miskin, Sum. Saya titip Dimas ke panti. Rudi yang adopsi dia. Rudi janji mau sekolahkan. Ternyata dia jadikan Dimas kaki tangannya."
Laras yang berdiri di belakang Sumi merasakan lututnya lemas. Dimas — suaminya yang sedang kritis di ICU, yang baru saja menebus rumah dengan jual motor — adalah anak kandung perempuan di depan pagar ini.
"Jadi Dimas... bukan anak Rudi?" tanya Laras, suaranya hampir hilang.
"Dimas anak saya, Laras." Tania menatap Laras, kali ini tidak takut. "Namanya dulu bukan Dimas. Namanya Dani. Saya kasih nama Dani Suryani. Rudi ganti jadi Dimas biar nggak ketahuan."
Bu Tuti memukul tongkatnya pelan ke lantai teras. Tok.
"Tania, kamu datang sekarang karena apa? Karena Kajati sudah ketangkap?"
Tania menggeleng lagi. Ia membuka rantang paling atas. Uap masih keluar. Kue talam pandan masih hangat.
"Saya sakit, Tuti. Kanker rahim. Sudah menyebar ke hati. Dokter bilang tiga bulan, paling lama empat." Ia tersenyum, senyum yang dipaksakan. "Saya nggak mau mati sebelum ketemu Dani... Dimas. Dan sebelum minta maaf sama Sumi."
Sumi akhirnya mengambil rantang itu. Tangannya gemetar.
"Masuk," katanya pelan.
Tania tidak langsung masuk. Ia menatap Laras, ragu.
"Boleh?"
Laras tidak menjawab dengan kata. Ia bergeser, memberi jalan. Di dalam rumah, Kenzo terbangun, digendong Vania yang perutnya sudah mulai membuncit. Vania berdiri di ambang pintu dapur, menatap Tania dengan takut.
Vania berbisik ke Laras, "Mbak, ini siapa?"
"Ibu mertuaku yang asli," jawab Laras pelan, tapi cukup keras untuk didengar Tania.
Tania masuk ke ruang tamu yang baru dicat putih. Ia menatap sekeliling. Di dinding, foto pernikahan Laras dan Dimas yang kacanya retak sudah diganti bingkai baru, tapi retakannya masih ada — sengaja tidak dibuang.
"Rumah ini..." Tania mengelus dinding. "Dulu Rudi beli dari uang pelabuhan. Dia gadaikan lagi."
"Sudah lunas," kata Laras, meletakkan akta dan sertifikat di meja. "Dimas yang lunasin. Jual motornya."
Tania menatap akta itu, lalu menatap Laras, lalu pecah.
Ia terduduk di lantai, memegang akta itu, menangis tanpa suara. Tangis orang yang sudah lama tidak menangis karena obat kemoterapi membuat air mata kering.
"Anak saya... anak saya bisa tebus rumah," bisiknya berulang-ulang. "Anak saya bisa tebus rumah..."
Sumi duduk di sampingnya, memeluknya. Dua sahabat 1978 yang terpisah sebelas tahun karena satu tikungan Puncak dan satu proyek pelabuhan.
Bu Tuti menatap mereka dari kursi, matanya berkaca-kaca. "Sudah, sudah. Talamnya keburu dingin."
Kenzo yang digendong Vania tiba-tiba meronta, minta turun. Ia berjalan tertatih ke arah Tania, menyentuh kerudung cokelat pudarnya.
"Nenek," katanya.
Tania mengangkat wajah, kaget, lalu memeluk Kenzo erat. Sangat erat, seperti takut Kenzo diambil lagi.
"Iya, Sayang. Nenek."
Dari luar pagar, yang lagi-lagi tidak digembok, sebuah mobil berhenti. Bukan mobil hitam. Mobil putih Kejaksaan.
Hendarto turun, membawa tas barang bukti. Di belakangnya, Dimas di kursi roda, didorong perawat. Wajahnya pucat, tapi matanya terbuka.
"Bu Laras, Pak Dimas minta pulang. Dokter bilang boleh rawat jalan," kata Hendarto.
Dimas melihat ke dalam rumah. Melihat ibunya, Sumi, Bu Tuti, Laras, Vania, Kenzo, dan satu perempuan kurus yang memeluk Kenzo.
Matanya berhenti di Tania.
Waktu berhenti.
Tania berdiri pelan, melepas pelukan Kenzo, berjalan ke arah kursi roda itu.
"Dani..." bisiknya.
Dimas menatapnya lama. Lama sekali. Lalu air matanya jatuh.
"Bu..." katanya. Satu kata itu saja.
Tidak ada musik. Tidak ada pelukan dramatis. Hanya Dimas yang mengulurkan tangan, menyentuh ujung kerudung cokelat pudar itu, dan Tania yang bersimpuh di samping kursi roda anaknya, menyandarkan kepalanya di lutut Dimas.
Laras berdiri di teras, memegang rantang kue talam yang masih hangat.
Untuk pertama kalinya sejak pesan "Kurebut suamimu" masuk, ia tidak merasa rumahnya direbut.
Ia merasa rumahnya kepenuhan.