NovelToon NovelToon
Sang Raja Mafia -the King Of Mafia

Sang Raja Mafia -the King Of Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Andri Komara

Dunia tidak pernah tahu nama negeri ini. Tapi semua orang di dalamnya tahu satu aturan: jangan pernah percaya siapa pun.
Kenzo Adriel berumur tujuh tahun saat ia bersembunyi di balik semak dan menyaksikan keluarganya dibantai habis — sementara negerinya sendiri berpura-pura hal itu tidak pernah terjadi.
Sepuluh tahun kemudian, ia bukan lagi anak itu.
Ia adalah bayangan yang disewa untuk membunuh orang-orang yang terlalu berbahaya untuk disentuh hukum. Tidak ada yang tahu wajahnya. Tidak ada yang tahu namanya yang sebenarnya. Dan tidak ada yang tahu bahwa setiap kontrak yang ia ambil hanyalah alasan untuk mendekati satu nama — dalang dari malam yang menghancurkan hidupnya.
Pencarian itu membawanya ke dalam rumah Alexander Gunawan, salah satu orang paling berkuasa — dan paling berbahaya — di negeri ini.
Sebagai tamu, bukan pembunuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: PIRING TERBALIK

#

Kaleng pipih itu kelihatan kecil di tangan Bram yang bersarung kulit.

Axel tidak lari. Ia sudah menghitung sejak tadi: dua orang di pintu bawah, satu di tangga, mungkin satu lagi di atap. Lari berarti mati, atau lebih buruk, membuat Bram menepati ancamannya di klinik.

*Kenapa aku harus percaya kamu?* ketiknya.

"Anda tidak perlu percaya. Anda cukup penasaran." Bram melangkah ke jendela, menyibak tirai dua jari, lalu menutupnya lagi. "Dua puluh enam tahun, Arsenio. Anda tidak pernah bertanya kenapa. Itu bukan karena Anda tidak ingin tahu. Anda hanya takut jawabannya lebih buruk dari lukanya."

Jari Axel berhenti di atas layar.

"Dan saya punya satu hal lagi." Suara Bram turun, hampir menyesal. "Sore tadi, kamera ruang kerja dokter di klinik menyala sebelas menit dari jaringan luar. Saya yang menaruh kamera itu, jadi saya tahu siapa yang menontonnya. Anda memperbesar gambar waktu Tuan Kenzo memasang plester di pelipis Nyonya. Tiga puluh satu detik. Anda tidak menatap Tuan Kenzo."

Telinga Axel panas. Tangannya menutup tablet seperti menutup buku harian yang ketahuan dibaca.

"Saya tidak akan bilang siapa-siapa," lanjut Bram. "Saya hanya ingin Anda tahu satu hal, supaya Anda tidak berharap pada yang salah. Di mata Nyonya sekarang hanya ada satu orang. Dan dia tidak sedang duduk di rumah ini."

*Diam.*

"Maaf."

*Jeky. Dokter Wening. Kalau satu rambut mereka kamu sentuh...*

"Tidak akan. Itu bagian dari kesepakatan." Bram mengangguk pelan. "Anda ikut dengan kaki sendiri. Mereka aman."

Axel menatap lantai lama sekali. Ada tiga hal yang ia tahu pasti. Bram berbohong tentang sebagian besar ucapannya. Bram tidak berbohong soal kenapa. Dan ia sudah dua puluh enam tahun tidak bisa tidur nyenyak karena satu pertanyaan itu.

*Aku tinggalkan pesan buat Kenzo.*

"Silakan. Tulisan tangan. Saya yang baca dulu."

Mereka turun ke dapur. Di rak dinding, tiga piring masih berdiri berjejer. Axel mengambil pulpen dari laci, merobek selembar buku tulis lama, dan menulis dengan tangan yang tidak biasa menulis:

*Aku pergi sendiri, sukarela. Jangan cari aku. — A.*

Bram membacanya, mengangguk puas. Axel meletakkan kertas itu di meja. Lalu, seolah hanya mencari pemberat supaya kertasnya tidak terbang, ia mengambil piring di tengah rak dan menaruhnya **terbalik** di atas kertas itu.

Bram sudah berbalik ke tangga. Ia tidak melihat apa-apa.

Kode itu dibuat umur dua belas, waktu Kenzo dan Axel main detektif di rumah ini. Victor selalu menulis *Papa cari angin* di kertas yang ditinggal di meja, dan mereka tahu itu bohong. Piring terbalik artinya: **yang tertulis di sini bohong.** Mereka tertawa waktu itu. Axel tidak pernah mengira akan memakainya sungguhan.

Di anak tangga terakhir, Bram membungkuk menyentuh sepatunya. Kancing manset kirinya menggantung longgar di seutas benang. Axel tidak melewatkan hal-hal kecil. Satu sentakan jari di belakang punggung, dan benda kecil itu sudah ada di dalam hoodie-nya.

Pintu belakang menutup. Mobil menyala tanpa lampu. Di dapur yang sunyi, tiga piring berdiri di rak, dan satu terbalik di atas selembar kebohongan.

---

Kenzo bangun karena kedinginan, lalu sadar ia sama sekali tidak kedinginan.

Sesuatu yang berat dan hangat menutupi bahunya. Mantel abu arang. Bau kayu cendana tipis dan debu hujan. Ia membuka mata pelan-pelan. Lorong klinik masih sama, lampu neon yang sama, bunyi mesin dari balik pintu yang sama. Dua meter darinya, di bangku seberang, Silva duduk tegak dengan lengan blus digulung dan sebuah berkas terbuka di pangkuannya.

Berkas itu terbalik.

"Berkasmu terbalik."

Silva menunduk. Dua detik hening. Ia memutar kertas itu dengan wajah yang tidak berubah sama sekali, sementara telinganya, lagi-lagi, memerah sampai ke ujung.

"Aku sedang menguji metode membaca terbalik."

"Oh."

"Ini teknik interogasi."

"Oke."

Kenzo duduk, menatap mantel di bahunya, lalu menatap lengan Silva yang terbuka dan kulitnya yang merinding halus di bawah AC klinik. Ia berdiri tanpa komentar, mengangkat mantel itu, dan menyampirkannya kembali di bahu Silva dengan gerakan yang sama datarnya seperti menyerahkan nasi bungkus.

"Kamu menggigil."

"Aku tidak..."

"Mulutmu terbuka."

Silva menutup mulutnya. Mantel itu masih hangat dari tubuh Kenzo, dan ia berpikir dengan putus asa bahwa seseorang harus segera menghentikan jantungnya.

*Dia memberiku mantelku sendiri,* pikirnya. *Tapi dia memanaskannya dulu.*

Itu tidak masuk akal. Tapi dadanya tidak peduli.

Alarm di saku Kenzo berbunyi. Satu jam penuh.

Ia merogoh telepon, menekan nomor Axel. *Tidak dapat dihubungi.* Sekali lagi. Sama. Wajahnya berubah sedikit demi sedikit, seperti air yang mulai mendidih tanpa gelembung.

"Aceng."

"Kak!" Suara bocah itu muncul dari balik pintu ruang belakang, rambut kusut dan mata merah. "Aku baru mau bilang! Sinyal tabletnya Kak Axel putus jam sembilan empat satu. Terakhir di Kota Tua, rumah Om Victor. Terus mati begitu aja, kayak dicabut."

"Jack."

Jack sudah berdiri di ambang ruang pemulihan, kemeja kakunya penuh noda. "Aku jaga Jeky, Bos. Aku nggak ke mana-mana."

"Dante, Tony, tetap di sini sama dia. Siapa pun yang nggak kalian kenal, jangan dikasih masuk."

"Kenzo." Silva sudah berdiri dengan mantel di bahu. "Aku ikut."

"Nggak."

"Mobilku di depan. Kamu belum tidur. Kamu bisa menabrak apa saja."

"Aku bisa nyetir."

"Aku bisa melakukan banyak hal yang tidak kamu tahu." Ia melangkah melewatinya, dan di ambang pintu menoleh, dingin dan lurus. "Dan kalau Arsenio hilang di wilayah yang kuawasi, itu juga urusanku."

Kenzo menatap punggungnya, tidak punya tenaga berdebat. "Terserah."

Silva tidak tersenyum. Tapi di dalam, sesuatu yang sudah lama beku bergerak seperti es di bawah matahari pertama.

---

Mobil itu hitam, sunyi, dan berbau kulit baru. Silva yang menyetir, dua tangannya mencengkeram setir dengan sarung kulit, tatapannya lurus ke depan. Kenzo duduk di sebelah dengan kepala bersandar ke jendela, menatap kota yang sudah setengah bangun.

Di tikungan Pasar Lama, ada tembok yang baru dicat putih. Seseorang sudah menggambar di atasnya dengan arang, kasar tapi jelas: sebuah wajah bulat tanpa mulut dan satu garis retak di pelipis kiri. Di bawahnya, tulisan miring anak-anak: *TERIMA KASIH KAK TOPENG.* Dua tukang becak berdiri di depannya, mengunyah gorengan.

"Itu anak-anak SD yang gambar," kata salah satunya. "Kemarin sore. Satpol PP nyuruh hapus, besoknya muncul lagi dua."

"Hadiah satu miliar," sahut yang lain. "Siapa yang mau jual? Tetangga aku kemarin dijemput gara-gara nunggak 'iuran keamanan', anaknya nangis tiga hari. Miliaran itu buat siapa."

"Ssst. Ada mobil."

Mobil hitam itu lewat. Kedua lelaki itu menunduk dan pura-pura memeriksa ban.

"Mereka ketakutan," kata Silva pelan.

"Iya."

"Kamu pikir itu karena kamu?"

"Karena mereka." Kenzo menatap tembok itu sampai hilang dari kaca spion. "Aku cuma kebetulan satu-satunya yang lagi ngelawan."

Silva diam. Tangannya di setir bergeser tanpa sadar, jari-jarinya menyentuh saku blus, di tempat secarik nota berbau sambal terlipat kecil-kecil.

"Boleh aku tanya sesuatu?"

"Hm."

"Axel itu... siapa untukmu?"

Kenzo tidak menjawab langsung. Matanya masih di jendela. "Satu-satunya orang yang pernah nungguin aku pulang."

Kalimat itu pendek dan polos, tapi Silva mendengarnya masuk ke dasar dadanya, lalu duduk di sana. Ia ingin sekali menjadi orang seperti itu. Orang yang ditunggu, bukan orang yang menunggu.

"Kalau aku hilang..." Suaranya keluar lebih kecil dari yang ia rencanakan. Ia berdeham, dan mengulangnya dengan nada datar. "Hanya hipotesis. Kalau suatu hari aku hilang. Kamu akan mencariku?"

Kenzo menoleh. Wajahnya lelah, tidak ada sandiwara di sana, tidak ada rayuan.

"Kamu orang yang berdarah di depanku semalam," katanya. "Aku pasti cari."

Silva menelan ludah. Untuk pertama kalinya sejak umur sembilan belas, ia tidak tahu apakah mobilnya sedang bergerak lurus.

*Dia akan mencariku.*

Ia tahu itu kalimat paling kecil yang bisa diucapkan seseorang. Ia tahu pria itu mengatakannya dengan nada yang sama seperti kalau menyuruh Jack menggeser peti. Tapi tiga puluh detik kemudian ia masih memikirkannya, dan di kota yang ia awasi dari seratus layar, tidak ada satu pun yang pernah memberinya harapan sekecil itu.

"Lampu merah," kata Kenzo.

Silva menginjak rem, sedikit terlambat.

---

Rumah kontrakan itu gelap dan sunyi, dengan pintu belakang yang tidak terkunci.

Kenzo masuk lebih dulu, pelan, tangan di gagang pisau yang ia bawa lagi. Tidak ada suara. Tidak ada napas orang lain. Hanya bau debu dan kayu lembap, dan satu hal yang menghantam dadanya begitu ia melangkah ke dapur.

Kertas di atas meja. Piring di atas kertas.

Ia berhenti.

Silva membungkuk membaca tulisan itu lebih dulu. "'Aku pergi sendiri, sukarela. Jangan cari aku.' Tulisan tangan?" Alisnya naik. "Arsenio tidak pernah menulis tangan."

"Dia nggak pernah."

"Jadi ini dipaksakan."

"Bukan." Kenzo menunjuk piring di atas kertas itu dengan dagu. Suaranya aneh, hampir geli, hampir patah. "Dia ngasih tahu aku. Itu kode kami. Umur dua belas. Piring terbalik artinya: yang ditulis di sini bohong."

"Piring."

"Piring. Dulu kami pakai buat ngeledek Papa tiap dia nulis 'cari angin'." Kenzo menarik napas. Dadanya terasa sesak dan hangat sekaligus. Dua puluh enam tahun, dan Axel masih ingat. "Dia dipaksa pergi. Dan dia tahu aku bakal lihat ini."

Ia mengangkat piring itu. Di bawahnya, di atas kertas, ada satu benda kecil yang berkilat redup: kancing manset bulat berwarna emas hitam, dengan lambang mata tertutup yang diukir halus.

Silva berhenti bernapas.

Ia tidak perlu mengambilnya. Ia mengenal lambang itu bahkan dalam gelap. Ia yang merancangnya, tiga tahun lalu, dan memesan hanya sebelas buah dari seorang pengrajin di Kota Tua yang sudah ia pastikan mati bulan berikutnya.

"Itu lambang Mata Senja," katanya. Suaranya tidak keluar dengan benar.

"Aku tahu."

"Hanya sebelas orang yang punya."

"Sebelas yang tahu rencana Benteng Selatan." Kenzo menatapnya. "Sama."

Silva tidak menjawab. Ia memandangi kancing itu, dan di kepalanya satu per satu wajah sebelas orang itu berbaris, Bram paling depan, berdiri tegak seperti biasa, dengan jas yang selalu rapi dan tangan yang selalu bersarung.

Telepon di sakunya bergetar.

Ia mengeluarkannya. Nama di layar: **BRAM.**

"Angkat," kata Kenzo.

Silva menekan tombol, menempelkan telepon ke telinga, dan mengaktifkan pengeras suara dengan satu sentuhan kecil yang nyaris tidak kelihatan.

"Nyonya." Suara Bram tenang, sopan, tanpa cela. "Maaf mengganggu. Saya di perimeter selatan Kota Tua. Ada pergerakan mencurigakan di sekitar rumah kontrakan target. Saya mengira Anda perlu tahu."

"Berapa orang?"

"Dua, mungkin tiga. Saya tidak mendekat. Saya menunggu perintah Anda."

Silva menatap kancing emas hitam di telapak Kenzo. Kenzo menatapnya.

"Tetap di sana," kata Silva akhirnya. "Jangan bergerak. Aku yang urus."

"Baik, Nyonya."

Klik.

Silva menurunkan telepon. Dapur itu hening sekali. Dari jendela, cahaya pagi yang pucat jatuh ke tiga piring di rak dan satu piring di tangan Kenzo.

"Kamu berjeda," kata Kenzo pelan.

"Aku tidak..."

"Empat detik. Sebelum nyebut 'tetap di sana'." Matanya tidak lepas dari wajahnya. "Itu Bram?"

"Dia tidak mungkin..."

"Aku nggak pernah nyebut namanya."

Kalimat itu jatuh di antara mereka seperti pisau yang dijatuhkan ke lantai marmer. Silva membuka mulut, menutupnya. Dua puluh tujuh tahun ia belajar bahwa satu kata yang salah bisa menjatuhkan sebuah organisasi, dan baru kali ini ia mengucapkannya sendiri tanpa sadar.

Tangan kanannya mengepal di sisi tubuh. Perlahan, sangat perlahan, ia menutup mata dan menarik napas.

"Sembilan tahun," katanya. Suaranya nyaris tidak terdengar. "Dia yang pertama kali bilang aku boleh menangis kalau tidak ada yang melihat. Waktu aku sembilan belas. Waktu orang yang membesarkanku mati."

"Silva."

"Aku tidak mau percaya."

"Aku ngerti."

"Tidak, kamu tidak..." Ia berhenti. Matanya terbuka, dan di sana, untuk pertama kalinya, tidak ada dinding, tidak ada pisau di balik beludru. Hanya seorang perempuan yang baru sadar bahwa satu-satunya orang yang ia percaya mungkin sudah menjualnya dari awal. "Aku tidak tahu harus berdiri di mana."

Kenzo menatapnya lama. Lalu, dengan gerakan yang sama datarnya seperti semua yang ia lakukan, ia menjatuhkan kancing itu ke telapak tangan Silva dan menutup jari-jarinya di atasnya dengan tangannya sendiri.

"Di sebelahku," katanya. "Sampai kita tahu."

Silva menunduk, menatap tangan kasar yang menutupi tangannya. Ia tidak bisa bicara. Dua detik, tiga detik, sebelum Kenzo melepaskannya dan berbalik memeriksa dapur lagi seolah tidak terjadi apa-apa.

Di dalam dadanya, sesuatu runtuh dengan senyap, dan ia sadar sudah terlambat untuk menyelamatkan satu hal pun.

*Di sebelahmu,* pikirnya. *Dia bilang di sebelahnya.*

Telepon di genggaman kirinya bergetar lagi.

Satu pesan. Dari nomor yang sama. Dikirim lewat jalur tertutup yang hanya mereka berdua tahu.

*Nyonya. Jangan percaya orang yang berdiri di samping Anda. Dia bukan siapa yang Anda kira. Anda harus tahu siapa darah dagingnya sebelum terlambat. Hubungi saya sendirian.*

Silva membaca baris itu sekali. Napasnya berhenti di tengah.

"Siapa?" tanya Kenzo tanpa menoleh.

Ia melirik punggung itu. Punggung lelaki yang baru memberinya harapan tanpa tahu apa yang ia berikan, dan yang mungkin, kalau Bram benar, menyimpan sesuatu yang jauh lebih besar dari yang ia katakan pada dunia.

Jarinya menekan tombol kunci. Layar padam.

"Bukan siapa-siapa," kata Silva.

Itu kebohongan pertama yang pernah ia ucapkan pada Kenzo. Dan di dapur yang sunyi itu, di antara tiga piring dan satu kancing emas hitam, ia belum tahu bahwa kebohongan itu akan menjadi yang paling mahal dari seluruh hidupnya.

---

*Bersambung ke Bab 25*

1
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
iih jadi inget.. 🤭🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: yang baca ini.. 🤭🤭
total 4 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
kamu harunya ingat saat pas kalian masih bersama, melewatkan segala susah senang bersama, bahkan saat tersulit pun kalian bisa menghadapinya.. jangan hanya kesalahan yang bahkan membuat Kenzo menyesal seumur hidupnya pun kamu meninggalkan dia, dan juga karena seorang cewek yang sudah memberikan hati ya padanya.. padahal Kenzo sendiri cuek sama dia kan.. dia tidak membalas perasaan Silva...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waaahh cinta segitiga gak tuh nantinya... terus Silva gimana dong Ken... kamu jangan memberi harapan palsu ke Silva.. kasihan kan dia.. mana si Axel juga jadi ninggalin kamu kan karena Silva suka sama kamu.. eh kamunya malah suka sama anak musuh mu sendiri.. emang enak ditinggalin sama orang yang pernah kita sayangi dan kita percayai dalam hidup kita....
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waaah Kenzo dong... super hero datang juga akhirnya... kak authornya pinter banget sih, lagi tegangan tinggi langsung datengin hero nya...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waahh siapa tuh yang pakee motor🤔🤔🤔
tania Weh
kalau kekasih lama. suka gak😍?
tania Weh
dangdut ya 🤭🤭, yang dak dik duk gitu deh, kayak hatiku padamu loh 🤣
tania Weh
mungkin author nya pernah deh
tania Weh
iiiiihhhn jadi flashback deh saat aku di suapin seseorang 😍😍😍😍
tania Weh
peran jahat lagi ini
tania Weh
romantis bangeeeeett 😍😍, jadi pengen deh di peluk kak author nya 🤭
tania Weh
diskusi apa sih, 😍😍😍😍😍 , apaa jangan jangan aku ya 😄😄
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waah kak authornya mau berdiskusi dulu ternyata.. silahkan kak.. nyantai aja...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
aaaahh Axel kenapa kamu begitu... ahh tidaaakk.. 😥😥😥
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
wah apa maksudnya si lord ini.. dia mau memecah Axel sama Kenzo... dan siapa 2 orang yang bertopeng dengan tongkat itu.. apakah dia yang tadinya duduk di kursi roda itu kah? 😱😱😱
EVandri Beloved❤❤: yang jelas bukan penjahat waspadalah... waspadalah.. waspadalah
total 1 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
aaahh Axel hubungan kamu sama kenzo jangan jadi rusak gara² hal ini dong... hati tidak bisa berpindah begitu saja kan.. hati yang memilih.. kamu juga pasti tahu hati tidak bisa ditebak kita akan menyukai siapa didunia ini.. karena kalau jati sudah memilih maka kita tidak bisa menolak... pliisssss jangan jadi renggang sama Kenzo...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
siapa lagi mereka???
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
lah kamu Kenzo... kenapa kamu tembak mati dulu... harusnya walaupun kamu tembak, tapi jangan di tempat yang fatal duku biar kamu bisa ngorek. informasi yang kamu cari dari dia...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
apakah itu adalah ayahnya si Kenzo itu? 🤔🤔🤔
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waaah cinta segitiga nih.. Axel kamu jangan jadi begitu dong sama Kenzo.. hati tidak bisa dipaksakan untuk mencintai... kita tidak bisa memilih atau menolak haal itu... semoga kamu bisa legowo Axel... ingat kalian sudah tumbuh bersama selama ini, jangan hanya karena hal itu hubungan kalian jadi retak...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!