NovelToon NovelToon
Hakim Dari Kegelapan The Prequel 01

Hakim Dari Kegelapan The Prequel 01

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Action
Popularitas:106
Nilai: 5
Nama Author: Hendry Octavian

Arya Arsyad Sikumbang adalah seorang pemuda perantauan.Ia mengadu nasib di Kota besar dan akhirnya dia terjerumus ke dalam Sindikat Para Mafia Internasional.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

UNI ANNISA DAN PASAR PAGI CAKUNG

Setelah sholat subuh di Masjid Besar dan tiba di rumah kembali.

Sholat subuh berjamaah di Masjid Besar Al-Jihad Cakung selesai jam setengah enam pagi. Uwo Ali Bin Rais Payobadar, Andi Rajo Alam Sikumbang yang 19 tahun calon mahasiswa Fakultas Hukum UI Salemba, dan Arya Arsyad Sikumbang yang 12 tahun calon pewaris bengkel karoseri Cakung yang jam Seiko kebesarannya masih diikat karet gelang dan peci hitamnya masih kebesaran, berjalan pulang bersama dengan sarung baru mereka yang berkibar dan sajadah baru dilipat di ketiak.

Etek Upik masih di Masjid Besar, masih mengaji bersama ibu-ibu pengajian.

Mereka masuk ke halaman bengkel karoseri Cakung yang penuh dengan truk besar, bus Kopaja, Metromini yang mesinnya masih terbongkar. Bau oli pagi-pagi sudah menyengat.

Baru saja mereka meletakkan sajadah baru mereka di atas dipan ukir Jepara dengan kasur kapuk tebal dan kelambu putih di kamar baru mereka, baru saja Andi mau melepas peci hitamnya dan Arya mau melepas peci hitamnya yang kebesaran, tiba-tiba dari kamar depan yang paling besar dan paling rapi, keluar seorang gadis.

Gadis itu umur 21 tahun, cantik, kulit putih bersih, rambut panjang hitam, memakai baju kurung tenun baru motif bunga-bunga dan jilbab sutra putih rapi, wajahnya mirip sekali dengan Etek Upik. Ia adalah Annisa, anak kandung bungsu Uwo Ali Bin Rais Payobadar dan Etek Upik.

Bukan anak angkat, bukan anak tiri, bukan keponakan jauh. Anak kandung. Darah daging Uwo Ali dan Etek Upik. Kakak kandungnya adalah Khairina yang sudah 2 tahun di Arab Saudi jadi istri pegawai Kedutaan Besar Arab Saudi. Annisa setahun lagi lulus Sekolah Perawat Kesehatan di Jakarta Pusat dan sudah ditunangkan dengan dosennya dokter muda yang akan membawanya tinggal di Solo, Jawa Tengah.

Karena Uwo Ali adalah abang kandung dari Abdullah Bin Rais Payobadar, ayah kandung Andi dan Arya, maka untuk Andi dan Arya, Annisa adalah kakak sepupu perempuan kandung - anak dari Uwo kandung mereka sendiri. Anak dari saudara kandung ayah mereka. Di adat Minang Pande Sikek, mereka memanggilnya Uni Annisa, panggilan hormat untuk kakak perempuan sepupu yang lebih tua.

Annisa yang semalam tidak ada di rumah karena menginap di asrama kebidanan dan baru pulang pagi-pagi naik bus Kopaja jam lima pagi setelah sholat subuh di Masjid Besar juga, melihat kedua adik sepupu laki-laki kesayangannya yang baru datang dari Pande Sikek, langsung tersenyum lebar.

"Assalamualaikum, Ayah Uwo Ali... Uda Andi... Buyuang Arya..." kata Annisa dengan suara lembut. Kepada ayah kandungnya sendiri ia memanggil Ayah, kepada Andi dan Arya ia memanggil Uda Andi dan Buyuang Arya, panggilan sayang seorang kakak sepupu perempuan kandung kepada adik sepupu laki-lakinya.

Andi dan Arya menoleh, mukanya merah padam malu melihat kakak sepupu perempuan kandung mereka yang cantik dan modis seperti orang Jakarta.

"Waalaikumsalam, Uni Annisa..." jawab Andi dan Arya bersamaan, dengan logat Minang Pande Sikek yang kental. Mereka tidak memanggil Kak Annisa, mereka memanggil Uni Annisa, karena Uni adalah panggilan adat untuk kakak perempuan di Minang, apalagi kakak sepupu kandung dari Uwo kandung.

Annisa berjalan mendekati Andi dan Arya, ia mengusap kepala Arya yang 12 tahun yang peci hitamnya kebesaran, dan mengusap bahu Andi yang 19 tahun.

"Uda Andi, Buyuang Arya... selamat datang di Cakung, ya... selamat datang di rumah Annisa... di rumah ayah dan ibu Annisa... di rumah Uwo Ali dan Etek Upik... Annisa sudah dengar dari Ayah Uwo Ali dan Ibu Etek Upik lewat telepon di Kantor Pos Pasar Baso, kalau Uda Andi lulus Fakultas Hukum UI Salemba NEM 52 tertinggi dan Buyuang Arya Danem 42 di atas rata-rata dan Ayah Uwo Ali akan angkat Buyuang Arya jadi anak pewaris bengkel karoseri Cakung 30 karyawan... Annisa bangga punya adik-adik sepupu sepintar itu..."

Andi dan Arya yang dipuji oleh kakak sepupu perempuan kandung mereka yang cantik itu, menunduk malu.

Annisa lalu berbisik semangat, seperti seorang kakak kandung yang ingin memanjakan adik-adiknya, karena di rumah Cakung ini sejak Khairina kakak kandungnya berangkat ke Arab Saudi 2 tahun lalu, rumah itu sepi tidak ada adik laki-laki, hanya ada anak buah bengkel laki-laki.

"Uda Andi, Buyuang Arya... mau tidak... Uni Annisa ajak kalian berjalan-jalan menikmati udara pagi Cakung... menuju Pasar Cakung... Pasar Cakung pagi-pagi ramai sekali... banyak makanan enak... Uni Annisa mau membelikan gorengan dan kue-kue basah buat mereka dan keluarga... buat sarapan pagi kita bersama Ayah Uwo Ali dan Ibu Etek Upik..."

Mendengar kata-kata itu, Andi dan Arya yang antusias, yang seumur hidup di Pande Sikek hanya tahu Pasar Baso yang kecil, matanya berbinar-binar.

"Mau, Uni Annisa... mau..." kata Andi dan Arya bersamaan.

Uwo Ali yang mendengar itu, tersenyum, ia mengizinkan anak kandung bungsunya membawa kedua keponakan kandungnya, yang juga seperti anak kandungnya sendiri.

"Alah, Annisa, anak Ayah... bawo lah Uda Andi jo Buyuang Arya jalan-jalan ka Pasar Cakung pagi ko... kenalkan mereka dengan Pasar Cakung... belikan mereka gorengan dan kue-kue basah... tapi jan jauah-jauah..."

Akhirnya, Annisa, anak kandung Uwo Ali dan Etek Upik, yang juga adalah kakak sepupu perempuan kandung bagi Andi dan Arya, mengajak kedua adik sepupu laki-laki kesayangannya berjalan kaki keluar dari gerbang besi besar bengkel karoseri Cakung yang dijaga Pak Jono satpam tua.

Udara pagi Cakung jam enam pagi tahun 1977 masih sejuk. Setelah 15 menit berjalan kaki melewati toko-toko peralatan bengkel, akhirnya mereka sampai di Pasar Cakung.

Pasar Cakung tahun 1977 besar sekali, jauh lebih besar dari Pasar Baso di Pande Sikek. Bau ikan asin, bau gorengan, bau kue basah, bercampur.

Andi dan Arya yang baru pertama kali melihat pasar sebesar itu, mulutnya terbuka lebar, takjub.

Annisa menggandeng tangan Arya yang 12 tahun dan tangan Andi yang 19 tahun, seperti seorang kakak kandung yang menggandeng adik-adiknya yang takut tersesat.

"Uda Andi, Buyuang Arya... ayo... ikuti Uni Annisa... jangan sampai terpisah..."

Sesampainya di dalam Pasar Cakung, Annisa tidak mengajak mereka ke pusat baut-baut truk, ia mengajak mereka langsung ke pusat jajanan kue basah, lorong panjang yang di kiri kanan ada puluhan lapak kayu yang menjual gorengan yang masih hangat, baru digoreng jam empat pagi.

Hal baru yang belum mereka temui dahulu di Pande Sikek, di Pande Sikek hanya ada kue panekuk Minang dan lemang ketan.

Di pusat jajanan Pasar Cakung itu ada Kue Lumpur Kentang yang kuning dan lembut dari kentang dan santan dan telur di atasnya ada kismis, ada Pastel Goreng yang kulitnya dari tepung terigu di dalamnya ada bihun dan telur dan ayam dan wortel yang digoreng garing, ada Onde-onde yang bulat besar kulitnya dari tepung ketan di luarnya ada wijen di dalamnya ada kacang hijau manis, ada Kue Lapis, Nagasari, Dadar Gulung, Putu Ayu.

Annisa, sebagai anak kandung Uwo Ali yang sudah 21 tahun hidup di Cakung dan sebagai calon bidan yang pandai, menjelaskan satu per satu dengan semangat kakak sepupu kandung.

"Uda Andi, Buyuang Arya... ko namonyo Kue Lumpur Kentang... lembut seperti kasur kapuk tebal di dipan ukir Jepara di kamar baru kalian..."

Andi dan Arya mendengarkan dengan mata berbinar-binar, perut mereka berbunyi krucuk...

Annisa lalu membungkuskan kue-kue basah itu untuk camilan mereka di pagi hari. Ia membeli dengan uang sakunya sendiri, uang saku anak kandung Uwo Ali pengusaha karoseri Cakung.

Ia membungkuskan satu bungkus besar Kue Lumpur Kentang yang masih hangat, satu bungkus besar Pastel Goreng yang masih panas berminyak, satu bungkus besar Onde-onde yang masih hangat wijennya menempel, dan beberapa kue basah lainnya, semua dalam kertas minyak cokelat dan kantong plastik putih besar. Ia juga membeli satu bungkus besar gorengan campur untuk anak buah bengkel.

Setelah selesai, dengan dua kantong plastik besar penuh di tangan Andi dan Arya, mereka bertiga berjalan pulang kembali menuju bengkel karoseri Uwo Ali.

Sesampainya di rumah kembali, di rumah utama di belakang toko peralatan bengkel, Mak Ijah dan Mak Iyah sudah menyiapkan minuman pagi. Di atas meja makan kayu jati besar dengan taplak plastik motif bunga-bunga, sudah ada dua teko besar, satu teko berisi teh manis hangat yang mengepul, teh tubruk dari Puncak, dan satu teko berisi susu putih hangat yang mengepul, susu bendera kental manis campur air panas, susu yang sangat mewah di tahun 1977 untuk anak kampung Pande Sikek.

Annisa, Andi, dan Arya meletakkan dua kantong plastik besar berisi Kue Lumpur Kentang, Pastel Goreng, Onde-onde, dan beberapa kue basah lainnya di atas meja makan itu.

Uwo Ali dan Etek Upik yang sudah menunggu di meja makan, melihat anak kandung bungsu mereka Annisa pulang dari Pasar Cakung membawa kedua adik sepupu laki-laki kandungnya, tersenyum bahagia.

"Alhamdulillah... Annisa anak Ayah sudah pulang dari Pasar Cakung... sudah membelikan kue-kue basah buat sarapan pagi untuk Uda Andi dan Buyuang Arya..."

Mereka semua, Uwo Ali, Etek Upik, Annisa anak kandung Uwo Ali dan Etek Upik yang juga adalah kakak sepupu perempuan kandung bagi Andi dan Arya, Andi Rajo Alam, dan Arya Arsyad Sikumbang, duduk bersama di sekeliling meja makan kayu jati besar itu, di atas kursi kayu jati ukir Jepara.

Mereka sarapan pagi bersama dengan teman pelengkap minum teh dan susu yang dibuatkan oleh Mak Ijah.

Andi mengambil satu Kue Lumpur Kentang yang kuning dan lembut masih hangat, ia menggigitnya, lembut sekali, manis, ada kismis di atasnya, rasanya seperti makan awan kuning manis.

Arya mengambil satu Pastel Goreng yang garing masih panas, ia menggigitnya, kulitnya garing kress... di dalamnya ada bihun dan telur dan ayam dan wortel gurih pedas.

Ia juga mengambil satu Onde-onde yang bulat besar, kulit luarnya wijennya garing, dalamnya kacang hijau manis lembut.

Mereka makan dengan lahap, dengan senyum senang, sambil minum teh manis hangat dan susu putih hangat buatan Mak Ijah yang masih mengepul.

Uwo Ali dan Etek Upik yang melihat anak kandung bungsu mereka Annisa duduk di antara kedua keponakan kandung laki-laki mereka Andi dan Arya, yang seperti kakak kandung yang memanjakan adik-adik kandungnya sendiri, tersenyum bahagia. Rumah gadang di Cakung yang sejak Khairina anak sulungnya berangkat ke Arab Saudi 2 tahun lalu sepi tidak ada anak perempuan yang menemani, kini ramai lagi dengan tawa Andi dan Arya yang makan kue basah dengan lahap.

Pagi itu, di Cakung, Jakarta Timur, tahun 1977, di atas meja makan kayu jati dengan taplak plastik motif bunga-bunga, di bawah lampu bohlam kuning 60 watt, dengan dua teko besar teh manis hangat dan susu putih hangat, Andi Rajo Alam dan Arya Arsyad Sikumbang untuk pertama kalinya merasakan hal baru yang belum mereka temui dahulu di Pande Sikek, hal baru yang bernama Kue Lumpur Kentang, Pastel Goreng, Onde-onde.

Di luar rumah, di halaman bengkel yang penuh dengan truk besar dan bus Kopaja dan Metromini yang mesinnya masih terbongkar, suara gerinda sudah mulai berbunyi lagi, ngeng... ngeng...

Dan di dalam rumah, di atas dipan ukir Jepara dengan kasur kapuk tebal dan kelambu putih dan bantal kapuk, di kamar baru miliknya, truk kayu surian kecil pemberian Arlan masih tergeletak di atas meja belajar kayu jati, menunggu dimainkan lagi oleh Arya setelah sarapan kue basah bersama Uni Annisa, anak kandung Uwo Ali dan Etek Upik, kakak sepupu perempuan kandung mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!