Dikhianati dan dibunuh oleh rekan seperjuangannya sendiri, Dinda, Komandan Pertama Barat yang legendaris, justru mendapat kesempatan kedua setelah jiwanya berpindah ke tubuh Ana Pramudia, gadis lemah yang dibunuh oleh saudara tirinya sendiri.
Kini, dengan jiwa seorang jenderal tangguh dan kekuatan mistis yang masih tersisa, Ana siap membalas dendam, merebut kembali harga dirinya, dan mengguncang Kekaisaran. Namun, di tengah intrik dan musuh yang mengincarnya, kemunculan Tuan Muda Adrian yang terus mengikutinya justru menambah misteri.
Akankah Ana berhasil menaklukkan dunia barunya, dan apa sebenarnya tujuan Adrian mendekatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusriani Yusuf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tantangan Aksa
Adit mengikuti instruksi yang Ana berikan. Ia menarik napas dan kembali membidik, sehingga terdengar kembali bunyi
door! Kali ini pelurunya tepat menghantam titik tengah. Angka sepuluh sempurna.
"Masuk Kak! Sepuluh!" seru Adit kegirangan sambil menyentak kacamata pelindungnya ke atas dahi.
Ana tidak langsung memuji, tatapannya masih tertuju pada posisi berdiri adiknya.
"Hasilnya lumayan. Tapi lenganmu masih gemetar, posisi seperti itu tidak akan kuat untuk bertahan lama. Kamu memang bisa menembak tapi belum punya mental untuk jadi penembak jitu."
Adit menurunkan pistolnya, menatap Ana dengan dahi berkerut dengan wajah penasaran. "Kak sebetulnya sejak kapan Kakak bisa menembak? Kok aku tidak pernah tahu, sih?"
Belum sempat Ana membuka mulut, sebuah suara sinis memotong dari arah belakang.
"Adit Pramudia."
Keduanya serentak menoleh. Aksa Aditama sudah berdiri di sana dikawal dua temannya yang langsung bersedekap angkuh.
"Aksa? Ngapain kamu di sini?" tanya Adit, otomatis memasang badan di depan kakaknya.
"Ya latihan lah mau ikut seleksi. Tapi..." Aksa melirik malas ke arah Ana, "...ngapain juga kamu bawa cewek ini ke sini?" Aksa menunjuk Ana dengan dagunya.
"Siapa namanya kemarin? Bela? Ana? Hahaha, zaman sekarang masih ada ya orang tua yang ngasih nama sekuno itu?"
Salah satu temannya ikut menyemburkan tawa.
"Mungkin maksudnya Bela Negara, Bro."
Adit mengepalkan tangan wajahnya menegang.
"Emangnya ada yang lucu?"
Berbeda dengan adiknya, Ana justru menanggapi dengan raut santai. Tatapannya dingin.
"Pecundang yang nggak punya bakat biasanya memang cuma bisa sibuk nyari celah buat ngehina nama orang lain."
Tawa Aksa langsung terhenti. "Maksudmu apa berkata begitu?"
"Siapa pun yang ngerasa."
Aksa begitu marah dan kesal. Ia maju selangkah hendak merangsek namun salah satu temannya buru-buru menahan pundaknya.
"Aksa tahan sedikit. Jangan membuat keributan di sini. Orang-orang dari Departemen Militer bisa saja lagi mantau kita."
Aksa mendengus kasar. Ia mencoba mengontrol ekspresi wajahnya, lalu mengulas senyum meremehkan.
"Oke kita nggak usah main otot. Kebetulan kita lagi di lapangan tembak, bagaimana kalau kita taruhan? Yang kalah dia wajib merangkak keliling area ini sambil berteriak, 'Aku pecundang!' Berani?"
Adit langsung menyela, "Ini cuma tempat latihan biasa Aksa. Nggak usah kekanak-kanakan sampai bawa-bawa harga diri!"
"Kenapa? Takut?" tantang Aksa, matanya sengaja melewati bahu Adit, langsung mengunci pandangan Ana.
"Sayangnya sih aku nggak nanya sama kau, Adit. Aku nanya sama kakakmu yang sok tahu ini. Ana, berani nggak?"
"Aksa kau gila, ya?!" Adit berbisik setengah membentak.
"Kakakku nggak pernah pegang senjata, sedangkan kau sudah latihan bertahun-tahun. Waras lah masa mau nantang dia?"
Aksa malah tertawa lepas. "Lah tadi dia belagu banget dia bulang aku nggak punya bakat. Kalau emang pengecut bilang aja. Lagian wajar sih, dia kan cuma sampah persis kayak kau."
Teman-teman Aksa kembali terbahak.
"R4, kan?" celetuk salah satunya dengan nada mengejek. "Alias sampah tingkat empat. Itu kan julukan legendaris dia di Akademi Bintang?"
Ana melirik Adit. Rahang adiknya mengeras, giginya gematuk menahan amarah yang hampir meledak.
Melihat itu, Ana melangkah maju, melewati Adit. "Aturan mainnya gimana?"
Aksa tersenyum penuh rasa puas dia merasa umpannya berhasil dimakan. "Masing-masing sepuluh tembakan, skor akhir dijumlahin. Nilai tertinggi yang menang."
"Kak jangan diladenin, plis..." bisik Adit panik sambil menarik ujung jaket Ana.
Ana mengabaikan kecemasan adiknya. "Oke. Deal."
"Gitu dong! Inget ya kalau kalah jangan nangis terus nuduh aku curang," sahut Aksa kegirangan.
"Kalian harus merangkak sambil ngaku kalau kai itu sampah. Bakal aku rekam biar seluruh ibu kota kerajaan tahu mukamu itu."
"Aku nggak pernah ingkar janji," balas Ana, nadanya sedatar mungkin. "Tapi aturan itu juga berlaku untukmu."
"Nggak usah mimpi kau bisa menang dariku."
Ana membalikkan badan, mengulurkan tangan ke arah adiknya. "Sini berikan senjatanya."
Adit sempat ragu sejenak. Namun, melihat tatapan mata Ana yang begitu tenang dan penuh keyakinan, ia akhirnya menyerahkan pistol tersebut. Begitu senjata itu berpindah tangan, Ana menimbangnya pelan, jemarinya bergerak cepat memeriksa bagian-bagian pistol dengan gestur yang sangat familier.
"Sensasi ini..." gumam Ana lirih, nyaris tak terdengar.
"Sudah lama banget aku tidak mersakan benda ini"