Bagi Celeste Delacroix, sinar matahari adalah vonis mati. Mengidap penyakit langka, hidupnya terkurung dalam kegelapan dan selalu dibanding-bandingkan dengan kembarannya, Caelia, yang dipuja bagai dewi.
Ketika Caelia menolak dijodohkan dengan Lucian St. Claire, milyarder dingin yang bisu akibat trauma, keluarga Delacroix secara licik menumbalkan Celeste untuk menggantikan posisinya di altar pernikahan.
Di balik gaun pengantin dan rahasia besar penyakitnya, Celeste masuk ke kediaman St. Claire. Namun, Lucian yang tak bersuara justru menjadi satu-satunya orang yang mampu memahami bahasa luka Celeste. Di tengah kebohongan yang rapi, akankah cinta mereka bertahan saat kebenaran akhirnya terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah tanpa kehangatan
Langkah kaki Celeste terhenti di ambang pintu utama kediaman Delacroix. Dari ruang keluarga yang megah, samar-samar terdengar gelak tawa dan obrolan hangat yang memecah keheningan malam. Keluarga kandungnya sedang berkumpul di sana.
Celeste berdiri membatu. Dadanya mendadak terasa dihimpit beban yang sangat berat. Mereka tertawa lepas, seolah tak pernah ada kejadian besar yang baru saja terjadi kemarin malam. Tak ada satu pun dari mereka yang peduli atau sekadar bertanya bagaimana perasaannya setelah dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk Caelia.
Celeste menunduk, mencoba menelan rasa iri yang perlahan menggerogoti hatinya. Ibunya sedang sibuk memuji prestasi terbaru Caelia di dunia pemodelan, disambut tawa bangga dari sang ayah.
Celeste ingin benci, sungguh ingin benci pada rasa pilih kasih ini. Namun, nuraninya menahan. Mereka tetap orang tua dan saudara kandungnya, rasa takut untuk menjadi anak yang tak sopan masih menguasai jiwanya.
Setelah menarik dan menghembuskan napas panjang untuk menetralkan gemetar di dadanya, Celeste menyunggingkan senyum tipis yang dipaksakan lalu melangkah masuk.
Di ruang keluarga yang mewah itu, hanya ada Alexander, Chintya, dan Caelia. Abang tertuanya, Julian, serta kakaknya, Valerie, sudah kembali ke rumah dan keluarga kecil mereka masing-masing.
"Celeste? Sini sebentar," panggil Alexander begitu menangkap sosok putri bungsunya yang hendak melewati tangga.
Celeste menghentikan langkahnya, lalu berjalan mendekat dengan sopan. "Iya, Papa? Ada apa?"
"Gimana urusanmu tadi? Sudah selesai semua?" tanya Chintya, mengalihkan pandangan dari Caelia. Nada suaranya terkesan menuntut, bukan penuh perhatian.
"Sudah, Mama. Fitting baju pengantin sudah selesai," jawab Celeste halus, tetap menjaga sikapnya. Dia sengaja tidak memberi tahu tentang pemeriksaan kesehatan yang di lakukan keluarga St. Claire. Mereka pasti akan memarahinya habis-habisan karena sudah membuat orang luar mengetahui penyakitnya. Dulu pernah terjadi, saat Roxy tahu tentang penyakitnya dan berakhir mengurungnya di kamar tanpa mengizinkan keluar malam seperti yang biasanya ia lakukan.
Chintya menyilangkan kakinya, menatap Celeste dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Bagus kalau begitu. Mama cuma mau memperingatkanmu satu hal, Celeste. Jaga sikapmu di depan keluarga St. Claire. Jangan pernah bertingkah konyol atau bikin malu nama keluarga Delacroix!"
Celeste tersenyum hambar di dalam hati. Rasa pahit menjalar tajam di tenggorokannya. Ternyata itu yang paling mereka cemaskan. Bukan tentang kondisi fisiknya, bukan tentang bagaimana perlakuan calon suaminya, melainkan nama baik dan gengsi keluarga. Mereka sama sekali tak berniat mengetahui luka di hatinya.
"Iya, Mama. Celeste mengerti," sahut Celeste tenang, mengangguk patuh.
Alexander menimpali dengan suara berat yang menekan. "Dan satu lagi yang paling penting. Usahakan penyakit langkamu itu tidak pernah terekspos ke luar atau ke media! Keluarga St. Claire itu bukan keluarga sembarangan, kredibilitas mereka nomor satu. Jangan sampai gara-gara kondisi cacatmu itu, nama keluarga kita yang kena dampaknya dan hancur!"
Kata 'cacat' yang meluncur begitu mudah dari mulut ayahnya sendiri menghantam hulu hati Celeste bagai sabetan sembilu. Sakitnya begitu membakar, namun Celeste menahan raut wajahnya agar tetap datar.
"Baik, Papa. Celeste akan berusaha sebaik mungkin," bisiknya pelan. "Kalau begitu, Celeste permisi ke kamar dulu."
Tanpa menunggu balasan lagi, Celeste berbalik dan melangkah cepat menaiki tangga.
Begitu pintu kamarnya tertutup rapat dan terkunci, seluruh benteng pertahanan yang Celeste bangun runtuh seketika. Tubuhnya meluruh di lantai dingin di balik pintu. Celeste meremas dadanya yang terasa begitu sesak, menutup mulutnya rapat-rapat agar suara tangisnya tidak lolos keluar.
Air mata menetes deras membasahi pipi pucatnya. Tangisannya begitu menyayat hati dalam kesunyian kamar yang gelap. Beban sebagai anak yang tak diinginkan, penyakit langka yang mengurung kebebasannya, hingga ketakutan akan menikahi pria misterius yang ternyata seorang mafia, semuanya menumpuk menjadi satu, menghancurkan mentalnya malam ini.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu dari luar membuat tangisan Celeste terhenti mendadak.
Celeste menahan napasnya, mengusap air mata yang membasahi wajahnya secara kasar dengan lengan baju. Dengan langkah agak sempoyongan, ia bangkit dan memutar kunci pintu.
Begitu pintu terbuka, sosok berjaket kulit hitam berdiri di depan kamarnya.
Melihat siapa yang datang, pertahanan Celeste kembali jebol sepenuhnya. Tangisannya pecah lebih keras dari sebelumnya. Tanpa pikir panjang, Celeste langsung menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan sosok itu, meremas jaket kulitnya erat-erat.
Itu Roxy. Sahabat tomboy-nya yang berencana menginap malam ini.
Roxy tak terkejut. Dengan lembut, tangan kekarnya mengusap-usap punggung bergetar Celeste. Ia sudah sangat terbiasa dengan pemandangan menyedihkan ini. Pelukannya adalah satu-satunya tempat aman bagi Celeste untuk menumpahkan segala racun di hatinya.
Tanpa bersuara, Roxy membimbing langkah Celeste yang lemas masuk ke dalam kamar, lalu mendorong pintu hingga tertutup rapat menggunakan kakinya.
Roxy mendudukkan Celeste di tepi ranjang, lalu ikut duduk di sampingnya. Ia melingkarkan tangannya di bahu Celeste, membiarkan sahabatnya itu terisak dan menumpahkan seluruh kepedihannya di atas bahunya sampai suasananya perlahan mengendur dan tenang.
Setelah beberapa menit berlalu dan terisak Celeste berubah menjadi hembusan napas lelah, Roxy menyodorkan segelas air putih yang ada di meja nakas.
"Minum dulu, Princess," bisik Roxy lembut, sangat berbeda dari gayanya yang biasanya seperti laki-laki.
Celeste menerima gelas itu dan meminumnya hingga kandas. Matanya sudah sembab dan memerah.
"Semalam kamu menangis karena di jodohkan secara mendadak," ujar Roxy memecah keheningan. "Sekarang menangis cukup keras begini... pasti gara-gara ulah 'keluarga harimau' mu itu lagi, kan?"
Celeste menunduk, mengangguk pelan. "Mereka... hanya takut aku membuat malu keluarga Delacroix di depan keluarga St. Claire. Mereka bahkan melarang penyakit ku sampai terekspos."
Roxy menghembuskan napas kasar, menggertakkan giginya menahan jengkel. "Dasar orang tua sinting. Anak sendiri dianggap beban!" Roxy meremas jemari dingin Celeste. "Tapi bagaimana pertemuan sama keluarga St. Claire? Terutama pria yang mau dijodohkan denganmu itu? Mereka memperlakukanmu dengan baik kan?"
Celeste menatap Roxy, lalu mulai menceritakan semuanya secara jujur.
"Rox... aku mendengarnya sendiri," bisik Celeste dengan mata membelalak cemas. "Orang di telepon mengatakan ada penyerangan di 'markas klan barat'. Terus dia langsung pergi begitu aja meningalkan ku. Rox... apa calon suamiku itu seorang mafia?!"
Roxy tercengang sejenak, lalu menggaruk rambut pendeknya yang tidak gatal. "Mafia? Ya ampun, Cel... keluarga St. Claire itu memang konglomerat kelas atas yang punya pengaruh bisnis di mana-mana, termasuk keamanan swasta. Tapi terlepas dari itu, yang penting dia tidak memperlakukan mu dengan burukkan?"
"Aku tidak tahu, Rox..." desah Celeste bingung. "Tapi Kenapa bisa kamu bisa pas datang kesini? kamu seperti tahu aku sedang membutuhkan teman curhat."
Roxy terkekeh pelan, menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. "Aku ke sini bukan asal datang, Cel. Abang Lian yang menyuruhku datang ke sini."
Celeste tersentak kaget. Matanya berkedip bingung. "Bang Julian...?"
"Iya, Bang Julian," ulang Roxy. "Tadi sore dia menelpon ku, menyuruhku datang menginap di kamarmu malam ini. Katanya kamu pasti sedang membutuhkan sandaran seorang sahabat"
Mendengar hal itu, keheranan yang selama ini dipendam Celeste makin membuncah.
"Rox..." Celeste menatap sahabatnya penuh rasa bingung yang mendalam. "Jujur, aku kadang dengan Bang Julian. Selama ini dia selalu kelihatan dingin, datar, dan jarang berbicara denganku. Tapi kenapa dia selalu tahu apa yang ku butuhkan? Dia... Menurutmu dia sayang tidak kepadaku?"
"Mungkin"