Seumur hidupnya, Amira tidak pernah benar-benar dianggap sebagai bagian dari keluarganya. Sebagai anak yang lahir dari hubungan terlarang, ia selalu menjadi sasaran kebencian kakak tirinya. Bahkan lelaki yang dicintainya memilih kakaknya sendiri hanya karena Amira bukan anak sah keluarga itu. Ketika fitnah demi fitnah membuat ayahnya ikut membencinya, Amira akhirnya mendapat "hadiah" dari keluarganya—sebuah perjodohan dengan Kaizar, pewaris keluarga mafia paling ditakuti. Kaizar bukan pria biasa. Ia lumpuh, memiliki luka yang membekas di wajahnya, dingin, kejam, dan tidak mengenal belas kasihan. Bagi keluarga Amira, perjodohan itu adalah cara untuk menyingkirkan putri yang selama ini mereka anggap sebagai aib. Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik kekejaman Kaizar, tersimpan luka yang jauh lebih dalam. Dan ketika semua orang memilih takut kepadanya, Amira justru menjadi satu-satunya perempuan yang berani mendekat, memeluknya, lalu berkata, "Sabar... kamu tidak sendirian."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Pagi itu, Amira datang lebih awal ke rumah sakit. Kaizar menunggunya di dalam mobil, sementara Amira berjalan menuju ruang perawatan. Beberapa hari terakhir, tempat itu sudah menjadi bagian dari kehidupannya. Bedanya, kali ini ia tidak datang membawa kecemasan.
Ganjar sudah dinyatakan cukup sehat untuk pulang. Ketika Amira membuka pintu, pria itu sedang duduk di tepi ranjang. Kemeja yang dikenakannya sudah rapi. Beberapa barang miliknya tersusun di atas meja.
Ganjar menoleh. "Kau datang."
Amira tersenyum. "Iya, Pi."
Tatapan Ganjar berhenti pada wajah putrinya. "Dijemput?"
"Aku mau mengantar Papi pulang."
Ganjar terdiam sesaat. "Kaizar ikut?"
"Iya. Dia menunggu di bawah."
Senyum kecil muncul di wajah Ganjar. "Dia tidak keberatan?"
Amira menggeleng. "Tidak."
Ganjar menatap putrinya lebih lama. Ada sesuatu yang berubah sejak kecelakaan itu. Dulu ia bahkan tidak tahu seperti apa keseharian Amira. Sekarang ia mulai mengetahui hal-hal kecil tentang hidup putrinya. Termasuk lelaki yang berdiri di sampingnya.
"Amira."
"Iya?"
"Papi ingin bertemu Kaizar."
Amira sedikit terkejut. "Di sini?"
Ganjar mengangguk. Beberapa menit kemudian, pintu kembali terbuka.
Kaizar masuk dengan menggerakkan kursi rodanya. Tatapannya langsung tertuju kepada Ganjar.
"Papi...."
Ganjar mengangguk. "Terima kasih sudah menjaga Amira."
Kaizar tidak langsung menjawab. Ia hanya melirik istrinya sekilas. "Itu memang kewajiban saya."
Jawaban sederhana itu membuat Ganjar tersenyum. "Dulu Papi tidak pernah membayangkan ada seseorang yang akan mengatakan itu."
Amira menundukkan wajah.
Kaizar mendekat. "Kalau sudah siap, kita bisa pulang."
Ganjar mengangguk. Saat mereka keluar dari ruangan, Amira berjalan di samping ayahnya. Ia sedikit tersenyum baru kali ini ia tidak merasa sedang mengunjungi seorang pria yang tinggal di dunia berbeda. Ia sedang mengantar ayahnya pulang.
Di depan lift, Ganjar tiba-tiba berhenti. "Amira."
Perempuan itu menoleh.
"Kalau nanti Papi sudah sampai rumah..." Ganjar tampak ragu. "Maukah kau datang sesekali?"
Amira tersenyum. "Kalau Papi mau, aku datang."
"Aku mau." Jawaban itu membuat dada Amira terasa hangat.
Pintu lift terbuka. Mereka masuk bersama.
Namun ketika pintu hampir tertutup, sebuah suara terdengar dari ujung lorong.
"Pak Ganjar!"
Mereka menoleh. Seorang pria berdiri sambil membawa beberapa berkas.
"Ini ada urusan perusahaan yang perlu tanda tangan Bapak."
Wajah Ganjar langsung berubah serius. "Urusan apa?"
Pria itu mendekat. "Beberapa transaksi lama yang sedang diperiksa kembali."
Amira memperhatikan ayahnya.
"Kenapa baru sekarang?" tanya Ganjar.
Pria itu ragu menjawab. "Karena ada beberapa nama yang muncul dalam catatan lama."
Ganjar mengambil berkas tersebut. Matanya bergerak membaca halaman pertama. Ekspresinya berubah. Amira belum sempat bertanya ketika Ganjar langsung menutup berkas itu.
"Siapa yang menemukan ini?"
"Bagian audit, Pak."
Ganjar terdiam. Kaizar memperhatikan perubahan wajah pria itu.
"Masalah besar?"
Ganjar tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap berkas di tangannya. "Entahlah."
Kemudian ia menyerahkannya kepada asistennya.
"Bawa ke rumah."
Amira memandang ayahnya dengan penasaran.
"Ada apa, Pi?"
Ganjar menggeleng. "Nanti Papi ceritakan."
Pintu lift kembali terbuka. Mereka melangkah keluar. Amira tidak tahu apa isi berkas tersebut. Namun dari cara Ganjar menyembunyikan wajahnya, ia tahu kepulangan ayahnya mungkin tidak akan sesederhana yang mereka bayangkan.
Dan tanpa disadari siapa pun, satu bagian dari masa lalu keluarga Wijaya baru saja kembali muncul ke permukaan. Sementara di tempat lain, Ricki juga sedang mengejar masa lalu yang sama.
☘️☘️☘️☘️☘️
Tiga hari kemudian, Ricki menerima sebuah panggilan ketika ia baru saja selesai menghadiri pertemuan keluarga.
"Pak, kami menemukan orangnya."
Langkah Ricki terhenti. "Siapa?"
"Orang yang pernah dekat dengan Bu Ambar."
Ricki tidak langsung menjawab. Ia berjalan menjauh dari ruang pertemuan sebelum kembali berbicara.
"Di mana dia?"
"Belum berhasil kami temui secara langsung. Tapi kami sudah menemukan seseorang yang mengenalnya."
"Siapa?"
"Seorang perempuan tua yang dulu tinggal tidak jauh dari tempat Bu Ambar tinggal sebelum menikah dengan Pak Ganjar."
Ricki mengernyit. "Dia tahu tentang hubungan mereka?"
"Lebih dari itu." Suara di seberang terdengar berhati-hati.
"Dia mengatakan hubungan Bu Ambar dengan pria tersebut bukan hubungan singkat."
Ricki menggenggam ponselnya lebih erat. "Apa maksudmu?"
"Menurut kesaksiannya, Bu Ambar dan pria itu sudah merencanakan pernikahan."
Ricki terdiam. "Kalau begitu kenapa mereka tidak menikah?"
"Kami belum tahu."
"Dan setelah itu?"
"Pria tersebut tiba-tiba pergi."
Ricki menatap halaman rumah yang luas di hadapannya. "Pergi ke mana?"
"Itu yang sedang kami cari."
Ricki mengembuskan napas. "Temui perempuan tua itu."
"Sudah."
"Dan?"
"Dia menyimpan sesuatu."
Ricki langsung fokus. "Apa?"
"Foto lama."
Jantung Ricki berdetak lebih cepat. "Foto mereka?"
"Katanya begitu."
"Ambil."
"Dia menolak memberikannya."
Ricki mengusap dagunya. "Kenapa?"
"Katanya foto itu satu-satunya bukti bahwa pria tersebut pernah benar-benar ada dalam kehidupan Bu Ambar."
Ricki terdiam beberapa saat.
"Kalau begitu jangan paksa."
Anak buahnya terdengar bingung. "Pak?"
"Temui dia lagi. Tawarkan uang jika memang dia membutuhkan. Kalau tetap menolak, cari tahu siapa yang pernah melihat foto itu."
"Baik."
Ricki memutuskan sambungan. Ia berdiri cukup lama di tempatnya. Satu demi satu potongan masa lalu mulai muncul. Namun ada satu hal yang mengganggunya. Kalau hubungan Ambar dengan pria tersebut begitu serius hingga mereka berencana menikah, lalu mengapa Ambar akhirnya menikah dengan Ganjar?
Dan lebih penting lagi... Apa yang terjadi pada pria itu sebelum Alika lahir?
Ponselnya kembali bergetar. Pesan masuk.
Pak, ada perkembangan. Perempuan itu menyebut satu hal.
Ricki membukanya.
Katanya sebelum pria tersebut pergi, Bu Ambar sedang mengandung.
Ricki membeku. Untuk beberapa detik, ia tidak bergerak. Matanya kembali membaca kalimat itu. Kemudian ia mengetik:
Dia yakin?
Balasan datang.
Sangat yakin. Dia bahkan mengatakan pernah melihat Bu Ambar beberapa kali menyembunyikan perutnya ketika bertemu warga sekitar.
Ricki menurunkan ponselnya. Sekarang semuanya mulai membentuk sebuah garis.
Ambar.
Pria dari masa lalu.
Kehamilan.
Pernikahan dengan Ganjar.
Dan Alika.
Akan tetapi Ricki belum berani menarik kesimpulan. Ia membutuhkan satu bukti lagi.
Bukan hasil pemeriksaan. Bukan cerita dari keluarga Wijaya. Ia ingin menemukan sesuatu yang berasal dari masa sebelum Alika lahir.
Sesuatu yang tidak bisa dengan mudah dibantah.
☘️☘️☘️☘️
Sore itu, Alika sedang mencoba beberapa gaun untuk acara pernikahannya.
"Yang ini bagaimana?"
Ia berdiri di depan cermin. Ambar yang duduk di sofa hanya mengangguk.
"Bagus."
Alika memperhatikan wajah ibunya melalui pantulan cermin. "Mami kelihatan banyak pikiran."
"Aku hanya lelah."
Alika berbalik. "Jangan khawatir."
Ambar menatapnya, tanpa bicara sepatah kata pun.
"Pernikahan ini akan tetap berlangsung." Alika tersenyum. "Setelah aku menjadi istri Ricki, tidak akan mudah bagi siapa pun untuk mempertanyakan kedudukanku."
Ambar hanya tersenyum. Ia tahu putrinya sedang membangun perlindungan untuk dirinya sendiri. Tetapi yang tidak diketahui Alika adalah satu hal. Ada seseorang di luar keluarga mereka yang sudah mulai menarik benang masa lalu.
Dan setiap benang yang ditarik akan membawa mereka semakin dekat kepada rahasia yang selama ini dikubur Ambar.
☘️☘️☘️☘️☘️
Malamnya, Ricki kembali menerima kabar. Kali ini hanya satu foto yang dikirim kepadanya. Foto lama dengan kualitas yang sudah buruk.
Seorang perempuan muda berdiri di samping seorang pria.
Ricki memperbesar gambar tersebut. Perempuan itu jelas Ambar. Sedangkan pria di sampingnya...
Ricki terdiam. Ada sesuatu yang membuat wajah pria itu terasa asing sekaligus mengganggu. Di bagian belakang foto terdapat tulisan tangan.
Jangan cari aku setelah hari itu. Aku akan kembali ketika keadaan sudah aman.
Ricki membaca kalimat tersebut dengan napas tertahan. Hari apa yang dimaksud? Dan mengapa seseorang yang berjanji akan kembali justru menghilang begitu saja?
Ricki membalik foto itu sekali lagi. Matanya berhenti pada tanggal yang tertulis kecil di sudut bawah. Tanggal itu berada beberapa bulan sebelum pernikahan Ambar dan Ganjar.
Ricki menggenggam foto tersebut. "Siapa sebenarnya kau?"
Entah kenapa ia merasa pria dalam foto itu bukan sekadar masa lalu Ambar. Pria itu mungkin merupakan kunci dari seluruh rahasia kelahiran Alika. Dan Ricki akan menemukan jawabannya sebelum hari pernikahannya tiba.
Namun ada satu hal yang belum diketahuinya. Pria yang sedang ia cari ternyata tidak pernah benar-benar menghilang. Ia hanya hidup dengan nama yang berbeda.
Bersambung ....
top lah