Galih, seorang remaja SMA 17 tahun yang lugu dan penyendiri karena dianggap aneh memiliki kemampuan indigo, mendadak tersedot ke dalam lubang hitam misterius di tengah kelas bersama teman-temannya. Ia terbangun seorang diri di Hutan Wanasari, sebuah dunia fantasi berlatar era keemasan Majapahit yang dipenuhi ancaman sarang monster dimensi lain (Loka Gaib). Diselamatkan oleh Ki Wira, seorang pendekar sepuh, dan dibawa ke rumah panggungnya, Galih bertemu dengan Sekar, cucu angkat Ki Wira yang cantik, tegas, dan lincah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peti Hadiah dan Inti Kristal
Suara dentingan magis bergemerincing merdu memecah keheningan total yang menyelimuti arena lantai sepuluh, disusul munculnya sebuah peti harta karun bersepuh emas yang perlahan timbul dari lantai batu tepat di titik terakhir Gandaruka meledak menjadi debu magis.
Galih terkapar lemas di lantai, tubuhnya benar-benar kehabisan tenaga setelah melancarkan serangan penentu yang baru saja mengakhiri pertarungan maraton dua hari penuh itu. Setiap otot di tubuhnya terasa seperti diremas habis, napasnya masih tersengal meski jauh lebih tenang dibanding beberapa menit sebelumnya, matanya menatap langit-langit gua yang gelap sambil membiarkan kelegaan luar biasa meresap perlahan ke seluruh kesadarannya. Debu magis yang tadi berhamburan dari ledakan Gandaruka masih melayang tipis di udara, berkilau lembut ditimpa cahaya obor yang tersisa.
Keheningan yang menyelimuti dungeon terasa begitu asing setelah dua hari penuh diisi raungan monster dan denting senjata beradu tanpa henti sedikit pun. Bahkan suara napas mereka bertiga terdengar begitu jelas di tengah kesunyian yang tiba-tiba menggantikan kekacauan itu tanpa aba-aba.
Sekar, meski tubuhnya masih lemas dan penuh luka, memaksakan diri merangkak perlahan menuju peti yang baru saja muncul, gerakannya lambat namun penuh tekad, seolah rasa penasaran mengalahkan rasa sakit yang masih menjalar di sekujur tubuhnya. Larasati mengikuti dari sisi lain, kondisinya tidak jauh lebih baik, energi spiritualnya masih terasa kosong sepenuhnya setelah dikuras habis untuk buff pemungkas terakhir. Keduanya bergerak seperti dua orang yang baru saja bangun dari tidur panjang, setiap sendi terasa kaku dan berat.
"Ini... peti hadiah boss," gumam Sekar, suaranya masih serak menahan lelah, tangannya bergetar saat menyentuh permukaan peti yang berkilau lembut diterangi sisa cahaya magis yang belum sepenuhnya memudar dari udara sekitar.
Dengan susah payah, kedua gadis itu membuka tutup peti bersama-sama, engselnya berderit pelan sebelum akhirnya terbuka lebar, menampilkan isi di dalamnya yang berkilauan lembut dalam kegelapan arena yang mulai tenang kembali.
Sepasang taring besar berwarna gading tergeletak di dasar peti, jelas berasal dari rahang Gandaruka yang baru saja mereka kalahkan. Di sampingnya, sebuah emblem perunggu berukir simbol angka sepuluh, bukti resmi penaklukan lantai itu, berkilau lembut ditimpa cahaya obor yang masih tersisa menyala di dinding arena. Ukiran pada emblem itu begitu detail, menggambarkan sosok Gandaruka kecil yang mengelilingi angka sepuluh besar di tengahnya.
Namun yang paling menarik perhatian keduanya adalah sebuah kristal bulat sebesar kepalan tangan, memancarkan cahaya kemerahan lembut yang berdenyut teratur, seolah masih menyimpan sisa kehidupan dari makhluk yang pernah menjadi pemiliknya.
"Ini... Inti Monster," bisik Larasati, matanya membelalak kagum, mengangkat kristal itu perlahan dengan kedua tangan yang masih gemetar hebat. "Tapi ini beda dari yang biasa kudengar. Biasanya inti hancur berkeping-keping kalau monsternya dikalahkan, bukan tetap utuh seperti ini."
Sekar menoleh cepat ke arah Galih yang masih terbaring lemas beberapa langkah dari sana, matanya penuh tanda tanya. "Galih, kau tahu sesuatu soal ini? Kenapa bentuknya bisa seperti itu?"
Galih memaksakan diri duduk, meski setiap gerakan terasa seperti menarik beban berat yang tidak ada habisnya. Ia menatap kristal di tangan Larasati, tersenyum lemah menyaksikan hasil dari apa yang ia lihat sebelumnya melalui mata dewa yang baru saja terbangun dalam dirinya. Sudut bibirnya sedikit terangkat, bukan karena bangga berlebihan, melainkan karena kelegaan sederhana bahwa kemampuan barunya benar-benar berguna, bukan sekadar keajaiban tanpa arti.
"Waktu aku melihat titik cahayanya," jelas Galih, suaranya masih lemah namun cukup jelas terdengar oleh kedua rekannya, "aku bisa melihat bahwa itu bukan sekadar sumber kekuatan Gandaruka. Itu semacam inti murni, jantung sejati dari energi yang membentuk keberadaannya. Kalau ditembus tepat di pusatnya, bukan dihancurkan sembarangan, intinya tetap utuh, seperti berhasil mengeluarkan biji dari buahnya tanpa merusak dagingnya."
Sekar dan Larasati saling bertukar pandang, keduanya terbelalak kagum menyadari betapa presisi dan luar biasanya kemampuan yang baru saja ditunjukkan Galih, bukan hanya berhasil mengalahkan boss yang bahkan pemburu senior sekalipun gentar menghadapinya, tetapi juga berhasil mengekstrak inti murninya secara utuh, sesuatu yang bahkan pemburu paling berpengalaman sekalipun jarang bisa lakukan. Larasati membolak-balik kristal itu di tangannya, memeriksa setiap sudutnya dengan mata yang masih dipenuhi rasa takjub.
"Kau benar-benar luar biasa," ucap Larasati pelan, suaranya penuh kekaguman tulus yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya terhadap pemuda yang dulu ia anggap hanya menyimpan energi aneh tanpa arah jelas. "Rasa hormatku padamu jauh lebih dalam sekarang, Galih. Sungguh."
Sekar mengangguk setuju, wajahnya yang lelah namun puas menunjukkan perasaan yang sama, sebuah pengakuan diam-diam bahwa pemuda kurus yang dulu terpuruk kalah oleh Tuyakra di hutan kini sudah tumbuh menjadi kekuatan yang bahkan ia sendiri tidak sepenuhnya pahami, sesuatu yang membuat dadanya dipenuhi rasa bangga tersendiri.
Kirana, yang perlahan mendekat dari sudut aman setelah memastikan bahaya sudah benar-benar berlalu, ikut menatap kristal itu dengan mata berbinar, meski tubuhnya masih gemetar sisa syok yang belum sepenuhnya reda. Langkahnya masih ragu-ragu, sesekali menoleh ke belakang seolah masih tidak percaya bahwa ancaman yang mengejarnya sepanjang dua hari itu benar-benar sudah lenyap.
"Terima kasih," bisik Kirana pelan, suaranya bergetar menahan haru, "kalian semua sudah menyelamatkan aku, mempertaruhkan nyawa kalian sendiri demi orang asing yang bahkan baru saja kalian temui."
Tidak ada satu pun dari mereka yang menjawab dengan kata-kata. Sekar, Larasati, dan Galih hanya saling berpandangan sejenak, sebelum akhirnya bergerak mendekat satu sama lain, merangkul erat dalam satu pelukan kelompok yang penuh kelelahan namun jauh lebih penuh oleh rasa syukur yang tidak terucapkan. Tubuh mereka yang penuh debu dan bercak darah kering saling bersandar, seolah saling menopang satu sama lain untuk tetap berdiri tegak setelah semua yang baru saja mereka lalui bersama.
Kirana ragu sejenak sebelum akhirnya ikut bergabung dalam pelukan itu, air matanya mengalir deras bercampur tawa lega yang keluar begitu saja tanpa bisa ia tahan. Untuk pertama kalinya sejak masuk sendirian ke dungeon ini, ia merasakan kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan, kehangatan memiliki seseorang yang benar-benar peduli pada keselamatannya tanpa syarat apa pun. Mereka berempat berpelukan di tengah reruntuhan arena lantai sepuluh, tubuh penuh luka dan lelah, namun hati dipenuhi kemenangan bersejarah pertama yang akan selamanya menandai awal baru bagi Laskar Cakra, kelompok kecil yang baru saja membuktikan diri jauh melampaui ekspektasi siapa pun, termasuk diri mereka sendiri. Cahaya obor yang masih menyala menerangi wajah mereka yang lelah namun tersenyum, sebuah gambaran sederhana dari kemenangan yang dibayar dengan pengorbanan luar biasa.