Karina, 30, memergoki suaminya selingkuh—perempuannya sudah hamil. Delapan tahun divonis mandul, ia melampiaskan amarah pada satu malam dengan Nathan, cowok sepuluh tahun lebih muda, lalu bersumpah tak akan bertemu lagi. Takdir berkata lain: Nathan adalah teman sekamar adiknya, dan tubuh yang "mandul" itu kini mengandung kembar tiga. Nathan pindah masuk, menyerahkan hartanya, berubah jadi calon ayah paling posesif. Karina tak tahu, di balik nama Nathan tersembunyi Aries Mah, pewaris tunggal Maxson Private Bank Singapura. Mantan suami menyesal, pelakor sombong, mertua jahat, saudara tiri rebut warisan—semua datang bergiliran. Tapi Nathan siap membalas setiap hinaan berkali lipat. Sanggupkah janda beranak tiga benar-benar duduk di singgasana keluarga konglomerat itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13
Kamu Harus Pelan-pelan Terbiasa
"Cici, kenapa Ko Nathan nggak pulang dua malam?"
Suara Kevin dari pengeras ponsel membuat Nathan menjatuhkan spatula.
Karina yang sedang duduk di sofa langsung menoleh. Nathan memungut spatula, mematikan kompor, lalu menjawab santai, "Ada proyek."
"Proyek apa sampai menginap?"
"Banyak tanya."
Kevin tertawa. "Aku mau pinjam jaketmu. Yang hitam ada di lemari?"
Jaket hitam itu tergantung di kursi makan Karina.
"Jangan sentuh barangku," kata Nathan. "Aku pulang siang ini."
Setelah telepon ditutup, Karina mengangkat alis. "Kita harus memikirkan alasan yang lebih baik."
"Atau bilang saja aku tinggal denganmu."
"Jangan gila."
"Aku ayah tiga keponakannya."
"Dia belum tahu aku bercerai."
Nathan terdiam. Dia menaruh sepiring roti panggang di depan Karina. "Sampai kapan kamu mau menyembunyikan semuanya?"
"Sampai putusan keluar dan kehamilan aman."
"Baik. Tapi selama itu aku tetap datang."
Mereka pergi kontrol pagi itu. Nathan meminta mobil sampai ke pintu gedung agar Karina tidak berjalan jauh. Di rumah sakit, hasil pemeriksaan cukup baik, tetapi dokter tetap melarang aktivitas berat dan hubungan intim.
Nathan mengangguk sangat patuh. Karina menahan senyum.
Dokter menunjukkan tiga kantung pada layar dan menjelaskan bahwa ketiganya masih memiliki denyut yang baik. Belum waktunya merasa aman sepenuhnya, tetapi tidak ada perdarahan baru. Karina boleh bekerja dari rumah dengan jeda istirahat, tidak boleh berdiri lama, dan harus segera melapor jika kram memburuk.
"Bagaimana dengan naik tangga?" tanya Nathan.
"Sebisa mungkin dihindari."
"Berarti kami harus pindah."
Karina menyela, "Kami akan pikirkan."
Dokter memandang keduanya bergantian. "Keputusan tempat tinggal milik kalian. Saya hanya memberi batas medis."
Di luar, Nathan mencatat semua larangan pada ponsel. Karina melihat ada daftar bernama Operasi Tiga Bayi. Isinya termasuk mencari apartemen berlift, membuat jadwal makanan, dan membeli bantalan sudut meja.
"Kamu terlalu berlebihan."
"Kemarin kamu bilang begitu sebelum berdarah."
Karina tidak bisa membalas. Nathan langsung melunak dan meraih tangannya. "Aku nggak menyalahkanmu. Aku cuma nggak mau terlambat lagi."
"Kenapa senyum?" tanyanya di luar ruang praktik.
"Kamu terlihat seperti murid dimarahi guru."
"Aku serius soal keselamatan kalian."
"Aku tahu."
Dua kata lembut itu membuat Nathan diam lebih lama daripada biasanya.
Dalam perjalanan pulang, mereka berhenti di supermarket. Karina hanya duduk di kursi roda yang disediakan toko, sementara Nathan mendorong. Dia memasukkan buah, susu, dan tiga jenis biskuit ke keranjang.
"Terlalu banyak."
"Kamu mual pada rasa yang kemarin."
"Kamu ingat?"
"Aku ingat semua soal kamu."
Di bagian perlengkapan rumah, Nathan mengambil dua cangkir dengan warna senada serta sepasang sandal rumah.
"Nggak perlu."
"Punyaku basah kena air kamar mandi."
"Beli satu."
"Pasangan lebih murah."
Karina melihat label harga. "Itu bohong."
Nathan memasukkan keduanya ke keranjang. "Diskon emosional."
Di toko perlengkapan bayi, dia kembali berhenti. Karina menarik lengannya. "Dokter bilang kita belum perlu belanja."
"Aku cuma lihat."
Lima menit kemudian, Nathan sudah memegang tiga buku catatan kehamilan. Satu untuk setiap bayi.
"Mereka bahkan belum punya nama."
"Tulis Bayi A, B, C dulu."
Karina akhirnya mengalah. Di kasir, seorang pegawai tersenyum kepada mereka. "Baru menikah?"
"Sebentar lagi," jawab Nathan.
"Bukan," jawab Karina bersamaan.
Pegawai itu pura-pura sibuk memindai barang. Nathan menunduk ke telinga Karina. "Jawaban kita harus disamakan."
"Jawabanmu yang salah."
"Nanti benar."
Sepulangnya, Nathan mengganti cangkir lama di rak. Sandal mereka diletakkan berdampingan di pintu. Sedikit demi sedikit, apartemen itu berubah dari rumah Karina menjadi ruang milik dua orang.
Nathan juga menempel bantalan pada sudut meja, memindahkan karpet yang mudah tersandung, dan memasang lampu kecil menuju kamar mandi. Karina mengamati dari sofa sambil menjawab surel kantor.
"Bu Wanda mengizinkan aku bekerja jarak jauh seminggu," katanya.
"Bagus."
"Aku belum bilang kenapa."
"Bilang dokter menyuruh istirahat. Itu benar."
"Aku tidak suka menyembunyikan sesuatu."
Nathan berhenti memasang lampu. "Kita nggak menyembunyikan selamanya. Kita melindungi sampai waktunya aman."
Karina tahu kalimat itu juga ditujukan pada Kevin. Dia memandangi tiga buku kecil di meja. Rahasia itu terasa semakin besar setiap hari.
Saat makan malam, Nathan memasak bubur terlalu encer. Karina tetap menghabiskan setengah mangkuk karena melihat plester kecil di jarinya akibat terkena pisau.
"Besok pesan makanan saja," katanya.
"Aku bisa belajar."
"Tiga bayi kita butuh ayah dengan semua jari lengkap."
Nathan tersenyum. "Kamu baru bilang tiga bayi kita."
Karina menyadari kesalahannya dan buru-buru minum. Nathan tidak berhenti tersenyum sepanjang sisa makan malam.
Nathan membuka buku Bayi A dan menulis tanggal pertama mendengar detak jantung. Karina duduk di sampingnya, lalu menambahkan keterangan tentang hasil pemeriksaan.
"Tulisanmu jelek," katanya.
"Anakku pasti bisa baca."
"Anakmu belum tahu huruf."
"Kamu selalu merusak momen."
Ponsel Nathan berdering. Kali ini dia mengangkat panggilan Kevin dan berjalan ke balkon. Karina melihat foto profil adiknya, lalu memikirkan betapa rumitnya kebenaran yang harus dia sampaikan nanti.
Saat Nathan kembali, dia mendapati Karina menatap fotonya di layar ponsel. Foto itu diambil diam-diam ketika Nathan tertidur di lantai dekat ranjang.
"Kamu memotretku?"
Karina buru-buru mengunci layar. "Nggak sengaja."
"Lalu kenapa jadi wallpaper?"
Karina menatap layar. Entah kapan, jarinya benar-benar menjadikan foto itu latar utama.
"Ponselku error."
Nathan duduk di sampingnya dengan senyum lebar. "Aku bisa memperbaiki."
"Jangan sentuh."
"Kalau mau foto lebih bagus, bilang."
Bel pintu berbunyi. Kevin berdiri di luar membawa jaket cadangan dan sekantong makanan dari kampus.
Karina dan Nathan saling pandang dengan panik.
Nathan menyambar buku kehamilan, cangkir pasangannya, dan sandal, lalu berlari ke kamar. Karina merapikan napas sebelum membuka pintu.
Kevin masuk sambil mengoceh. "Aku sekalian lewat. Cici sakit? Ko Nathan bilang proyeknya dekat sini."
"Cuma kurang enak badan."
Kevin meletakkan makanan di meja dan menyentuh dahi Karina. Gerakan penuh perhatian itu membuat rasa bersalah menusuk. Adiknya berdiri begitu dekat dengan tiga buku kehamilan yang baru diselipkan Nathan di balik bantal sofa.
"Kalau sakit, bilang Mama," ujar Kevin. "Jangan selalu sendirian."
"Cici nggak sendirian," kata Nathan tanpa berpikir.
Karina langsung menatapnya. Kevin mengikuti tatapan itu, semakin curiga.
"Maksudku, ada tetangga," Nathan mengoreksi.
"Sejak kapan Ko Nathan tahu tetangga Cici?"
Dari kamar terdengar bunyi benda jatuh.
Kevin menoleh. "Ada siapa?"
Nathan keluar sambil membawa meteran, seolah sedang mengukur kamar. "Aku. Proyek renovasi kecil."
Kevin menatap cangkir kembar di meja, sandal lelaki di pintu, lalu rambut Nathan yang masih berantakan karena tidur.
"Kalian kok akrab banget?" tanya Kevin, menatap keduanya dengan curiga yang kini sama sekali tidak disembunyikan malam itu.