Keira Sutanto sudah punya semua yang diimpikan perempuan lajang: karier sebagai ilustrator, tabungan sendiri, apartemen mewah… dan satu suami hasil perjodohan kilat yang bahkan tak tinggal serumah. Menikah tiga hari, suaminya sudah terbang ke luar negeri. "Suami tajir yang tak pernah pulang" — hidup macam apa lagi yang lebih tenang dari ini?
Yang Keira tak tahu: **Nathan Halim**, si "programmer" yang dinikahinya, adalah putra kedua konglomerat Halim sekaligus pendiri NARA — perusahaan AI bernilai dua miliar dolar. Tiga tahun lebih muda darinya, jenius, dingin di depan orang… dan diam-diam terobsesi padanya sampai ke ujung jari.
Begitu tahu Keira punya seorang "kakak" tanpa hubungan darah yang tak pernah rela melepasnya, Nathan memindahkan seluruh perusahaannya pulang ke Indonesia — kantornya, tepat di sebelah kantor sang istri.
"Kalau di kantor tak boleh kupanggil 'Sayang'," bisiknya sambil tersenyum, "kupanggil 'Cici' saja, ya?"
Keira kira ini cuma pernikahan kontrak yang akan cepat berakhir. Ia tak menyangka: suami berondong-nya ini akan melamarnya untuk kedua kalinya, memburunya sampai ke ujung dunia saat ia diculik, dan menghancurkan setiap orang yang berani menyakitinya.
Hanya saja… rahasia masa lalunya belum semuanya terbongkar. Ibu kandung yang membuangnya. Seorang adik yang bahkan tak tahu mereka sedarah. Dan seorang "kakak" yang, malam itu, memutuskan bahwa kalau tak bisa memilikinya, ia akan merebutnya dengan cara apa pun—
Ponsel Keira bergetar. Satu pesan dari nomor tak dikenal:
*"Kei, ayo pulang. Kita bicara berdua saja."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 30 Terlalu Cepat?
Nathan memakan setengah roti cokelat milik Keira sebelum mobil keluar dari gedung.
"Aku tahu kamu akan begitu," kata Keira.
"Berarti kita semakin saling memahami."
"Berarti kamu mudah ditebak."
Mereka mampir ke kantin NARA yang baru selesai dibersihkan untuk mengambil makan malam ringan. Keira memeriksa label penyimpanan, suhu lemari pendingin, dan wastafel yang dipisahkan untuk bahan mentah.
"Kamu sedang mengaudit kantinku?" tanya Nathan.
"Aku pemegang saham hotel sekarang. Aku harus berlatih melihat kebersihan."
"Kalau nilainya bagus, dapat hadiah?"
"Tidak ditutup dinas kesehatan."
Nathan menerima itu sebagai pujian.
Keesokan harinya, Jumat, Keira harus menghadiri acara industri di Hotel Sentosa. Ia sudah menyiapkan kartu nama dan presentasi pendek sebelum tidur. Nathan juga memiliki jadwal padat menjelang peluncuran NARA, tetapi kegelisahannya berasal dari sumber lain.
Dalam rapat pagi, layar utama menampilkan daftar anomali akses dari pegawai baru. Tidak ada kebocoran nyata. Akun-akun berisiko hanya melihat data umpan, tetapi dua orang mencoba menyalin berkas yang tidak berkaitan dengan pekerjaan mereka.
"Akses dicabut, investigasi HR dan legal mulai hari ini," kata Nathan. "Minggu depan kita jalankan simulasi serangan DDoS. Semua tim harus menganggapnya nyata sampai fase evaluasi."
Emma mengangkat tangan. "Apakah jadwalnya diumumkan?"
"Rentang harinya diumumkan, jamnya tidak. Kita menguji sistem dan komunikasi, bukan membuat orang trauma."
Tim menambahkan prosedur eskalasi di layar. Lucas meminta kanal khusus agar pegawai baru tidak takut melapor jika melihat kejanggalan.
"Setujui," kata Nathan. "Tidak ada hukuman untuk alarm yang ternyata salah. Ada hukuman untuk menyembunyikan risiko."
Carl mengikuti rapat melalui sambungan terbatas. Akunnya masih dibekukan untuk akses produksi, tetapi audit belum menemukan bukti bahwa ia sendiri mengirim data keluar. Nathan tidak mencabut pembatasan hanya karena hasil sementara terlihat bersih.
"Sampai rantai rekomendasi tiga pelamar baru selesai diperiksa, semua akses lintas tim memakai persetujuan ganda," ujarnya.
Seorang manajer mengeluh prosedur itu akan memperlambat kerja.
"Lebih lambat dua menit atau kehilangan kepercayaan klien dua tahun," kata Nathan. "Pilih."
Tidak ada yang membantah lagi.
Setelah rapat, Tim mengikuti Nathan ke koridor. "Bapak tidur empat jam."
"Lima."
"Log akses menunjukkan Bapak membuka konsol pukul satu lewat dua belas."
"Kau memata-mataiku?"
"Saya mengaudit sistem sesuai perintah."
Nathan mengambil kopi, lalu mengembalikannya sebelum minum. Keira sudah mengingatkan agar ia tidak menambah kafein saat kurang tidur. Ia mengganti dengan air mineral, membuat Tim mengangkat alis.
"Jangan komentar."
"Saya belum bicara, Pak."
"Wajahmu bicara."
Nathan baru menyadari bahwa ia mulai memakai kalimat Keira. Alih-alih kesal, hal itu membuat dadanya terasa ringan di tengah rapat yang panjang.
Hari itu memanjang sampai larut. Keira sudah menyelesaikan materi Hotel Sentosa, tetapi memilih tetap di mejanya sampai gedung hampir kosong. Ia mengetahui urutan penguncian NARA dari penjelasan Nathan semalam. Pukul sembilan lewat, ia turun dan menunggu di luar zona akses terbatas.
Kali ini ia mengirim pesan lebih dulu.
Aku di koridor. Selesaikan dengan benar, tidak perlu buru-buru.
Balasan Nathan datang dalam empat detik.
Tiga belas menit.
Ia keluar tepat tiga belas menit kemudian.
"Kamu menghitung?" tanya Keira.
"Tentu."
"Kalau lewat satu menit?"
"Aku akan mengirim laporan insiden."
"Penyebabnya?"
"Suami gagal pulang tepat waktu bersama istrinya."
Di Verde, keduanya sama-sama terlalu lelah untuk makan berat. Keira mandi lebih dulu. Ketika Nathan masuk untuk mengambil handuk yang tertinggal, pintu kamar mandi belum dikunci.
Ia berhenti di ambang. "Boleh masuk?"
Keira, yang sudah memakai jubah mandi, mengangguk. "Ambil handukmu."
Nathan mengambilnya, tetapi pandangannya tertahan terlalu lama. Keira melangkah mendekat dan menyentuh rambutnya yang jatuh ke dahi.
"Kamu capek."
"Sekarang tidak terlalu."
"Kalimatmu mulai berbahaya."
Nathan menunggu. Ketika Keira tidak mundur, ia menyentuh sisi wajahnya. "Boleh?"
Jawaban Keira datang melalui ciuman.
Uap hangat memenuhi ruang sempit. Nathan tetap menahan gerakannya setiap kali napas Keira berubah, memberi kesempatan untuk berhenti. Namun tangan Keira justru meraih kerah bajunya dan menariknya lebih dekat.
Beberapa saat kemudian, keduanya tersadar pada hal yang sama.
Perlengkapan kontrasepsi ada di laci kamar tidur.
Keira membuka mata. "Kamar."
Nathan mengangguk, langsung mundur dan membungkuskan handuk ke bahunya. Mereka berpindah tanpa terburu-buru. Pintu kamar dikunci. Keputusan untuk belum memiliki anak tidak boleh kalah oleh satu malam yang terlalu hangat.
Pagi datang bersama cahaya yang menyusup dari celah tirai.
Keira bangun dengan pinggang dan paha yang terasa pegal. Nathan sudah duduk di samping ranjang, membawa air hangat dan ekspresi bersalah yang hampir lucu.
"Minum dulu."
Keira menerima gelas itu. "Jam berapa?"
"Enam lewat dua puluh. Acara di Hotel Sentosa mulai jam sepuluh. Aku bisa antar."
"Aku bisa pergi sendiri."
"Aku tahu. Aku menawarkan."
Di meja samping gelas sudah ada sarapan sederhana, obat pereda nyeri yang masih tersegel, dan kantong kompres hangat. Nathan tidak memberinya obat begitu saja. Ia menunjukkan kemasannya, dosis, serta menanyakan apakah Keira ingin meminumnya.
"Kompres saja," pilih Keira.
Nathan mengisi ulang kantong itu dengan air bersuhu aman, membungkusnya memakai handuk tipis, lalu menyerahkannya. "Kalau panas, bilang."
"Kamu belajar dari mana?"
"Panduan klinik dan tiga video fisioterapis. Aku membuang dua sumber yang menyarankan gerakan aneh."
Keira meletakkan kompres di pinggang. Hangatnya meresap perlahan, mengurangi tarikan pada otot.
"Kamu tidak perlu terlihat seperti baru melakukan kesalahan besar," katanya.
"Aku sedang mengevaluasi pengalaman pengguna."
"Aku bukan produk."
"Itu sebabnya aku bertanya langsung, bukan membaca metrik."
Keira menahan senyum. Bahkan kekhawatiran Nathan tetap terdengar seperti laporan teknis, tetapi tangannya yang merapikan ujung selimut bergerak sangat hati-hati.
Nathan memijat ringan betisnya di atas selimut. "Sakit?"
"Sedikit pegal."
"Semalam terlalu cepat?"
Keira menatapnya di atas bibir gelas. Wajah Nathan sungguh-sungguh menunggu jawaban, tanpa godaan.
"Nggak."
Bahu Nathan turun lega.
Keira menambahkan, "Tapi lain kali jangan mulai di kamar mandi kalau perlengkapannya ada di kamar."
"Aku akan menyimpan cadangan."
"Bukan di kantor."
"Aku bahkan belum mengatakan kantor."
"Wajahmu mengatakan itu."
Nathan menunduk dan mencium lututnya melalui selimut. "Baik, Ci. Hanya di rumah."
Keira menyentuh rambutnya. Di meja samping, undangan Hotel Sentosa menunggu. Di kantor, simulasi serangan sudah dijadwalkan. Akhir pekan pun akan membawa mereka ke kompleks Nirwana.
Namun pagi itu, satu jawaban pendek sudah cukup membuat Nathan tersenyum seolah seluruh sistemnya kembali normal.
Ia belum tahu bahwa hari ini akan mempertemukan Keira dengan seseorang dari masa sekolah, orang yang pernah dipaksa pergi hanya karena berani menyukainya.
Dan bekas keputusan Fabian itu belum benar-benar hilang dari hidup mereka.