NovelToon NovelToon
MENIKAHI MANTANKU

MENIKAHI MANTANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

Satu Atap Bersama Mantan

Aira seorang gadis yang hobi berbelanja menggantungkan hidupnya pada pundi-pundi kekayaan keluarganya terpaksa menerima perjodohan demi menyelamatkan rekening banknya yang terancam diblokir papinya.

Namun di hari pernikahannya niatnya untuk kabur justru malah bertemu mantan pacarnya yang 8 tahun lalu mencampakkannya dengan alasan dingin.

Devan, cinta pertama Aira sekaligus mantan Aira yang sangat ia benci ternyata adalah calon suaminya.

Dua orang yang masih sama-sama sayang, tapi sangat gengsi dalam mengakui perasaannya.

Bagaimana kehidupan rumah tangga mereka kedepannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 : Kompor Berjalan

Sesi resepsi dalam rangkaian acara itu harusnya jadi momen sakral yang bikin haru.

Tapi bagi Aira, seluruh momen itu tak ubahnya seperti teater komedi gelap dengan dirinya sebagai korban utama.

Sepanjang prosesi, Aira berdiri tegak dengan bahu kaku. Senyumnya? Nol besar. Wajah cantiknya dililit ekspresi judes maksimal yang siap menyemprot siapa saja yang berani mendekat.

Lipatan gaunnya yang pas badan serasa makin mencekik lehernya tiap kali Devan bergerak sedikit di sebelahnya.

"Aira, senyumnya mana sih, sayang?" panggil Mami Maya yang menyelinap dari barisan depan, memegang kipas sambil membenahi melati di sanggul Aira untuk kesepuluh kalinya dalam satu jam terakhir. "Lihat tuh kamera di depan! Muka kamu tegang gitu kayak lagi ditagih utang pinjol. Malu-maluin Mami di depan Tante Rana!"

Aira memutar bola matanya malas, berdecak keras tanpa peduli momen. "Mami, ini gaun ketat banget sampai Aira susah napas, ditambah kudu berdiri di samping cowok songong ini. Mana bisa Aira senyum manis coba?"

"Aira!" tegor Mami sambil menepuk pelan lengan Aira dengan kipasnya. "Devan ini suami kamu sekarang! Coba itu mulutnya dijaga, jangan judes-judes amat. Nanti kalau Devan kabur gimana?"

"Bagus dong kalau kabur! Aira malah syukuran!" sahut Aira sengit tanpa rasa bersalah.

Devan yang berdiri di sebelah Aira, terkekeh pelan mendengar sahutan itu. Pria itu menyilangkan tangannya di dada, melirik Aira dari atas ke bawah dengan tatapan yang super memancing emosi.

"Tante Maya tenang aja," potong Devan dengan nada suara yang sengaja dibuat sesopan mungkin di depan sang ibu mertua. "Aira emang gini kok kalau lagi kepanasan. Agak cranky kayak anak TK telat makan siang. Tapi makin judes gini makin kelihatan lucu, kok."

Mata Aira langsung membelalak sempurna, melempar tatapan mau membunuh ke arah Devan. Cowo gila! Lu kata gue balita?!

"Lu bisa diam nggak sih?!" desis Aira. "Nggak usah sok akrab sama Mami gue, ya! Sok-sokan panggil Tante, geli tahu nggak!"

Devan mendekatkan kepalanya beberapa sentimeter ke arah Aira, memanfaatkan posisi mereka yang sedang berdiri berdampingan demi estetika foto. "Kenapa nggak boleh? Kan emang mami kamu mami aku juga sekarang, Istriku."

Suara Devan pas mengucapkan kata 'Istriku' dibuat begitu berat, santai, dan penuh intonasi mengejek yang amat halus.

"Jangan panggil gue pake kata itu! Jijik!" Aira menyenggol siku Devan dengan sikutnya secara kasar, tapi Devan cuma bergeming santai, malah makin sengaja melempar senyum menawan ke arah kamera yang baru saja mengambil gambar mereka berdua.

"Aira, kamu sumpah ya!" Mami Maya mengurut dadanya, frustrasi melihat kelakuan putrinya yang tidak bisa dikontrol. "Mami mau ke tempat Papi dulu. Awas ya kamu kalau bikin kelakuan aneh-aneh pas doa penutup!"

Sepeninggal Mami Maya yang berjalan setengah mengomel ke barisan depan, Aira makin kepanasan. AC di ruangan itu terasa kurang dingin buat menampung emosinya, keberadaan Devan yang bak kompor menyala di sebelahnya benar-benar menguras energinya.

Aira ini tipe cewek yang gampang banget tersulut emosi, dan sialnya, Devan adalah ahli dalam hal memicu ledakan emosi Aira dari zaman baheula.

"Lu sengaja kan?" bisik Aira sambil terus menatap lurus ke arah tamu-tamu, berpura-pura mendengarkan doa padahal hatinya kesal setengah mati. "Lu sengaja komporin Mami biar gue makin dipojokin?"

Devan terkekeh pelan, mengusap dagunya. "Aku? Komporin? Nggak tuh. Aku cuma menyampaikan fakta. Lagian kamu gampang banget dipancing, Ra. Dari SMA sampai sekarang, tombol emosi kamu masih ada di tempat yang sama. Tinggal pencet dikit, langsung meledak."

"Devan Argawinata, sumpah demi apa pun, habis acara ini selesai gue bakal—"

"Bakal apa?" potong Devan cepat, memotong ancaman Aira dengan tatapan santainya yang super menyebalkan. "Bakal ngamuk? Bakal banting barang di rumah baru kita? Silakan. Semakin kamu ngamuk, semakin seru tontonannya."

Aira mengepalkan tangannya. Napasnya memburu. Rasanya Aira ingin melompat dari pelaminan detik ini juga dan mencakar wajah tampan tanpa dosa milik Devan. Tapi kilatan mata Papi Surya dari kejauhan lagi-lagi menahannya.

Setelah dua jam penuh siksaan emosional dan foto bersama keluarga besar yang tak ada habisnya, waktu istirahat satu jam sebelum resepsi malam akhirnya tiba.

Para tamu mulai bergeser ke area luar untuk menikmati hidangan pembuka, sementara pengantin diizinkan beristirahat sejenak di ruang VIP yang berada di lantai satu.

Aira melangkah lebar menuju ruangan itu, ia menghempaskan tubuhnya ke sofa dan langsung melepaskan sepatunya, melemparkannya begitu saja ke sudut ruangan.

"Aduh! Kaki gue mau copot!" rintih Aira sambil mengelus pergelangan kakinya yang memerah.

Tapi ketenangannya cuma bertahan kurang dari lima belas detik.

Pintu ruang terdorong terbuka secara kasar. Papi Surya melangkah masuk dengan raut wajah yang amat sangat tegang.

Aira yang tadinya selonjoran di sofa langsung buru-buru duduk tegak, meski kakinya masih nyut-nyutan.

"Aira!" suara Papi Surya berat dan rendah, tipe suara bos besar yang sedang menahan amarah tingkat tinggi.

Aira menelan ludah, mencoba memasang pertahanan diri. "Apaan sih, Papi? Aira baru aja duduk sepuluh detik—"

"Papi perhatiin kamu sepanjang acara tadi!" Surya memotong ucapan Aira, melangkah mendekati sofa dengan berkacak pinggang. "Kamu pikir ini acara main-main?! Muka kamu cemberut dari awal sampai akhir! Berdecak, melotot, ngomong ketus sama Devan di depan kerabat Om Bramantyo! Kamu mau bikin Papi malu di depan tamu Papi?!"

"Papi yang bikin Aira malu!" Aira tak mau kalah, emosinya yang ditahan sejak pagi mendadak meluap. Suaranya agak bergetar karena campur aduk antara emosi dan lelah. "Papi yang maksa Aira nikah sama cowok ini! Papi pikir Aira robot yang bisa langsung senyum-senyum manis sama orang yang udah bikin Aira benci setengah mati?!"

"Cukup, Aira!" bentak Papi Surya, menunjuk muka Aira dengan jari telunjuknya. "Papi nggak mau tahu! Di resepsi malam nanti, kamu harus perbaiki ekspresi wajah kamu! Lembutkan tatapan kamu! Tunjukkan kalau kamu itu wanita terpelajar dari keluarga Hermawan, bukan cewek labil yang cuma tahu cara mengamuk!"

"Aira nggak bisa!"

"Kamu BISA dan kamu HARUS BISA!" potong Papi Surya tajam, menatap Aira dengan kilatan mata penuh ancaman. "Kalau sampai Papi lihat kamu pasang muka judes kamu itu lagi di depan tamu resepsi nanti... jangan harap kartu kredit kamu bakal aktif lagi. Bukan cuma dibekukan, Papi bakal cabut semua fasilitas kamu dan serahkan seluruh aset atas nama kamu ke perusahaan! Faham?!"

1
Fazira
🤣
Ael
seru👍
Reni Anjarwani
lanjut thor
Fazira
lanjut 💪
Ael
/Heart//Heart//Heart/
Reni Anjarwani
lanjut thor
Fazira
😍😍😍
Fazira
lanjut 💪
Fazira
semangat Kak 💪
Fazira
seru kak , lanjutkan 😍😍
zeylin
Wowwww baguss banget
Ael
🤭
Fazira
Ihh gemezz banget sih mereka 😍😍
Ael
next next 💪💪
nebula🌌
sukaaa
semangat thorr💪💪😍
Fazira
😍😍
Fazira
😍😍😍
Ael
next
Ael
lanjut
Fazira
lucu banget aira🤣
siapa ya yang di ruangan itu🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!