NovelToon NovelToon
Sang Penghancur Rantai Takdir

Sang Penghancur Rantai Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:85
Nilai: 5
Nama Author: * z *

Kisah ini menceritakan perjalanan seorang anak bernama Kai,
seorang pangeran dari kerajaan yang sama sekali tidak memiliki bakat dalam sihir,
dan memiliki takdir yang sangat buruk.

Dijauhi. Disakiti. Bahkan dikhianati.
Seluruh hidupnya hanya dipenuhi oleh rasa sakit yang tiada akhir.

Namun pada suatu waktu, dia tiba-tiba mendapatkan kekuatan misterius.
Kekuatan yang bahkan tidak bisa dijelaskan oleh para Dewa.
Dengan kekuatan yang dimilikinya itu, dia mulai merasakan perbedaan pada dirinya sendiri.

Namun seiring berjalannya waktu, dia terus-menerus dihajar oleh sebuah fakta:
Takdirnya yang buruk.

Tapi saat dia ingin menyerah dan lari karena sangat takut untuk melawan takdirnya sendiri,
dia bertemu dengan banyak orang-orang yang akan membantunya sedikit demi sedikit.

Pada akhirnya, hanya dia yang akan memutuskan:
Lari dan pasrah menghadapi takdirnya...
atau
Menghancurkan takdirnya dan membuat takdirnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon * z *, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 13_Senyuman yang menghangatkan

Kerajaan Eiden

Ibu kota Vain

Tahun Suci 1558

Musim dingin telah datang.

Angin dingin menyelimuti ibu kota. Asap dari perapian rumah warga mengepul ke udara.

Salju menumpuk di mana-mana. Sungai beserta air mancur, semuanya telah membeku menjadi es.

*Wussh...*

Tia berjalan di sekitar taman di dalam istana. Wajahnya murung, bahunya sedikit membungkuk, matanya sembab.

"Sudah dua bulan sejak Kai menghilang... entah apa yang terjadi padanya. Ahh... hatiku benar-benar gelisah." Suaranya pelan, bibir bergetar.

Dia terus berjalan melewati taman bunga yang kini mati karena beku, wajahnya menunduk.

Langkahnya terhenti saat melihat kursi batu di tengah taman itu, matanya berkaca.

_...Aku jadi ingat. Tempat ini... adalah tempat pertama kali aku bertemu dengannya._

[Kilas Balik]

Tia kecil berjalan dengan wajah datar di lorong istana, mata kosong.

"Aku lelah... Kapan ini semua akan berakhir?? Aku terus menerima pelatihan agar menjadi Sage yang hebat melebihi Sage terdahulu. Aku benci dengan kekuatan ini." Wajahnya datar, bibir mengerucut.

Dia terus berjalan melewati lorong sampai akhirnya tiba di taman istana.

Dia mengangkat wajahnya ke langit dan menghela napas, wajahnya lesu.

"Padahal langit saat ini sedang cerah... tapi entah kenapa aku merasa bahwa hari ini benar-benar sangatlah buruk."

Saat hendak melangkah maju, ia melihat seorang wanita yang sedang menyirami bunga-bunga di taman.

Tia kecil menatap wanita itu dengan wajah datar dan alis berkerut bingung.

"Siapa wanita itu?? Kenapa dia menyirami bunga itu?? Bukankah itu adalah tugas penjaga kebun??"

Sadar sedang dilihat, wanita itu memalingkan wajahnya dan menatap ke arah Tia, senyumnya hangat.

"Heii... kamu." sambil menunjuk, matanya berbinar.

Tia kecil langsung menunjuk ke dirinya sendiri, kaget. Wajahnya bingung.

"Aku??" sambil memiringkan kepalanya.

Wanita itu tersenyum dan melambaikan tangannya ke atas dan ke bawah, wajahnya cerah.

"Sini-sini."

Tia kecil pun melangkah maju menuju wanita tersebut.

Saat sudah di depan wanita itu dia bertanya dengan nada sopan, wajahnya masih datar.

"Permisi... kenapa Nyonya mau menyirami tanaman itu?? Bukankah itu adalah tugas penjaga kebun??"

Wanita itu tersenyum dan menggenggam tangan Tia dengan lembut, matanya lembut.

"Karena aku sangat menyukai mereka."

Tangan Tia pun langsung diarahkan ke kelopak bunga.

Wajah Tia mendadak berubah. Yang tadinya datar, sekarang terkesima. Matanya membesar, bibir terbuka.

"Lembutnya... Aku tidak pernah tahu bahwa kelopak bunga bisa selembut ini." Wajahnya takjub, sambil terus mengelus kelopak bunga tersebut.

Wanita itu tersenyum kepada Tia sambil melanjutkan menyirami bunga-bunga tersebut, mata menyipit senang.

"Indah, bukan?? Sekilas mereka hanya terlihat seperti pajangan. Tapi yang tidak kita ketahui... mereka sama dengan kita."

Tia kecil menatap wajah wanita itu dengan penasaran, alis terangkat.

"Sama... seperti kita??"

Wanita itu mengangguk pelan, senyumnya tulus.

"Benar. Mereka adalah makhluk hidup. Sama seperti kita."

Tia kecil menunduk memandangi bunga-bunga tersebut, wajahnya serius memikirkan.

Lalu dia mengangkat wajahnya dan bertanya, mata berbinar.

"Apakah mereka memiliki kekuatan yang sama seperti kita??"

Wanita itu mengelus kepala Tia dengan lembut sambil memberikan senyum yang hangat, matanya berkaca sayang.

"Tentu saja."

Mata Tia langsung berbinar-binar, wajahnya cerah.

"Aku baru tau tanaman bisa menggunakan sihir!" sambil mengelus kelopak bunga dengan lembut.

Wanita itu langsung panik dalam hati, matanya membelalak. _Gawat, anak ini salah menangkap apa yang kumaksud._

Dia buru-buru menyilangkan kedua tangannya, wajahnya panik lucu.

"Ah, bukan, bukan itu maksudku! Maksudku adalah... mereka memiliki perasaan. Sama seperti kita."

Wajah Tia pun berubah menjadi bingung, kepalanya miring.

"Perasaan?? Apa itu?"

Wanita itu sedikit terkejut mendengar itu, alisnya terangkat.

"Hmm... aku juga tidak terlalu mengerti." sambil memiringkan kepalanya dan berpikir, wajahnya bingung.

Setelah beberapa detik dia tersenyum kecil, agak malu, pipinya merona.

"Perasaan adalah sesuatu yang muncul entah darimana di dadamu. Kadang itu terasa hangat... dan kadang juga terasa dingin."

Dia menunjuk dadanya sendiri, mata lembut.

"Seperti sekarang. Berbicara denganmu rasanya hangat."

Tia meniru, memegang dadanya sendiri. Wajahnya sedikit cerah, mata bergetar.

"...Hangat." Dia tersenyum tipis kepada wanita itu.

Wanita itu langsung duduk dan tersenyum ke arah Tia, wajahnya teduh.

"Ouh iya, siapa namamu??"

Dia langsung menunjuk ke dirinya sendiri dan mengeluarkan senyum tipis, wajahnya malu.

"Namaku, Tia."

"Tia ya... hmm, nama yang bagus." sambil mengelus kepala Tia dengan lembut, matanya menyipit senang.

Wanita itu melihat ke arah langit lalu tersentak kecil, matanya membelalak.

"Ahh... sudah jam segini."

Dia melepaskan tangannya dari Tia dengan ragu, wajahnya cemas.

"Maaf yah, aku harus pergi. Putraku sedang berlatih dan aku harus membawakan makan siang kepadanya."

Saat wanita itu hendak berjalan pergi, sebuah tangan kecil menghentikannya.

Dia pun langsung menoleh ke arah genggaman kecil itu, wajahnya lembut.

"Ada apa??" tanyanya lembut. Dia melihat wajah Tia yang seperti menahan sesuatu, pipi merah.

Tia menundukkan wajahnya karena malu, pipinya sedikit merah, bibir digigit.

"Bisa beritahu aku... siapa nama Nyonya??" sambil mengangkat wajahnya sedikit, mata berkaca berharap.

Wanita itu langsung membalikkan badannya dan tersenyum tipis, matanya berkaca.

"Namaku, Flora."

Tia langsung melepas genggamannya dan menaruh tangannya di dadanya, wajahnya tersenyum bahagia.

"Flora ya... hmm, Nyonya Flora." sambil tersenyum tipis.

Wanita itu pun langsung berbalik badan, wajahnya panik tapi senyum.

"Maaf Tia, tapi aku benar-benar tidak boleh terlambat."

Dia pun berlari meninggalkan Tia sambil melambaikan tangan, rambutnya berkibar.

"Aku berjanji, kita pasti akan bertemu lagi!"

Angin berhembus kencang. Rambut pirangnya terbang tertiup angin bersamaan dengan kelopak-kelopak bunga yang beterbangan melewati dirinya.

*Wussh...*

Tia menatap punggung itu sampai menghilang, lalu berbisik pelan, wajahnya hangat, senyum tipis.

"Hangat... rasanya sangat hangat."

Setelah itu Tia melanjutkan perjalanannya menuju tempat latihan. Langkahnya lebih ringan dari biasanya, wajahnya cerah.

"Entah kenapa... rasanya hari ini terlihat lebih cerah." sambil tersenyum.

Dia pun datang ke tempat latihan itu lalu menghela napas, wajahnya kembali serius.

"Huhh... apa aku bisa menjadi sepertinya??"

Seorang manusia binatang dari klan harimau pun muncul dan menemuinya yang sedari tadi hanya berdiri di depan pintu ruang latihan, wajahnya ramah.

"Ahh... Putri Tia. Tumben sekali Nona belum masuk ke ruang latihan."

Tia menoleh dan langsung membungkuk sedikit, wajahnya sopan.

"Guru Yue, selamat pagi."

Guru Yue pun tersenyum kepadanya, matanya menyipit senang.

"Selamat pagi, Nona Tia." Dia memperhatikan wajah Tia dengan seksama, alis terangkat.

"Nona Tia... sebenarnya apa yang terjadi pada Nona??"

Wajah Tia terlihat agak bingung, kepalanya miring.

"Tidak terjadi apa-apa. Memangnya ada apa denganku??"

Guru Yue menyilangkan tangannya dan memicingkan mata, wajahnya penasaran.

"Ah, tidak... tapi..." Dia menatap Tia lekat-lekat.

"Wajah Nona terlihat lebih ceria hari ini."

Tia pun tersenyum tipis mendengar hal itu, pipinya sedikit merah.

Dia menaruh tangannya di dada.

"Benar juga. Rasanya... perasaan ini belum pernah aku dapatkan sebelumnya." Matanya berbinar.

Guru Yue tersenyum hangat, mata lembut.

"Begitu ya. Jadi pada akhirnya ada yang dapat membuat hati Nona tergerak."

Setelah mereka mengganti pakaiannya, mereka langsung berdiri di tengah ruangan itu.

Suasananya tiba-tiba saja menjadi sangat tegang. Mereka saling memandang dengan tatapan tajam, wajah serius.

Guru Yue mengangkat tangannya, wajahnya tegas.

"Baiklah, akan kujelaskan sekali lagi. Peraturannya adalah: Pertama, tidak boleh saling memiliki niat membunuh ketika latihan. Kedua, tidak boleh mundur setelah memasuki arena. Ketiga, siapapun yang bisa mengalahkan atau menyentuh lawannya sebanyak 3 kali maka dialah pemenangnya. Apa kalian sudah mengerti??"

Tia mengangguk pelan, matanya fokus, rahang mengeras.

"Baiklah. Kalau begitu Guru, mohon bimbingannya." sambil menyiapkan mantra di kedua tangannya.

Tia langsung menerjang maju ke arah Guru Yue, dan melancarkan serangannya, wajahnya tegang.

"Fire Ball!"

*DUAR!*

Sebuah ledakan terjadi dan asap mengepul.

*Wussh...*

Guru Yue keluar dari balik kabut dengan sigap, wajahnya tersenyum tipis.

"Thunderbolt!"

Sebuah bola petir muncul dan melesat ke arah Tia.

*Zraatt!!*

Tia langsung menghindarinya dengan sangat cepat. Kakinya diselimuti aliran listrik. Tatapannya tajam, alis bertaut.

Guru Yue berhenti dan menaruh kedua tangannya di pinggang, tersenyum kagum, mata membelalak.

"Jadi begitu... Kau sepertinya sudah bisa mengalirkan sihir ke tubuhmu. Sepertinya kau benar-benar akan menjadi calon Sage terhebat dalam sejarah."

Tia tidak menjawab. Dia langsung menerjang gurunya dari belakang dengan sangat cepat, wajahnya serius.

"Aqua Cutter!"

Sebuah tebasan air yang sangat cepat menerjang lurus ke arah Guru Yue.

*Swish!!*

Guru Yue terkejut, matanya melebar.

"Cepat sekali!"

*BUUM!*

Serangan itu meledak dan menciptakan asap tipis.

Tia langsung melompat mundur ke belakang dan menatap asap itu dengan seksama, wajahnya waspada.

_Apa berhasil??_

Tiba-tiba saja Guru Yue muncul di belakang Tia dengan sangat cepat, senyumnya jail.

"Ada apa??"

Tia panik dan langsung membalikkan badannya, mata membelalak.

Guru Yue pun melesat memutari seluruh ruangan. Berlari mengitari Tia, lalu melompat dari satu tembok ke tembok yang lain, wajahnya bersemangat.

_Apa sebenarnya ini?? Dia bergerak dengan sangat bebas. Aku tidak bisa membaca pola serangannya,_ pikir Tia, wajahnya tegang berkeringat.

Guru Yue menambah kecepatannya sambil tertawa kecil, matanya berbinar.

"Ada apa, Tia?? Kenapa wajahmu terlihat seperti itu??"

Gerakannya sangat cepat sampai terlihat hanya seperti kilatan berwarna kuning yang lewat.

*Wush! Wush!*

Wajah Tia menegang. Keringat mulai bercucuran, bibir digigit.

_Guru terlalu cepat... aku harus keluar dari sini!_

Tia langsung berlari ke arah samping, wajah panik.

Tapi dia langsung dipukul mundur dengan sangat cepat oleh Guru Yue.

*Bug!*

_Ini gawat. Aku tidak bisa menandingi kecepatan Guru Yue._ Wajahnya pucat.

Guru Yue berhenti di depannya dan tersenyum, wajahnya lembut tapi menantang.

"Ada apa, Tia? Apa kau ingin menyerah sekarang??"

Tia menggigit bibirnya. Dia mengamati keadaan sekitar dengan sangat serius, lalu tersenyum tipis licik.

"Rock Fang."

*GRAKK!*

Batu-batu berduri mulai muncul di seluruh ruangan, dari lantai hingga ke dinding.

Guru Yue berlari lincah menghindari seluruh bebatuan yang muncul, wajahnya kagum.

"Jadi begitu. Nampaknya kau sangat serius dalam latihan kali ini. Bahkan sampai menggunakan sihir Ki tipe area seperti ini. Tapi harusnya kau tahu... menggunakan sihir tipe area akan membuat dirimu kewalahan karena sihir ini membutuhkan banyak mana. Namun... disitulah semuanya akan terjadi."

Napas Tia mulai terengah-engah. Pandangannya agak sedikit kabur, wajahnya pucat lelah.

"Memangnya... apa yang terjadi??"

Guru Yue muncul dari belakang Tia dengan sangat cepat. Dia tersenyum lebar, matanya menyipit.

"Penyihir itu akan kurang waspada karena kelelahan akibat kehabisan mana."

Tangannya yang sudah dialiri sihir menyentuh punggung Tia.

"Shockwave!"

*BZZAART!*

Kilatan listrik menyebar ke seluruh tubuh Tia.

Tia yang terkena serangan itu langsung tumbang. Tubuhnya mengejang, wajahnya meringis sakit.

_Aku kalah..._

Asap tipis pun mulai muncul dari tubuhnya.

*Wussh...*

Guru Yue langsung panik. Wajahnya pucat, mata membelalak. Dia berlari menghampiri Tia dan memangkunya.

"M-Maafkan aku, Putri Tia! Karena tadi terlalu bersemangat!"

Dia buru-buru memberinya potion penyembuh, tangannya gemetar.

Tia merintih kesakitan lalu membuka matanya perlahan, wajahnya lemas.

"Tidak apa-apa, Guru... Aku juga minta maaf karena tadi terlalu serius."

Dia tersenyum tipis meski masih sakit, mata sayu.

"Tapi... tidak kusangka Guru akan mengaliri seluruh tubuh dengan sihir."

Tia duduk perlahan meski tubuhnya masih terluka, wajahnya masih pucat.

Dia menatap langit-langit ruangan, mata berkaca.

"Aku benar-benar merasakan hal yang berbeda hari ini. Biasanya aku tidak pernah se-semangat ini untuk latihan. Tapi setelah bertemu wanita itu... dadaku terasa hangat." sambil tersenyum lebar, pipi merona.

Guru Yue yang melihat itu tersentak kaget, matanya melebar, wajahnya terharu.

_Sepertinya aku tahu... kenapa aku bisa sampai se-serius itu hari ini._ Dia memandangi wajah Tia dengan sorot mata lembut.

Guru Yue pun langsung berdiri dan menaruh kedua tangannya ke pinggang, wajahnya bersemangat.

"Baiklah, karena sepertinya kau sudah baikan, kita akan mulai untuk berlatih lagi."

Muka Tia langsung merengut, bibir manyun, mata membelalak.

"Ehh... padahal aku sudah kelelahan seperti ini."

Guru Yue langsung menggenggam pundak Tia dengan semangat, matanya berbinar.

"Ayolah! Kau yang bisa menggunakan sihir sebelum mendapatkan berkat sudah kelelahan karena ini??"

Tia langsung menundukkan kepalanya dan menghela napas, wajahnya lesu.

"Huhh... aku tau bahwa aku anak berbakat yang bisa menggunakan sihir sebelum melakukan upacara. Bahkan bisa menggunakan 4 elemen sihir. Tapi tetap saja... aku hanyalah seorang manusia biasa."

Guru Yue melepaskan genggamannya dan menyilangkan tangan. Wajahnya serius, alis bertaut.

"Apakah kau tau bahwa ada seorang yang tidak berbakat... yang selalu berlatih ilmu pedang setiap pagi dan malam tanpa henti di istana ini??"

Tia langsung mendengus kecil, wajahnya sinis.

"Pftt... mana mungkin ada orang seperti itu. Kau harus tahu, Guru Yue, bahwa manusia juga memiliki batasan."

Guru Yue langsung mengerutkan wajahnya. Sorot matanya tajam, wajahnya tegang serius.

"Aku tidak sedang bercanda, Tia. Orang itu terus berlatih ilmu pedangnya setiap hari tanpa henti sejak setahun yang lalu. Melihatnya berlatih saja sudah membuatku merinding karena ketakutan."

Tia menatap wajah gurunya yang sedang mengerut. Jantungnya berdegup kencang, matanya membelalak.

_Aku tidak pernah melihat Guru memasang wajah seperti itu... Jika mungkin benar ada orang seperti itu... Sebenarnya... siapa dia itu??_

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!