NovelToon NovelToon
Komplotan di Malam Basah

Komplotan di Malam Basah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Arka R.

Larasati dikenal seantero kalangan sosialita sebagai **cewek matre kelas kakap**. Demi bisa naik kelas dan menikahi anak konglomerat, ia rela jadi **simpanan** Galih Prasetyo, taipan muda yang cukup ternama.

Malam itu, di apartemen SCBD yang gelap gulita, Laras menyelinap masuk dan langsung memeluk mesra pria yang ia kira kekasihnya—

*"Sayang… kucing liarmu pulang, nih~"*

Tapi begitu lampu menyala, Galih justru berdiri kaku di ambang pintu. Dan pria yang barusan ia peluk erat-erat, yang lehernya baru saja ia cium… adalah **Narendra Hardjanto**—**saudara angkat Galih sejak kecil**, konglomerat berdarah dingin yang paling muak pada perempuan matre.

Laras baru saja meraba-raba **kakak angkat kekasihnya sendiri.**

Ia pikir insiden memalukan itu akan berlalu begitu saja. Nyatanya, keesokan harinya Naren menyudutkannya:

*"Rayuanmu semalam murahan sekali. Berani-beraninya nempel ke saudaraku. Gimana kalau… kulatih biar becus?"*

Ia menolak. Tapi Naren sudah menggenggam rahasia yang bisa menghancurkan seluruh hidupnya. Dan syaratnya paling keji: **di depan umum, Laras tetap jadi perempuan Galih. Diam-diam, ia milik Naren.**

Sekali, dua kali, tak terhitung lagi—di malam-malam basah yang penuh dosa, mereka berdua jadi **komplotan**: sepasang pengkhianat yang menikung saudara sendiri, dan sama-sama membencinya diri sendiri.

Yang tak Naren tahu: di balik topeng "perempuan matre" itu, **setiap rupiah yang Laras kumpulkan mengalir ke sebuah rumah singgah untuk anak-anak perempuan yang dibuang keluarganya.**

Dan yang tak Laras tahu: pria dingin yang menyanderanya ini ternyata **menyimpan rahasia yang sama persis dengannya.**

Sampai rahasia mereka pecah, persaudaraan hancur, dan seluruh Jakarta menudingnya sebagai **perebut, bekas simpanan sahabat**—di hari Laras akhirnya memutuskan pergi, Naren mencengkeram bahunya, untuk pertama kalinya kehilangan seluruh kendali:

*"Kuberikan seluruh hartaku padamu. Jangan pergi—bisa, nggak?"*

Ternyata, sang penguasa tertinggi… rela menunduk, rela mengkhianati saudaranya sendiri, demi satu perempuan.

——
*Dongeng penyelamatan ala Cinderella dewasa. Yang paling dingin, ternyata yang paling nekat mencintai.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 35

Dua Sahabat, Satu Kebenaran

“Tangan kena pecahan gelas bukan cuma luka fisik,” kata Reza. “Itu gejala sakit hati.”

Naren duduk di sofa ruang privat milik Damar, memandang plester tipis di telapak tangannya. Di meja ada wagyu yang belum disentuh dan sebotol anggur yang masih tertutup.

“Diagnosis buruk,” jawabnya.

Reza menarik tangan Naren tanpa upacara, membuka plester, lalu memeriksa lukanya.

“Tidak dalam. Bersihkan dua kali sehari. Kalau merah atau bengkak, datang ke klinik.”

“Sudah selesai?”

“Pemeriksaan tangan selesai. Pemeriksaan ego baru mulai.”

Ia memasang plester baru lebih rapi daripada petugas acara. Naren membiarkan karena melawan hanya akan memberi mereka bahan lelucon tambahan.

“Saya dokter. Kamu pasien yang menyangkal.”

Damar menuangkan air putih, bukan anggur. “Satu grup sudah dapat cerita lengkap. Bagas bilang dia baru menyebut Laras calon istri, lalu gelasmu menyerah pada tekanan.”

“Gelasnya tipis.”

“Tentu.” Reza mengangguk serius. “Penyakit langka bernama gelas sensitif terhadap lamaran.”

Naren berdiri. “Kalau cuma untuk omong kosong, saya pulang.”

“Duduk,” kata Damar. “Kita bicara sebagai teman.”

“Teman yang menjadikan hidup saya hiburan?”

“Teman yang menerima teleponmu malam Galih memukulmu.”

Naren berhenti, lalu duduk kembali.

Damar menatapnya. “Waktu itu kamu bilang sengaja membuat Laras bergantung. Saya sudah bilang permainan itu akan melukai kalian berdua.”

“Saya sudah berhenti.”

“Berhenti apa?”

“Rekaman dihapus. Apartemennya atas nama dia. Saya tidak mengikuti lagi.”

Reza menyandarkan punggung. “Itu namanya berhenti melanggar batas, bukan bukti kamu tidak cinta.”

“Tidak ada yang bicara cinta.”

“Justru itu masalahnya,” kata Damar.

Naren membuka pesan di ponsel sekadar agar tidak perlu melihat dua sahabatnya. Tidak ada kabar dari Laras sejak pesta. Ia mengetik: Tangan saya baik. Lalu menghapus karena Laras tidak bertanya.

Reza melihat gerak jempolnya. “Sedang cek kerjaan?”

“Ya.”

“Nama pekerjaannya Laras?”

Naren meletakkan ponsel.

Damar mendorong map tipis ke tengah meja. “Ini salinan jadwal acara amal yang kamu ubah. Tiga panitia kehilangan Iwan sebagai sponsor panggung, lalu perusahaanmu menutup dana yang kurang. Kalau Laras cuma karyawan atau transaksi, kenapa kamu menyuruh Fahmi menyelidiki pria yang menyentuhnya?”

“Karena Iwan punya masalah kepatuhan.”

“Kamu tahu masalah itu setelah menyelidiki.”

“Insting saya benar.”

“Instingmu muncul karena Laras pulang dengan bekas tangan orang di pergelangan.”

Naren menatap Damar. “Kamu dapat laporan dari Fahmi?”

“Tidak. Saya duduk di dewan salah satu acara. Panitia bilang ultimatum datang langsung darimu.”

Reza ikut mencondongkan tubuh. “Saya tambah gejala lain. Kamu menelepon saya tengah malam karena demam, tapi yang kamu tanyakan dulu apakah Laras boleh pulang sendiri. Kamu menyimpan rasa bersalah soal Galih, takut Laras pergi, marah pada Bayu, dan hampir memotong tangan sendiri gara-gara Bagas bercanda.”

“Saya tidak memotong tangan.”

“Bagus. Berarti satu gejala bisa dicoret.”

Damar tertawa, lalu kembali serius. “Kamu suka dia.”

“Saya tidak suka orang lain menyentuh barang saya.”

Kesunyian jatuh.

Reza menaruh gelas dengan pelan. “Kalau kamu menyebut Laras barang di depan saya sekali lagi, saya yang buat luka kedua.”

Damar mengangkat tangan mencegah perdebatan. “Ceritakan Bali.”

“Tidak ada yang perlu diceritakan.”

“Bagas bilang Laras menyinggung sesuatu tentang ciuman.”

Naren menatap meja.

Reza langsung bersandar maju. “Oh, jadi ada ciuman.”

“Kalian seperti ibu-ibu grup keluarga.”

“Ibu-ibu biasanya lebih cepat memahami.” Damar tidak tersenyum. “Kamu menciumnya karena kesepakatan?”

“Tidak.”

“Karena marah?”

“Tidak.”

“Karena cemburu?”

“Tidak.”

“Dia meminta bayaran?”

“Damar.”

“Berarti untuk pertama kali semua alasan lamamu hilang. Yang tersisa hanya kamu ingin menciumnya.”

Naren menekan lidah ke bagian dalam pipi. Ia ingat suara kembang api, persetujuan Laras yang sangat jelas, dan tangan perempuan itu di wajahnya. Tidak ada satu pun alasan yang dapat dipakai bersembunyi.

“Dia bertanya itu apa,” katanya.

“Kamu jawab?”

“Tidak.”

Reza mengerang. “Pantas gelas menyerah.”

“Itu kiasan.”

“Kiasannya menunjukkan masalahmu. Kamu lebih mudah mengaku memiliki daripada mengaku membutuhkan.”

Damar mengangguk. “Dan Laras bukan barang. Dia bisa memilih Bagas, Bayu, tidak memilih siapa pun, atau meninggalkanmu.”

“Saya tahu.”

“Wajahmu bilang kamu benci fakta itu.”

Naren tidak menjawab. Ia ingat kertas iklan sewa yang belum terjadi, koper Laras, dan pertanyaan di pantai tentang apakah ia akan diingat. Semua pintu keluar yang dahulu dibuatnya sebagai bentuk perlindungan kini terasa seperti ancaman karena Laras sungguh mampu memakainya.

“Apa yang harus saya lakukan?” tanyanya akhirnya.

Reza bersiul. “Catat tanggalnya. Narendra Hardjanto minta nasihat.”

“Saya bisa pergi.”

“Minta maaf,” kata Damar. “Jelaskan. Lalu biarkan dia memilih.”

“Sudah.”

“Kamu pernah meminta maaf karena mengawasi telepon?”

Naren diam.

“Karena mengambil keputusan tentang hidupnya tanpa izin?”

Diam lagi.

“Karena membuat hubungan dimulai dari ancaman?”

Rahang Naren mengeras. “Saya menghapus rekamannya.”

“Tindakan benar tidak otomatis menjadi permintaan maaf.”

Damar menutup map. “Saya pernah berpikir uang dan solusi praktis cukup untuk menunjukkan perhatian. Ternyata orang tidak selalu butuh masalahnya diambil alih. Kadang mereka butuh ditanya apakah mau ditemani.”

“Ini nasihat dari pengalaman?” tanya Reza.

“Tidak perlu tahu.”

“Namanya siapa?”

Damar melempar serbet ke arahnya. “Fokus ke pasien utama.”

Naren menangkap sesuatu dalam cara Damar menghindar, tetapi tidak mengejar. Mungkin semua pria di ruangan itu lebih pandai membaca kegagalan orang lain daripada mengakui ketakutannya sendiri.

Reza membuka botol air. “Dan sebelum kamu menyatakan cinta, pastikan kamu siap mendengar tidak. Kalau tidak, pengakuanmu cuma perintah dengan pakaian bagus.”

Naren memandang dua sahabatnya. “Saya tidak pernah bilang cinta.”

“Belum,” kata Damar.

“Tidak akan.”

“Baik.” Damar mengambil garpu. “Kalau begitu habiskan makanan. Setelah ini saya telepon Bagas dan bilang jalannya bersih.”

“Coba saja.”

“Nah,” ujar Reza. “Gejalanya kambuh.”

Untuk pertama kali, Naren tersenyum kecil meski langsung hilang. Ia mengambil ponsel lagi. Foto Laras di Bali masih menjadi gambar terakhir di galeri: rambutnya diterpa angin, tertawa di atas kuda, tidak tahu sedang dipotret.

Ia belum berani menamai perasaannya. Tetapi ketika membayangkan Bagas berdiri di tempatnya, setiap alasan yang dibuatnya runtuh.

Damar membuka botol anggur yang sejak tadi diam. “Pada akhirnya, kebenarannya cuma satu.”

“Apa?”

“Kamu sudah jatuh. Tinggal pilih mau mengaku atau menyeret semua orang jatuh bersamamu.”

Naren menyimpan ponsel. “Saya tidak suka orang menyentuh barang saya.”

Reza mengangkat botol air seperti hendak melempar. Naren menghindar sambil akhirnya tertawa, tetapi tak satu pun dari mereka salah dengar pengakuan yang bersembunyi di balik kata paling buruk yang bisa dipilihnya.

Untuk malam itu, dua sahabatnya membiarkan ia mempertahankan istilah tersebut, tetapi mereka tidak lagi membiarkannya percaya bahwa itu benar.

Sama sekali tidak.

1
𝐀⃝🥀Weny
niat hati ingin bermesraan sama pacar.. eee.. ternyata salah orang, gara² lampu gak di nyalain/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!