NovelToon NovelToon
Takdir Kita Yang Belum Selesai

Takdir Kita Yang Belum Selesai

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / Romansa Fantasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nita_001

Setelah dikhianati dan meledakkan diri bersama musuhnya, Chongyue, kapten tim elit pemburu vampir, justru terlahir kembali di dunia kultivasi dalam tubuh Nona Kelima Kediaman Jenderal Kerajaan Dong—seorang gadis yang dianggap bodoh dan tidak berguna.

Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik tubuh lemahnya itu tersembunyi sebuah segel misterius.

Ketika segelnya terbuka, Chongyue berubah menjadi seorang jenius dengan kekuatan luar biasa. Dalam perjalanannya menjadi kuat, dia bertemu Bei Mingye, Pangeran Keenam yang dijuluki Raja Hantu—pria dingin yang ditakuti seluruh Benua Timur, tetapi justru rela menjadi pelindung Chongyue.

Bersama-sama, mereka menghadapi keluarga, sekte kuno, musuh dari alam atas, serta rahasia besar tentang asal-usul Chongyue.

Di tengah takdir yang terus mempermainkan mereka, mampukah dua hati yang telah dipertemukan itu bertahan hingga akhir?

Yuk ikuti kisah lengkapnya dalam sebuah kisah berjudul: TAKDIR KITA YANG BELUM SELESAI

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita_001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 - Misi Terakhir

Malam semakin larut.

Bulan menggantung tinggi di langit, memantulkan cahaya pucat di atas jalanan yang lengang. Angin malam berembus pelan, menyapu kulit dengan hawa dingin yang menyegarkan.

Di sekitar Bar SK, seluruh akses jalan telah ditutup. Tidak ada kendaraan maupun pejalan kaki yang diperbolehkan melintas. Kawasan itu sunyi, seolah-olah kehidupan telah ditarik paksa dari sana.

Tiga mobil modifikasi berwarna hitam melaju perlahan dari kejauhan. Begitu tiba di persimpangan, ketiganya berhenti hampir bersamaan.

Pintu mobil terdepan terbuka, lalu seorang wanita turun dengan langkah tenang. Wajahnya mungil dengan fitur yang lembut. Dia bukan tipe wanita yang akan membuat orang terpana karena kecantikannya, tetapi ada sesuatu yang dingin dalam dirinya—pesona yang sulit dijelaskan, seperti teratai yang tumbuh di tengah hamparan es.

Bodysuit hitam membalut tubuhnya dengan ketat, memudahkan setiap gerakannya. Rambut panjangnya diikat tinggi dalam ekor kuda yang rapi. Di tangan kanannya tergenggam sebuah pistol berlapis perak. Permukaannya memantulkan cahaya bulan dengan kilau redup.

Jika diperhatikan lebih dekat, ukiran menyerupai aliran darah tampak memanjang di sepanjang larasnya.

Wanita itu berjalan beberapa meter sebelum suara terdengar dari earpiece di telinganya.

“Kapten, seluruh warga di area ini sudah dievakuasi,” lapor seseorang melalui earpiece.

“Pertahankan posisi. Tunggu perintahku,” jawab wanita itu.

“Dimengerti.”

Wanita itu berhenti dan berbalik. Para personel yang sebelumnya berada di dalam tiga mobil telah turun dan berkumpul di belakangnya. Pria maupun wanita mengenakan pakaian tempur hitam ketat, masing-masing membawa perlengkapan tempur mereka.

Tidak ada yang berbicara, tetapi aura dingin yang terpancar dari mereka sudah cukup untuk membuat suasana malam terasa semakin mencekam.

“Kalian semua sudah memahami tugas masing-masing?” tanya wanita itu.

“Sudah, Kapten!” jawab mereka serempak.

“Bagus.” Wanita itu menganggukkan, lalu tatapannya menyapu seluruh anggota tim.

“Aku tidak akan mengulang instruksi yang sama. Tim Dua dan Tim Lima sudah bergerak. Kalau kalian ingin menikmati liburan yang tenang setelah ini, selesaikan misi ini dengan bersih.”

“Siap, Kapten!” jawab mereka serempak.

Jawaban mereka menggema di jalanan yang kosong.

Wanita itu mengembuskan napas pelan. Namanya Chongyue.

Dia mendongak ke langit malam. Ingatannya kembali pada beberapa waktu lalu, ketika perintah untuk menjalankan operasi ini pertama kali disampaikan kepadanya.

_______

“Chongyue, riset terbaru mengenai senjata kutukan darah sudah selesai,” ujar seorang pria.

Seorang pria berambut pirang berdiri membelakanginya di depan jendela kaca besar. Cahaya kota di luar jendela membentuk bayangan samar di punggungnya.

Di atas meja terdapat sebuah kotak logam kecil.

Pria itu kemudian membukanya, lalu berkata, “Ini sampel produk batch pertama. Sudah lolos uji coba.”

Chongyue menatap kotak tersebut tanpa menyentuhnya.

“Lalu?” tanyanya.

“Minggu depan, kaum vampir akan mengadakan pesta di Bar SK,” jawab pria itu dengan suara tenang. “Aku ingin tim pemburumu menangkap mereka.”

Dia berhenti sejenak sebelum menambahkan, “Lembaga riset membutuhkan subjek eksperimen baru.”

“Ini bisa memicu kemarahan kaum vampir,” kata Chongyue datar, meski jemarinya perlahan mengepal. “Kalau kita menangkap mereka yang tidak melanggar Perjanjian Damai, bagaimana Ketua Guild akan mempertanggungjawabkannya?”

“Chongyue," Pria itu menoleh padanya, “Bagaimanapun juga, vampir adalah ancaman.”

Chongyue menyipitkan matanya.

Ancaman?

Jadi... baginya, aku juga sebuah ancaman?

“Chongyue,” panggil pria itu lagi dengan nada yang sedikit berubah. “Apa gejala penyakitmu kambuh lagi belakangan ini?”

“Tidak,” jawab Chongyue singkat. “Kalau tidak ada hal lain, saya permisi.”

Tanpa menunggu jawaban, dia berbalik dan meninggalkan ruangan.

Pintu tertutup di belakangnya.

Begitu berada sendirian di lorong, Chongyue mengangkat tangannya dan menyentuh pangkal lehernya.

Tidak kambuh?

Bohong.

Belakangan ini, dosis obat yang biasa dikonsumsinya sudah tidak mampu menekan gejalanya. Dia. bisa merasakan perubahan itu semakin jelas setiap harinya.

Tubuhnya perlahan berubah, menjadi sesuatu yang paling dibencinya-- Vampir!

Katalin Loya.

Pria terkutuk yang telah mengubah takdirnya menjadi seorang vampir.

_____

Kesadarannya kembali. Chongyue menurunkan pandangannya dari langit malam dan menatap seluruh anggota tim di hadapannya.

“Bergerak,” perintahnya.

Dalam sekejap, seluruh personel berpencar menuju titik operasional masing-masing.

Chongyue tetap berdiri di tempatnya selama beberapa detik. Kemudian, salah satu pintu mobil di belakangnya terbuka.

Seorang pria berwajah pucat keluar. Kulitnya sepucat mayat, kontras dengan bibirnya yang merah menyala. Kedua tangannya tetap terbenam di saku celananya saat dia bersandar pada bodi mobil sambil memandang Chongyue.

“Chongyue... apa kau benar-benar tega melakukan ini?” tanyanya dengan suara rendah. “Banyak vampir di dalam sana yang tidak bersalah.”

Chongyue berbalik.

“Tidak bersalah?” ulangnya dengan tatapan mencemooh.

Dia mengangkat pistolnya dan menodongkan larasnya yang berlapis perak tepat ke antara kedua mata pria itu.

“Ketika mereka membantai keluargaku, apa mereka peduli apakah kami bersalah atau tidak?” tanyanya dengan suara yang semakin dingin. “Ketika taring mereka merobek leher manusia, apa mereka pernah merasa kasihan?”

Dia melangkah mendekatinya. “Jangan lupa kenapa Tim Pemburu ini didirikan.”

Pria itu menghela napas. Dia mengangkat satu tangan dan perlahan mendorong laras pistol yang mengarah ke wajahnya.

“Chongyue, apa kau benar-benar membenci vampir sampai sejauh ini?” tanyanya dengan tatapan muram. “Bertahun-tahun menjalani terapi medis. Awalnya sebulan sekali, kemudian seminggu sekali, sampai sekarang kau harus bergantung pada obat setiap hari untuk menekan gejalamu itu.”

Dia terdiam sejenak, lalu melanjutkan, “Bagaimana kalau pada akhirnya... kau sendiri berubah menjadi vampir?”

Mendengar itu, mata Chongyue berkilat tajam.

“Kalau aku menjadi vampir...” katanya sambil menyimpan kembali pistolnya “...aku sendiri yang akan mengakhiri hidupku.”

Itulah alasan mengapa dia membawa bom pemungkas T-XS yang disembunyikan di balik rompinya. Sejak terbangun di sebuah pusat penyelamatan belasan tahun lalu, dia telah bersumpah untuk menempuh jalan balas dendam ini.

Dia bertahan melewati latihan yang nyaris meremukkan tubuhnya.

Semua demi satu tujuan, yaitu membalas dendam atas kematian tragis keluarganya!

Tragedi itu tidak pernah benar-benar pergi dalam benaknya. Setiap kali terbangun di tengah malam, Chongyue masih bisa mendengar jeritan mereka—suara orang-orang yang memohon pertolongan, sebelum semuanya berakhir dalam darah dan kehancuran.

“Komandan,” ujar Chongyue sambil menatap pria di hadapannya, “selebihnya kuserahkan kepadamu.”

Setelah itu dia berbalik.

Namun baru beberapa langkah, pria itu tiba-tiba meraih pergelangan tangannya.

“Chongyue, jangan pergi!” serunya memohon. “Kau bisa mati! Pria itu... Dia ada di sana.”

Chongyue terdiam beberapa saat. Kemudian, senyum tipis merekah di bibirnya. Dia melepaskan tangan pria itu dari pergelangan tangannya.

“Begitu?” tanyanya dengan tatapan dingin. “Kalau dia ada di sana, justru aku harus pergi!"

“Bertahun-tahun tanpa kabar, kukira bajingan itu sudah membusuk di bawah tanah,” katanya. Senyumnya menghilang. “Ternyata dia masih hidup.”

Tanpa menunggu jawaban, dia melangkah pergi.

Pria itu hanya mampu menatap punggungnya yang semakin menjauh.

“Chongyue...” panggilnya nyaris seperti bisikan. “Apa kau benar-benar membenci kami sejauh ini?”

Dia mengepalkan tangannya.

Tragedi tiga belas tahun lalu itu murni kecelakaan. Kami sama sekali tidak berniat menyerang keluargamu.

Namun, semua penjelasan itu sudah terlambat.

“Komandan," suara dari alat komunikasi memecah lamunannya. “Area luar sudah dibersihkan. Mohon perintah selanjutnya.”

Pria itu mengembuskan napas panjang.

“Lanjutkan sesuai rencana,” perintahnya.

“Dimengerti.”

Setelah komunikasi terputus, jemarinya bergerak ke belakang telinganya lalu menarik sesuatu perlahan.

Lapisan tipis penyamaran di wajahnya terkelupas.

Pria itu kemudian melepas softlens dari kedua matanya. Warna mata yang sebelumnya tampak normal berubah menjadi merah darah. Kulitnya yang pucat semakin kontras dengan kedua matanya, sementara bibirnya tetap merah menyala.

Inilah wajah aslinya. Seorang vampir murni.

Dia melepaskan mantel luarnya, mengenakan sebuah topeng, lalu berjalan perlahan menuju Bar SK.

BOOM

Ledakan pertama mengguncang Bar SK.

BOOM

Ledakan kedua menyusul beberapa detik kemudian.

Bangunan itu bergetar hebat. Asap hitam membumbung dari dalam, disusul teriakan dan kepanikan.

Pintu utama terbuka lebar. Para vampir berhamburan keluar untuk menyelamatkan diri. Namun, begitu melewati ambang pintu—

DOR! DOR! DOR!

Rentetan tembakan menyambut mereka.

Peluru-peluru menembus tubuh para vampir di barisan terdepan. Beberapa langsung roboh ke tanah, sementara yang lain tersungkur sambil menggeram kesakitan.

“Cukup!” seru Chongyue sambil mengangkat tangannya. “Ganti ke panah penenang!”

1
marlaina marliana
beraninya main keroyokan dasar iblis
marlaina marliana
semangat chongyue, balas dendam musnahkan semua musuh 💪💪
marlaina marliana
nah baru tau cerita awalnya pertemuan mereka ternyata seperti itu ya 🤔
marlaina marliana
masih menyimak 😊😊❤❤
marlaina marliana
kakak syantik ini sama seperti yg yg f**z* ya.
Author Nita_001: Iya kak say, aku pindah kesini, karena disana sepi pembacanya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!