Mati konyol tersedak bakso akibat mencak-mencak membaca novel dark romance, Ceisya malah bertransmigrasi ke dalam tubuh figuran malang yang tak dianggap. Di hari pernikahannya, sang mafia kejam—Sylus Blackwood, The Apex Sovereign penguasa Manhattan sekaligus The Crimson King bermata merah di dunia bawah Brooklyn—malah mangkir dan hanya mengirim seekor anjing berjas untuk mewakilinya.
Alih-alih menangis, jiwa mafia asli Ceisya bangkit. Ia mempermalukan keluarga toksiknya, menikahkan anjing utusan Sylus dengan anjing lain, lalu kabur usai menghajar para pengawal dengan keahlian bela dirinya.
Aksi ugal-ugalan itu justru memicu obsesi liar sang raja mafia. Di tengah kerasnya jalanan New York, perburuan maut pun dimulai, mengubah sang penguasa dingin menjadi pecandu abadi di bawah kaki istrinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Simfoni Darah di Lantai Paling Bawah
Udara di ruang bawah tanah tingkat tiga penthouse Manhattan selalu terasa berbeda—lebih dingin, lebih berat, dan dipenuhi oleh bau khas karat besi serta cairan desinfektan yang berusaha menutupi aroma anyir darah yang telah mengakar di dinding-dinding beton tebal tersebut. Lampu neon putih berkedip redup di langit-langit rendah, memproyeksikan bayangan panjang yang gemetar dari tubuh-tubuh yang tergantung tidak berdaya di tengah ruangan. Di tempat inilah keadilan dunia sindikat ditegakkan tanpa melibatkan pengadilan manusia, melainkan melalui hukum rimba di mana siapa yang memiliki kekuatan mutlak, dialah yang memegang hak atas hidup dan mati.
Bianca terduduk kaku di atas kursi rodanya, terikat erat dengan tali pengikat kulit tebal pada bagian dada dan lengannya agar ia tidak bisa melarikan diri dari pemandangan mengerikan yang sengaja disuguhkan di hadapannya. Wajah wanita itu sepucat kertas kosong, matanya melotot lebar hingga nyaris keluar dari soketnya, dan bibirnya terus bergetar hebat melafalkan kata-kata penyangkalan yang tidak lagi memiliki arti apa-apa. Di hadapan kursi rodanya, tiga pembunuh bayaran asal Eropa Timur yang tadi malam datang dengan penuh percaya diri kini tergantung mengenaskan dengan tangan terikat ke atas pada kait besi plafon, napas mereka tersengal-sengal lemah menahan siksaan mental dan fisik yang berlapis-lapis sepanjang sisa malam.
Pintu baja berat di ujung ruangan berderit terbuka perlahan, memecah kesunyian yang menekan dada. Langkah kaki sepatu bot berhak tinggi milik Ceisya yang beradu dengan lantai beton menggema nyaring, menghadirkan irama kematian yang membuat bulu kuduk merinding. Di sampingnya, berjalan sosok Sylus dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celana, manik mata merah menyala pria itu memancarkan aura dingin yang membekukan darah siapa saja yang berani menatapnya. Pasangan penguasa sindikat itu melangkah masuk berdampingan, bagaikan raja dan ratu kegelapan yang datang untuk memanen jiwa-jiwa pengkhianat.
Ceisya berhenti tepat di depan kursi roda Bianca. Ia mengenakan mantel panjang hitam di atas gaun tidurnya, rambut panjangnya tergerai sempurna, memperlihatkan profil wajah yang anggun namun memancarkan aura kejam yang tak terbantahkan. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Ceisya mengambil tempat duduk di atas sebuah kursi beludru hitam yang ditarik oleh Logan untuknya, menyilangkan kaki dengan anggun sementara matanya menatap tajam ke arah saudari tirinya.
"Kau melihat mereka, Bianca?" suara Ceisya meluncur pelan, memecah keheningan ruangan dengan nada yang sangat tenang namun menghujam ulu hati. "Mereka adalah prajurit bayaran terhebat yang kau beli dengan seluruh sisa aset rahasia keluarga utama. Mereka datang dengan janji untuk merobek leherku dan membawa kepalaku ke hadapanmu. Tapi lihat di mana mereka sekarang... tergantung bagaikan binatang buruan di kandang singa."
Bianca menggelengkan kepalanya dengan liar, air mata dan ingus bercampur aduk di wajahnya yang hancur oleh keputusasaan. "Tidak... tidak! Kau memfitnahku, Ceisya! Aku tidak kenal mereka! Lepaskan aku! Kalian tidak berhak memperlakukan aku seperti ini, aku adalah darah daging keluarga utama—!"
Sebelum Bianca sempat menyelesaikan kalimat histerisnya, Sylus melangkah maju dan mencengkeram rahang wanita itu dengan satu tangan yang kokoh, menekan pipinya hingga mulut Bianca terpaksa terbuka dan menghentikan seluruh ratapannya dalam sekejap. Manik mata merah menyala Sylus menatap tepat ke dalam manik mata biru Bianca dengan sorot mata yang menjanjikan siksaan abadi.
"Suara bising dari mulutmu itu sudah mengotori telinga ratuku, tikus kecil," bisik Sylus parau, suaranya terdengar begitu rendah, dingin, dan mematikan di rongga dada Bianca. "Kau mengira dengan bersembunyi di balik status keluarga utama, kau bisa lolos dari hukuman setelah mencoba merenggut nyawa wanita yang paling berharga di dunia ini? Kau benar-benar meremehkan seberapa jauh aku bisa membakar dinasti keluargamu menjadi abu."
Sylus melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat kepala Bianca terhuyung ke samping. Pria itu kemudian mengambil sebatang rokok dari saku jaketnya, menyalakannya dengan pemantik api berlapis perak, dan menghembuskan asap kelabu tipis ke udara dingin ruang bawah tanah tersebut, membiarkan suasana tegang itu semakin mencekam.
Di hadapan mereka, pemimpin pembunuh bayaran berparut yang tergantung lemah mengangkat kepalanya perlahan. Bibirnya pecah dan berlumuran darah kering. Dengan suara parau yang nyaris tak terdengar, ia menatap Bianca dengan sorot mata penuh kebencian yang teramat sangat—kebencian pada wanita yang telah menjerumuskan mereka ke dalam neraka ini.
"Nona... Nona besar..." gerus pria berparut itu tertahan, batuk kecil mengeluarkan darah segar dari tenggorokannya. "Kau... kau bilang targetnya hanyalah seorang figuran lemah yang tidak memiliki perlindungan... Kau tidak pernah bilang bahwa target itu adalah ratu dari The Crimson King... Kau menghancurkan kami... dan sekarang... kau harus membayar harganya..."
Mendengar pengakuan langsung dari sang algojo bayaran, pertahanan terakhir di dalam diri Bianca runtuh seketika. Wanita itu menjerit histeris, menangis sejadi-jadinya, menyadari bahwa tidak ada lagi kebohongan atau alibi yang bisa menyelamatkannya dari lubang kehancuran yang ia gali sendiri. Di dalam batinnya yang mulai dilanda halusinasi ketakutan, ia teringat bagaimana ia dulu selalu merendahkan Ceisya, menginjak-injak harga diri wanita itu, bahkan tertawa di atas penderitaannya. Siapa sangka, roda takdir berputar dengan sangat kejam; wanita yang dulunya ia anggap sebagai figuran tidak berguna kini duduk di atas singgasana tertinggi, sementara ia sendiri harus berlutut menanti eksekusi mati di ruang bawah tanah yang gelap.
Ceisya berdiri perlahan dari kursi beludurnya. Ia melangkah mendekati pemimpin pembunuh bayaran yang tergantung di hadapannya, lalu mengambil sebuah belati taktis bermata obsidian dari genggaman Logan. Dengan gerakan tenang dan terukur, Ceisya memotong tali pengikat yang menahan tangan pria tersebut, membuat tubuh sang algojo ambruk berlutut di lantai beton dengan napas terengah-engah.
"Aku bukan tipe orang yang suka menyimpan sampah terlalu lama di istanaku," bisik Ceisya tepat di telinga pria berparut itu, menepuk pelan bahunya yang terluka. "Pergilah. Ambil sisa hidupmu dan angkat kaki dari kota ini sebelum fajar menyingsing. Tapi ingat... jika kau berani menginjakkan kaki di wilayahku lagi, peluru berikutnya tidak akan hanya menembus bahumu."
Pria berparut itu melotot tidak percaya, menatap Ceisya dengan campuran rasa terkejut dan kelegaan yang luar biasa. Tanpa membuang waktu sedetik pun, dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya, ia merangkak terseok-seok meninggalkan ruangan tersebut dibantu oleh kedua anak buahnya yang juga dilepaskan oleh pengawal atas perintah isyarat dari Sylus. Biarkan mereka hidup; karena bagi Sylus dan Ceisya, membiarkan musuh hidup dalam ketakutan abadi jauh lebih menyiksa daripada memberikan kematian yang cepat.
Kini, di dalam ruang bawah tanah yang luas itu, hanya tersisa Ceisya, Sylus, Logan, dan Bianca yang terduduk gemetar di atas kursi rodanya seorang diri tanpa ada lagi pelindung atau pembunuh bayaran yang bisa diandalkan.
Bianca menatap kosong ke arah pintu yang tertutup rapat, lalu mengalihkan pandangannya yang basah oleh air mata kepada Ceisya dan Sylus yang berdiri berdampingan menatapnya dengan tatapan predator.
"Bunuh aku..." bisik Bianca putus asa, suaranya serak dan nyaris hilang ditelan keheningan ruangan. "Bunuh aku sekarang juga, Ceisya..."
Ceisya tersenyum tipis, sebuah senyuman dingin yang tidak menyentuh matanya sama sekali. Jari lentiknya merapikan ujung mantel hitamnya dengan anggun. "Mati adalah anugerah yang terlalu mewah untuk pengkhianat sepertimu, Bianca. Kau akan tetap tinggal di tempat ini, menikmati setiap detik kesendirian dan kegelapan, menjadi saksi bisu bagaimana dinasti yang kau banggakan runtuh berkeping-keping di bawah kekuasaanku."
Sylus merangkul pinggang Ceisya dengan erat, menarik istrinya dalam dekapan posesif yang hangat. "Waktunya kita kembali ke atas, Ratu kecilku," bisik Sylus lembut di telinga Ceisya, kontras dengan tatapan membunuhnya saat melirik Bianca untuk terakhir kalinya. "Udara di sini terlalu kotor untuk dihirup terlalu lama."
Ceisya mengangguk pelan. Ia menyandarkan kepalanya sejenak di dada bidang suaminya, membiarkan Sylus menuntunnya melangkah keluar meninggalkan ruang bawah tanah yang kini kembali sunyi, menyisakan Bianca seorang diri di dalam sangkar kegelapan tanpa ujung—membayar lunas setiap tetes air mata dan luka masa lalu dengan kebinasaan mutlak yang tidak akan pernah bisa ditebus kembali.