"Aku hanya ingin Putri Katherine Raventhal menjadi istriku." -Salvatore Ardan.
"Kau pikir aku hadiah lotre?" -Katherine Raventhal.
Menjadi hadiah perang untuk Jenderal Agung yang dingin dan berhati batu adalah hal terakhir yang diinginkan Putri Katherine. Salvatore Ardan mungkin dipuja sebagai pahlawan perang, tapi di mata Kate, pria itu adalah monster arogan!
Demi mendapatkan kebebasannya kembali, Kate menyiapkan berbagai cara gila untuk mempermalukan dan menyingkirkan suaminya dari rumah. Namun, sekeras apa pun usaha Kate( mulai dari jebakan ulat bulu, sabotase dokumen militer, hingga perang dingin di kamar tidur) Salvatore selalu punya cara overpower untuk mengatasinya.
Bagaimana cara menundukkan seorang istri galak yang memusuhi seluruh keberadaanmu? Salvatore punya caranya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jingrd24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Kabar Pertunangan
Pagi ini, tepat di meja rias yang selalu Kate gunakan untuk merias dirinya, sudah lebih ricuh daripada biasanya. Kate yang sedang dirapikan rambutnya oleh sang dayang Rhea mengeluarkan suaranya untuk bertanya.
"Rhea, ada kabar apa hari ini?" tanyanya mencoba membangun suasana hati yang menenangkan di pagi hari ini.
Rhea yang sedang menata rambut sang nona membalas seadanya. "Sore nanti Anda akan bertemu dengan Jenderal besar Ardan," katanya. "Sudah seharusnya Anda ingat jadwal sepenting ini."
Kate langsung mendengkus. "Siapa juga yang melupakannya? Aku hanya bertanya hal lainnya, barangkali ada kabar lain," balas Kate ketus.
"Sepertinya belum ada."
Hening. Keduanya langsung kembali sibuk dengan kegiatannya masing-masing, sebelum akhirnya Rhea menyadari hal yang ia lupakan hari ini. Ia langsung melepaskan tangannya dari rambut sang nona.
"Oh ya, Nona. Ada hal penting yang saya lupakan, seharusnya saya menceritakannya kepada Anda,” katanya dengan nada sedikit tergesa.
Kate yang merasa ada hal baik karena perubahan raut wajah sang dayang langsung menatap berbinar dari pantulan cermin. “Ada kabar apa, Rhea? Cepat katakan!” perintahnya.
Rhea berdehem pelan, matanya sedikit membelalak seolah baru saja melihat hantu di balik cermin. "Itu... Anu, Nona. Raja mengirimkan undangan formal untuk membahas detail pertunangan Anda dengan Jenderal Ardan di istana utama."
Kate mengembuskan napas lega, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Hanya itu? Kukira ada kabar perang lagi. Lagipula, Ayah kan sudah bilang kalau pertemuannya sore nanti. Masih banyak waktu untukku memilih warna pita yang tidak membosankan."
"Masalahnya, Nona," sela Rhea, tangannya mulai bergerak secepat kilat mengepang rambut Kate tanpa instruksi. "Undangan sore itu adalah sesi minum teh pribadi dengan Jenderal. Tapi undangan dari Raja untuk sidang pleno pertunangan... itu dijadwalkan satu jam setelah matahari terbit."
Kate mengerutkan dahi, melirik ke arah jendela di mana matahari sudah mulai memanjat naik dengan angkuhnya. "Satu jam setelah matahari terbit? Berarti... itu sekarang?"
"Tepat sekali, Nona. Dan kereta kuda istana sudah menunggu di depan gerbang sejak lima belas menit yang lalu," balas Rhea polos sembari menarik ikatan rambut Kate sedikit terlalu kencang.
"RHEA!!! KENAPA BARU BILANG?" pekik Kate, langsung meloncat berdiri sampai kursinya terjungkal ke belakang.
"Saya tadi terlalu fokus memikirkan apakah Anda lebih cocok memakai bros safir atau rubah, Nona. Lagipula, bukankah Anda bilang ingin suasana pagi yang tenang? Memberitahu Anda bahwa kita terlambat menghadap Raja bukanlah definisi 'tenang' menurut kamus saya," jawab Rhea sembari menyambar gaun paling megah dari dalam lemari seolah sedang menarik bendera perang.
"Cepat! Pakai ini! Jangan mengeluh tentang sesak napas!" perintah Rhea, mulai menarik tali korset Kate dengan tenaga yang tidak manusiawi.
"Aduh! Pelan-pelan, Rhea! Aku tidak bisa bicara kalau kau menariknya sekencang ini!" rintih Kate dengan wajah memerah.
"Anda tidak perlu bicara di depan Raja, Nona. Cukup mengangguk dan terlihat cantik saja. Lagi pula, dengan napas yang pendek begini, Anda tidak akan punya tenaga untuk mengomeli Jenderal Ardan. Itu rencana yang bagus, bukan?"
Kate mencoba membalas, tapi yang keluar hanya suara cit-cit pelan karena paru-parunya terjepit. Ia dipaksa berlari di sepanjang koridor kediaman Raventhal, mengangkat gaunnya tinggi-tinggi hingga menampakkan mata kakinya—hal yang sangat tidak sopan bagi seorang putri, tapi sangat darurat bagi seseorang yang tidak ingin dipenggal karena membuat Raja menunggu.
"Rhea... aku... aku benci... kau..." rintih Kate sambil terengah-engah di atas kereta kuda yang baru saja melaju kencang.
Rhea, yang duduk dengan tenang di hadapannya sambil merapikan sisa-sisa bedak di wajah Kate, hanya menjawab datar. "Simpan benci Anda untuk Jenderal Ardan nanti, Nona. Saya hanya pelayan yang membantu Anda membakar kalori di pagi hari."
Kate hanya bisa menyandarkan kepalanya ke dinding kereta yang berguncang hebat, meratapi nasibnya yang pagi-pagi sudah harus "berolahraga" demi pria yang bahkan belum ia setujui sebagai calon suaminya.
Begitu pintu balairung terbuka, Kate merasa dunianya seolah berputar. Bukan karena kemegahan pilar emas di depannya, tapi karena oksigen yang masuk ke paru-parunya terasa seperti disaring melalui sedotan minuman yang sangat sempit. Rhea benar-benar menarik tali korsetnya seolah-olah sedang mengikat tawanan perang.
Di ujung sana, Raja Henry duduk dengan senyum lebar, didampingi Duke Raventhal yang tampak bangga, dan tentu saja—sang "batu giok" Salvatore Ardan yang berdiri tegak dengan jubah kebesarannya.
"Ah, Putri Katherine," sambut Raja dengan suara menggelegar yang membuat ulu hati Kate berdenyut. "Tepat waktu! Aku baru saja mendiskusikan rencana penyatuan kalian dengan Jenderal Ardan. Kau tampak... sangat anggun dan diam pagi ini. Apakah kau setuju jika pertunangan ini diresmikan di hari perayaan kemenangan bulan depan?"
Kate membuka mulutnya. Ia ingin berteriak, "Tentu saja tidak! Aku belum setuju!"
Namun, yang keluar dari tenggorokannya hanyalah suara napas yang tertahan, "Hhng...!" karena perutnya terasa seperti diremas tangan raksasa. Wajahnya yang memerah padam justru dikira Raja sebagai rona malu-malu seorang gadis yang sedang jatuh cinta.
"Lihat itu, Raventhal," bisik Raja pada sang Duke. "Putrimu sampai tidak bisa berkata-kata karena terlalu bahagia. Benar kan, Katherine?"
Kate menatap Rhea dengan tatapan yang bisa membunuh sepuluh batalion prajurit. Rhea, yang berdiri dua langkah di belakangnya, hanya memberikan anggukan kecil yang sangat sopan seolah memberi instruksi tersembunyi: Angguk saja, Nona, atau korset Anda akan meledak di depan publik.
Terjepit antara pingsan atau mempermalukan diri sendiri, Kate akhirnya menekuk lehernya sedikit. Ia mengangguk pelan. Sekali. Sangat terpaksa.
"Luar biasa!" seru Raja sambil bertepuk tangan. "Salvatore, lihat? Dia bahkan tidak membantah sepatah kata pun. Sepertinya reputasimu sebagai jenderal memang berhasil meluluhkan hati putri yang paling keras kepala di kerajaan ini."
Salvatore Ardan menatap Kate. Matanya yang tajam seolah menyadari ada yang tidak beres dengan cara Kate mengatur napas. Ia melangkah maju, membungkuk rendah di hadapan Kate. "Terima kasih atas kesediaan Anda, Putri. Saya akan memastikan hari itu menjadi hari yang tidak akan Anda lupakan."
Tentu saja tidak akan kulupakan! umpat Kate dalam hati, matanya melotot tajam ke arah Salvatore. Aku akan mengingat hari ini sebagai hari di mana aku dipaksa bertunangan karena pelayanku sendiri mencoba membunuhku dengan korset!
"Putri tampak sangat... terharu," sahut Rhea dengan suara polos tanpa dosa di belakang Kate. "Beliau sampai kehabisan kata-kata, Yang Mulia. Sepertinya emosinya terlalu meluap-luap."
Kate mengepalkan tangannya di balik lipatan gaun. Ia bersumpah, setelah keluar dari ruangan ini, dia akan memecat Rhea—atau setidaknya menyuruh Rhea memakai korset yang sama selama seminggu penuh.
"Baiklah!" Raja berdiri. "Keputusan sudah bulat. Seluruh kerajaan akan diberitahu sore ini. Katherine, kau boleh kembali untuk beristirahat. Kau pasti butuh waktu untuk menenangkan debaran jantungmu itu."
Kate kembali mengangguk kaku, lalu berbalik dengan gerakan robotik karena tulang rusuknya terasa seperti akan patah. Begitu mereka keluar dari pintu balairung dan cukup jauh dari jangkauan telinga para penjaga, Kate langsung mencengkeram lengan Rhea.
"Rhea..." desisnya dengan sisa-sisa tenaga. "Lon... ggarkan... sekarang... atau... aku... mati..."
"Sabar, Nona. Kita harus sampai ke kereta dulu," balas Rhea sambil tetap berjalan dengan langkah elegan. "Tapi paling tidak, misi hari ini sukses. Anda tidak membantah Raja, Jenderal Ardan tampak terkesan, dan yang paling penting, Anda tidak perlu repot-repot menyusun kalimat penolakan yang panjang lebar."
Kate hanya bisa melotot, mencoba untuk tidak pingsan saat melihat Jenderal Ardan tiba-tiba keluar dari ruangan dan menatap punggungnya dari kejauhan dengan senyum yang—sialnya terlihat sangat tipis dan menyebalkan.
"Rhea... aku benar-benar... akan membunuhmu..."
"Iya, Nona. Nanti setelah kita memesan gaun pengantin, ya?" sahut Rhea tenang.
***
Setelah berbagai kegiatan yang menguras emosi Kate, akhirnya sore pun datang. Momen di mana Kate harus bertemu dengan Salvatore hanya untuk pendekatan lebih lanjut. Bayangkan saja bagaimana lucunya sang putri menggerutu itu menanggapi Jenderal Ardan.
"Lama sekali, apa dia tidak bisa menepati janji temu?" gerutu Kate.
Rhea yang berdiri di belakangnya langsung membalas kembali. "Masih ada beberapa menit sebelum waktu yang ditentukan datang, Nona. Faktanya, Jenderal besar itu belum terlambat."
"Tapi aku sudah menunggu di sini lebih awal, seharusnya ia tahu diri untuk datang lebih awal juga!"
"Tapi bagaimana caranya beliau tahu Anda datang lebih awal, Nona?" celetuk Rhea polos, lagi-lagi membuat Kate mendengkus kesal.
Tepat ketika Kate bersiap untuk menyemburkan kekesalan yang lebih besar pada Rhea, suara langkah sepatu bot yang berat dan berirama menyapa indra pendengarannya.
Jenderal Salvatore Ardan muncul dengan seragam militer yang sedikit lebih santai, namun tetap memancarkan aura "tembok raksasa" yang selalu membuat Kate merasa kecil secara fisik maupun mental.
"Selamat sore, Putri Katherine. Anda tampak... sangat siap," ujar Sal, matanya menyapu gaun Kate yang begitu megah untuk ukuran pertemuan minum teh santai di taman.
"Oh, ini?" Kate mendesah keras, sengaja mengibas-ngibaskan kipasnya dengan gerakan kasar. "Ini seragam resmi wanita yang dipaksa menikah tanpa cinta. Kau tidak tahu ya? Ada modenya sekarang."
Sal menahan tawa, sudut bibirnya terangkat tipis—sebuah pemandangan yang langka bagi seorang mesin perang. "Begitu ya."
"Jangan ketawa," desis Kate, matanya berkilat sengit. "Aku serius. Aku akan membuat hidupmu sangat menderita jika kau nekat menikahiku. Kau akan menyesal telah memintaku sebagai hadiah perang."
"Aku akan mengatur waktu untuk menderita dengan terjadwal," balas Sal dengan ketenangan yang memuakkan bagi Kate.
Kate memelototinya, hampir kehilangan kata-kata. Apa-apaan itu?
"Jam 10 pagi sampai makan siang. Sisanya aku akan menikmati caramu menggerutu," lanjut Sal sembari menarikkan kursi untuk Kate dengan gerakan yang sangat sopan. "Menurutku, itu jadwal yang cukup produktif untuk sebuah rumah tangga."
Kate menghentakkan kakinya saat duduk, menciptakan bunyi duk yang cukup keras di atas rumput taman. Ia menatap punggung tegap Sal yang kini duduk di hadapannya. Pria ini tidak terintimidasi. Pria ini tidak marah. Ia justru terlihat seperti sedang menonton pertunjukan komedi yang sangat ia nikmati.
Di belakangnya, Rhea berdehem pelan, suaranya nyaris tak terdengar namun menusuk tajam. "Nona, otot leher Anda mulai menonjol lagi. Ingat korset tadi pagi? Jangan sampai saya harus mengencangkannya kembali di depan umum."
Kate mendengus, mencoba mengatur napasnya yang mulai tidak beraturan karena emosi. Ia meraih cangkir tehnya, namun matanya tetap tertuju pada Salvatore yang sedang menuangkan teh dengan gerakan jemari yang terlalu tenang untuk ukuran pria yang baru saja diancam akan dibuat menderita.
Sialan, maki Kate dalam hati. Semua orang di istana ini sudah gila. Ayah gila, Raja gila, Rhea gila, dan Jenderal batu ini adalah pemimpin kegilaan itu.
Ia menyesap tehnya dengan rakus, pikirannya mulai berputar cepat. Jika dia tidak bisa menang melalui debat, jika dia tidak bisa menolak melalui titah Raja, dan jika ayahnya sendiri sudah menyerahkannya seperti paket hadiah, maka hanya ada satu jalan keluar yang tersisa bagi seorang Putri Raventhal.
Kalau kalian pikir aku akan berjalan manis ke altar dengan beban korset yang mencekik ini, kalian salah besar, batinnya sembari menatap gerbang taman yang dijaga ketat.
Jika duel pedang tidak bisa membebaskanku, mungkin rencana kabur di tengah malam akan berhasil. Mari kita lihat apakah Jenderal agung ini bisa melacak calon istrinya yang menghilang dari kamarnya sendiri.
Kate tersenyum misterius di balik cangkir porselennya. Sebuah senyuman yang membuat Rhea di belakangnya mendadak merasa harus memesan gembok tambahan untuk pintu kamar sang putri malam ini.
Minta es batu seember ga tuhh! Kate lagian sok-soakn mau acuh tak acuh, dikasih roti sobek 8 petak langsung bengek kan wkwkw! Sal tolong sering-sering latihan gpake bju demi ketenangan jiwa pembaca 🤭
jangan lupa mampir juga ya Thor di ceritaku🤗