Sebulan menjelang pernikahan, Dera harus menelan kenyataan pahit saat Vivian, kakak kandungnya sendiri, mengaku hamil anak Galih, calon suaminya.
Lebih menyakitkan lagi, kedua orang tua mereka justru merestui pernikahan Galih dan Vivian, sementara Dera harus merelakan semua persiapan pernikahan yang dibayar dari hasil kerja kerasnya.
Hancur dan dikhianati keluarganya sendiri, Dera memilih pergi ke Jakarta untuk memulai hidup yang baru.
Tak disangka, pertemuannya dengan seorang miliarder tampan mengubah takdirnya. Pria itu bukan hanya menawarkan cinta, tetapi juga sebuah pernikahan yang akan membuat semua orang yang pernah merendahkannya menyesal.
Namun, mampukah Dera menemukan kebahagiaan, atau justru terjebak dalam permainan cinta sang miliarder?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Suasana kediaman keluarga Dera di Bandung tampak biasa saja.
Pagi itu, matahari menyinari halaman rumah yang rapi seperti selalu. Burung-burung berkicau di pohon mangga depan rumah. Aroma kopi yang baru diseduh menyebar dari dapur. Tidak ada kesedihan, tidak ada rasa panik. Tidak ada bertanya tentang kabar anak bungsunya.
Di ruang makan, Dodi, ayah Dera duduk tenang sambil membaca koran. Ia menyeduh kopi hitamnya perlahan, seperti tidak ada yang berubah di dunia ini. Eni sibuk menyiapkan sarapan, nasi goreng, telur mata sapi, dan sedikit tumis kangkung. Gerakannya ringan, seolah-olah kepergian anaknya hanyalah peristiwa kecil yang tidak perlu dibesar-besarkan.
Vivian muncul dari kamar dengan wajah yang segar. Ia mengenakan piyama sutra yang lembut, rambutnya terikat rapi. Di belakangnya, Galih mengikuti dengan senyum yang masih mengantuk. Mereka duduk di meja makan seolah-olah ini adalah pagi yang sempurna.
“Kopinya sudah siap, Ma?” tanya Vivian sambil menarik kursi.
“Sudah. Masih panas,” jawab Eni santai.
Galih menuangkan kopi ke cangkirnya sendiri. Tidak ada yang menyinggung nama Dera. Tidak ada yang bertanya apakah sudah ada kabar darinya. Tidak ada yang khawatir apakah anak itu sudah makan, apakah ia aman, apakah ia menangis sendirian di tempat yang jauh.
Dodi menutup korannya pelan. “Hari ini ada rapat di pabrik. Nanti sore aku pulang agak malam.” ucapnya yang di angguki oleh sang istri.
“Siang nanti, aku dan Galih. Mau belanja beberapa perlengkapan baby" ucapnya, padahal kandungannya baru berusia enam minggu, tapi Vivian sudah heboh.
Eni tersenyum. “Bawa dompet tambahan. Jangan pelit-pelit.”
Mereka tertawa kecil. Tawa yang ringan, tawa yang tidak terganggu oleh rasa bersalah.
Di dinding ruang tamu, foto keluarga masih tergantung. Foto yang diambil dua tahun lalu, ketika Dera masih tersenyum di antara mereka. Sekarang foto itu hanya menjadi hiasan yang tidak berarti. Tidak ada yang menatapnya terlalu lama. Tidak ada yang merasa kosong karena satu wajah sudah hilang dari rumah itu.
Vivian menggigit sepotong telur. “Kemarin malam Dera sempat mengirim pesan padaku. Dia memakiku, masih menyalahkan tentang pernikahan ku dan Galih" ucapnya mengada-ada.
“Iya. Biarkan saja. Dia memang suka drama. Nanti juga balik sendiri kalau sudah lapar.” ucap Eni.
Dodi menambahkan tanpa mengangkat wajah dari koran. “Anak itu memang terlalu emosional. Sudah besar, tapi masih seperti anak kecil. Biar dia belajar sendiri.”
Galih hanya diam. Ia menatap cangkir kopinya, jari-jarinya memutar-mutar gagang cangkir. Ada sedikit rasa tidak nyaman di dadanya, tapi ia tidak berani mengucapkannya. Ia sudah memilih sisi yang aman. Sisi yang membuat hidupnya lebih mudah.
Di luar, tetangga lewat sambil menyapa. “Pagi, Bu! Anak-anaknya pada sehat?”
Eni menjawab dengan senyum lebar. “Sehat semua, Bu. Alhamdulillah.”
Tidak ada yang tahu bahwa satu anak sudah pergi meninggalkan rumah dengan hati yang hancur. Tidak ada yang tahu bahwa di salah satu kota yang jauh, mungkin ada seorang gadis yang masih menangis sambil meringkuk sendirian.
Di rumah itu, kehidupan terus berjalan seolah-olah Dera tidak pernah ada. Meja makan tetap penuh. Tawa tetap terdengar.
Dan rasa khawatir itu tidak pernah muncul. Karena bagi mereka, Dera sudah lama bukan bagian yang penting.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tin…
Tin…
Tin…
Suara klakson mobil yang berulang-ulang tiba-tiba memecah ketenangan pagi di kamar kosan. Dera yang sedang menyuap nasi goreng hampir tersedak, sementara Rere langsung menoleh ke arah jendela dengan alis berkerut.
“Siapa itu, Der?” tanya Rere, masih memegang sendok di udara.
Dera menggeleng, wajahnya bingung. “Tidak tahu, Re. Sebentar, aku lihat dulu.”
Ia meletakkan piringnya di lantai, lalu berjalan menuju pintu. Dengan hati-hati, ia membuka sedikit tirai jendela kamar dan mengintip ke luar. Di depan pagar kosan, sebuah mobil hitam mengkilap terparkir rapi. Lampu hazard-nya masih menyala. Di balik setir, David terlihat duduk tenang, sementara di bangku belakang Mario sedang menurunkan kaca jendela, wajahnya mengarah ke bangunan kosan seolah menunggu seseorang muncul.
Dera langsung menarik napas. Ia menoleh ke belakang, menatap Rere yang sudah berdiri di belakangnya dengan wajah penuh rasa ingin tahu.
“Siapa?” tanya Rere penasaran, mencoba ikut mengintip.
“Mario,” jawab Dera pelan, suaranya terdengar setengah kaget dan setengah enggan.
Rere langsung tersenyum lebar, mata berbinar nakal. Ia menepuk bahu Dera pelan. “Sana keluar, temui dia. Mungkin dia mau menjemputmu.”
Dera menggeleng cepat, wajahnya sedikit memerah. “Tidak mau. Aku bisa berangkat sendiri. Lagian aku belum siap…” tolak Dera.
“Ayolah,” desak Rere sambil mendorong punggung temannya pelan-pelan ke arah pintu. “Dia sudah repot-repot ke sini pagi-pagi. Jangan biarkan dia menunggu lama. Coba dulu, Der. Kalau tidak nyaman, bilang saja mau naik ojek.”
Dera terdiam di ambang pintu, tangan masih memegang gagang. Di luar, klakson sempat berbunyi sekali lagi, seolah mengingatkan. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ingin rasanya kembali duduk dan pura-pura tidak melihat. Tapi di sisi lain, dia merasa sedikit bersalah membiarkan seseorang menunggunya.
Ia menghela napas panjang, merapikan rambutnya yang masih agak berantakan, lalu akhirnya membuka pintu.
Ceklek....
Udara pagi yang masih sejuk langsung menyambut. Mario yang melihatnya keluar langsung tersenyum dan menurunkan kaca lebih dalam.
“Pagi, Nona Dera,” sapa Mario tenang. “Mau diantar ke kantor?” tawarnya.
Dera berdiri di depan pagar, jari-jari menggenggam ujung bajunya. Di belakang, Rere mengintip dari balik tirai dengan senyum puas, memberi isyarat semangat dengan ibu jari.
Dera menelan ludahnya. Pagi baru saja dimulai, dan hari ini sepertinya tidak akan berjalan seperti biasanya.
“Tidak, Tuan Mario. Saya biasa naik ojek online,” tolak Dera lembut agar tidak menyinggung Mario.
Mario tidak terlihat kecewa. Ia justru tersenyum tenang. “Kebetulan hari ini semua ojek online sedang ikut demo, sehingga tidak ada yang menerima orderan. Daripada kamu terlambat, lebih baik bareng saya saja.” ucap Mario.
Dera mengerutkan kening, rasa curiga langsung muncul. “Tahu dari mana mereka demo?” tanyanya serius.
Mario tersenyum lagi, lalu mengeluarkan ponsel dari saku. Ia membuka sebuah berita dan memutar layar ke arah Dera. “Kamu baca saja,” katanya santai.
Dera terdiam, menatap layar ponsel itu. Judul berita tentang aksi demo pengemudi ojek online memang terpampang jelas. Ia menggigit bibir, masih ragu, tapi alasan Mario terdengar masuk akal. Di belakang pagar, Rere masih mengintip sambil memberi isyarat agar Dera segera menerima.
Akhirnya Dera menghela napas pelan. Pilihan sepertinya memang terbatas pagi itu. "Baiklah, saya ikut mobil anda. Tapi anda yang maksa, bukan saya yang minta" ucapnya sambil melotot tajam.
Mario tertawa kecil, dia gemas melihat wajah Dera.
sayangi dan cintai dirimu sndiri dera....
krna istrimu jg org tuanya sifatnya pda buruk & g waras smua....
dan satu"nya org yg waras dan normal di keluarga istrimu.... cuma dera....
bikin dera pintar dikit apa thor..bikin gemes aja sama pola pikir deraa