NovelToon NovelToon
Ayah Tiri

Ayah Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Anak Genius / Romansa Fantasi
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: fazamanmut

Angela Syambega, gadis perpaduan darah Tionghoa dan Jawa yang tumbuh sederhana. Hidupnya pernah berkilau penuh kemewahan saat ayahnya masih sukses, namun semuanya berubah drastis ketika nasib berbalik arah. Ayahnya dipecat, kecelakaan, hingga harus berpulang selamanya, menyisakan Angela dan ibunya yang harus berjuang keras menyambung hidup dari nol. Dari buruh pabrik hingga pelayan kafe, Angela tak pernah lelah berusaha demi satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fazamanmut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Percayai aku bu

Pikiran itu muncul tiba-tiba, tajam dan jelas di tengah kegelapan kamarku.

Aku harus memberi tahu Ibu.

Selama ini, aku diam. Aku menelan semua ketakutan, semua ancaman, semua sentuhan menjijikkan itu sendirian. Aku berpikir bahwa dengan diam, aku melindungi Ibu dari kebenaran yang pahit. Aku berpikir bahwa jika Ibu tahu sifat asli Samudra, hatinya akan hancur. Dia sudah terlalu bahagia dengan ilusi kehidupan mewah ini.

Tapi sekarang... sekarang aku sadar bahwa diamku justru membuatku semakin terjerat. Samudra semakin berani. Ancamannya semakin nyata. Dan Ibu... Ibu tetap buta. Dia tetap percaya pada topeng suami sempurna yang dipakai Samudra di depannya.

Ibu adalah satu-satunya orang yang bisa menghentikan ini. Sebagai istri sah, dia memiliki hak. Sebagai ibu kandungku, dia seharusnya melindungi anaknya.

Tapi... bisakah dia?

Bayangan wajah Ibu yang ceria saat bercerita tentang belanjaan mall tadi muncul di benakku. Matanya berbinar-binar, pipinya merona. Dia terlihat sangat bahagia. Sangat puas. Apakah kebahagiaan semu itu lebih berharga baginya daripada keselamatan putrinya?

Dan apa buktinya?

Aku tidak punya rekaman suara. Aku tidak punya saksi. Kata-kataku hanyalah tuduhan tanpa dasar di mata seorang wanita yang sedang dimabuk cinta dan kemewahan. Samudra pasti akan menyangkalnya. Dia akan berkata aku berhalusinasi. Atau worse, dia akan membalikkan keadaan, mengatakan bahwa aku yang menggoda dia dulu, atau bahwa aku tidak bersyukur atas kehidupan yang diberikan.

Samudra pintar. Dia licik. Dia tahu cara memanipulasi orang.

Jika aku bicara sekarang, tanpa bukti kuat, aku mungkin malah akan dianggap sebagai anak durhaka yang tidak bersyukur. Dan itu akan memberi Samudra alasan lebih besar untuk "mendisiplinkan" aku.

Tapi jika aku terus diam... sampai kapan?

Sampai dia benar-benar melakukan hal yang tidak bisa ditarik kembali?

Aku menggelengkan kepala, mencoba mengusir keraguan itu. Tidak. Aku tidak bisa terus begini. Aku butuh sekutu. Dan Ibu adalah sekutu alami yang paling dekat.

Mungkin... mungkin aku tidak perlu langsung menuduh. Mungkin aku bisa mulai dengan pertanyaan-pertanyaan kecil. Membuka mata Ibu perlahan-lahan. Menunjukkan celah-celah kepalsuan Samudra.

Atau... mungkin aku perlu bukti dulu. Bukti yang tidak bisa disangkal

Dan jika kesempatan datang... aku akan berbicara.

Aku menghela napas panjang, mengumpulkan keberanian yang tersisa. Keputusan itu sudah bulat di kepalaku. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Setiap detik aku diam adalah detik di mana Samudra semakin dekat untuk menghancurkan hidupku sepenuhnya.

Aku membuka pintu kamarku pelan-pelan, memastikan tidak ada suara berdecit. Koridor lantai dua sepi dan gelap, hanya diterangi oleh lampu tidur kecil di sudut-sudut dinding. Langit-langit tinggi rumah ini terasa menekan, seperti langit malam yang akan runtuh kapan saja.

Langkah kakiku ringan di atas karpet tebal yang membentang sepanjang koridor. Jantungku berdegup kencang, bukan karena takut ketahuan, tapi karena antisipasi akan konfrontasi yang akan terjadi. Aku menuju kamar utama di ujung koridor sebelah kanan kamar Ibu.

Sebelum mencapai gagang pintu, aku berhenti sejenak. Aku mendengarkan. Tidak ada suara dari dalam. Hanya hening. Baik. Itu berarti Samudra belum pulang, atau jika dia sudah pulang, dia masih berada di bagian lain rumah. Ini kesempatan terbaikku.

Tok. Tok. Tok.

Aku mengetuk pintu dengan irama pelan namun tegas. Tiga ketukan yang biasa kami gunakan sebagai kode antara ibu dan anak sejak dulu, sebelum semuanya berubah.

"Bu... ini El," panggilku pelan, suaraku berusaha terdengar tenang meski tenggorokanku kering.

Hening sejenak. Lalu, terdengar suara Ibu dari dalam, terdengar santai dan sedikit sibuk.

"Iya, El. Masuk saja, pintunya tidak dikunci."

Aku memutar gagang pintu emas yang dingin itu. Pintu terbuka perlahan, mengungkapkan pemandangan di dalam kamar utama yang luas dan mewah. Lampu kristal besar di tengah ruangan menyala terang, memantulkan cahaya pada segala permukaan mengkilap di sana.

Dan di sana, di depan cermin rias raksasa berbingkai emas, Ibu berdiri.

Dia sedang sibuk berkaca. Tubuhnya dibalut gaun mewah berwarna merah marun yang baru, potongan ketat yang menonjolkan lekuk tubuhnya yang masih terjaga. Di lehernya terkalung kalung berlian yang berkilau-kilau, dan di telinganya tergantung anting-anting panjang yang bergoyang setiap kali dia menoleh. Rambutnya ditata rapi, makeup-nya sempurna. Dia terlihat seperti ratu di istananya sendiri.

Ibu tidak langsung menoleh saat aku masuk. Matanya terpaku pada pantulan dirinya di cermin, memeriksa apakah lipstik merahnya sudah rata, apakah gaun itu sudah pas di pinggangnya. Dia tampak sangat puas dengan penampilannya. Sangat bangga.

"Wah, Nduk lihat deh," kata Ibu tanpa menoleh, suaranya riang. "Bagus tidak sih gaun baru Ibu? Samudra bilang warna ini bikin Ibu kelihatan lebih muda. Dan perhiasan ini... astaga, berat juga ya, tapi cantik banget kan?"

Dia berputar sedikit, memperlihatkan sisi lain dari gaun itu, lalu kembali menatap cermin dengan senyuman puas. Dia sama sekali tidak menyadari ketegangan yang membawa langkahku ke sini. Dia tidak menyadari badai yang akan kulepaskan.

Aku menutup pintu pelan di belakangku, menguncinya dengan kunci biasa.

Klik.

Suara itu terdengar nyaring di telingaku, meski Ibu mungkin tidak mendengarnya di tengah kebahagiaannya.

Aku berjalan mendekat, langkahku terasa berat. Pandanganku tertuju pada punggung Ibu yang tegap, pada bahunya yang seolah memikul beban kemewahan itu dengan bangga.

"Bu..." panggilku lagi, kali ini suaraku lebih rendah, lebih serius.

Ibu akhirnya menoleh. Senyumnya masih melekat di bibir, tapi matanya sedikit menyipit saat melihat ekspresiku. "Ada apa, Nduk? Kok muka kamu serius begitu? Mau minta uang jajan tambahan?" canda Ibu ringan, mengira aku datang untuk hal sepele.

Aku menggeleng pelan. Aku menarik kursi empuk di samping meja rias dan duduk. Tanganku saling meremas di atas pangkuan, mencoba menghentikan gemetarnya.

"Bukan itu, Bu," jawabku, menatap mata Ibu lekat-lekat. "El... El perlu bicara serius sama Ibu. Tentang Ayah."

Senyum Ibu pudar sedikit. Dia meletakkan sisir emas yang tadi digunakannya. "Tentang Samudra? Ada apa dengan dia? Dia baik-baik saja kok, Nduk. Tadi pagi bahkan masih sempet nelpon Ibu cuma buat nanyain kabar."

"Dia tidak baik, Bu," potongku cepat, suaraku bergetar tapi tegas. "Dia... dia bukan orang yang Ibu pikir."

Ibu mengerutkan kening, kebingungan mulai menggantikan kesenangannya. "Apa maksudmu, Nduk? Jangan ngomong sembarangan. Samudra itu suami Ibu. Dia kepala keluarga kita. Dia yang memberi kita semua ini." Dia melambaikan tangannya ke sekeliling kamar, menunjuk pada kemewahan yang mengelilingi kami.

"Aku tahu, Bu," jawabku, air mata mulai menggenang di mataku. "Aku tahu dia memberi kita uang. Rumah. Mobil. Tapi... ada harga yang harus dibayar, Bu. Harga yang terlalu mahal."

Ibu diam, menatapku dengan tatapan yang mulai waspada. "Harga apa, Angel?"

Aku menarik napas dalam-dalam. Ini saatnya. Titik tanpa kembali.

"Harganya adalah aku, Bu," bisikku, suaraku pecah. "Samudra... dia tidak memandang aku sebagai anak tirinya. Dia memandang aku sebagai... objek. Miliknya."

Wajah Ibu pucat seketika. Matanya membelalak, mulutnya terbuka sedikit, tapi tidak ada suara yang keluar. Dia tampak syok, bingung, dan sedikit marah karena tuduhan itu.

"Apa... apa yang kamu katakan, Angel?" tanyanya pelan, suaranya bergetar. "Kamu tahu apa yang kamu tuduhkan? Itu dosa besar, Nduk!"

"Aku tidak menuduh tanpa alasan, Bu," jawabku, air mata kini mengalir deras di pipiku. "Sudah berminggu-minggu, Bu. Tatapannya. Sentuhannya. Kata-katanya. Dia mengancam aku, Bu. Dia bilang jika aku menolak atau memberitahu siapa-siapa, dia akan melakukan sesuatu pada Ibu. Pada masa lalu Ibu."

Ibu menggeleng-gelengkan kepalanya, menolak percaya. "Tidak... tidak mungkin. Samudra baik. Dia lembut. Dia selalu hormat padamu..."

"Dia berpura-pura, Bu!" teriakku putus asa, suaraku meninggi. "Di depan Ibu, dia malaikat. Tapi saat Ibu tidak ada... dia monster! Dia mengurung aku di rumah ini. Dia memantau setiap gerakanku. Dia membuat aku takut untuk keluar, takut untuk berbicara, takut untuk bernapas!"

Ibu berdiri dari kursinya, wajahnya campur aduk antara kemarahan, ketakutan, dan kebingungan. Dia berjalan mondar-mandir di depan cermin, tangannya memegang erat pinggiran gaun barunya.

"Ibu... ibu butuh bukti, Angel," katanya akhirnya, suaranya dingin. "Kamu tidak bisa datang ke sini, mengganggu kebahagiaan Ibu, dengan tuduhan gila seperti ini tanpa bukti. Samudra bisa menghancurkan kita jika kamu berbohong."

Aku terdiam. Bukti. Kata yang sama yang terlintas di benakku tadi malam.

"Aku akan mencarinya, Bu," jawabku tegas, menghapus air mata dengan punggung tangan. "Aku akan menemukan bukti. Dan saat aku menemukannya... Ibu harus memilih. Antara kemewahan palsu ini, atau keselamatan putri kandungmu."

Ibu menatapku lama. Matanya sulit dibaca. Apakah dia percaya? Atau apakah dia sudah terlalu terjerat dalam jaring emas Samudra sehingga tidak mau melihat kebenaran?

"Pergi dulu, Angel," katanya akhirnya, suaranya lelah. "Ibu... Ibu perlu berpikir. Jangan bilang ini pada siapa-siapa lagi. Apalagi pada Samudra. Jika dia tahu kamu menuduhnya seperti ini... aku tidak tahu apa yang akan terjadi."

Aku mengangguk pelan. Pesan itu jelas: Jangan buat keributan. Jangan ganggu kebahagiaanku. Cari buktimu sendiri, dan jangan libatkan aku dulu.

Itu bukan dukungan penuh. Tapi itu juga bukan penolakan total. Itu adalah celah. Celah kecil yang bisa kumasuki.

Aku berdiri, membungkuk sopan, lalu berbalik meninggalkan kamar Ibu. Saat pintu tertutup di belakangku, aku merasa lega sekaligus berat. Langkah pertama sudah diambil. Ibu sekarang tahu ada sesuatu yang salah. Benih keraguan sudah ditanam.

Sekarang, tugasku adalah menyiraminya dengan bukti.

Aku berjalan kembali ke kamarku, pikiran sudah bekerja keras. Di mana aku bisa menemukan bukti? Kamera tersembunyi? Rekaman suara? Saksi?

Samudra mungkin licik, tapi setiap penjahat pasti meninggalkan jejak. Dan aku akan menemukannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!