Darius Evandra Adhitama adalah putra tertua Keluarga Adhitama yang hidup susah bersama ibunya. Di usia 18 tahun, ibunya meninggal dan ia dicampakkan kekasihnya.
Darius lalu masuk militer, bangkit menjadi "Dewa Perang" legendaris dalam 6 tahun, hingga menguasai bisnis global, lalu menjadi pembunuh bayaran paling ditakuti.
Saat pulang untuk hidup tenang, keluarga Adhitama memaksanya kembali tanpa tahu identitas aslinya.
Darius lalu mendapati mantan kekasihnya telah dinikahi sang adik tiri, dan dirinya justru dijadikan tumbal pernikahan politik dengan Adelina Atmadja demi menyudahi perseteruan berdarah.
Diremehkan dan terjebak pernikahan paksa, Darius hanya menatap dingin. Mereka tidak tahu bahwa "anak buangan" ini sanggup meratakan kedua keluarga besar tersebut hanya dengan satu jentikan jari.
Saat naga yang tertidur akhirnya membuka mata, seluruh kota akan gemetar di bawah kakinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cardannak23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Baru beberapa meter ia melangkah, sebuah mobil sedan hitam bermerek Mercedes-Benz perlahan melambat dan berhenti di sampingnya.
Kaca mobil bagian depan perlahan turun, menampilkan sosok wanita cantik berambut hitam sebahu dengan setelan jas formal yang sangat rapi.
"Darius Evandra? Apa itu kau?" tanya wanita itu dengan suara merdu yang terdengar jernih di balik derasnya hujan.
Darius menghentikan langkahnya. Di bawah guyuran hujan yang deras, ia menatap tajam ke arah wanita di dalam mobil tersebut.
"Davina?" ucap Darius dengan pelan, namun cukup jelas terdengar di antara gemuruh hujan.
Wanita itu adalah Davina Permatasari, teman sekolah Darius dulu. Ia langsung membuka pintu mobil, keluar sambil memegang payung, lalu bergegas menghampirinya.
"Astaga, Darius! Ini benar-benar kau!" seru Davina, sambil menyorongkan payungnya. "Ke mana saja kau selama ini?"
Darius menatap payung di atas kepalanya, lalu beralih ke wajah Davina yang kini tampak lebih dewasa. "Aku hanya pergi mencari kehidupan yang lebih baik di luar negeri."
Davina mengembuskan napas panjang, ada rasa lega sekaligus penasaran di matanya. "Ayo masuk ke mobil dulu, hujan semakin deras. Kau bisa sakit kalau terus berdiri di sini."
Darius terdiam sejenak, menimbang tawaran Davina. Setetes air hujan jatuh dari ujung rambutnya, mengalir melewati rahangnya yang tegas.
"Baiklah. Terima kasih," ujar Darius sambil menganggukkan kepalanya dengan pelan.
Darius melangkah masuk ke dalam mobil Mercedes-Benz yang mewah itu, duduk di kursi penumpang depan. Davina menyusul, lalu masuk ke kursi kemudi.
Davina menyalakan menjalankan mobilnya perlahan membelah jalanan di bawah guyuran hujan. Sesekali, matanya melirik ke arah Darius melalui spion tengah.
Pemuda di sampingnya ini terasa sangat berbeda. Darius Evandra yang ia kenal dulu di masa sekolah adalah remaja yang ceria dan selalu tersenyum.
Namun pria yang duduk di sampingnya sekarang pendiam, tenang, bahkan cenderung dingin. Postur tubuhnya tegap sempurna, dan kedua matanya begitu tajam.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Davina memecah keheningan yang sempat membeku di dalam mobil.
Darius menatap tetesan air hujan yang berkejaran di kaca samping. "Aku baik. Seperti yang kau lihat."
"Kau tahu, setelah ibumu... tiada, kau tiba-tiba menghilang," Davina menghela napas, jemarinya mengetuk kemudi. "Aku kira kau sudah pergi jauh dan tidak akan pernah kembali ke Kota Mandara."
"Memang benar aku pergi jauh," sahut Darius pelan, tatapannya terpaku pada lampu-lampu jalanan Kota Mandara. "Tapi takdir selalu punya cara untuk menarik seseorang kembali ke tempat asalnya."
Davina tersenyum tipis, meski ada sedikit ganjalan di hatinya mendengar nada bicara Darius yang begitu datar.
"Lalu, apa rencanamu setelah kembali?" tanya Davina, memutar kemudi dengan lihai di persimpangan jalan. "Kota Mandara sudah banyak berubah sejak kau pergi."
"Aku hanya ingin hidup tenang," jawab Darius dengan singkat. "Mungkin mencari pekerjaan sederhana. Menikmati hidup tanpa perlu memikirkan hari esok."
Davina tertawa kecil, menganggap ucapan itu sebagai lelucon khas pria. "Dengan pembawaanmu yang sekarang, rasanya sulit membayangkanmu menjadi pegawai kantoran biasa, Darius."
Darius tidak menyahut sama sekali. Ia hanya menyandarkan punggungnya ke kursi mobil yang empuk.
Tak lama kemudian, mobil berhenti di sebuah rumah sederhana di pinggir jalan. Itu adalah rumah masa kecil Darius dan ibunya.
"Kita sudah sampai," ucap Davina sambil menatap bangunan tersebut. "Rumah ini ternyata masih sama seperti dulu."
Darius menatap lekat-lekat pintu kayu rumah itu. Ingatan masa lalunya seketika berputar. Di teras itulah ibunya dulu sering berdiri, melambaikan tangan dengan senyum hangat setiap kali Darius pulang sekolah.
"Terima kasih sudah mengantarku, Davina," kata Darius, tangannya mulai bergerak membuka sabuk pengaman.
"Darius, tunggu," Davina menahan lengan pria itu sejenak. "Ini nomor teleponku yang baru." Davina menyerahkan sebuah kartu nama elegan berwarna perak dari dalam laci dasbor.
"Kalau kau butuh sesuatu, atau... jika kau butuh teman untuk sekadar mengobrol, hubungilah aku?"
Darius menatap kartu nama itu, lalu menerimanya dengan anggukan pelan. "Baiklah. Terima kasih sekali lagi."
Darius membuka pintu mobil, dan langsung melangkah turun. Ia berjalan tegap menuju teras rumah, tidak menoleh lagi ke belakang.
Dari dalam mobilnya, Davina terus memperhatikan punggung Darius hingga pemuda itu membuka pintu rumah dan masuk ke dalam.
Setelah lampu teras menyala, barulah Davina perlahan menjalankan kembali mobilnya, meninggalkan kawasan tersebut dengan sejuta tanya di kepalanya.
Darius menekan sakelar lampu di ruang tamu. Cahaya kekuningan dari lampu pijar seketika menerangi ruangan yang diselimuti debu tipis.
Di sudut ruangan, sebuah foto berbingkai kayu masih tergantung dengan rapi. Di dalam foto itu, Darius remaja tersenyum lebar di samping ibunya yang tampak begitu anggun.
Darius berjalan mendekat, mengusap debu yang menutupi permukaan bingkai foto itu menggunakan ibu jarinya. Matanya yang biasa dingin, kini menyiratkan kesedihan mendalam.
"Ibu... aku pulang," bisik Darius dengan lirih. Suaranya yang biasa terdengar berat, kini terdengar begitu rapuh.
Ia lalu melangkah ke kamar mandi, membersihkan diri dari sisa perjalanan panjang, dan mengganti pakaiannya dengan kaus abu-abu polos.
Setelah itu, Darius memasuki kamar mendiang ibunya. Aroma khas sang ibu seolah masih tertinggal secara samar, berselimut debu dan kenangan masa lalu.
Ia lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Pandangan Darius tertuju pada sebuah meja rias kayu tua di sudut kamar.
Di atasnya, terdapat sebuah kotak perhiasan kecil berbahan beludru merah yang warnanya telah memudar akibat termakan usia.
Dengan langkah perlahan, Darius mendekati meja tersebut dan membuka kotak beludru itu.
Di dalamnya, hanya ada sebuah gelang benang rajutan sederhana berwarna biru yang pernah ia buat sendiri saat masih kecil, serta selembar lipatan kertas yang mulai menguning.
Darius mengambil kertas tersebut dan membukanya dengan sangat hati-hati. Ternyata itu adalah tulisan tangan ibunya.
"Untuk putraku tercinta, Darius.
Darius, jika kamu membaca surat ini, mungkin Ibu sudah tidak lagi berada di sisimu untuk mengusap kepalamu saat kamu lelah. Maafkan Ibu yang harus pergi lebih cepat dan meninggalkanmu sendirian menghadapi kerasnya dunia.
Ibu tahu, perpisahan Ibu dan ayahmu telah meninggalkan luka yang sangat mendalam di hatimu. Ibu tahu betapa kamu membenci keputusan itu, dan mungkin... kamu juga membenci ayahmu karena membiarkan kita hidup dalam kesulitan seperti ini. Tapi percayalah pada Ibu, nak. Di balik semua ketegasan dan keputusannya, ayahmu memiliki beban berat yang harus ia pikul demi melindungi kita.
Ibu punya satu permintaan terakhir kepadamu. Jika suatu hari nanti takdir mempertemukanmu kembali dengan ayahmu. Ibu memohon dengan sangat agar kamu tidak mengeraskan hatimu. Hormati dan patuhilah semua keputusan ayahmu.
Lakukanlah ini demi ketenangan jiwa Ibu, Darius. Ibu hanya ingin melihat putra Ibu kembali ke tempat yang seharusnya ia pijak, menjalani hidup yang layak, dan berdamai dengan masa lalu.
Ibu selalu menyayangimu, dari dulu hingga selamanya.
Ibumu, Gayatri.”
Darius terdiam setelah membaca baris demi baris surat itu. Dadanya bergemuruh hebat. Matanya menatap tulisan tangan sang ibu, mencoba meresapi setiap kata yang tertulis di sana.
"Mematuhi semua ucapannya...?" bisik Darius lirih. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang terasa getir.
up nya yg banyak..
jgn satu.
KLO up nya 1 aja seperti makan krupuk seribuan, 1 menit SDH ludes.
aku suka.
up terus yg banyak ya