"Daddy, bagaimana bisa menjodohkan Lily dengan pria Arogan itu?" pertanyaan Lily meronta-ronta di hadapan Daddy-nya menunjuk Lucas yang duduk disofa dengan wajah datarnya.
"Lucas itu pria yang baik, Daddy sudah menjodohkan kalian sejak kecil" pernyataan Daddy menatap Lucas yang sejak kecilnya sudah dia anggap seperti anak sendiri.
"Sejak kecil apanya, Lily baru lahir dia sudah tua" komplen Lily, selain terkenal arogan Lucas juga beda 8 tahun darinya.
"Lily menolak perjodohan dengan pria Arogan itu" pernyataan Lily.
"Berani kamu menolak saya?" pertanyaan Lucas dengan suara beratnya.
Yuk baca cerita Lily.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 Posisi yang Sama
Sekitar jam 4 sore Lucas mengantar Lily pulang ke rumahnya.
"Sore Pi, Mi," sapa Lucas bersalam pada kedua orang tua Lily yang duduk di ruang keluarga.
"Dihhh, sok akrab," julid Lily mengecup pipi Daddy dan Mommy-nya.
"Kamu yang sok akrab, aku lebih dulu jadi anak mereka," kata Lucas mengatakan kebenaran, dulu sebelum ada Lily di rumah ini, Lucas sering menginap bahkan tidur bersama kedua orang tua Lily.
"Kalian berdua itu sama-sama anak Daddy, berhentilah bertengkar perihal kasih sayang yang menciptakan kesalahpahaman antara kalian sampai sekarang," ucap Daddy.
"Kami sama-sama menyayangi kalian bahkan masing-masing punya tempat di hati kami. Kehadiran Lily tidak mengubah posisi Lucas begitu pun kehadiran Lucas yang tidak mengubah posisi Lily," jelas Mommy yang tidak menyangka kesalahpahaman itu masih ada sampai sekarang.
"Bukankah kamu sudah cukup dewasa untuk memahaminya," kata Daddy menepuk pundak Lucas yang sedari kecil sudah dia anggap seperti anak sendiri.
Lucas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, secara harfiah dan naluri Lucas memang merasa ini hanya sebuah kesalahpahaman pemikirannya waktu kecil, namun entah kenapa rasa jengkelnya pada Lily tidak berubah sampai sekarang.
"Lily buatkan Lucas kopi dulu, sebentar lagi Papi dan Mami kalian akan datang untuk membicarakan tentang pernikahan kalian," ucap Mommy.
"Pelayan saja yang membuatkan," kata Lucas tidak mau mengambil risiko.
"Ihhhhh, Lily kasih racun beneran ya," kata Lily yang sudah berjalan ke dapur karena disuruh Mommy.
"Pi, lihatlah dia ingin meracuni aku," Lucas malah mengadu yang membuat Lily langsung memelototinya.
.....
"Lucas, dari cerita yang Daddy dengar kamu sudah menjadi seorang pebisnis yang menguasai hampir 12,9% pasar properti," kata Daddy yang diangguki Lucas.
"Tentu saja, berkat kerja keras dan juga dukungan kalian aku bisa sampai di titik ini," kata Lucas yang tidak bisa memungkiri dukungan Papi dan Daddy lah yang membuatnya sukses.
"Mommy juga baca beberapa berita tentang kamu yang begitu tegas dan dingin, namun kenapa ketika berhadapan dengan Lily kamu seperti kehilangan ketenangan," tawa Mommy tiba-tiba.
Bukan mengapa, selama ini Lucas tinggal di luar negeri dengan tingkat pergaulan elit layaknya konglomerat tapi begitu pulang wibawa itu seolah hilang, bahkan seolah Lucas kembali ke 14 tahun silam yang setiap bertemu bertengkar dengan Lily.
"Mi, Lily itu adalah cewek paling menyebalkan yang pernah aku temui di dunia ini," kata Lucas tanpa ragu.
"Jangankan ketenangan bahkan kewarasanku langsung berganti emosi berkepanjangan jika berhadapan dengannya," sambung Lucas benar-benar mengatakan apa yang dia rasakan dengan jujur.
"Lucas, kamu berani mengeluhkan seorang wanita langsung pada kedua orang tuanya?" tanya Daddy geleng kepala yang tidak expect Lucas akan sejujur itu pada mereka.
"Aku juga anak kalian," kata Lucas langsung mengklaim hak atas status yang lebih dulu dia dapatkan daripada Lily.
"Ya tapi kamu terang-terangan berkata seolah membenci putri kami," ucap Mommy mencubit perut Lucas.
"Jika dia tidak anak kalian, demi Tuhan aku tidak mau menikahinya," kata Lucas sampai Daddy yang sedang minum kopi tersedak mendengarnya.
"Lucas dia adalah putriku satu-satunya, jika kau menyakitinya aku yang akan menghajarmu," kata Daddy.
"Mmmmh, kalau itu terjadi bahkan Papiku lebih dulu melakukan itu," senyum kecut Lucas yang masih teringat Papi menamparnya karena telah membuat Lily terluka.
Daddy dan Mommy saling tatap lalu tertawa bersamaan jika teringat betapa marahnya Bimo pada Lucas 14 tahun yang lalu sampai mengirimnya ke luar negeri karena membuat Lily terluka.
"Kalian bilang menyayangiku, tapi mengapa tidak mencegah Papi mengirimku ke luar negeri?" tanya Lucas menatap mereka dengan tatapan lirih.
1 tahun pertama Lucas tinggal di luar negeri adalah fase paling krusial dalam pengalaman hidupnya, bahkan kadang Lucas merasa seolah dunia tidak adil padanya.
"Lucas, kami menganggap kamu seperti anak sendiri tapi bukan berarti kami berhak ikut campur perihal keputusan yang menyangkut kehidupan kamu," kata Daddy yang sebenarnya dulu juga tidak setuju dengan keputusan Bimo.
Walaupun Lucas menyakiti Lily ketika itu, tapi waktu itu dia belum dewasa dan Daddy merasa itu bukanlah kesalahan fatal karena Lucas tidak sengaja mendorong Lily.
"Ajaran Papi memang keras, tapi perlahan aku sadar kalau menyakiti wanita memang perbuatan hina yang dilakukan oleh seorang laki-laki yang seharusnya melindungi," kata Lucas yang mengambil pelajaran dari situ.
"Sejak awal Daddy yakin suatu saat kamu akan paham," kata Daddy merangkul Lucas.
"Jangan bilang itu juga alasan kamu menjauh dari semua wanita?" tanya Mommy penuh intimidasi.
Karena mereka tahu bahwa Lucas sangat menjaga jarak dari wanita mana pun selama 14 tahun ini, jangankan untuk pacaran bahkan dia sangat arogan untuk sekadar berkenalan dengan seorang wanita.
"Tentu saja, dekat dengan wanita hanya mendatangkan masalah," kata Lucas memandang Lily yang berjalan membawa segelas kopi.
"Lucas cinta dan benci itu sangat beda tipis, nanti kamu terjebak," kata Daddy yang tahu sejak dulu Lucas selalu jengkel melihat Lily, tapi dia juga tidak suka Lily dekat dengan anak lain.
"Terjebak pada istriku sendiri tidak masalah, Pi," jawab singkat Lucas yang membuat Daddy tersedak untuk kedua kalinya ketika sedang minum beberapa teguk kopi.
.......
Malam harinya.
Lucas menelepon Lily namun baru diangkatnya setelah beberapa kali menelepon.
"Halo, dengan Lily di sini," kata Lily dengan suara manjanya.
"Jadi kau pikir aku menelepon Lulu?" ketus Lucas yang terdengar sangat kesal dari nada bicaranya.
"Ihhhh, marah-marah aja, siapa suruh telepon," kata Lily tidak menyangka juga bakalan Lucas yang telepon karena nomor baru.
"Lalu kenapa kamu angkat?" tanya Lucas.
"Aku pikir tadi Daniel, ternyata monyet," kata Lily dengan ketus.
"Daniel, apa dia sempat mendapatkan nomor ponselmu?" tanya Lucas lagi.
"Masih bertanya sempat tak sempat, belum juga dikasih ponselnya sudah diambil," kata Lily dengan tidak terima atas perlakuan Lucas tadi.
"Gadis bodoh, jika memberikan nomor saja tidak sempat, mengapa berharap dia menelepon," hujat Lucas menarik napas berat.
"Ehhhhh, berani banget ngatain aku bodoh, aku pintar," kata Lily.
"Tetap saja tidak bisa mengalahkan kepintaranku?" kata Lucas dengan begitu remeh dan sialnya itu kenyataan.
"Mmmmh, dasar pria sombong," ketus Lily langsung menutup telepon dari pria arogan itu.
Lucas menelepon sampai beberapa kali namun sama sekali tidak diangkat Lily sampai dia mengirimkan pesan suara.
"Kamu ingin menjawab telepon, atau aku datangi ke kamar kamu sekarang?" pesan suara Lucas dengan suara berat yang membuat Lily mendadak jadi merinding.
"Angkat atau aku benar-benar akan datang?" pesan suara kedua dari Lucas ketika Lily belum juga menjawab pesan suaranya.