Kiara cuma punya satu impian di sekolah barunya: lulus dengan tenang tanpa drama.
Sayangnya, takdir malah melemparnya tepat ke lingkaran kehidupan Khafi Mahendra—cowok paling jahil, menyebalkan, dan susah ditebak di SMA Cahaya Permata.
Dua kepala batu. Dua pendirian kuat. Satu hubungan tanpa komitmen yang dipenuhi provokasi. Ketika benci menjadi satu-satunya bahasa yang mereka pahami, seberapa jauh mereka bisa saling menghindar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon theonlywaaannn_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35 : Jersey Nomor 7 dan Suporter Khusus
Sabtu sore, atmosfer GOR Tri Dharma bergemuruh hebat. Suara tabuhan drum, lengkingan peluit, serta yel-yel suporter yang bersahut-sahutan memantul di dinding-dinding stadion indoor yang dipadati ratusan Siswa dan Siswi. Hari ini adalah final ajang penentuan pemenang DBL di akhir pekan, dan SMA Cahaya Permata dijadwalkan bertanding melawan musuh bebuyutan mereka, SMA Garuda.
Di tribun timur yang didominasi warna biru-putih—warna kebanggaan SMA Cahaya Permata—suasana benar-benar membara. Ratusan anak sekolah memenuhi bangku penonton, memukul drum dan mengibarkan bendera raksasa.
Kiara duduk di barisan tribun depan agak bawah bersama Neona. Awalnya, Kiara sempat menolak ikut. Alibinya bermacam-macam : malas berisik, pusing dengar suara drum, sampai alasan ada tugas. Tapi Neona menyeretnya tanpa ampun—tentu saja karena Neona punya misi pribadi melihat Kevin, pacarnya, bertanding sebagai center utama.
"Gila, rame banget, Kia! Mata gue sampai bingung mau ngelihatin siapa!" teriak Neona heboh di dekat telinga Kiara, tapi matanya sudah menyapu lapangan mencari sosok jangkung bernomor punggung 12. "Awas aja kalau si Kevin mainnya loyo hari ini, nggak bakal gue bales chat-nya seminggu!"
Kiara cuma memutar bola matanya, tapi tak bisa memungkiri kalau dadanya ikut berdebar kencang. Matanya menyapu sekeliling stadion, lalu terhenti di barisan tribun VIP sebelah barat. Di sana, duduk Tante Siska bersama Om Hendra.
Tante Siska yang sedang menyapu pandangan mendadak menangkap keberadaan Kiara. Wanita paruh baya itu langsung melambaikan tangannya heboh sambil tersenyum lebar tanpa canggung sedikit pun.
"Ara! Sini!" panggil Tante Siska setengah berteriak dari jauh, melambaikan tangan dengan antusias.
Om Hendra di sebelahnya ikut menoleh, melambaikan tangan santai khas bapak-bapak, lalu menunjuk ke arah lapangan seolah memberi kode kalau anak-anak sebentar lagi masuk court.
Kiara membalas lambaian tangan Tante Siska sambil tersenyum tipis, menganggukkan kepala ramah.
"Tante Siska heboh banget pas liat lo, Kia," celetuk Neona menyenggol bahunya. "Mertua idaman banget nggak tuh?"
"Neona, fokus," tegur Kiara pelan, berusaha mengalihkan pandangan ke lapangan yang mulai riuh.
Priiiiiiiittt!
Suara peluit panjang ditiup. Kedua tim merangsek masuk ke area court untuk pemanasan akhir. Seketika itu juga, gemuruh tribun SMA Cahaya Permata meledak.
"CAHAYA PERMATA! LET'S GO! CAHAYA PERMATA! LET'S GO!"
Kiara menahan napas. Dari lorong pemain, rombongan tim basket SMA Cahaya Permata berjalan keluar. Dan di paling depan, memimpin barisan dengan langkah tegap, berdiri Khafi. Di belakangnya Ferdi dan Kevin menyusul dengan gaya tebar pesona seperti biasa. Sedangkan anak-anak basket yang lain berjalan dengan langkah dan dada yang penuh akan rasa semangat karena teriakan para suporter.
Pesona Khafi hari ini benar-benar berada di level yang berbeda. Cowok itu mengenakan jersey basket utama SMA Cahaya Permata warna biru dengan garis hitam pekat. Nomor punggung 7 terpatri jelas di dada dan punggungnya. Lengan berototnya yang bisepnya tercetak tebal terpapar bebas tanpa balutan jaket. Celana basketnya menggantung pas di atas lutut, memperlihatkan kaki jenjangnya yang kokoh. Rambut hitamnya yang sedikit basah oleh keringat pemanasan disisir asal ke belakang, menyisakan beberapa helai jatuh di keningnya.
"GILA! KHAFI GANTENG BANGET ANJIR!" jerit beberapa siswi kelas XI dari tribun belakang Kiara.
"CAPTAIN KHAFI! SEMANGAT KAK!" teriak siswi lain tak kalah heboh.
"Kia! Lihat si Kevin, anjir! Keren banget pakai sleeve hitam di tangannya!" bisik Neona heboh satu tangannya sibuk merekam, satu lagi meremas paha Kiara gemas. "Duh, jantung gue mau copot!"
"Sakit, Na! Paha gue yang lo remas!" ringis Kiara menepis tangan Neona. Tapi matanya sendiri tak bisa bohong; tatapannya tertuju lurus pada sosok nomor 7 di tengah lapangan. Ada pendar terpukau yang berusaha keras ia sembunyikan di balik raut wajah datarnya.
Di tengah lapangan, Bagas mendekati Khafi sambil mendrible bola kencang. "Khaf, tribun kanan berisik banget. Anak Garuda udah mulai psywar tuh."
"Biarin. Pokoknya fokus di quarter pertama. Jangan kepancing provokasi," balas Khafi datar, matanya menyapu seluruh arena.
"Awas lo Fer, lemparan tiga poin lo jangan melenceng kayak kemarin pas latihan!" tembak Kevin yang sedang membetulkan hairband menepuk punggung Ferdi.
Ferdi yang sedang meloncat-loncat memanaskan kaki mendengus pelan. "Sembarangan! Tangan gue lagi wangi hari ini, Vin! Lo fokus rebound aja, jangan bikin malu di depan Neona tuh di tribun bawah!" balas Ferdi sambil melirik jahil ke arah Neona.
Kevin refleks menoleh singkat ke tribun timur, lalu memukul bahu Ferdi kencang. "Diem lo, Sontoloyo!"
Khafi mendrible bola basket dengan lihai di garis tengah. Gerakannya begitu tenang, presisi, dan memancarkan wibawa seorang pemimpin lapangan yang dominan. Ia mendongakkan kepala, mengedarkan pandangannya ke seluruh tribun suporter.
Mata tajam Khafi menyapu barisan tribun timur. Ia melihat Pandu di barisan depan atas dengan para suporter sedang asik menggebuk drum, di barisan depan bawah, dia sempat melihat Mamanya yang heboh melambaikan tangan seraya merekam sedangkan papanya mengangguk-angguk kepala menikmati seruan suporter. Saat pandangannya melintasi area tempat Kiara duduk, langkah kakinya yang sedang mendrible bola sempat berhenti sepersekian detik.
Mata mereka bertabrakan di tengah riuhnya ribuan penonton GOR.
Khafi tidak tersenyum lebar. Cowok itu hanya menghentikan dribelnya, memegang bola dengan satu tangan di pinggangnya, lalu mengangkat tangan kanannya ke udara. Dengan gerakan sangat santai tapi tegas, Khafi menunjuk lurus ke arah tribun tempat Kiara duduk, lalu menepuk dada kirinya dua kali—tepat di atas logo sekolah dan jantungnya.
Seketika, tribun timur meledak gila-gilaan.
"WOIIII! SI KAPTEN NUNJUK SIAPA TUH?!" goda Ferdi heboh karena dia sadar arah pandang Khafi.
"ANJAYYY! SIGNAL DARI KAPTEN! SIAPA YANG DITUNJUK WOI?!" Bagas ikut menjerit heboh.
Seisi tribun heboh saling menerka-nerka siapa yang ditunjuk Khafi. Cewek-cewek di belakang Kiara bahkan sudah menjerit kegirangan menyangka diri mereka yang ditunjuk. Tapi Kiara tahu pasti—sangat tahu—bahwa tatapan mata Khafi yang dalam dan tajam itu terkunci tepat padanya.
Kiara di tribun menahan napasnya. Tatapan matanya beradu langsung dengan iris gelap milik Khafi selama dua detik sebelum cowok itu berbalik. Ada desir halus yang membakar dadanya, membuat tangannya tanpa sadar meremas ujung roknya sendiri, jantungnya berdegup begitu kencang sampai rasanya mau melompat keluar dari dada.
"Fokus, Fer. Udah mau tip-off," potong Khafi dingin, tapi sudut bibirnya terangkat sepersekian milimeter sebelum berbalik menghadapi wasit.
Pertandingan berjalan sangat panas. SMA Garuda menerapkan strategi full-court press yang agresif.
"Pressing! Jangan kasih space buat si nomor 7!" teriak pelatih SMA Garuda dari pinggir lapangan.
"Vin, screen!" teriak Khafi memberi instruksi kencang.
Kevin langsung memasang badan tegap, menahan point guard lawan hingga pemain itu terpental sedikit. Khafi melakukan crossover cepat dari kanan ke kiri, meloloskan diri dengan langkah lebar, lalu memberikan no-look pass manja ke arah Ferdi yang berdiri bebas di sudut.
SWISH!
"YES! TIGA POIN DARI FERDI!" teriak PA Announcer pertandingan dari pengeras suara.
"GUE BILANG JUGA APA! TANGAN GUE WANGI!" teriak Ferdi girang sambil high-five kencang dengan Khafi dan Kevin.
"GOKIL KEVIN SCREEN-NYA BAGUS BANGET!" jerit Neona di tribun sampai berdiri, lupa urat malunya. "KEVIN SEMANGAT!"
Kevin yang seakan mendengarkan teriakan Neona dari pinggir lapangan sempat menoleh sekilas lalu membetulkan hairband-nya sambil tersenyum tipis.
"Cakep! Balik defense! Rapatkan!" panggil Khafi tegas, menepuk tangannya keras mengomandoi tim.
Namun di babak ketiga, suasana pertandingan semakin mencekam. Center lawan berusaha menahan drive kencang Khafi yang berniat melakukan lay-up, membuat benturan keras tak terelakkan.
Brak!
Khafi jatuh terjerembab kencang ke lantai, bahu kanannya menghantam lantai lebih dulu.
Priiiiiiiittt! "Foul!"
Seisi GOR tertahan napasnya. Tante Siska di tribun VIP langsung berdiri refleks. "Khafi!" panggilnya cemas.
Kiara di tribun bawah ikut berdiri spontan, matanya membelalak menatap sosok nomor 7 yang terbaring memegangi bahunya. Ada rasa khawatir yang mendadak mencubit ulu hatinya, membuat napasnya terasa pendek.
Diiringi sahut sorai suporter yang merasa tidak terima, Bagas dan Kevin langsung berlari menghampiri Khafi.
"Khaf! Aman nggak?!" tanya Bagas cemas.
"Bahu lo gimana, Khaf?" tambah Kevin memegang tangan Khafi.
Khafi meringis tipis, menerima uluran tangan Bagas dan bangkit berdiri. Ia mengibaskan jerseynya, memutar bahunya pelan. "Aman. Cuma kepentok kencang. Lanjut."
Khafi sempat melirik sebentar ke arah tribun bawah. Ia menangkap raut cemas di wajah Kiara yang sedang memperhatikannya tanpa kedip. Khafi hanya mengangguk tipis sekali—memberi sinyal dingin kalau dia baik-baik saja—lalu berjalan tenang menuju garis free-throw.
Kiara perlahan mendudukkan badannya kembali, napasnya kembali berangsur normal. Rasa khawatir yang menghimpit dadanya perlahan berganti menjadi rasa kagum yang tak terbendung.
Masuk babak keempat—tiga puluh detik terakhir pertandingan. Skor sama kuat: 68 - 68. Suasana GOR benar-benar seperti ruang hembusan angin puyuh. Ketegangan berada di titik puncaknya.
Bola berada di genggaman SMA Cahaya Permata. Khafi mendrible bola di luar garis tiga poin, mengulur waktu. Pemain bertahan SMA Garuda menempelnya sangat ketat, menyisakan jarak tak sampai setengah meter.
10 detik...
8 detik...
"ISOLATION! ISOLATION!" teriak Pak Yudi dari pinggir lapangan.
Khafi melakukan crossover cepat dari kanan ke kiri, mengecoh kaki lawan. Pemain lawan terkecoh satu langkah. Tanpa membuang waktu satu milidetik pun, Khafi melakukan step-back melompat ke belakang garis three-point.
5 detik...
Khafi melayang di udara. Tubuhnya melengkung sempurna, pandangannya terkunci lurus pada jaring ring. Dengan dorongan pergelangan tangan yang sangat halus dan presisi, ia melepaskan tembakan tiga poin.
Bola oranye berputar mulus di udara, melengkung tinggi membelah lampu-lampu GOR.
3 detik...
2 detik...
SWISH!
Bola masuk bersih tanpa menyentuh besi ring sedikit pun! Jaring putih bergoyang kencang!
PRIIIIIIIITTT!
Bel tanda berakhirnya pertandingan berbunyi nyaring tepat saat bola jatuh ke lantai.
Skor akhir: 71 - 68! SMA Cahaya Permata MENANG!
"GOL! MENANG WOIII! KITA MENANG!"
Seketika, gemuruh penonton meledak seketika. Seluruh tribun suporter SMA Cahaya Permata meledak dalam histeria massal. Anak-anak yang duduk di bangku tribun melompat-lompat, Pandu dan Suporter lain memukul drum seperti kesetanan.
Kiara melompat dari kursinya, ikut bertepuk tangan kencang bersama Neona. Air mata haru dan lega mendadak menetes tipis di sudut matanya tanpa bisa ia tahan.
Kevin dan Ferdi langsung melompat menubruk Khafi, merangkul leher kapten mereka heboh. Bagas, Raka, dan beberapa anggota menyusul menepuk-nepuk kepala Khafi kencang. Para pemain cadangan berlarian ke tengah lapangan mengerumuni Khafi, memeluk sang Kapten heboh.
"GILA LO, KHAF! COLD BLOODED!" teriak Ferdi heboh.
"Gokil, kemenangan pertama kita!" timpal Kevin ikut berpelukan.
Khafi cuma terkekeh pelan di tengah serbuan teman-temannya, menepuk-nepuk bahu mereka satu per satu dengan wajah kelelahan yang tetap terlihat tampan.
Hampir satu jam setelah euforia kemenangan mereda, setelah sesi foto kemenangan dilakukan, suasana area bawah dekat lorong ruang ganti pemain mulai berangsur sepi. Sebagian suporter sudah membubarkan diri menuju parkiran.
Kiara berdiri di dekat selasar lorong keluar bersama Neona, menunggu Tante Siska yang tadi berpesan lewat pesan singkat agar menyapa sebentar sebelum pulang
"Araa!" panggil Tante Siska heboh seraya meregangkan tangannya sambil melangkah mendekat. Om Hendra berjalan santai di sampingnya.
Kiara langsung masuk kedalam rengkuhan hangat itu seraya menyapa ramah. "Makasih ya Ara, udah mau datang nonton. Si Khafi kalau didukung rame-rame gini mainnya jadi kayak kesetanan."
Kiara tertawa pelan seraya mengangguk setuju. "Keren banget kok tadi mainnya, Tante. Om juga pasti bangga."
Om Hendra terkekeh pelan. "Keren sih keren, tapi ya itu... sukanya bikin mamanya sport jantung kalau jatuh begitu."
"Tuh kan! Papa bener! Tante tadi udah mau loncat dari VIP pas Khafi jatuh," timpal Tante Sika gemas.
Pintu ruang ganti terbuka. Khafi keluar mengenakan kaos hitam polos dan celana training abu-abu. Handuk kecil tersangkut di lehernya, dan rambutnya masih basah habis mandi. Kevin, Pandu, dan Ferdi mengekor di belakangnya.
"Pa, Ma," sapa Khafi mendekat, merangkul singkat kedua orangtuanya.
"Bahu kamu nggak apa-apa, Khaf?" tanya Tante Siska cepat, memeriksa bahu anaknya.
"Aman, Ma. Cuma memar dikit, tadi udah di kompres sama tim medis." jawab Khafi tenang, suaranya agak serak. Pandangan matanya lalu bergulir santai, menatap Kiara yang berdiri di sebelah mamanya.
Sementara itu di belakang, Kevin mendadak berdeham kencang mendekati Neona. "Ekhem... Na, makasih ya tadi teriakan lo paling kencang se-GOR. Denger kok gue."
Wajah Neona seketika merah padam. "D-dih! Siapa juga yang teriak buat lo! PD banget!"
Pandu dan Ferdi langsung tertawa mengejek Kevin dan Neona.
Om Hendra yang peka melihat situasi langsung merangkul pundak istrinya. "Ma, yuk ke mobil duluan. Papa mau ngobrol sebentar sama Pak Yudi di depan."
"Eh? Khafi ikut nggak?" tanya Tante Siska.
"Khafi ada urusan bentar paling Ma. Yuk," potong Om Hendra santai, melambaikan tangan ke Kiara. "Om duluan ya, Ara."
"Dah Ara sayang! Nanti kapan-kapan main ke rumah ya!" tambah Tante Siska hangat sebelum berjalan menyusul suaminya.
Pandu langsung merangkul leher Kevin dan Ferdi. "Yuk, Vin, Fer! Kita ke kantin luar duluan, jangan ganggu pemandangan di sini. Na, ikut nggak lo? nanti cowok lo ini malah tebar jaring lagi nih,"
Neona yang salah tingkah di depan Kevin langsung mengangguk cepat. "I-ikut! Kia, gue duluan ke depan ya!" pamit Neona, melesat pergi mengekor tiga cowok itu.
Kini di lorong itu hanya tersisa Khafi dan Kiara.
Khafi maju dua langkah mendekat, menghentikan kakinya santai tepat di depan Kiara. Aroma wangi sabun mandi dan parfum menguarkan lembut dari tubuhnya.
"Ngapain masih berdiri di sini?" tanya Khafi pelan, suaranya berat dan hangat.
Kiara membuang pandangannya agak ke samping, berusaha keras menetralkan detak jantungnya. "Tadi kan Tante Siska yang nyuruh nunggu disini,"
Khafi mengangguk-angguk pelan, matanya menatap lekat siluet wajah Kiara dari samping. "Gue kira nungguin gue."
"Geer," cetus Kiara singkat, walau matanya tak tahan untuk tidak melirik sebentar ke arah bahu kanan Khafi. "Bahu lo... beneran nggak apa-apa?"
Khafi terkekeh halus, nada suaranya berubah jauh lebih lembut dari saat di lapangan tadi. "Nggak apa-apa. Cuma ketabrak dikit."
"Lagian sok jagoan banget, udah tahu orangnya gede malah ditabrak," gumam Kiara pelan.
Khafi menatap Kiara dengan pendar mata yang tenang namun mengunci. "Kalau nggak ditabrak, nggak bakal menang, Ara. Lagian... lo kan nonton. Masa gue harus kalah sih,"
Kiara menggigit bibirnya tipis, mendadak kehilangan kata-kata gara-gara serangan mendadak itu.
Khafi memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana training-nya, menatap Kiara dengan gaya cool-nya yang khas tapi mulai menunjukkan taringnya.
"Besok Minggu," kata Khafi santai. "Gue libur latihan. Besok malam gue jemput jam tujuh."
Kiara menengadah kaget. "Mau ke mana? Gue nggak ada bilang mau jalan."
"Bayar hutang cokelat," jawab Khafi tenang tanpa beban, melangkah santai melewati Kiara menuju arah keluar. "Siap-siap aja. Gue nggak suka ditolak."
Kiara memutar badannya menatap punggung tegap Khafi yang makin menjauh, menahan napasnya yang mendadak tidak beraturan gara-gara tingkah santai cowok itu yang makin gencar 'menyerangnya'.
semangatt
Harus bngtttt sih kalian baca! Jngn lupa ramein komen, like, sama vote ya guys. Biar Author-nya makin semangat & rajin update! 🚀
gasss terus thor/Determined/
Vibesnya kaya balik lagi ke masa SMA wkwkwkk, karakter plus interaksi Kiara dan Khafi tuh relate dan beneran dapet banget vibes enemies to loversnya.
Awalnya cuman iseng baca tapi makin ke sini makin bikin senyum-senyum sendiri hahaha, alurnya ngalir terus penulisannya juga rapi yang bikin enaknya gitu.
Semangat terus thor, ditunggu update selanjutnya!
Wajib baca sih buat yang suka trope gini, rugi banget kalau kelewatan karena dijamin ketagihan kaya gua