"Tertinggal di Kota Sane berarti menyerahkan nyawa pada misteri yang mengintai."
Kota Sane adalah pulau indah bernuansa surga, namun memiliki aturan yang sangat ketat: hanya dibuka 4 bulan sekali dan wisatawan hanya boleh berkunjung selama 2 minggu. Bagi yang tertinggal, mitos mengatakan mereka tak pernah selamat.
Naya, mahasiswi kaya yang manja, mengalami mimpi buruk saat ketiduran di dermaga dan ditinggal kapal terakhir. Di tengah kota yang mendadak sepi bagai kota mati, Naya memohon perlindungan pada Devan—pemilik penginapan kayu yang tampan, dingin, dan tegas.
Naya rela bekerja tanpa gaji demi bisa bertahan hidup selama 4 bulan hingga kapal berikutnya datang. Namun, Devan menolak mentah-mentah kehadiran gadis manja itu.
Ketika malam mulai jatuh dan ancaman Kota Sane mengintai, sanggupkah Devan membiarkan Naya berada dalam bahaya? Rahasia kelam apa yang sebenarnya disembunyikan pulau ini?
Simpan novel ini dan ikuti kisah romansa penuh ketegangan antara Devan dan Naya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sentuhan Malam dan Ponsel Tanpa Nyawa
Suara derit pintu kayu yang berat mengalihkan perhatian Naya dari rasa takutnya. Devan berjalan masuk tanpa menoleh lagi, menyeret langkahnya menuju sebuah ruangan kecil di sudut aula utama penginapan yang temaram.
Naya bergegas menyusul dari belakang, menyeret kaki dengan hati-hati. Bau kayu tua, minyak tanah dari lampu tempel, dan aroma khas laut yang asin menyambut indra penciumannya. Penginapan ini memang cukup luas, tetapi sangat bersahaja. Tidak ada lampu gantung kristal atau lantai marmer mengilap seperti rumah mewahnya di kota asal. Hanya ada perabotan kayu pinus tua yang terawat rapi.
"Tempat ini hanya punya tiga kamar tamu yang layak pakai," ucap Devan pendek sambil mengambil sebuah kunci kuningan berkarat dari atas meja kasir. "Gunakan kamar nomor dua di lantai atas."
Naya menerima kunci itu, tetapi jemarinya gemetar hebat hingga kunci itu hampir terjatuh. Saat Devan hendak memalingkan badan, Naya meremas ujung kaus singlet Devan dari belakang, menahannya.
"Devan... tunggu," bisik Naya ragu, matanya yang bulat dan cokelat terang menatap Devan dengan tatapan memelas yang amat sangat. "A-apa kau punya charger HP? Charger tipe-C atau apa saja?"
Devan mengerutkan alisnya, menatap tangan mungil Naya yang menempel di bajunya, lalu beralih menatap wajah mulus gadis itu. "Untuk apa?"
"Semua barang-barangku... tas, pakaian, bahkan charger-ku tertinggal di dermaga saat aku panik tadi!" air mata kembali menggenang di pelupuk mata Naya, membasahi bulu matanya yang lentik. "Ponselku mati total. Aku... aku harus menghubungi keluargaku! Ayahku, kakak-kakakku... mereka pasti sangat cemas mencari keberadaanku. Tolong, Devan, pinjamkan aku charger!"
Devan menatap ponsel pintar berlayar gelap yang disodorkan Naya. Wajah tegap pemuda itu tidak menunjukkan simpati, melainkan keheningan yang makin dalam dan pekat.
"Satu," suara Devan terdengar dingin namun mantap. "Di area pemukiman ini tidak ada sinyal. Sinyal hanya ada di tebing utara pulau yang sangat jauh, terjal, dan berbahaya untuk didatangi. Ponsel mahalmu itu tidak ada gunanya di sini."
Naya melotot, tubuhnya membeku. "A-apa? Sinyal sejauh itu?!"
"Dan dua," Devan melangkah satu tapak lebih dekat, mengikis jarak hingga aroma tubuhnya yang hangat beradu dengan hawa dingin malam. Ia mengulurkan tangannya yang tegap, jemari kasarnya yang hangat tanpa sengaja menyentuh jemari halus Naya saat mengambil ponsel itu dari genggamannya.
Sentuhan singkat namun membakar itu membuat jantung Naya berdesir hebat. Devan menatap layar hitam ponsel itu sejenak sebelum mengembalikannya.
"Di Kota Sane, listrik hanya menyala sampai jam lima sore. Setelah matahari tenggelam, tidak ada aliran listrik di seluruh pulau hingga esok pagi. Jadi, tidak ada charger, tidak ada lampu listrik, dan tidak ada cara mudah untuk menghubungi siapa pun di luar sana."
Sentakan kenyataan itu menghantam Naya bagai petir di siang bolong. Tangannya melemas, ponselnya hampir saja lolos dari genggaman jika Devan tidak dengan cepat menahan pergelangan tangan mungil Naya.
"Tenanglah," gumam Devan pelan. Suara beratnya yang tadinya dingin kini menyiratkan ketegasan yang bernada protektif. Tatapan mata sipitnya mengunci mata cokelat Naya yang gemetar. "Keluargamu tidak bisa menolongmu sekarang. Yang bisa menyelamatkan nyawamu selama empat bulan ke depan hanyalah dirimu sendiri... dan kepatuhanmu pada aturanku."
Naya mendongak, merasakan kehangatan dari cengkeraman tangan Devan di pergelangan tangannya. Di tengah keputusasaan karena terisolasi total dari dunia luar, keberadaan sosok pemuda jangkung dan tegas di hadapannya ini mendadak menjadi satu-satunya pegangan yang ia miliki.
"Lagipula..." Devan menatap wajah cantik di hadapannya lebih lekat, jemarinya perlahan mengendurkan pegangan di pergelangan tangan Naya. "Dari tadi aku belum tahu siapa namamu."
Naya tertegun sejenak, pipinya mendadak merona merah saat disadari betapa dekatnya posisi mereka. "N-Naya... namaku Naya."
Devan mengulang nama itu di dalam hatinya. "Naya," gumamnya dengan suara pelan dan dalam yang sanggup menggetarkan dada gadis itu. "Mulai besok pagi, kau harus bangun jam lima, Naya. Bersihkan teras, lap semua meja, dan bantu Pak Karman di dapur. Kau tidak punya pakaian ganti, jadi besok aku akan minta pakaian bekas milik nenekku yang masih layak untuk kau pakai."
Jam dinding tua di sudut ruangan berdentang nyaring lima kali. Suara dentangan itu terdengar mistis di tengah aula yang makin menggelap.
Wajah Devan berubah sangat serius. Rahangnya mengeras.
"Perhatikan kata-kataku baik-baik, Naya," bisik Devan sambil mendekatkan wajahnya, membuat Naya bisa merasakan hembusan napas hangat pemuda itu di pipinya. "Begitu tirai jendela ini kututup, kau kunci pintu kamarmu rapat-rapat. Jangan pernah membuka jendela, jangan pernah mengintip ke luar, dan jika kau mendengar suara apa pun di luar pintumu saat malam... jangan pernah menjawabnya."
Naya meneguk ludah, bulu kuduknya berdiri seketika. "S-suara apa?"
"Kau tidak perlu tahu," potong Devan tegas. Ia lalu berbalik menuju pintu depan, menarik tirai kain tebal hingga menutupi seluruh jendela, lalu memasang tiga selot kayu tebal di pintu utama.
Dalam kegelapan yang kini hanya diterangi lampu minyak remang-remang, Devan menunjuk ke arah tangga. "Naik ke kamarmu sekarang. Sebelum kegelapan benar-benar menguasai pulau ini."
Dengan dada bergemuruh oleh rasa takut, bingung, dan getaran aneh akibat perlakuan Devan, Naya memeluk ponsel matinya erat-erat di dada dan berlari kecil menaiki tangga kayu menuju lantai dua.
Di lantai bawah, Devan berdiri diam dalam remang cahaya. Matanya menatap bayangan tubuh mungil Naya yang menghilang di belokan tangga, lalu jemarinya mengepal rapat.
"Naya... gadis manja yang terbiasa hidup enak," gumam Devan pelan dengan suara serak. "Bagaimana bisa jantungku berdetak secepat ini hanya karena menatap matanya?"
Suara misterius apakah yang akan menguji ketahanan Naya di kamar gelapnya malam ini? Akankah Naya nekat mencari sinyal ke tebing utara yang berbahaya?