Chu Feng, putra ketujuh yang bersembunyi di balik topeng "tak berbakat", berubah takdir saat sebuah pecahan dari Dewa Kekacauan Purba yang hancur jutaan tahun lalu memilihnya. Bersama tombak yang terus berevolusi dan pasukan binatang ilahi, ia merangkak dari murid sekte kecil menuju kenyataan bahwa dunianya hanyalah sudut kecil dari semesta yang jauh lebih luas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Ruang Beban Berat
Setelah kata-kata penyemangat Chu Feng, kelima murid itu mulai menjelajahi ruang latihan tersembunyi itu lebih jauh, rasa kagum masih belum sepenuhnya hilang dari wajah mereka masing-masing. Hei berlari-lari kecil di sekitar mereka, mengendus setiap sudut ruangan dengan rasa ingin tahu seekor anak binatang yang baru pertama kali melihat dunia seluas ini.
Zhao Lin, yang paling teliti di antara mereka, memperhatikan sebuah area khusus di sisi timur ruangan—berbeda dari area latihan senjata atau meditasi lainnya, area ini dikelilingi pilar-pilar batu tinggi dengan ukiran formasi yang jauh lebih rumit, memancarkan cahaya keunguan samar yang berbeda dari cahaya keemasan di seluruh ruangan lainnya.
"Apa ini?" gumamnya, mendekati salah satu pilar untuk mengamatinya lebih dekat.
Chu Feng mengikuti, mengaktifkan Mata Dewa-nya untuk memeriksa area itu lebih detail. Pola energi yang mengalir di sekitar pilar-pilar itu terasa berbeda—lebih padat, lebih menekan, seolah ruang di dalamnya memiliki bobotnya sendiri yang tidak kasat mata.
"Ini semacam ruang medan," katanya perlahan, mencoba memahami apa yang ia lihat. "Aku merasakan tekanan aneh dari dalam sana, seperti udara di dalamnya jauh lebih berat dari udara biasa."
Liu Bo, yang selalu penasaran dengan hal-hal semacam ini, melangkah maju tanpa ragu, melewati batas antara dua pilar menuju area tengah yang dikelilingi ukiran formasi keunguan itu.
Begitu ia melangkah masuk, tubuhnya seketika ambruk ke lantai dengan suara berdebum keras, seolah beban yang tidak terlihat tiba-tiba menghantam seluruh tubuhnya sekaligus.
"Liu Bo!" seru Jiang Rou, panik, bergegas mendekat.
"Aku... aku baik-baik saja," Liu Bo terengah, berusaha bangkit dengan susah payah, wajahnya memerah karena usaha yang jauh lebih berat dari yang seharusnya diperlukan untuk sekadar berdiri. "Tapi ini... rasanya seperti membawa beban sepuluh kali lipat dari berat badanku sendiri."
Chu Feng melangkah hati-hati ke tepi area itu, merasakan tekanan yang mulai menekan tubuhnya bahkan sebelum benar-benar melewati batas pilar. Ia mengaktifkan Mata Dewa-nya lebih dalam, mencoba memahami sepenuhnya sifat ruang aneh ini.
Pola-pola energi yang ia lihat mulai membentuk gambaran yang lebih jelas di kepalanya—bukan sekadar tekanan acak, melainkan sebuah sistem yang terkontrol, mirip dengan medan gravitasi buatan yang bisa disesuaikan intensitasnya.
"Ini medan magnet buatan," katanya akhirnya, menyimpulkan dari pola yang ia amati. "Dirancang untuk melipatgandakan beban gravitasi terhadap siapa pun yang berada di dalamnya. Aku pernah membaca sesuatu yang mirip di salah satu kitab lama perpustakaan istana—teknik kuno yang digunakan beberapa sekte legendaris untuk mempercepat penguatan tubuh fisik kultivator."
"Bagaimana cara kerjanya?" tanya Jiang Rou, mengamati dari luar batas pilar dengan hati-hati, tidak berani melangkah masuk setelah melihat reaksi Liu Bo.
"Seharusnya ada cara untuk mengatur intensitasnya," Chu Feng menjawab, matanya menyapu seluruh area itu hingga akhirnya menemukan sebuah lempengan batu kecil di dekat salah satu pilar, dengan ukiran simbol-simbol yang tampak seperti pengaturan tingkat.
Dengan hati-hati, ia mendekati lempengan itu, mengalirkan sedikit qi ke permukaannya. Simbol-simbol itu mulai bercahaya, menunjukkan tujuh tingkat berbeda—dari yang paling ringan hingga yang paling berat.
"Tingkat pertama tampaknya yang paling ringan," katanya, mencoba menjelaskan pada rekan-rekannya. "Mungkin kita harus mulai dari sana, membiasakan tubuh kita secara bertahap sebelum mencoba tingkat yang lebih tinggi."
Mereka menghabiskan sisa hari pertama di ruang latihan tersembunyi itu untuk memahami cara kerja ruang medan berat tersebut—bergantian mencoba tingkat pertama, merasakan bagaimana tubuh mereka harus beradaptasi dengan beban tambahan yang, meski hanya tingkat paling ringan, tetap terasa signifikan dibandingkan gravitasi normal.
"Ini brilian," komentar Zhao Lin, setelah berhasil bertahan berjalan beberapa langkah di dalam medan tingkat pertama tanpa terjatuh seperti Liu Bo sebelumnya. "Kalau kita berlatih teknik dasar di sini, secara bertahap meningkatkan level medannya, otot dan qi kita akan terbiasa bekerja dengan beban ekstra. Begitu kita keluar dan kembali ke gravitasi normal, tubuh kita akan terasa jauh lebih ringan dan kuat."
"Seperti berlatih dengan pemberat, tapi jauh lebih ekstrem," tambah Liu Bo, yang sudah mulai bisa berdiri tegak di dalam medan tingkat pertama setelah beberapa kali mencoba, meski keringat masih membasahi seluruh tubuhnya.
Chu Feng mengangguk, sebuah rencana mulai terbentuk di kepalanya. "Kalau kita bisa mengombinasikan latihan teknik tombak dan pedang di dalam medan ini, dengan latihan formasi tim seperti biasa di luar area ini, kita bisa memaksimalkan setiap hari yang kita miliki di sini."
Jiang Rou, yang sejak awal lebih berhati-hati, akhirnya memberanikan diri melangkah masuk ke tingkat pertama, merasakan tekanan yang menghantam tubuhnya namun berhasil bertahan berdiri dengan susah payah. "Aku merasakannya," gumamnya, takjub. "Rasanya seperti setiap ototku bekerja dua kali lebih keras hanya untuk berdiri."
Hari kedua di dalam ruang latihan—yang setara dengan hampir sepuluh hari di dunia luar—dimulai dengan rutinitas baru yang jauh lebih terstruktur. Pagi hari dihabiskan untuk latihan teknik individu di dalam medan berat, dimulai dari tingkat pertama dan secara bertahap meningkat seiring tubuh mereka mulai beradaptasi. Siang hari digunakan untuk latihan formasi tim di area terbuka ruangan, menerapkan apa yang telah mereka pelajari sebelumnya namun kini dengan kekuatan fisik yang terus meningkat. Dan malam hari—meski konsep waktu di dalam ruangan itu terasa aneh dan tidak sepenuhnya jelas—digunakan untuk meditasi mendalam, memulihkan qi yang terkuras habis setiap harinya.
Chu Feng menemukan dirinya merindukan kehadiran suara di dalam dirinya lebih dari yang ia duga, terutama di saat-saat ia harus membuat keputusan tentang seberapa jauh mereka bisa mendorong batas kemampuan mereka tanpa risiko cedera serius. Namun kekosongan itu juga memaksanya untuk lebih percaya pada instingnya sendiri, pada pengetahuan yang telah ia kumpulkan selama bertahun-tahun, dan yang terpenting, pada penilaian kolektif keempat rekannya.
Pada hari ketiga—setara hampir satu bulan penuh di dunia luar—Liu Bo berhasil bertahan berdiri kokoh di medan tingkat ketiga, ototnya yang dulu hanya mengandalkan kekuatan alami kini menunjukkan definisi yang jauh lebih tegas, hasil dari tekanan konstan yang memaksa tubuhnya beradaptasi lebih cepat dari latihan normal manapun.
"Aku tidak pernah merasa sekuat ini sebelumnya," katanya, terengah namun bangga, setelah berhasil menyelesaikan rangkaian gerakan pedang penuh di dalam medan tingkat ketiga tanpa terjatuh sekalipun.
Chu Feng sendiri, dengan bantuan Tombak Awan Kelabu yang kini semakin menyatu dengannya, berhasil mencapai medan tingkat keempat—level yang menurut catatan kuno di dinding ruangan hanya bisa dicapai kultivator dengan fondasi tubuh yang sudah sangat kuat.
Namun di tengah kemajuan pesat itu, sebuah kesadaran tetap membayangi pikirannya setiap malam sebelum tidur—bahwa di luar sana, waktu tiga bulan yang sama juga terus berjalan bagi Su Yue, bagi ancaman Aula Kegelapan Malam yang mungkin sedang mempersiapkan serangan berikutnya, dan bagi kompetisi yang akan segera menguji semua kerja keras mereka di ruang tersembunyi ini.
Kami akan siap, pikirnya, menatap Tombak Awan Kelabu yang kini berkilau lebih terang dari sebelumnya di bawah cahaya kristal keemasan ruangan itu. Secepat dan sekuat yang kami bisa.