NovelToon NovelToon
The Sketchbook

The Sketchbook

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Cintamanis / Contest / Asmara / Romansa-Teen school / Gadis baik / Tamat
Popularitas:52.3k
Nilai: 4.2
Nama Author: @l_uci_ous

Vita adalah seorang gadis jenius yang merupakan anak angkat, yang sering
mendapatkan perkataan tidak bersahabat dari ibunya. Pada kelas tiga SMA dia
pindah dari Surabaya ke Jakarta dan bertemu dua laki-laki populer yang
menyukainya. Andra dan Rafka. Andra adalah penerima juara umum selama
bertahun-tahun, dan Rafka adalah siswa tukang bolos yang tak asing bagi Vita.
Kemudian Vita berteman dekat dengan keduanya, terutama dengan Rafka.

Di sekolah, bersama teman-teman barunya ini, Vita akan mengalami
pengalaman terasa begitu
manis. Vita akan bertengkar dengan sepupunya, dibully oleh teman sekelasnya,
tapi tidak ada yang dapat membuat Vita takut atau berhenti berteman dengan
Rafka juga dekat dengan Andra.

Hingga beberapa bulan kemudian Vita bertengkar dengan Rafka
setelah Vita menolak Andra. Namun, pertengkaran itu
tidak bertahan lama, Vita dan Rafka kembali bersahabat. Dan Vita pun pergi ke
London. Meninggalkan Rafka yang khawatir dan Andra yang menanti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @l_uci_ous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Rafka tersenyum saat mendapati Vita yang mulutnya terbuka. Dari semua hari di mana ia berlaku memesona untuk memukau gadis yang ada di sekitarnya, malam inilah yang paling dinikmatinya. Ia senang sekali melihat Vita terpesona padanya.

Rafka mendekat dan menggunakan punggung jari-jarianya untuk mengangkat dagu Vita agar mulutnya terkatup sempurna.

“Kukira aku lebih ganteng kalo lagi main basket, tapi kayaknya kamu lebih terpesona ngeliat aku lagi masak. Kalo ‘gitu aku bakalan dateng ke rumah kamu tiap hari buat masak di dapur kamu. Supaya tiap hari kamu terpesona sama aku.”

“Biasa aja, kok. Aku ‘kan gak bilang kamu ganteng,” ucap Vita menggosok dagunya.

“Itu karena kamu gak mau bilang aja.”

“Itu karena kamu...”

“Apa?” sela Rafka, ada senyum menyebalkan di sudut bibirnya.

“Biasa aja.” Vita mengalihkan pandangannya. “Lagian kamu, kok, pede banget, sih.”

“Karena menurutku, kepercayaan diri cowok itu berbanding lurus sama tampangnya. Makin ganteng, makin pede.”

Vita mendesis seraya memandang Rafka seperti melihat makhluk aneh yang membuatnya tak habis pikir kenapa ada di hadapannya.

Rafka kembali pada nasi gorengnya yang masih di api. Ia gesit bergerak ke sana kemari. Memecahkan telur, mengocoknya, menggoreng, ia lakukan berselingan dengan mengaduk nasi gorengnya yang beraroma gurih walau tanpa MSG.

“‘Gimana, Cha?”

“Apaan?”

“‘Gimana, aku boleh masak di rumah kamu tiap hari?”

Vita terdiam. Kemudian, “Bikin nasi goreng aja aku bisa.”

Seusai nasi goreng omeletnya matang, Rafka menyimpannya di atas counter. Ia menarik kursi dan duduk di depan Vita. Mereka saling berhadapan.

“Keliatannya oke.”

“Rasanya malah lebih oke lagi,” Rafka mengatakan, tangannya tersuluh memberikan sendok dan garpu pada Vita.

Vita menekan sendoknya pada daratan telur yang kuning dan lembut. Nasi goreng yang masih beruap nampak mengintip dari celah selimut kuning. Dengan santai Vita menyendoknya. Sebelum Vita bisa meniup nasinya, Rafka mendahuluinya. Vita terdiam.

Entah berapa kali sudah Rafka membuatnya salah tingkah malam ini. Dengan ragu-ragu ia menyorongkan sendok dalam gengamannya ke mulut setelah Rafka berhenti.

Enak. Hanya kata itu yang terlintas di benaknya. Rasanya sungguh enak. Lebih enak dari nasi goreng buatan ibunya di pagi hari sebelum ia berangkat ke sekolah.

“Enak?”

“Mm,” Vita menggumam, mulutnya masih penuh nasi yang hangat.

Rafka ikut menyupkan nasi ke mulutnya sendiri. Senyum di matanya tak kunjung hilang ketika memandangi Vita yang fokus makan.

“Abis ini mau ngapain?” tanya Rafka saat makanannya tinggal seperempat. Sepanjang mereka makan, tak banyak yang mereka bicarakan. Vita, tampaknya, lebih suka mengunyah makanan ketimbang mengobrol dengannya. Ia kira nasi gorengnya lebih menarik bagi Vita ketimbang orang tampan yang memasaknya. Ia harap ia bisa jadi nasi goreng.

“Terserah.”

***

Angin malam bulan Februari yang dingin mengembus wajah Tiara, menerpa rambut Andra. Malam ini, Andra teringat saat ia bertemu pertama kali dengan Vita. Ia ingat sepayung berdua dengan gadis itu (mengingatnya seperti cerita roman lama). Ia ingat payung Vita Anastasya yang belum sempat dikembalikannnya. Dan ia ingat, betapa ia ingin Vitalah yang ada di sisinya kini, bukan Tiara. Bukanya ia tak menyukai ada Tiara di sini dan tak berterima kasih pada gadis itu, hanya saja lebih baik jika Vita yang berada di sisinya.

Dulu ia memang menyukai Tiara lebih dari sekedar teman, namun itu sudah lama sekali. Perasaan itu sudah lama hilang. Hanya tinggal pertemanan dan rasa sebagai sahabat yang tinggal dalam hatinya kini, tidak lebih. Lama kemudian pun, barangkali tak akan kembali ada rasa lebih dari teman di hatinya. Barangkali. Ia ‘kan tak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Ia hanya merasa bahwa perasaannya akan bertahan lama pada Vita. Karena jangankan untuk menghilangkan perasaannya pada gadis itu, menyapu wajah gadis itu malam ini dari pikirannya pun ia sulit, apa lagi Tiara selalu mengingatkannya akan sosok Vita, yang semakin ke sini semakin dikaguminya. Tapi, dengan semua yang dirasakannya, bukannya ia tak merasa sedikit pun sakit hati akan penolakkan Vita. Ia juga ‘kan manusia normal. Dan remaja.

“Gak kebiasa aja minta maaf duluan. Biasanya Vita yang minta maaf duluan, walaupun seringnya gue yang salah,” sejenak Tiara berhenti berucap, “Kalau di pikir-pikir lagi, kayaknya dia gak pernah ada salah sama gue.”

“Kalo gak kebiasa, ya, dibiasain,” balas Andra santai, ia mulai merasa lelah mengusir Vita yang berpusar di benaknya.

Hening sebentar. Tak ada lagi di antara keduanya yang berbicara.

“Lo suka banget, ya, Ra, sama Rafka?”

“Suka banget. Dari awal gue—kita, maksud gue—masuk SMP, gue udah suka sama Rafka. Tapi dianya ‘gitu, cuek. Dia gak pernah nunjukin tanda-tanda kalo di punya perasaan lebih dari sahabat.”

Senyap lagi sekejap.

“Mau ke mana lagi sekarang?” tanya Andra. Ia jadi mulas lama-lama dalam kebungkaman.

“‘Kan lo yang ngajak jalan.”

“Yang di ajak jalan ‘kan juga boleh ngasih saran.”

Tiara berdehem. “Kalo ‘gitu kita jalan aja terus sambil makan kalo ada jualan yang enak. Jalan dan makan terus sampe capek dan mual karena kekenyangan.”

“Kalo capeknya baru besok pagi?”

“Ya, kita jalannya sampe besok pagi.”

“Kalo capeknya baru minggu depan?”

“Ya, kita jalannya sampe minggu depan.” Tiara mejawab pertanyaan konyol Andra dengan wajah masih memandang lurus ke depan.

“Kalo capeknya baru bulan depan?”

“Kita jalan terus sampe bulan depan.”

“Kalo capeknya baru tahun depan?”

“Ya, kita jalan terus sampe tahun depan.”

“Kalo kita baru capeknya—”

“Ya, kita bakalan jalaaaan terus sampe capek walaupun butuh waktu bertahun-tahun atau bahkan selamanya.”

“Memang lo gak pa-pa jalan terus sama gue?”

“Gak pa-apa, ‘kan gue gak punya pacar.”

Keduanya tertawa.

“Kalo ‘gitu ayo kita jalan ke rumah gue, terus balik lagi ke rumah lo, terus balik lagi ke rumah gue, terus balik lagi ke rumah lo, terus balik lagi ke rumah gue, terus balik lagi ke rumah lo, terus balik lagi ke rumah gue, terus balik lagi ke rumah lo...”

Mereka melangkah semakin menjauh. Andra terus berucap dan Tiara terus menjawab dan mendengar. Terus seperti itu sampai jauh... sekali. Sejak itu mereka tak membahas Vita maupun Rafka lagi hingga Andra mengantar Tiara pulang.

***

“Kapan yang lain pada pulang?” Vita bertanya ketika Rafka membagi kartu padanya dalam keadaan tertutup.

“Paling jam sepuluh.”

Vita mengangguk-angguk.

“Kenapa?” Rafka menatapnya.

“Enggak pa-pa. Sepi aja.”

“Ada mereka atau enggak, tempat ini bakalan tetap sepi.”

Baru saja Rafka akan mengambil kartu milikinya tapi urung ketika ia ingat sesuatu. Ia beranjak dari lantai dan berkata pada Vita.

“Jangan ngintip kartuku, ya. Awas!” Rafka memperingat Vita yang memandangnya datar. “Kalo ngintip kita gak temanan lagi!” teriak Rafka yang sudah mendaki tangga untuk sampai di atas dan menghilang. Lalu muncul lagi beberapa saat kemudian.

“Kita masih temanan enggak, nih?” Rafka duduk di tempatnya tadi.

“Memangnya aku ini keliatan kayak orang yang suka curang, ya?”

“Sedikit.”

“Nanti yang kalah di coret pakai ini, ya? Gak boleh dihapus sebelum permainan selesai. Kalo dihapus, gak lulus SMA.” Rafka meletakkan lipstik yang dibawanya dari kamar Reina. Lantas ia memungut kartunya yang masih tengkurap. Saat dilihatnya, ia punya kesempatan besar untuk mencoret-coret wajah Vita. Tidak akan ia sia-siakan kesempatan itu.

“Mama kamu meninggal karena apa, Raf? Sakit?”

Mata Rafka langsung bergulir pada Vita mendengar pertanyaan barusan. Ini pertama kalinya Vita bertanya tentang ibunya. Waktu di bus dulu, ia yang bercerita tanpa Vita bertanya. Ia tak menceritakan kenapa ibunya meninggal. Ia tak merahasiakannya, hanya saja tidak ada yang bertanya. Seingatnya hanya Genta yang pernah menanyakan perihal itu.

“Iya.”

“Sakit apa?” Vita membuang kartunya untuk menandingi kartu hati Rafka.

“Jantung.”

“Oh.”

“Menang!” Rafka tersenyum lebar saat menurunkan kartu terakhirnya. “Aku menang. Aku menang. Aku menang,” Rafka bersendung membanggakan diri.

“Kamu  kayak orang belum pernah menang main kartu.”

“Memang,” ucap Rafka gembira. Ia mengambil lipstik di dekat tangannya. Setelah mengangkat tutupnya, Rafka memberi isyarat agar Vita mempersempit jarak mereka.

Rafka menepikan rambut Vita yang menghalangi keningnya. Dengan senyum lebar ia menulis: Vita love (lambang) Rafka. Orang-orang pasti mengira yang ia lakukan ini kekanakan, tapi masa bodoh. Ia tak perduli, setidaknya ia senang.

“Kamu gak nulis yang aneh-aneh ‘kan, Raf, di jidatku?”

“Apa misalnya.”

Vita hendak mengambil ponselnya untuk melihat apa yang ditulis Rafka, namun laki-laki itu menahannya.

“Gak boleh lihat! Peraturannya gak boleh lihat.”

Vita menarik tangannya dari bawah tangan Rafka.

“Aku punya perasaan gak enak kamu nulis yang aneh-aneh. Aku tahu kamu tadi nulis namaku.”

“Masa?”

Rafka kembali mengocok kartu dan membagikannya lagi. Di putaran kedua ini ia menang lagi. Di pipi kanan Vita ia menulis: Rafka love (lambang) Vita too. Selanjutnya Vita yang menang, ia menulis: Rafka sok ganteng. Berikutnya Rafka yang menang dan menulis: Vita cantik, di pipi kiri gadis itu. Lalu diputaran kelima Vita menang, ia menggambar kumis dan jenggot di wajah Rafka.

Saat Vita sedang sibuk menyusun kartunya, Rafka mengambil ponselnya dari saku. Tanpa izin Vita ia memotret gadis itu.

“Kenapa, sih, kamu kalo mau sesuatu gak minta dulu?” Vita berkata tanpa mengalihkan matanya dari kartu.

Rafka mengantongi ponselnya kembali.

“Kamu mau gak kalo aku foto diam-diam?”

“Mau,” jawab Rafka. Jari telunjuk dan tengahnya terbuka sedang yang lainnya menempel pada telapak. Ia mendekatkan kedua jari itu ke pipinya.

Vita mengangkat matanya lalu mendesis, mencela Rafka.

Babak itu belum selesai saat ia mendengar suara-suara dari depan. Diturunkannya sedikit kartunya. Ia melirik Rafka. Rafka sudah menumpuk kartunya jadi satu dengan sisa kartu. Saat menengadahkan wajahnya, Rafka berkata, “Aku anterin sekarang aja, yuk? Aku juga ada janji sama Arya,” pada Vita.

Janji apanya, pikir Rafka. Ia saja tak tahu di mana keberadaan Arya. Yang benar adalah ia akan menginap di rumah Genta dan akan berangkat pukul sembilan ke sana, seusai mengantar Vita. Sekarang belum sampai jam sembilan, tapi penghuni rumah ini sudah pada pulang. Biasanya jika makan malam mereka baru pulang sekitar pukul sepuluh-an. Menjengkelkan sekali memang.

“Mama kira aku ini umur berapa udah mau dijodoh-jodohin? Aku masih tujuh belas tahun Ma!”

Saat menegakkan diirinya, ia mendengar suara Reina yang mengomel. Masalah yang sama. Beberapa bulan belakangan ibunya Reina seperti sedang gencar mencari tunangan untuk perusahaan, bukan untuk anaknya, itu hanya omong kosong.

“Kenapa harus aku yang dijodoh-jodohin? ‘Kan Rafka anak paling tua.”

Suara Reina semakin mendekat. Rafka melirik Vita yang tampak melambat-lambatkan gerakkannya.

“Ayo, Cha,” desaknya.

Vita berdiri tepat pada saat Reina mendahului yang lainnya masuk ke sini, ruang TV. Sepupunya itu berhenti di tengah jalan saat menyadari keberadaan Vita di rumahnya. Yang lain, yang berada di belakang Reina, juga mengalami hal yang sama.

“Aku ‘kan bukan anggota keluarga,” Rafka memecah kesunyian. Ia maju beberapa langkah, lantas menarik tangan Vita ikut bersamanya. Ketika melewati ayahnya ia sama sekali tak menolehkan wajahnya, ia terus berjalan maju. Begitu merasakan kecepatan Vita menurun, ia baru menoleh dan menemukan sesuatu yang aneh. Vita menatap ayahnya lama, ayahnya juga melakukan hal yang sama. Pandangan Vita tak seperti biasa, ini lebih menyudutkan.

Apa mereka punya masalah? Memang mereka pernah bertemu?

***

Vita bergerak mencari kursi kosong untuk diduduki sembari menanti Rafka yang sedanv pergi ke minimarket di seberang jalan. Ia tersenyum membayangkan Rafka masuk melalui pintu kaca dan para pegawai dan pembeli semua terkikik atau menahan senyum. Ia tak tahu Rafka memang lupa atau bersikap tak acuh. Sulit jika alasannya adalah lupa, karena Rafka sebelum pergi melihat wajah Vita, ia pasti sadar bahwa wajahnya juga kacau.

Sejenak setelah Vita mengenyakkan diri di kursi taman yang keras, Rafka kembali bersama plastik putih berlogo minimarket yang di kunjunginya.

“Gila!” Rafka tersengal, “Aku lupa kalo mukaku juga berantakan banget. Malu-maluin,” ucapnya setelah ia duduk di sisi Vita.

“Kamu juga, ngapain coba cepet-cepet pergi, padahalkan kita bisa bersihin muka dulu di rumah kamu tadi.”

“Aku lagi males ketemu sama Papaku. Dia nyariin aku terus. Aku jadi ngerasa terganggu.”

Anggara senior mencari Rafka?

“Memang dia jarang nyariin kamu?”

“Jangankan nyari, aku bahkan nyaris gak ketemu dia dalam sebulan terakhir. Kita ‘kan pura-pura jadi orang asing yang papasan di jalan. Buat apa saling nyapa?”

Itu artinya ayah Rafka ingin minta maaf? Ia telah salah pahan sepertinya. Berarti Rafkalah yang sama sekali tak memberi kesempatan.

Rafka memberikan minuman yang telah ia buka untuk Vita. Vita menerimanya, namun tidak meminumnya.

“Kalo dia nyari kamu, kenapa gak ditemuin dulu? Cari tahu dia mau apa.”

“Males,” ucap Rafka, lalu menyeruput minumannya. Selanjutnya ia meletakkannya kembali dan berkata, “Kalo dia memang mau ngomong sesuatu yang penting, seharusnya di berusaha lebih keras. Tapi aku gak yakin kita punya sesuatu yang penting buat diomongin.”

“Tolong, dong,” Rafka menyodorkan kapas yang telah di beri pengangkat riasan.

Vita mengambil itu dari tangan Rafka dan mulai membersihkan coretannya.

“Kenapa gak beli tisu basah aja, sih?” tanya Vita yang sedang menghapus tulisan ‘sok ganteng’ dari kening Rafka.

“Pakek ini ‘kan lebih bersih,” Rafka menjawab. Tangannya sudah bergerak lagi menyisihkan segumpal kapas dan menetesinya cairan make up remover.

Rafka mengangkat kapasnya sejajar wajah Vita lalu mulai mengelapi bagian yang cemong di pipi. Awalanya Vita menolak, ketika ia melirik arlojinya ia membiarkan Rafka membantunya. Sebentar lagi pukul sembilan ia harus segera pulang.

“Kamu kurusan, ya, Cha,” Rafka berkomentar.

“Masa?”

“Iya. Kayaknya kamu lebih tirus.”

“Kayaknya doang,” balas Vita.

Vita pindah ke bagian dagu. Sudah berlalu lebih dari semenit saat Rafka membicarakan kekurusannya. Ia tak suka membahas topik kesehatan jasmani dirinya. Ia saja belum tahu pasti ada apa dengan dirinya, kepalanya tepatnya.

“Seandainya, Raf,” Vita menurunkan tangannya, “seandainya papa kamu minta maaf, kamu mau maafin?”

“Gak tahu,” jawab Rafka enteng.

*** 

1
Ochi_Ara Alleta
aku kira Vita bakalan gak ada gara2 penyakitnya,tapi gak nyangka banget dia gak ada gara2 kecelakaan pasca lolos dari penyakit kronisnya☹️ini drama mengaduk aduk perasaan banget...menguras emosi,menguras air mata di ujung cerita
Ochi_Ara Alleta
ini skenario terburuk yang pernah kamu buat kak....tapi aku tetep like karya kamu.jahat banget lho kak kamu......
Ochi_Ara Alleta
kok jadi drama kayak gini sih kak😭😭😭😭
Ochi_Ara Alleta
kak Vita sedang berjuang dengan penyakitnya,vindhy....
Ochi_Ara Alleta
gak bisa bayangin,seandainya Vita pas udah gak ada tapi mereka pada belum baikan.....bakal semenyesal kayak apa temen2nya😭😭.waktu gak bisa diputar kembali
Ochi_Ara Alleta
berarti ini yang kemarin Vita kasih tau ke rafka ya???
soal rahasia
gak sebuah rahasia cuma selama ini gak ada yang nanya,jadi gak ada yang tau
Ochi_Ara Alleta
nangis kejer we😭😭😭😭😭😭
ternyata Vita anak angkat,pantes Bu Helena ke vita dah kayak ibu tiri
Ochi_Ara Alleta
kak Uci ini pindah lapak berbayar???apa emang udah gak nulis cerita lagi ???
lihat dr profil nya kak Uci banyak cerita gak sampai ending.
padahal bagus banget lho karya2 dari kak Uci ini....pemilihan katanya oke,penataan kosakata-good,sama perbendaharaan katanya tuh banyak,ceritanya tuh jadi kaya karya penulis2 profesional tau gak.berkelas gitu.
wajib dicetak kedalam buku kak....kaya karya2 kak shephinasera bagus2 semua.
sayang ya q baru sekarang nemu karya sebagus ini....telat banget
Ochi_Ara Alleta
next karya ke-2 dr kak Uci yg aq baca❣️❣️❣️
Ochi_Ara Alleta
sad ending😭😭😭
Trusthi Widhi
keren pake bangett😍💝
yul,🙋🍌💥💥💥
ceritanmu kenapa tidak ada oksiginya thor.. bikin aq sesak nafas...
yul,🙋🍌💥💥💥
hik hik hik
MWi
sukaa
MWi
sukaaa
MWi
sukaaaa
MWi
like
Suri Hadassa
Buka Hati sudah mendaratkan jempolnya ❤️❤️❤️

jangan lupa feedbacknya 😊🙏😊

semangat up Thor 💪💪
Ruliyah Yu Yah
makasih thor udah nurutin emak2 kayak kita buat nerusin ceritanya biarpun yg ngasih jempol dikit.cumungut ya thor lupyuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍
Pitara Lusiana: Thank u udah mau nyempetin baca cerita gak jelas ini
total 1 replies
yul,🙋🍌💥💥💥
sedih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!