NovelToon NovelToon
The Shadow For Revenge

The Shadow For Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Akademi Sihir / Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aliet's

Di tempat semua orang yang sedang berjuang demi mengubah masa depan, hanya beberapa anak yang tengah berjuang demi membalaskan dendam. Ini adalah akademi bagi para bangsawan yang ingin mengubah masa depan dan memperjuangkan kemerdekaan mereka.

Pembantaian keji terhadap keluarga ternama dengan pasukan militer yang kuat, kini hanya tersisa nama. Sebagai satu-satunya yang terselamatkan, ia mengambil langkah untuk membalaskan dendam keluarganya. Panah api itu tak kunjung berhenti menembak, bangunan besar itu kini dilapisi oleh api, di setiap penjuru bangunan penuh dengan api dan asap.

Matanya membulat sempurna, wajahnya menegang, jari-jari kecilnya bergerak perlahan, kakinya melangkah ke depan, hanya satu langkah sebelum seseorang menahannya dari belakang. Satu tangannya terulur ke depan, berharap ini hanyalah mimpi. Kini pandangannya gelap setelah seseorang di belakangnya mulai menutup pandangan nya.

5 Tahun setelah Tragedi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliet's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34. Balas Dendam kecil (11)

Elouis mengangkat sudut bibirnya, mengulas sebuah senyuman tipis nan anggun—sebuah senyuman diplomatis yang tak tersentuh emosi.

​"Tentu saja... jika Anda sanggup memberikan sesuatu yang bisa dianggap 'setara' dengan potensi dan kekuatan kelompok kami," balas Elouis tenang.

​Ia menatap lurus ke dalam manik mata sang pangeran tanpa gentar sedikit pun. "Apa yang sekiranya sanggup Anda berikan kepada kami sebelum Anda memutuskan untuk mengubah keputusan tersebut, Yang Mulia?"

​Dominic terkekeh pelan. Ia bersandar pada kursi kayu perpustakaan, mengamati persona Elouis yang begitu tenang dan penuh perhitungan. Rasa tertariknya bukannya surut, melainkan kian membara.

​"Penawaran yang berani, Lady Elouis," sahut Dominic dengan nada suara yang merendah, sarat akan karisma penguasa. "Sebuah perlindungan mutlak dari pengaruh faksi bangsawan tinggi di ibu kota, akses penuh ke perpustakaan rahasia Kekaisaran, serta kebebasan penuh bagi kelompokmu setelah lulus dari akademi ini... Apakah semua itu belum cukup untuk menebus kesetiaan Shadow Eagle?"

Elouis tidak langsung menjawab. Jemari lentiknya kembali membelai pinggiran kitab kuno di mejanya sebelum ia mengangkat pandangan.

​"Yang Mulia... sepertinya Anda menilai kami dengan cara yang umum digunakan oleh para bangsawan," pangkas Elouis dengan nada suara yang teramat dingin dan mantap.

​"Kami tidak ingin terikat oleh apa pun, dan kami tidak akan pernah tunduk pada wewenang yang digunakan sebagai penekan. Kami bergerak selaras dengan bayangan... tanpa perlu diperintah, kami melakukan apa yang seharusnya kami lakukan."

​Dominic terdiam, senyumnya perlahan memudar menggantikan rasa terkejut akan ketegasan sang gadis.

​"Jika Anda memang menginginkan kami," sambung Elouis seraya berdiri anggun di hadapan Dominic, "cobalah Anda membangun citra Anda sendiri tanpa mengandalkan wewenang tersebut. Kami hanya akan menilai seseorang yang benar-benar pantas untuk dijadikan sebagai tuan."

Dominic terkekeh pelan. Ia menangkup separuh wajahnya dengan telapak tangan, menatap Elouis dipenuhi rasa ketertarikan yang begitu kuat dan intens.

​"Kau benar-benar membuatku terpikat oleh bakatmu yang sanggup menyatukan anak-anak berbakat seperti mereka," ucap Dominic. "Baiklah... apakah aku bisa menganggap hal ini sebagai sebuah taruhan di antara kita?"

​Elouis mengangguk pelan tanpa ragu. "Hal tersebut sepenuhnya tergantung bagaimana Anda menanggapi apa yang baru saja saya katakan, Yang Mulia," balas Elouis tenang.

​"Haha, tentu saja... aku paham maksudmu," Dominic pun bangkit berdiri, menyisakan suara derit pelan dari kursi kayu yang terdorong ke belakang.

​Ia merapikan baju pelapisnya sejenak, lalu menatap Elouis dengan binar mata yang sarat penekanan. "Aku sangat menantikan masa depanmu, Lady Elouis. Dan... aku sungguh menginginkanmu untuk menjadi bayanganku saat kita kembali bertemu di masa depan nanti."

​Tanpa menunggu balasan lagi, Dominic berbalik dan melangkah pergi meninggalkan sudut perpustakaan itu begitu saja.

Sepeninggal sang pangeran, Elouis menghela napas panjang yang telah ia tahan sejak tadi, menghempaskan kembali tubuhnya ke sandaran kursi.

​"Menjengkelkan... Inilah alasan mengapa aku harus jauh lebih berhati-hati mulai sekarang," gumamnya pelan pada diri sendiri seraya kembali membuka catatan sihir kunonya di bawah pendar redup lampu perpustakaan.

Di tempat terpisah, pada jam yang sama, riuh bisik-bisik para siswa di ruang kelas reguler terdengar begitu jelas menusuk telinga. Pemuda bernama Darrius itu hanya mampu menundukkan kepalanya dalam-dalam, mengepalkan kedua tangan di bawah kolong meja demi menahan amarah yang membakar dadanya.

​"Eghh... Ini adalah hal paling sial, berada di kelas yang sama dengan sang pembuat onar," bisik seorang murid di barisan belakang.

​"Sstt... Pelankan suaramu! Nanti kau bisa-bisa dipukul seperti kejadian di kantin waktu itu!" tegur temannya seraya melirik jijik ke arah Darrius.

​"Apa peduliku? Apakah dia akan menggunakan wewenang keluarganya lagi untuk membalas kita?" pangkas siswa lain dengan nada meremehkan.

​"Hah... Dia kan hanya pandai berlindung di balik nama ibunya yang dekat dengan sang Permaisuri. Lalu, untuk apa kita harus takut padanya?" timpal murid lainnya disertai dengus tawa.

​"Benar sekali! Mungkin sebentar lagi dia akan menulis surat dan mengadukan hal ini pada ibunya...!" kekeh seorang siswa pelan, disambut tawa tertahan dari yang lain.

"Heii... Aturan akademi ini tidak mengizinkan pihak luar untuk ikut campur dalam permasalahan antar siswa," sela siswa lain menimpali. "Dia tidak akan sanggup mengadukan apa pun ke luar dari gerbang ini..."

​"Aku benar-benar kasihan pada Albert yang dipukul hingga meringkuk ketakutan saat di kantin tadi..." gumam seorang siswi dengan raut prihatin.

​"Mungkin diam-diam Albert sering dijadikan samsak oleh monster itu! Mulai sekarang, kita harus melindungi Albert dari dirinya!" bisik-bisik murid lainnya yang kian menyudutkan.

​Setiap bait bisik-bisik beracun itu merayap masuk, menghancurkan harga diri dan mental Darrius hingga berkeping-keping. Jemari tangannya meremas kain celananya begitu kuat hingga memutih. Urat-urat di lehernya menegang hebat, menahan gejolak amarah, kekecewaan, dan rasa terasing yang kini membakar dadanya di batas kemampuan.

Saat jam makan malam usai, para siswa akademi kembali pada kesibukan dan kegiatan mereka masing-masing.

​Di satu sudut akademi, Vincent bergerak cepat menemui dua sosok kandidat yang akan menggantikan posisinya demi menjalankan tugas khusus yang sebelumnya telah diamanatkan oleh Elouis.

​Sementara itu, di dalam laboratorium sihir yang remang, Edith baru saja menyelesaikan pembuatan beberapa racikan ramuan khusus. Di sudut ruangan yang sama, Eric tampak menyandarkan tubuhnya santai di atas bangku panjang, menanti sang rekan menyelesaikan pekerjaannya.

​"Huft... Akhirnya selesai juga. Kau bisa memberikan ramuan ini pada 'mereka' sekarang," bisik Edith seraya membungkus beberapa serbuk obat dengan kertas khusus bernoda tanda merah di bagian ujungnya. "Ini sudah disesuaikan dengan takaran yang tepat. Berikan ini sehari dua kali."

​Eric segera beranjak dari posisinya dan melangkah mendekati meja racik Edith. Ia mengulurkan tangan, menerima bungkusan obat bertanda merah tersebut dari jemari Edith.

1
Miu.Nuha
yaahh selesai deh, padahal lagi tegang2nya...
Miu.Nuha
mereka bisa bercakap2 dgn saling batin begitu? hebat juga ya 👍 seperti esper gitu...
Miu.Nuha
ada untungnya ya El
tpi kamu harus tetap waspada dn jaga dirimu baik2 👍
-Thiea-
dia udah siap sepenuhnya menghadapi ujian apapun. udah ditempa dari kecil soalnya.
-Thiea-
terlalu banyak basa-basi. mending langsung mulai aja. udah gak sabar di elouis.
Filan
kak, ini panjang banget. apa 2500?
ali: tambah 3 kak.. aku kebablasan nulisnya
total 3 replies
Mingyu gf😘
Ayoo, kamu pasti bisa, demi membalas darah kedua orang tuamu
Filan
tegang sekali saling mengintai
Mingyu gf😘
Bersyukur masih ada pengawal setia yang mau menolong satu satunya anggota keluarga yang tersisa
Filan
waduh, berburu
Filan
mau ngapain bocah malam-malam. sibuk amat bukannya tidur.
Myz Pena
semoga aja kael dan kezil kawan yang baik untuk elois
Myz Pena
Vincent ternyata kemampuannya hebat juga ya...
ginevra
iya sih kalian terlalu lama tatap2an. ayolah gas dimulai kelasnya
ginevra
terus gimana Lou? mending di tengah2 kan ya
Xlyzy
yey kalian satu kelas aman deh kalau gutu
Three Flowers
banyak yang kembar karena lahir dari ras binatang ya?
ali: iyaa kakk, aku riset dulu sebelum bikin cerita ini hehe
total 1 replies
Three Flowers
kukira Noah itu laki-laki, ternyata perempuan
Three Flowers
memang sesuatu banget kalo sekelas sama bestie🥳
Myz Pena
rasain si carlo akhirnya bisa kalah juga 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!