NovelToon NovelToon
Jalan Dewa Kehampaan

Jalan Dewa Kehampaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Di Benua Timur, kekuatan mutlak adalah hukum tertinggi, dan mereka yang tidak bisa berkultivasi hanyalah debu yang pantas diinjak-injak. Lin Tian, Tuan Muda dari Klan Lin, harus menanggung kehinaan selama bertahun-tahun karena cacat bawaan pada meridiannya. Takdirnya mencapai titik terkelam ketika ia dikhianati, disergap oleh pembunuh bayaran suruhan sepupunya, dan dilemparkan ke dasar Jurang Hukuman yang mematikan.
​Namun, jurang itu bukanlah akhir, melainkan awal yang baru.
​Di ambang kematian, darah dan tekad Lin Tian yang pantang menyerah membangkitkan sebuah artefak kosmis yang bersemayam dalam dirinya—Mutiara Kehampaan. Tubuh fananya dihancurkan dan ditempa ulang, meridiannya disucikan, dan ia mewarisi Teknik Kultivasi Kehampaan Sembilan Langit, sebuah kekuatan tabu yang ditakuti oleh alam semesta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Memutus Sungai Bintang

​Melihat mangsa sekecil semut berani menantangnya secara langsung, Kobra Api Bersisik Besi meraung marah. Rahangnya yang mampu menelan sebuah kereta kuda terbuka lebar, memperlihatkan taring melengkung yang meneteskan bisa magma.

​BOOOM!

​Sebuah pilar api bercampur lava beracun menyembur dari mulut ular raksasa itu, melesat bagaikan meteor jatuh ke arah Lin Tian yang sedang melayang di udara. Hawa panas dari serangan itu bahkan membuat ruang di sekitarnya tampak terdistorsi.

​Di atas tebing, mata Mu Qingxue membelalak. Semburan api itu mengandung racun api tingkat tinggi; bahkan pelindung Qi miliknya yang ber-elemen es murni akan butuh waktu untuk menetralkannya.

​"Dia mati," batin Mu Qingxue, bersiap melompat turun untuk menyelamatkan sisa jasad pemuda itu demi Teratai Api Neraka.

​Namun, di tengah pilar magma yang membutakan itu, seberkas cahaya hitam keunguan meledak bagaikan gerhana matahari yang menelan cahaya.

​"Tebasan Pertama: Pembelah Bayangan!"

​Suara Lin Tian terdengar sedingin es di tengah neraka api.

​Sebuah garis hitam tipis melesat dari bilah pedang besi standarnya. Garis itu tidak memantulkan api, melainkan menelannya. Pilar magma raksasa itu terbelah dua dengan sangat rapi dari tengah, melewati sisi kiri dan kanan tubuh Lin Tian tanpa menghanguskan sehelai benang pun dari pakaiannya.

​Bukan hanya itu, pusaran di Dantian Lin Tian berputar gila-gilaan, menyerap energi api murni dari semburan lava tersebut saat melewati tubuhnya.

​Lin Tian menembus celah api itu dan mendarat tepat di atas punggung Kobra Api.

​Hissss!

​Kobra raksasa itu terkejut mendapati mangsanya masih hidup dan kini berada di titik butanya. Dengan insting buasnya, ekor raksasanya yang sekeras baja menyapu udara dengan kecepatan kilat, menghantam lurus ke arah punggung Lin Tian.

​Lin Tian tidak memiliki ruang untuk menghindar di udara. Ia memutar tubuhnya, menyilangkan lengan kirinya di depan dada untuk menahan hantaman.

​BAM!

​Suara benturan tumpul bergema di seluruh kawah. Tubuh Lin Tian terhempas dari punggung ular itu bagaikan peluru kanon, meluncur deras dan menghantam pilar batu di tengah lautan lava hingga batu itu retak parah.

​"Kekuatan fisik yang lumayan," Lin Tian mengusap darah yang merembes di sudut bibirnya. Lengan kirinya mati rasa, namun tulang Pondasi Bumi-nya sama sekali tidak retak. "Tapi sisikmu itu menyebalkan."

​Menyadari musuhnya masih berdiri, Kobra Api semakin murka. Ia meliuk di atas lautan lava, menerjang maju untuk menggigit Lin Tian.

​Lin Tian melirik pedang besi hitam di tangan kanannya. Pedang biasa buatan sekte itu kini memerah karena menahan suhu lava dan dipaksa menyalurkan Qi Kehampaan. Retakan-retakan kecil mulai muncul di bilahnya.

​"Pedang fana ini tidak akan bertahan untuk serangan kedua. Aku harus mengakhirinya dalam satu tebasan," gumam Lin Tian.

​Ia menutup matanya sesaat. Lautan Qi Kehampaan di Dantiannya bergemuruh hebat, menciptakan ombak energi hitam-ungu yang merambat naik melalui meridiannya, membanjiri lengan kanannya, dan menyelimuti pedang besi yang retak itu.

​Aura di sekitar Lin Tian berubah drastis. Jika sebelumnya ia seperti pendekar yang tajam, kini ia terasa seperti lubang hitam yang siap menelan galaksi. Udara panas di kawah mendadak terasa membeku oleh niat membunuh yang murni.

​Kobra Api yang sedang melesat maju tiba-tiba merasakan teror purba yang membuat insting binatangnya menjerit. Ia mencoba mengerem lajunya dan mundur, namun jarak mereka sudah terlalu dekat.

​Lin Tian membuka matanya. Sepasang pupil ungunya memancarkan dominasi mutlak.

​"Seni Pedang Penelan Langit..."

​Ia mengangkat pedangnya perlahan. Di mata Mu Qingxue yang menonton dari jauh, gerakan Lin Tian terlihat sangat lambat, seolah waktu di sekitar pemuda itu berhenti. Namun kenyataannya, itu adalah tekanan hukum kosmis yang membebani ruang itu sendiri.

​"...Tebasan Kedua: Pemutus Sungai Bintang!"

​Lin Tian mengayunkan pedangnya secara horizontal.

​Tidak ada ledakan Qi yang meriah. Tidak ada proyeksi harimau atau naga. Hanya sebuah busur sabit berwarna kegelapan murni berukuran lima meter yang melesat keluar. Saat sabit hitam itu bergerak, udara dan cahaya di sekitarnya seolah tersedot ke dalamnya, meninggalkan jejak kehampaan mutlak.

​Sabit hitam itu menghantam leher Kobra Api Bersisik Besi—bagian di mana sisiknya paling tebal dan paling keras.

​Srekk...

​Suara sobekan pelan terdengar. Sisik besi yang dibanggakan monster Tingkat 2 Puncak itu sama sekali tidak berguna. Sabit kegelapan itu menembus sisik, daging, dan tulang tulang belakang kobra raksasa tersebut tanpa perlawanan, menelan daya hidup makhluk itu di titik serangannya.

​Tubuh kobra raksasa itu menegang kaku di udara. Sedetik kemudian, kepala sebesar rumah itu tergelincir dari lehernya, jatuh berdebum ke dalam lautan lava, menciptakan cipratan magma setinggi puluhan meter. Darah panas yang menyembur dari lehernya mengering seketika sebelum sempat menetes akibat energi kehampaan yang membakar sisa lukanya.

​Monster buas penunggu Reruntuhan Magma... mati dalam satu tebasan!

​Krak... PRANG!

​Pedang besi hitam di tangan Lin Tian akhirnya hancur lebur menjadi debu abu, tidak mampu lagi menanggung sisa energi kosmis dari tebasan tersebut.

​Lin Tian tidak mempedulikan pedangnya yang hancur. Dengan satu lompatan ringan menggunakan Tiga Langkah Hantu Kehampaan, ia melesat ke arah tubuh kobra yang mulai tenggelam. Tangannya menembus dada ular raksasa itu yang sudah terbelah, menarik sebuah kristal merah menyala seukuran kepalan tangan orang dewasa.

​Inti Binatang Iblis Kobra Api Tingkat 2 Puncak! Harta karun yang bisa membuat para tetua sekte memperebutkannya!

​Lin Tian menyimpannya ke dalam Cincin Penyimpanannya dengan senyum puas. Ia kemudian melompat ke pulau batu di tengah dan memetik Teratai Api Neraka beserta akarnya dengan hati-hati, memasukkannya ke dalam kotak giok khusus agar energi apinya tidak bocor.

​Semua misi terselesaikan dengan sempurna.

​Di atas tebing, Mu Qingxue berdiri mematung. Jubah Es Ilusi-nya bergetar ringan seiring dengan ritme napasnya yang tidak beraturan.

​Satu tebasan... batinnya berteriak kaget. Dia membunuh Kobra Api dengan satu tebasan pedang besi fana?! Kekuatan gelap macam apa itu? Itu bukan Qi iblis, itu terasa seperti... ketiadaan.

​Sebagai peringkat kedua Murid Inti, Mu Qingxue telah melihat banyak jenius. Ia sendiri bisa membunuh Kobra Api itu, tetapi ia butuh waktu untuk merapal Formasi Es Surgawi demi menembus sisiknya. Apa yang dilakukan pemuda ini benar-benar melanggar logika alam kultivasi.

​Dan dia baru di tahap Pondasi Bumi awal! Jika dia mencapai Inti Emas... tidak, aku tidak boleh memikirkan itu sekarang. Teratai Api Neraka ada di tangannya, pikir Mu Qingxue, menggigit bibirnya. Ia harus bernegosiasi dengan pemuda itu, berapa pun harga Batu Roh yang dimintanya.

​Ia baru saja hendak mematalkan sihir penyamarannya, ketika suara Lin Tian tiba-tiba menggema, menembus deru lava.

​"Pertunjukannya sudah selesai. Berapa lama lagi kau mau bersembunyi di atas sana, Senior Mu?"

​Jantung Mu Qingxue berdegup kencang. Ia terkesiap. Dia bisa merasakanku?! Jubah Es Ilusi ini adalah artefak spiritual tingkat tinggi! Bahkan Utusan Zhao tidak menyadari kehadiranku di Paviliun Misi tadi!

​Di pulau batu di bawah sana, Lin Tian berdiri santai dengan tangan di belakang punggung, menatap lurus ke arah pilar batu tempat Mu Qingxue bersembunyi. Matanya yang tajam seolah menembus segala bentuk ilusi di dunia ini.

​Mutiara Kehampaan dapat merasakan riak energi dari segala jenis hukum alam, termasuk ilusi penyembunyian. Ketiadaan tidak bisa ditipu oleh tipuan cahaya atau es.

​Menyadari ia tidak bisa lagi bersembunyi, Mu Qingxue menarik kembali Qi ke dalam pelindung esnya. Sosoknya yang anggun perlahan muncul dari udara kosong. Berbalut gaun sutra es putih, ia melayang turun layaknya bidadari salju yang turun ke neraka, mendarat dengan anggun di atas pilar batu hitam, sekitar sepuluh meter dari Lin Tian.

​Hawa dingin yang memancar dari tubuhnya membuat lava di sekitarnya mendesis dan perlahan mendingin menjadi batu obsidian.

​"Kau menyadari keberadaanku sejak awal?" tanya Mu Qingxue, suaranya tetap sedingin es, meski ada riak keraguan di dalam matanya.

​Lin Tian tersenyum tipis. "Jubah ilusi milikmu sangat bagus untuk memanipulasi Qi dan cahaya. Sayangnya, kau tidak bisa menyembunyikan hawa dingin yang kau bawa, dan kau tidak bisa membisukan detak jantungmu dari kehampaan."

​Mu Qingxue menghela napas tipis. Ia menatap kotak giok di tangan Lin Tian.

​"Aku menarik kembali kata-kataku di Paviliun Misi, Adik Kelas Lin Tian. Kemampuan tempurmu jauh melampaui tingkat kultivasimu," ucap Mu Qingxue jujur. Di dunia kultivator, kekuatan akan selalu memaksa penghormatan. "Namun, aku datang bukan untuk mencari masalah. Aku ingin membuat kesepakatan denganmu."

​Lin Tian menimbang kotak giok itu di tangannya. "Biar kutebak. Kau menginginkan Teratai Api Neraka ini untuk menekan Yin di tubuhmu agar kau bisa menerobos ke tahap Inti Emas tanpa merusak meridianmu?"

​Mata Mu Qingxue melebar, ketenangan esnya sedikit retak. "Bagaimana kau—"

​"Hanya tebakan," potong Lin Tian santai.

​"Lalu, apa yang berani kau tawarkan untuk menukar nyawa kedua-mu ini, Senior Mu?" tanya Lin Tian, matanya berkilat penuh perhitungan.

1
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Makjlebz
hadad fernandez khan
lanjut tor👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!