Di Kerajaan Awan, Kaisar muda bernama Jing Yan difitnah dan dibunuh secara keji oleh Tang Long, seorang Kultivator Pedang dari Sekte Pedang Roh Biru, dan Fang Zhelan, putri Perdana Menteri yang berkhianat demi merebut takhta. Keluarga Fang lalu mengambil alih kerajaan, mencoreng nama baik Jing Yan selamanya.
Namun, kematian bukanlah akhir bagi Jing Yan. Jiwanya ditarik ke dalam Peti Mati Perunggu Kuno milik seorang Pencipta Immortal yang telah mati. Dengan menggunakan sisa kulit sang Immortal, Jing Yan bereinkarnasi ke dalam tubuh baru yang sempurna. Ia ditemani oleh dua kesadaran dalam satu makhluk kecil bernama Bintang Biru dan Bulan Merah—yang merupakan jelmaan dari peti mati tersebut.
Jing Yan mengetahui bahwa ia mewarisi kekuatan Pencipta Immortal. Untuk menjadi kuat, ia harus mengumpulkan Benih Ciptaan, yaitu fragmen kekuatan sang Immortal yang tersebar di seluruh dunia. Tujuan utamanya: membalas dendam kepada Tang Long dan Fang Zhelan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 - Mau Minum?
Malam terasa begitu memikat. Sebuah sosok berpakaian putih melesat melewati hutan yang sunyi, menggendong seorang wanita berbaju hitam di kedua lengannya.
Di tengah pekatnya malam, wajah wanita itu selembut kelopak bunga persik, sementara napasnya membawa aroma harum anggur. Ia benar-benar mabuk. Kedua tangan lembutnya melingkari leher pemuda itu dengan malas. Pinggangnya yang ramping begitu lentur dan lekuk tubuhnya memancarkan pesona, membentuk pemandangan yang begitu memikat.
Namun, sesaat kemudian, sebuah mulut raksasa yang menganga. "Pencipta, bolehkah aku mengintip ke balik pakaiannya? Bagaimana kalau dia sedang menyusui? Ayolah, kumohon...?!"
Jing Yan merasa hampir kehilangan kesabaran.
"Diam! Jangan keras-keras! Dia cuma mabuk, bukan mati!" bisiknya panik, keringat mulai membasahi dahinya. "Masalah macam apa lagi yang kudapatkan ini?"
"Pencipta, aku mengerti! Kau ingin memilikinya sendirian!" Bulan Merah mengembuskan pipinya dengan kesal.
Jing Yan hanya menghela napas panjang. Di tengah embusan angin malam yang sejuk, ia menunduk menatap wanita dalam pelukannya. Wanita itu sungguh memikat. Sambil bergumam pelan, ia memeluk Jing Yan semakin erat hingga kukunya sedikit menekan lehernya.
"Kakak Senior... Kakak Senior..." gumamnya lirih, suaranya dipenuhi ketakutan. "Jangan pergi ke Tanah Tandus Utara... Jangan pergi..."
Air mata perlahan menggenang di sudut matanya. Wajahnya dipenuhi penderitaan, seolah sedang terjebak dalam mimpi buruk.
"Ayah! Jangan tinggalkan aku sendirian!" serunya lirih. "Gunung Jurang Kegelapan... Bendera Tetes Biru! Kapan... kapan kalian semua akan pulang?"
Mendengar gumamannya, Jing Yan menyadari bahwa wanita itu sedang mengungkapkan luka lama, tragedi yang terkubur jauh di dalam hatinya.
Tak lama kemudian mereka pun tiba di kediamannya.
Saat mendongak, Jing Yan melihat sebuah papan kayu bertuliskan Kediaman Awan Kecil. Ia menendang pintu halaman hingga terbuka lalu berjalan menuju ruangan yang masih diterangi cahaya lilin.
Halamannya ditata dengan sangat anggun. Berbagai tanaman tumbuh di sekelilingnya, sementara di sisi selatan terdapat sebuah kolam tempat beberapa ikan koi berenang. Di sisi utara berdiri sebuah pohon osmanthus dengan lentera-lentera putih yang tergantung di dahannya, memancarkan bayangan yang saling bertumpuk di atas meja batu di bawahnya. Ruangan di dalam rumah justru sederhana. Hanya ada sebuah bantalan meditasi, ranjang kayu berukir, dan sisanya dipenuhi rak-rak buku.
Dengan langkah ringan, Jing Yan membaringkan wanita itu dengan hati-hati di atas ranjang.
Ia baru saja hendak berbalik pergi ketika sebuah suara yang serak namun lembut terdengar dari belakangnya.
"Mau minum?"
Jing Yan menghentikan langkahnya. Wanita itu sudah duduk sambil memijat pelipisnya, memicingkan mata ke arah Jing Yan.
"Aku hanya minum arak yang berkualitas," ujar Jing Yan.
"Di bawah pohon osmanthus di bagian utara halaman ada arak Putri Merah yang kusimpan. Mau mencobanya?" tawarnya. Sambil sedikit terhuyung, ia berjalan menuju pintu.
"Arak Putri Merah?" tanya Jing Yan.
Ia mengenal nama itu. Bukankah itu arak yang biasanya disimpan untuk pernikahan seorang putri, dikubur sejak ia lahir dan dibiarkan matang selama belasan tahun hingga hari pernikahannya? Arak itu termasuk minuman yang sangat berharga.
"Sepertinya aku tidak akan pernah memerlukannya lagi. Daripada terbuang sia-sia..." katanya sambil tersenyum.
"Sudah berapa lama disimpan?" tanya Jing Yan.
"Cukup lama," jawabnya singkat, sengaja menghindari pembicaraan mengenai usianya. Lagi pula, Arak Putri Merah memang biasanya dikubur sejak seorang anak perempuan dilahirkan.
Jing Yan mengakui bahwa setelah tiga bulan tidak menyentuh setetes pun arak, keinginannya untuk minum sudah mencapai puncaknya. Benar, ia memang sangat menyukai minuman keras.
Tanpa ragu, ia berjalan menuju sisi utara halaman. Di bawah pohon osmanthus itu, ia menggali tanah dengan kedua telapak tangannya. Saat debu tersibak, tampaklah deretan kendi arak yang dibuat dengan indah, sementara aroma arak yang kaya langsung menyebar ke seluruh halaman.
"Sebanyak ini?" Jing Yan menoleh ke arahnya dengan tatapan kagum.
"Ayahku berkata bahwa aku memiliki takdir yang agung, jadi dia mengubur lebih banyak," jelasnya.
Dengan anggun ia berjalan mendekat, lalu duduk di bangku batu sambil bersandar pada meja batu persegi. Tatapannya tetap tertuju pada Jing Yan.
"Keluarkan semuanya," perintahnya.
Menggunakan teknik kultivasinya, Jing Yan mengeluarkan seluruh kendi Arak Putri Merah dan meletakkannya di atas meja batu hingga menumpuk menjadi satu.
Lalu ia duduk berhadapan dengannya.
"Minumlah. Tak perlu sungkan-sungkan," ajaknya.
Sambil tersenyum, ia mengambil sebuah kendi dengan sedikit sempoyongan, membuka tutupnya, lalu langsung meneguk arak berwarna keemasan itu.
"Bersulang." Jing Yan mengangguk. Ia tetap duduk dengan sikap tenang dan tidak menatap wanita itu secara langsung. Pandangannya justru mengarah ke Pegunungan Roh Biru yang diselimuti malam, sambil meneguk araknya dalam-dalam.
Keduanya memilih diam, membiarkan arak mengisi kekosongan di antara mereka.
Sementara Jing Yan larut memandangi luasnya malam, wanita itu menyesap araknya perlahan, mengenang berbagai pengalaman hidup yang telah ia lalui.
Araknya benar-benar luar biasa! Bertahun-tahun diperam di dalam tanah hingga mencapai cita rasa sempurna.
Satu kendi...
Dua kendi...
Sepuluh kendi...
Wanita itu sama sekali tidak pelit, dan Jing Yan pun minum tanpa menahan diri. Permukaan meja batu mulai basah oleh arak yang tumpah, sementara kendi-kendi di atasnya satu demi satu menjadi kosong.
Karena pengaruh arak, wajah Jing Yan mulai memerah. Matanya memancarkan cahaya liar, sementara semangat membara memenuhi dadanya.
"Orang-orang yang kubunuh. Kau melihat semuanya, bukan?" Setelah menghabiskan satu kendi lagi, ia mengangkat alis sambil memandang wanita cantik yang tampak nyaris tak mampu menopang tubuhnya dari meja batu.
Wanita itu hanya tawa konyol.
"Dalam segala urusan di dunia ini, semuanya bisa diselesaikan dengan seguci arak," katanya sambil mendorong sebuah kendi lagi ke arah Jing Yan.
"Bersulang!" serunya.
"Kalau begitu, habiskan." Setelah pengaruh arak semakin terasa, Jing Yan mulai lebih terbuka. "Tadi kau sudah mabuk sekali. Kali ini jangan terlalu banyak minum," sarannya.
"Aku tidak mabuk!" balasnya dengan nada manja dan menggoda. Ia menepuk meja batu lalu menantang, "Apa? Kau takut kalah sampai mulai cari alasan?"
"Omong kosong!" Jing Yan menepuk dadanya dengan bangga. "Dulu, saat usiaku baru dua belas tahun, aku sudah membuat para prajurit tumbang karena minum! Semangat minumku bahkan membuatku dijuluki Pahlawan Muda Tak Terkalahkan!"
"Aku tidak melihatnya sendiri. Jadi aku tidak percaya!" katanya sambil tertawa kecil.
"Tak perlu percaya. Wanita memang berpandangan sempit dan berhati dingin! Apa yang kalian tahu soal nikmatnya minum?" balas Jing Yan sambil menggerakkan tangannya dengan bersemangat.
"Berani sekali kau meremehkan wanita? Dasar bajingan. Kau pikir bisa mengalahkanku dalam adu minum?"
"Siapa yang takut padamu? Ayo saja!"
"Aku akan membuatmu tumbang lebih dulu!"
Kepala Jing Yan mulai terasa berat. Perutnya serasa dipenuhi lahar yang mendidih, sementara dunia di sekelilingnya berputar. Pada saat itu, satu-satunya yang masih dapat ia lihat dengan jelas hanyalah wajah wanita yang memerah karena mabuk serta lentera-lentera putih yang bergantung di pohon osmanthus yang harum.
"Aku tidak boleh kalah!"
…
"Ha... ha..." Entah sejak kapan, Jing Yan sudah duduk di atas meja batu, bersandar begitu dekat dengan wanita cantik yang memikat itu.
Wanita itu mengayunkan kedua kakinya sambil bersenandung pelan. Wajahnya memerah karena mabuk dan terlihat begitu memikat.
Pandangan Jing Yan mulai kabur, hidungnya dipenuhi aroma arak dan harum tubuh wanita di hadapannya. Yang bisa ia lihat hanyalah tingkah mabuk wanita itu yang memesona, serta senyumnya yang begitu menawan.
Hanya tersisa satu kendi arak. Saat Jing Yan dan wanita itu berebut kendi tersebut, tangan mereka saling bertemu dan berpegangan.
KLANG!
Kendi arak itu jatuh dan pecah di tanah.
Tatapan mereka saling bertemu, terkunci dalam sorot mata yang membara. Mata wanita itu bagaikan lautan api yang bergelora, menyala penuh tantangan ke arah Jing Yan. Ujung jari mereka yang saling bersentuhan terasa seperti jembatan yang dipenuhi kobaran api.
"Berani?" godanya dengan tatapan mabuk yang penuh tantangan.
"Ayo saja!" jawab Jing Yan dengan kedua mata yang telah memerah.
"Kalau begitu, ayo!" katanya sambil menarik Jing Yan mendekat.
"Baik!" seru Jing Yan sambil langsung mengangkat wanita itu ke dalam pelukannya.
"Tunggu, sebenarnya apa yang sedang terjadi?" tanya Bintang Biru dan Bulan Merah bersamaan dengan wajah kebingungan.
Sebelum mereka sempat memahami keadaan, Jing Yan sudah mencengkeram keduanya lalu melemparkannya puluhan kaki jauhnya. Mereka menghantam celah di antara dua batu besar hingga hampir saja gepeng.
Keduanya benar-benar tercengang.
"Apa sebenarnya yang sedang terjadi?"