Emily, Ratu Jalanan sekaligus ketua geng Sport Queen, dipaksa memilih antara masuk pesantren atau menikah setelah terus membuat orang tuanya khawatir. Tak disangka, pria yang dijodohkan dengannya adalah Reyze, ketua geng rival Black Lion Riders sekaligus musuh bebuyutannya.
Meski saling membenci, mereka terpaksa menikah diam-diam dan merahasiakan status mereka. Di depan publik mereka tetap rival, tetapi di balik pintu rumah harus belajar hidup sebagai suami istri.
Saat Emily masih terikat dengan pacarnya dan persaingan di dunia balap berubah menjadi ancaman mematikan, Emily dan Rey harus memilih: mempertahankan permusuhan atau memperjuangkan cinta yang perlahan tumbuh di antara mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HyMaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Sedangkan saat ini, Emily tengah bersiap untuk mengantarkan Ruhi atas permintaan Abang Altan. Di depan cermin kamar, tangannya sibuk meratakan concealer ke bagian leher.
“Hhhh… sialan Rey, bekasnya banyak banget,” gumamnya kesal sambil mengetuk ringan spons make up ke kulitnya.
Dia menghela napas panjang. “Apalah daya… udah gue tutupin, tapi tetep aja nggak bisa pakai crop top hari ini,” ucapnya lirih, menatap kecewa ke tumpukan baju yang tergantung di lemari.
Emily akhirnya memilih kaos longgar dengan jaket tipis, menutupi semua bekas yang gagal ia sembunyikan sempurna. Dia merapikan rambut, lalu memandang bayangannya sendiri.
“Yaudah lah… yang penting rapi.ka Ruhi nggak bakal curiga juga kan…” bisiknya sambil menarik napas dalam.
Di jalan depan perumahan komplek yang tak jauh dari apartemen, Emily sudah menunggu di depan gang dengan motor sport hitam kesayangannya.
“Non, masuk aja non. Ruhi masih di dalam,” ucap satpam sambil tersenyum ramah.
Emily menggeleng kecil. “Nggak apa-apa, Pak. Saya tunggu di sini aja. Udah chat Kak Ruhi kok, bentar lagi keluar.”
Tak lama kemudian, Ruhi muncul sambil tersenyum. “Ade, kenapa nggak masuk dulu?” tanyanya, menunduk sedikit.
“Hehe, nggak apa-apa, Kak. Udah sore juga. Ayo, mau jalan sekarang,” jawab Emily singkat, senyum tersungging di bibirnya.
“Oke. Maaf ya, Dek, jadi merepotkan.” Ruhi tampak canggung sambil merapikan rambutnya.
“Nggak apa-apa, Kak. Tenang aja. Namanya juga sama adik ipar,” ucap Emily sambil terkekeh ringan. “Ini juga atas permintaan Abang. Katanya ada rapat terus langsung ke perusahaan, jadi nggak sempet, Kak.”
Ruhi menghela napas. “Padahal kalau dia nggak sempet, Kakak bisa naik gojek aja. Tapi dia malah larang dan nyuruh kamu.”
“Iyalah, Kak. Naik gojek kan sama cowok lain, nanti Abang cemburu. Tahu sendiri kan Abang posesif banget sama Kakak.” Emily melirik singkat ke arah Ruhi, senyum tipis di wajahnya.
Ruhi terkekeh. “Tapi kamu nggak apa-apa jemput aku sore-sore begini? Emang Rey nggak keberatan?”
Emily sedikit tertegun lalu mengangguk. “Loh, Kakak sudah tahu?”
“Hehehe, tahu. Altan yang bilang. Katanya biar aku nggak kaget. Tenang aja, rahasia aman kok.” Ruhi melirik nakal.
Emily tersenyum canggung. “Iya-iya… kan Kakak juga calon kakak ipar aku. Jadi aku percaya kok sama Kakak.”
“Kenapa masih dirahasiakan sih, Dek? Padahal kalian cocok banget, tampan sama cantik,” ucap Ruhi sambil menyunggingkan senyum menggoda.
Emily tersenyum hambar. “Bukan masalah itunya, Kak. Cuman ya… belum siap publish aja.”
Ruhi mengangguk pelan. “Kenapa kamu masih pacaran sama si Alex? Bukannya sudah dilarang Papa sama Ibu?”
“Ih, nggak tahu deh, Kak. Aku udah putusin dari awal aku nikah. Tapi dianya aja tuh yang nggak terima. Masih nganggep aku pacar. Aku sih bodo amat.” Emily mendesah pelan.
“Haha… ya ampun, kecintaan banget kayaknya sama kamu.” Ruhi terkekeh geli.
“Cowok mokondo gitu aku udah muak, Kak,” timpal Emily cepat.
“Ya jelas lah. Kelihatan aja bedanya sama Rey.” Ruhi meliriknya sambil tersenyum lebar.
Emily ikut tersenyum malu. “Hehe… menurut Kakak, Rey itu gimana?”
“Dari segi apanya nih?” Ruhi mengangkat alis. “Kalau dari segi wajah jelaslah lebih tampan Rey. Tapi tetap, tampan Kakak kamu juga, hahaha.”
Emily menahan tawa. “Padahal aku sekelas dari awal kuliah lho sama Rey. Tapi entah kenapa aku dulu masih kepincut sama Alex. Ya gimana ya, pacaran dari SMA.”
“Oh, kamu sekelas sama dia?”
“Iya, sekelas, satu fakultas.”
“Berarti ketemu tiap hari dong sebelumnya?” Ruhi menatap heran.
“Iya. Temen tongkrongan juga. Aku kan suka balapan sama dia.” Emily tersenyum kecil mengingat itu.
Ruhi menoleh, tertawa singkat. “Ceritanya dia itu lawan atau kawan?”
“Hahaha, kalau sekarang sih… suami Kak,” balas Emily sambil mengedipkan mata nakal.
Ruhi spontan tertawa keras. “Aduh, lucu sekali kisah kalian.”
Emily ikut terkekeh.
“Ngomong-ngomong, Kakak kapan married? Pacaran mulu,” tanya Emily iseng.
Ruhi menghela napas sambil tersenyum tipis. “Abang kamu sudah ngajakin. Tapi Kakaknya maunya nanti kalau sudah lulus. Nanggung kan, sebentar lagi.”
“Iya ya… yang penting kan kalian sudah tunangan.” Emily menatap sekilas.
Ruhi mengangguk. “Yang penting orang tua setuju.”
“Hahaha, iya. Tapi aku yakin sih, setelah kalian lulus pasti langsung dirayakan,” ucap Emily mantap.
Ruhi menoleh penasaran. “Lalu kamu kenapa nggak sekalian dirayakan, Dek?”
Emily tersenyum “Kata Ibu sih nanti kalau sudah selesai kuliah. Kalau aku maunya sekarang-sekarang juga bisa, cuman aku belum siap aja.”
“Padahal nanti sekalian aja bareng pengantinnya jadi dua,” canda Ruhi sambil tertawa.
“Hahaha… lucu ya, double wedding,” sahut Emily sambil ikut tertawa.
“Tapi sebenarnya Kakak maunya intimate wedding, Dek.” Ruhi tersenyum tipis.
“Iya sih, lebih enak private ya, Kak.” Emily mengangguk setuju.
“Nah itu… Dek, itu butiknya di depan,” ujar Ruhi sambil menunjuk bangunan kaca.
Emily langsung menepi, menurunkan standar motor sportnya, lalu mematikan mesin. “Oke, Kak. Kita sampai.”
Di lapangan, hari sudah semakin sore. Keringat bercucuran di tubuh mereka, latihan memasuki babak terakhir. Saat peluit tanda istirahat berbunyi, semuanya duduk di ujung lapangan. Ada yang langsung membuka jersey, ada yang mengelap keringat dengan handuk, ada juga yang buru-buru meneguk air putih.
Rey setelah minum, refleks mengangkat bajunya lalu mengelap keringat di wajah dengan bagian kaos. Tapi bukan itu yang membuat kawan-kawannya salfok.
“Mmmpppthhh… hhhhaaa,” Bara langsung terpingkal, menunjuk perut Rey. “Si bos lupa kayaknya nyimpen harta karun di roti sobeknya… hhhaaaa!”
“Hhha iya, anjayy… banyak banget tuh di pinggangnya. Kebayang kan ekspresi si bos,” timpal Gio sambil ngakak.
Rey mendelik sinis, buru-buru menurunkan bajunya lagi. “Asuuuu… kenapa sih lo pada?”
“Bos, siapa sih?” bisik Ezra sambil nyengir lebar.
“Apa nya?” Rey menatapnya dengan kening berkerut.
“Cewek lo siapa…?? Nemu di mana gitu?” Ezra mengangkat alis, suaranya penuh godaan.
“Hhhaa, kepo lo,” jawab Rey ketus, meneguk air lagi.
“Hyperaktif pasti ya, Bos? Ngaku aja deh. Gimana… udah ngerasain?” Bara kembali meledek.
“Apa sihhh,” Rey mendengus, jelas menahan malu.
“Gue cuma pengen tau… cewe lo siapa. Si Lea, pasti ya? Jelas banget tobrutnya,” Gio nyeletuk, tawa nggak berhenti.
Rey mendesah keras. “Sorry, dia bukan tipe gue.”
“Setobrut Eléa bukan selera lo, Bos??” Bara melongo pura-pura kaget.
“Buat lo aja…” Rey mengibaskan tangan malas.
“Loh, kan lo tau, Bos,” Ezra nyeletuk sambil nyengir.
Rey mendadak serius, menatap Ezra. “Lo masih hubungan sama dia, Za?”
Ezra menghela napas, lalu mengangguk kecil. “Hmm… masih berjuang restu.”
“Tapi lo masih belum go public. Temen cewe lo juga nggak ada yang tau soal hubungan kalian, kan?” Rey mengernyit.
“Dia maunya masih stay private. Katanya nanti kalau udah dapet restu baru publish.” Ezra tersenyum tipis.
“Hmmm, semoga deh. Kasian anak orang udah lo kokopin,” Rey menepuk pundaknya sambil tergelak.
“Enak tau, Bos. Hhhaaa.” Ezra menunduk pura-pura malu.
“Sialan lo…” Rey melempar botol kosong ke arahnya.
“Hhhaa, lo juga ketagihan kan, Bos?” Bara kembali menimpali.
“Anjirr… so tau!” Rey memelototinya.
Hhhhaaaaaaaaaaaaaa