"Tiga tahun Surya Prasetyo hidup sebagai menantu yang diinjak-injak. Dicaci maki mertua, dihina saudara ipar, dijadikan budak dapur oleh istrinya sendiri.
Sampai malam itu—malam ulang tahun pernikahan ketiga—dia mendengar semuanya.
Istrinya selingkuh. Istrinya mengincar asuransi jiwa lima miliar. Istrinya sudah menjadwalkan dia sebagai donor ginjal paksa. Dan istrinya... sudah merencanakan kematiannya.
*""Genggam erat-erat tanganku, Pak. Karena ini terakhir kalinya.""*
Dari seorang laki-laki yang tidur di pinggir sungai, Surya bangkit. Lulus ujian advokat. Menghancurkan perusahaan mantan istri. Membangun kerajaan bisnis. Membuat semua orang yang pernah menginjak-injaknya... berlutut.
Tapi balas dendam hanyalah permulaan. Di balik semua ini, ada kekuatan yang jauh lebih besar yang mengawasi setiap langkahnya—dan rahasia terbesarnya tersembunyi di orang yang paling dia percaya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 30: Saudara Angkat
Pabrik Karawang tidak langsung berubah menjadi kerajaan.
Beberapa bulan pertama, ia lebih sering terlihat seperti medan perang. Mesin lama mogok bergantian. Pemasok minta pembayaran lebih cepat karena pemilik baru belum dipercaya. Pekerja lama menguji batas Dewi. Surya bolak-balik dari Sentana ke Karawang, kadang masih memakai kemeja kantor ketika berdiri di dekat tumpukan bahan baku.
Namun pelan-pelan, pabrik itu bernapas.
Dewi belajar membaca laporan produksi. Surya belajar bahwa membeli aset jauh lebih mudah daripada membuatnya hidup. Guntur mengirim teknisi dari Jepara untuk menilai kualitas komponen. Diana membantu memeriksa kontrak pemasok. Meilu sesekali datang malam hari, Sebagai perempuan yang membawa makanan dan menatap Surya seolah ingin memarahinya karena lupa tidur.
Setelah renovasi tahap pertama selesai, Guntur datang seperti badai.
Konvoi lebih dari sepuluh mobil masuk ke kawasan industri. SUV hitam, pickup berisi sampel kayu, mobil staf, dan satu truk kecil membawa papan ucapan selamat. Satpam pabrik sampai berdiri tegak seperti menerima kunjungan menteri.
Guntur turun dari mobil pertama, tertawa lebar.
"Saudara gue buka pabrik, masa gue datang sendirian?"
Dewi yang memakai blazer sederhana hampir kehilangan kata-kata.
Para pemasok yang semula datang hanya karena penasaran langsung mengubah cara berdiri. Nama Guntur Wibisono di Jepara bukan sekadar nama pengusaha. Ia berarti akses ke hotel, resort, proyek vila, dan jaringan kontraktor interior yang biasanya tidak mau melirik pabrik kecil baru. Ketika Guntur berjalan di halaman pabrik seperti pemilik tempat, semua orang tahu pabrik Karawang itu tidak lagi bisa diperlakukan sebagai pemain kecil.
Di halaman pabrik, pekerja, pemasok, dan beberapa calon klien berkumpul. Guntur berdiri di depan mereka tanpa teks.
"Dengar ya," katanya. "Ini pabrik milik Surya Prasetyo dan Mbak Dewi. Mulai hari ini, Wibisono Furnishing memberi kontrak tiga tahun untuk komponen pendukung furnitur custom. Siapa yang macam-macam sama kualitas barang di sini, berarti macam-macam sama gue."
Tepuk tangan meledak.
Bagi pekerja lama, kontrak tiga tahun berarti mesin tidak berhenti bulan depan. Bagi pemasok, itu berarti arus kas. Bagi calon klien, itu berarti pabrik ini punya penjamin reputasi. Surya melihat perubahan itu dalam hitungan detik: orang-orang yang tadi menunggu harga murah kini mulai menawarkan kerja sama.
Dewi maju untuk memberi sambutan. Tangannya gemetar saat memegang mikrofon.
"Saya dulu buruh pabrik," katanya. "Saya tahu rasanya takut salah, takut dimarahi mandor, takut gaji dipotong. Di tempat ini, saya tidak janji semua langsung mudah. Tapi saya janji, kerja yang jujur akan dihargai."
Suara Dewi pecah di akhir kalimat.
Kali ini, tidak ada yang menertawakan getarnya yang jujur itu lagi malam itu.
Surya berdiri di samping panggung kecil, menahan napas. Dulu kakaknya menamparnya di tepi sungai agar ia tidak mati sebagai pria kalah. Hari ini, perempuan itu berdiri di depan puluhan pekerja sebagai Direktur Utama.
Itu kemenangan yang tidak bisa dibeli dengan uang trading mana pun.
Meilu berdiri tidak jauh dari panggung, memakai kemeja putih dan celana gelap, tanpa tanda keluarga Lim, tanpa seragam polisi. Ia datang sebagai dirinya sendiri. Ketika Surya menoleh, ia hanya mengangkat dua jari kecil, seperti memberi hormat diam-diam.
Surya tahu arti tatapan itu.
Ia tidak lagi hanya pria yang harus dilindungi.
Ia mulai menjadi pria yang bisa berdiri di sampingnya tanpa membuat dunia Meilu menunduk malu.
Di antara tamu, seorang pria muda berjas abu-abu memperhatikan mesin potong dengan serius. Wajahnya bersih, sikapnya sopan, dan cara staf di sekitarnya memberi ruang menunjukkan ia bukan tamu biasa.
Ia menghampiri Surya setelah acara.
"Steven Tan," katanya, menjabat tangan. "Dari Tan Group, Surabaya."
Surya mengenali nama Tan Group dari berita bisnis. Keluarga Tan kuat di properti, material bangunan, dan distribusi panel kayu.
"Surya Prasetyo."
"Saya dengar konsep Anda sudah bergerak dari komponen ke full custom interior ke depan."
"Masih rencana."
"Rencana yang punya pabrik biasanya lebih menarik daripada proposal kosong."
Steven berjalan melihat lini produksi. Ia bertanya tentang kapasitas, tingkat cacat, bahan, dan kemungkinan memakai panel engineered wood dari Surabaya. Surya menjawab seperlunya. Dewi ikut menjelaskan spesifikasi teknis sambungan dan toleransi ukuran.
Saat Dewi bicara, Steven berhenti melihat mesin.
Ia melihat Dewi.
Tidak lama. Tidak kurang ajar. Tetapi cukup untuk membuat Surya menangkap sesuatu.
"Mbak Dewi," kata Steven, "boleh saya tanya tentang spesifikasi teknis komponen ini? Saya ingin tahu dari orang yang benar-benar paham lantai produksi."
Dewi agak kikuk. "Boleh, Pak Steven."
"Steven saja."
Guntur yang melihat dari jauh menyenggol Surya. "Itu anak Tan Group mulai cari alasan."
"Alasan bisnis?"
"Awalnya selalu begitu."
Surya pura-pura tidak mendengar, sudut bibirnya bergerak.
Sore itu, Ferdy Susanto datang mewakili Sentana. Ia tidak membawa rombongan besar, hanya satu kotak plakat dan map dokumen. Diana ikut melalui panggilan video karena sedang sidang di Surabaya.
"Saya datang bukan cuma memberi selamat," kata Ferdy.
Surya menerima map itu.
Di dalamnya ada dokumen pengangkatan internal.
Setelah hampir dua tahun sejak hari pertama Surya berdiri di depan pintu Sentana, setelah masa magang selesai, setelah sumpah advokat di Pengadilan Tinggi diambil bulan sebelumnya, firma yang kini dipimpin operasional oleh Diana mengangkatnya sebagai Partner Muda non-ekuitas untuk divisi perkara komersial dan restrukturisasi.
Dua tahun itu tidak lewat kosong. Surya menangani restrukturisasi vendor, mediasi bisnis, perkara paten, dan puluhan jam kerja yang tidak pernah masuk berita. Ia belajar dari Diana cara membaca manusia di balik kontrak. Ia belajar dari Meilu bahwa bukti tanpa prosedur hanya menjadi amarah. Ia belajar dari pabrik bahwa keputusan hukum yang baik harus tetap bisa hidup di lantai produksi.
Itu belum puncak.
Tetap saja, loncatan itu dulu mustahil dibayangkan oleh menantu yang bahkan tidak dianggap manusia di rumah Kusuma.
"Kamu belum boleh sombong," suara Diana terdengar dari layar ponsel Ferdy.
Surya tersenyum. "Saya belum sempat."
"Bagus. Partner berarti tanggung jawab, bukan kursi empuk."
"Saya paham, Bu."
Ferdy menepuk bahunya. "Selamat, Surya. Kamu membuat Sentana terlihat muda lagi."
Malamnya, setelah tamu pulang, Steven masuk ke mobil hitamnya. Ia membuka ponsel dan menelepon satu nomor di Surabaya.
"Kong," katanya dalam nada hormat, "saya menemukan peluang menarik di Jakarta."
Di seberang, suara tua Tan Hok Lian terdengar pelan.
"Peluang bisnis atau perempuan?"
Steven terdiam setengah detik.
"Mungkin dua-duanya."
Mobil itu melaju meninggalkan Karawang, sementara di belakangnya lampu pabrik Surya menyala untuk shift malam pertama, seperti tanda bahwa hidup baru mereka tidak lagi menunggu pagi.
Di dalam kantor kecil, Dewi masih memegang salinan pengangkatan Surya.