NovelToon NovelToon
TRANSMIGRASI AURORA: JERAT GAIRAH LIAR SANG TIRAN KAELEN AZRAEL

TRANSMIGRASI AURORA: JERAT GAIRAH LIAR SANG TIRAN KAELEN AZRAEL

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mafia / Mengubah Takdir
Popularitas:12.2k
Nilai: 5
Nama Author: namice

Aurora—seorang montir bar-bar dan hacker genius dunia bawah—tewas mengenaskan lalu bertransmigrasi ke raga Aletheia Elixir. Aletheia adalah istri figuran yang diabaikan dan ditakdirkan mati di tangan suaminya sendiri, Kaelen Azrael—Raja Mafia bermata merah, penguasa dunia, sekaligus pria tertampan yang dirumorkan impoten.

​Enggan mati konyol, Aurora langsung menghapus riasan menor buruk rupanya, mengungkap kecantikan aslinya yang secantik Dewita malam, lalu menyodorkan surat gugatan cerai tepat di depan wajah sang tiran!

​Namun, Aurora salah perhitungan. Sifat bar-barnya yang menolak tunduk justru menyulut ego sang tiran. Dan yang paling mengerikan... tepat saat mata merah Kaelen menatap pesona Aurora yang mencoba menolaknya, penyakit impoten sang tiran sembuh.​

Gairah Kaelen yang telah mati bertahun-tahun meledak dengan begitu liar dan haus darah.
​Bukannya bebas, Aurora justru ditarik paksa ke atas sofa. Surat cerai terhempas berantakan, digantikan kukungan penuh kuasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: INTENSITAS DI BALIK INTROGASI

​Konvoi mobil SUV hitam berlapis baja milik Azrael Corps membelah gerbang utama mansion dengan kecepatan tinggi. Kaelen Azrael melangkah keluar dari pintu kemudi bahkan sebelum limosin utamanya berhenti sempurna. Aura yang dibawanya malam ini jauh lebih pekat, panas, dan berbahaya daripada biasanya. Langkah kakinya yang berat dan berwibawa menggema di sepanjang lorong marmer, langsung menuju menara belakang tempat kamar tidur rahasia berada.

​Pikiran sang tiran benar-benar disita oleh satu hal: Aletheia Tech. Tim sibernya baru saja melaporkan bahwa koordinat IP yang melompati benteng besi Iron Citadel terdeteksi memantul di sekitar satelit logistik yang jangkauannya mencakup area mansion ini. Meskipun logika militernya mengatakan tidak mungkin ada peretas yang bisa bergerak di bawah pengawasannya, insting protektif dan obsesi gilanya menuntut jawaban langsung dari satu-satunya wanita yang menyandang nama itu.

​Brak.

​Pintu jati besar bergeser terbuka dengan kasar. Kaelen melangkah masuk, langsung melepaskan jas hitam mewahnya dan mencampakkannya ke atas lantai tanpa memedulikan harganya. Kemeja putihnya yang kini terbuka dua kancing teratas memperlihatkan urat-urat lehernya yang menegang karena gairah penasaran yang memuncak.

​Di atas ranjang, Rae yang semula berpura-pura memejamkan mata langsung mendudukkan diri pelan. Jiwa hacker bar-barnya mendadak waspada melihat kilat merah menyala di sepasang netra suaminya.

​"Kau pulang lebih cepat, Tuan Posesif. Apakah benteng besimu itu sudah rata dengan tanah?" sindir Rae, suaranya yang serak dan parau sengaja dikeluarkan untuk menutupi ketegangan batinnya.

​Kaelen tidak menjawab dengan kata-kata. Dengan beberapa langkah lebar, tubuh tegap besarnya sudah berada di tepi kasur. Tanpa memberikan peringatan, Kaelen merangkak naik ke atas ranjang, menyudutkan raga lemas Rae hingga wanita itu terdesak ke kepala ranjang yang dilapisi beludru mahal. Kedua tangan kekar Kaelen mengunci sisi kiri dan kanan kepala Rae, mengurung wanita itu sepenuhnya di bawah dominasi absolutnya.

​"Sistemku tidak rata dengan tanah, Istriku," desis Kaelen dengan suara bariton rendahnya yang teramat seksi, napas panasnya berembun di depan bibir bengkak Rae. "Tapi seseorang baru saja menyelinap seperti hantu, mempermainkan satelit militerku selama tiga detik, lalu mengembalikannya seolah-olah Azrael Corps hanyalah tempat bermainnya."

​Rae menyunggingkan senyuman miring tiraninya, menatap lurus ke dalam mata merah yang sarat akan keliaran obsesi itu. "Oh? Kalau begitu, peretas itu pasti seorang jenius yang sangat luar biasa. Bukankah kau seharusnya merasa terhormat karena ada yang bisa menyamai kesombongan teknologimu?"

​Cengkeraman tangan Kaelen mendadak beralih ke rahang murni Rae. Dia mengangkat wajah istrinya dengan sentuhan posesif yang kuat namun penuh intensitas gairah yang kembali memuncak.

​"Jangan bermain-main denganku, Aletheia," bisik Kaelen, matanya menggelap, pekat akan rasa lapar yang tidak pernah kenyang. "Peretas itu menamakan sistemnya Aletheia Protocol. Dan sinyal mentahnya terdeteksi memantul di sektor ini. Katakan padaku, Sayang... apakah kau tahu sesuatu tentang hantu digital yang berani memakai namamu ini, hm?"

​Jantung Rae sempat berdetak lebih cepat, namun poker face terbaiknya tetap terjaga sempurna. Dia justru memajukan wajahnya, membiarkan ujung hidung mereka saling bersentuhan dengan berani.

​"Jika aku adalah hantu itu, Kaelen... aku tidak akan mengembalikan satelitmu dalam waktu tiga detik," gertak Rae bar-bar, kilat menantang terpancar dari mata cokelat madunya. "Aku akan menggunakan satelit itu untuk meledakkan seluruh gudang senjatamu dan menghapus namamu dari dunia bawah."

​Mendengar jawaban yang begitu berani, kasar, dan sama sekali tidak menunjukkan ketakutan, Kaelen justru kehilangan sisa-sisa kendali dirinya. Bukannya murka karena dicurigai, tiran bucin pemaksa ini malah merasa gairah posesifnya meledak hebat di dalam dada. Mengetahui istrinya begitu tegar dan menantang di bawah kukungannya membuat hasrat purba Kaelen kembali ke titik didih.

​"Mulut yang sangat lancang..." desis Kaelen seksi. "Kau benar-benar minta dihukum lagi, Istriku."

​Tanpa memberikan kesempatan bagi Rae untuk memaki, Kaelen langsung membungkam bibir bengkak itu dengan satu ciuman panas yang menuntut dan penuh dengan rasa rindu yang ekstrem. Tubuh besar Kaelen menindih raga lemas Rae kembali ke atas kasur, mengunci setiap ruang gerak sang dewi montir di bawah otoritas tiraninya sekali lagi.

​Malam itu, di bawah kecurigaan yang belum terjawab, Kaelen mengeksekusi hasrat rindunya dengan gaya yang berbeda, memaksa Rae membayar "royalti" atas kelancangan bahasanya hingga fajar kembali menyingsing, tanpa menyadari bahwa wanita yang didekapnya dengan begitu posesif adalah sang hantu digital yang sesungguhnya.

Tanpa memberikan kesempatan bagi Rae untuk memaki, Kaelen langsung membungkam bibir bengkak itu dengan satu ciuman panas yang menuntut, kasar, dan penuh dengan rasa rindu yang ekstrem. Tubuh besar Kaelen langsung menindih raga lemas Rae kembali ke atas kasur, mengunci setiap ruang gerak sang dewi montir di bawah otoritas tiraninya sekali lagi.

Hukuman tambahan ronde pertama dieksekusi Kaelen dengan posisi cowgirl terbalik. Kaelen mendudukkan dirinya di tengah ranjang, lalu dengan gerakan pemaksa yang dominan, dia mengangkat tubuh lemas Rae dan memosisikannya duduk di atas pangkuannya dengan tubuh membelakangi dada bidang sang tiran. Rae memekik tertahan saat merasakan inti Kaelen minj yang tegap sempurna langsung menghantam dalam dari arah belakang dalam satu kali hentakan mutlak.

"Kaelen... akh! Bajingan... ugh, pelan...!" Rae mencengkeram lututnya sendiri, kepalanya terlempar ke belakang, bersandar pada bahu kokoh Kaelen yang sekeras batu.

Kaelen tidak mendengarkan makian istrinya. Kedua tangan kekarnya melingkar posesif di perut ramping Rae, menahan pinggul wanita itu agar tetap terkunci sementara miliknya bergerak menghentak dengan ritme yang lambat namun menghunjam sangat dalam. Setiap gesekan pekat di posisi ini membuat seluruh tubuh Rae gemetar hebat, memaksanya mengeluarkan erangan pasrah yang serak di telinga Kaelen, memuaskan hasrat ego sang tiran yang haus akan kepatuhannya.

Masuk ke ronde kedua, Kaelen mengubah posisi secara bar-bar demi memuaskan hasrat posesifnya yang ingin menatap langsung mata cokelat madu sang istri. Dia membaringkan kembali tubuh lemas Rae hingga telentang di atas kasur, lalu mengangkat kedua kaki mulus Rae tinggi-tinggi hingga bertumpu di atas dada bidangnya sendiri. Gaya ini membuat kedalaman penetrasinya menjadi berkali-kali lipat lebih ekstrem dan menyesakkan.

"Tatapan mata itu, Aletheia... tetap tatap aku seperti itu," desis Kaelen dengan suara bariton parau yang pekat akan gairah liar, saat dia mulai menghantamkan intinya dengan ritme cepat yang menggila tanpa jeda.

Rae mencengkeram seprai ranjang dengan erat hingga kukunya memutih. Pandangannya sempat mengabur karena guncangan gairah yang begitu hebat menyerang indra perabanya. Dalam posisi ini, dia tidak bisa menghindar sedikit pun dari tatapan merah maut Kaelen yang menguncinya bagai predator yang sedang menguliti mangsanya. Kaelen menunduk, menggigit pelan bahu porselen Rae, memberikan tanda kepemilikan baru yang permanen di sana seiring dengan puncak kepuasan yang kembali meledak bersamaan, menuntaskan hukuman gila malam itu.

1
Nur Janah
suka ceritanya.....👍👍Rea tangguh n bar bar,,
namice: 😘😘😘, terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku dan suka 😘😘😘🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
namice
🤣🤣🤣🤣 terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku 😘😘😘🌹🌹🌹🌹
Sulati Cus
sekalinya hidup🤔
namice: 😘😘😘, terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku 😘😘😘🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
Sulati Cus
hukuman ranjang yg extrem🤣
namice: 🤣🤣🤣... terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku 😘😘😘🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
Sulati Cus
astaga kebayang nggak sih 10ronde🤔 pertama melakukan alamat ...
namice: 🤣🤣🤣 terimakasih banyak ya kak baca novel ku 🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
Sulati Cus
lanjut langsung tak favorit
namice: 😘😘😘, terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku, aku sudah update satu bab lagi kak... 😘😘😘🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!