NovelToon NovelToon
Ranjang Panas Preman Kampus

Ranjang Panas Preman Kampus

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Tamat
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: El khiyori

#tamat
Follow Instagram jane_marry03
Bara Adikara, tumbuh dengan kebencian setelah perselingkuhan ayahnya. Ibunya meninggal dan hidupnya hancur. Ia akan terus disiksa jika tak mau menurut pada peraturan sang ayah. Begitu dewasa, Bara pun menjelma menjadi sosok yang keras dan dingin. Ia berpura-pura menjadi pecundang bodoh yang tak peduli pada semuanya. Tanpa seorangpun tahu kalau sebenarnya Bara sedang merencanakan sebuah balas dendam. Ia akan merebut semua milik ibunya, rumah dan perusahaan. Selain itu, ia juga akan menghancurkan wanita yang sudah membuat keluarganya hancur, dengan memanfaatkan anaknya. Andrea Willona, gadis itu akan Bara hancurkan, tapi disaat hati mulai ikut campur, benarkah semua akan tetap pada alurnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El khiyori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Di balik pintu kayu tua yang sudah terkunci rapat, tubuh Andrea merosot perlahan hingga terduduk di atas lantai semen yang dingin.

Payung dan pakaian bagian luarnya yang basah kuyup membiarkan hawa dingin menusuk tulangnya, namun dingin di luar sama sekali tak sebanding dengan rasa hampa yang membakar rongga dadanya. Andrea memeluk kedua lututnya dari samping, berhati-hati agar tak menekan perutnya yang membuncit, lalu menyembunyikan wajah di sana.

Isak tangis yang sejak tadi ia tahan mati-matian akhirnya pecah. Bukan tangisan histeris yang keras, melainkan bisikan isak parau yang begitu menyayat hati. Suara tangis dari seorang wanita muda yang dipaksa dewasa oleh hantaman takdir yang teramat kejam.

"Ibu ...." bisik Andrea di antara napasnya yang tersengal. "Maafkan Andrea .... "

Setiap tetes air matanya membawa ingatan tentang Pak Danu yang membiru dan tersengal-sengal menahan serangan jantung di lantai rumah megahnya, dan juga tentang Ibunya yang tertawa-tawa sendiri sambil memeluk map tebal di sel rumah sakit jiwa, dan tentang dirinya sendiri. Gadis bodoh yang dulu menyerahkan segalanya atas nama cinta yang ternyata hanya sebuah perangkap mematikan.

Di luar, hujan semakin lebat menghantam atap seng kontrakan. Suaranya bising, namun tak cukup keras untuk menutupi gemuruh di dalam dada Andrea.

Ia membelai perutnya yang keras dengan jemari gemetar. Kehangatan kecil dari dalam rahimnya adalah satu-satunya alasan mengapa Andrea masih memilih untuk bernapas hari ini.

"Maafkan Ibu, Nak..." bisik Andrea pelan, suaranya sarat dengan keputusasaan yang teramat dalam. "Ibu tidak bisa memberimu keluarga yang utuh. Ibu tidak bisa memberimu seorang ayah ... karena pria yang memberikan nyawa padamu adalah orang yang sudah menghancurkan hidup ibu tanpa sisa."

Satu tendangan halus dari dalam perutnya merespons usapan itu. Sebuah gerakan kecil yang seolah berkata bahwa janin di dalam sana merasakan rasa sakit yang sedang dipikul ibunya. Tangis Andrea kian menjadi-jadi, dada dan bahunya terguncang hebat di dalam kegelapan kamar kontrakan yang remang.

Sementara itu, di depan pintu, Bara masih berdiri membeku.

Gemericik air hujan yang deras mengguyur tubuh tingginya, membasahi rambut, wajah, hingga pakaian mewahnya. Jas buatan penjahit Italia bernilai ratusan juta itu kini melekat basah, terasa begitu berat dan dingin. Namun Bara sama sekali tak bergerak satu inci pun.

Ia menempelkan dahi basahnya ke permukaan kayu pintu tua yang kasar.

Melalui celah kayu yang tipis, di antara gemuruh suara hujan yang menghentak atap seng, Bara bisa mendengar tangisan itu. Tangisan lirih dan hancur yang datang dari wanita yang dulu selalu menyambutnya dengan senyuman paling hangat di dunia.

“Pria yang memberikan nyawa padamu adalah orang yang menghancurkan hidup Ibu tanpa sisa.”

Bayangan kata-kata Andrea tadi terus berputar di kepala Bara bagaikan kaset rusak, meremas jantungnya hingga terasa remuk.

Bara mengangkat tangannya yang gemetar lalu menyentuh kayu pintu persis di mana ia membayangkan kepala Andrea bersandar di baliknya. Telapak tangan Bara yang biasa menggenggam pena penandatangan dokumen miliaran rupiah kini gemetar tak berdaya.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, seorang Bara Adikara merasakan dadanya begitu sesak hingga sulit bernapas. Bukan karena amarah, bukan karena egonya yang terluka, melainkan sebuah rasa penyesalan yang terlambat. Sebuah kesadaran mematikan bahwa dalam usahanya membalaskan dendam masa lalu, ia telah menghancurkan satu-satunya hal tulus yang pernah dimilikinya di dunia ini.

Ia memenangkan harta. Ia mendapatkan kejayaan. Tapi ia membunuh jiwa wanita yang mencintainya tanpa syarat.

"Andrea ..." bisik Bara parau, suaranya hampir tak terdengar, tenggelam oleh deru hujan. "Maafkan aku ... harusnya aku tak menyeretmu sampai sehancur itu .... "

Kata 'maaf' yang tak pernah ada dalam kamus Bara, kini terlontar begitu saja dari bibirnya yang pucat kemerahan akibat dingin. Namun kata itu terasa begitu murah dan tak berarti dibandingkan dengan darah, air mata, dan kehancuran yang telah ia tinggalkan untuk Andrea dan calon anaknya.

Ponsel di sakunya akhirnya mati kehabisan daya. Pesta lamaran megah bersama Angel di restoran bintang lima telah sepenuhnya ia acuhkan. Bintang kejayaannya di dunia bisnis mungkin akan ternoda mulai malam ini, tapi Bara sama sekali tak lagi mempedulikannya.

Bara mengepalkan tangannya di atas kayu pintu, lalu perlahan merosot, berlutut di atas lantai semen luar kontrakan yang tergenang air hujan.

Pria yang dulu menatap Andrea dari atas tahta kekuasaannya, kini bertekuk lutut dengan tubuh basah kuyup di depan pintu rumah kontrakan kumuh, meratapi tangisan wanita yang pernah ia hancurkan, wanita yang kini mengandung darah dagingnya, namun menatapnya dengan rasa benci yang tak akan pernah bisa disembuhkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!