NovelToon NovelToon
Singgasana Berdarah Sang Terpidana

Singgasana Berdarah Sang Terpidana

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Balas Dendam / Action
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

Di dunia lama, dia adalah narapidana paling ditakuti, seorang maestro strategi yang menghancurkan satu negara dari balik jeruji besi. Dia dieksekusi dengan kursi listrik tepat saat sistem melakukan sinkronisasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32

Sihir manipulasi Valerius memaksa Lancel melihat ilusi bayangan adiknya yang menangis diseret oleh para pedagang budak. Di latar belakang ilusi itu, berdiri sosok Uskup Agung Leoric yang sedang tersenyum puas menghitung kantong-kantong koin emas.

Senjata emas di tangan Lancel jatuh bergemerincing ke atas lantai, suaranya menggema miris di tengah kesunyian aula. Lutut sang komandan kehilangan daya topangnya, membuatnya jatuh berlutut dengan tatapan kosong yang dipenuhi air mata.

Seluruh hidupnya, pengorbanannya, dan darah yang ia tumpahkan selama ini ternyata dibangun di atas fondasi pengkhianatan absolut. Gereja yang ia bela mati-matian ternyata adalah monster yang telah merenggut satu-satunya cahaya dalam hidupnya yang gelap.

Aura keemasan yang semula melindungi tubuh Lancel kini meredup perlahan, berganti menjadi warna kelabu keputusasaan yang sangat pekat. Keyakinannya telah hancur berkeping-keping, meninggalkan lubang hitam menganga di dalam jiwanya yang tak bisa lagi ditambal.

Valerius berdiri tepat di depan ksatria yang telah hancur tersebut, menikmati aroma keputusasaan yang sangat lezat. Ia tidak pernah bosan melihat bagaimana sebuah kebenaran fana bisa meruntuhkan manusia terkuat sekalipun dalam sekejap mata.

Layar sistem holografik langsung berkedip liar dengan warna merah terang yang menyilaukan mata batin Valerius.

[Mental Target (Sir Lancel) Hancur Sepenuhnya. Tingkat Keputusasaan Mencapai Batas Maksimal.][Poin Dosa: +2500 berhasil diserap dari keruntuhan iman seorang ksatria suci tingkat tinggi.]

"Sekarang kau mengerti, Lancel?" suara Valerius mengalun lembut, seolah ia adalah dewa penolong yang membisikkan kebenaran. "Dewa-dewa kalian tidak lebih dari sekadar ilusi yang diciptakan untuk memerah darah dan keringat manusia-manusia bodoh."

Lancel tidak merespons, ia hanya menunduk menatap pantulan wajahnya yang berlumuran darah di atas lantai pualam. Tidak ada lagi sisa perlawanan di matanya, hanya ada kekosongan absolut dari seorang pria yang telah kehilangan segalanya.

"Bunuh aku," bisik Lancel dengan suara serak yang sangat menyedihkan, air matanya menetes membasahi lantai. "Kirimkan aku ke neraka, karena aku tidak sanggup lagi hidup dalam dunia yang dipenuhi oleh kebohongan ini."

Valerius mengangkat Belati Penyedot Jiwa miliknya tinggi-tinggi, membiarkan bilah obsidian itu menyerap sisa cahaya di ruangan. Ia sama sekali tidak berniat memberikan belas kasihan dalam bentuk kematian yang cepat dan tanpa rasa sakit.

"Kematianmu akan menjadi pesan yang sangat indah untuk dikirimkan kembali kepada Uskup Agung yang terhormat," desis Valerius kejam. Tanpa keraguan sedikit pun, ia menancapkan belati iblis itu tepat ke sela zirah perak di bagian belakang leher Lancel.

Kutukan Agoni dari belati itu seketika meledak, menyiksa jiwa Lancel dengan rasa sakit yang melampaui batasan fisik manusia. Ksatria malang itu menjerit histeris hingga pita suaranya robek, tubuhnya mengejang hebat di lantai aula yang dingin.

Valerius menekan gagang belatinya lebih dalam, menyerap seluruh esensi kehidupan dan sisa Mana yang dimiliki sang komandan. Ia membiarkan Lancel merasakan pedihnya jiwa yang ditarik paksa dari dalam wadah dagingnya yang masih berdetak.

Tubuh kekar Lancel perlahan menyusut dan mengering, zirah peraknya kini terasa terlalu besar untuk kerangka yang tersisa. Wajah tampannya berubah menjadi tengkorak berlapis kulit tipis, sebelum akhirnya ia menghembuskan napas keputusasaan yang terakhir.

Valerius mencabut belatinya dengan kasar, menendang mayat kering komandan suci itu hingga terguling menjauh. Pesta pembantaian kecilnya di dalam aula telah selesai, namun perang besar di pelataran luar masih menunggunya.

Ia menoleh ke arah bayangan pilar di sudut ruangan, di mana Nyonya Karat telah berdiri menanti dengan sangat patuh. "Potong kepala mayat kering itu, dan tancapkan di atas tombak paling tinggi di gerbang utama istana kita," perintah Valerius.

Nyonya Karat mengangguk pelan, melangkah keluar dari bayangan dengan pisau daging yang sudah siap di tangannya. Ia sama sekali tidak merasa ngeri dengan kekejaman psikologis yang baru saja dipertontonkan oleh majikan iblisnya tersebut.

Valerius berjalan kembali menuju balkon utama, tidak memedulikan sisa darah yang menetes dari bilah obsidiannya. Badai di luar sana masih mengamuk dengan ganas, seolah alam sedang menangisi kematian ksatria terbaik dari gereja suci.

Saat Valerius kembali berdiri di atas balkon, pemandangan di pelataran bawah telah berubah menjadi lautan mayat yang mengerikan. Pasukan Inkuisisi yang kehilangan komandan mereka kini mulai tampak kebingungan dan kehilangan formasi pertahanan cahaya.

Di sisi lain, pasukan Draken yang didorong oleh keputusasaan dan provokasi Valerius terus bertarung membabi buta tanpa lelah. Darah hujan dan lumpur bercampur menjadi satu, menciptakan kubangan neraka yang mengisap kaki siapa pun yang berpijak di sana.

Tiba-tiba, gerbang utama istana kembali didobrak paksa dari luar dengan ledakan sihir cahaya yang jauh lebih masif. Dari balik reruntuhan gerbang, muncul sebuah kereta emas raksasa yang ditarik oleh delapan ekor kuda bersayap putih.

Di atas kereta emas tersebut, berdiri sosok Uskup Agung Leoric dengan tongkat sihir yang memancarkan pendaran menyilaukan. Kedatangan sang pemimpin agama tertinggi itu seketika memulihkan semangat juang ribuan ksatria suci yang hampir pudar.

"Bertahanlah, anak-anak cahaya! Kesucian akan selalu menang melawan kegelapan yang paling pekat sekalipun!" suara gaib Uskup Agung bergema menembus badai.

Sihir penyembuhan berskala besar menyapu seluruh pelataran istana, menutup luka-luka ksatria suci dan memulihkan stamina mereka. Pasukan Inkuisisi membalas seruan itu dengan raungan iman yang menggelegar, kembali memukul mundur barisan prajurit Draken.

Valerius menatap kedatangan pimpinan musuhnya itu dengan mata menyipit tajam, senyum iblisnya memudar berganti dengan keseriusan maut. Permainan telah berubah dari sekadar pembantaian sepihak menjadi pertarungan kekuatan penuh antara dua kutub yang berlawanan.

"Kau akhirnya turun langsung dari singgasana emasmu, pendeta tua yang rakus," gumam Valerius sambil meremas pagar pualam balkon. Ia merasakan Mahkota Tiran Berdarah di kepalanya berdenyut liar, haus akan darah suci dari manusia yang menuhankan dirinya sendiri.

Layar sistem holografik kembali muncul di pandangannya, memberikan misi baru dengan tingkat kesulitan yang belum pernah ada.

[Misi Utama Arc 3 Diperbarui: 'Menghancurkan Dewa Palsu'. Bunuh Uskup Agung Leoric di hadapan seluruh pengikutnya.][Peringatan Risiko: Target memiliki relikui suci tingkat tinggi. Disarankan menggunakan kekuatan tempur maksimal.]

Valerius melebarkan senyumnya kembali, menganggap peringatan bahaya dari sistem hanyalah bumbu penyedap bagi hidangan utamanya malam ini. Ia melompat dari atas balkon lantai dua tersebut, tubuhnya melayang ringan di udara menembus tetesan air hujan.

Ia mendarat mulus tepat di tengah medan pertempuran, menghancurkan formasi ksatria suci di sekitarnya dengan gelombang kejut energi gelap. Kehadiran fisik Valerius secara langsung di medan perang seketika memicu kepanikan baru di barisan musuh.

"Sang Tiran telah turun! Lindungi Yang Mulia Uskup Agung dengan nyawa kalian!" teriak salah seorang kapten ksatria suci.

Ratusan ksatria perak langsung mengepung Valerius dari segala arah, menodongkan tombak cahaya mereka tanpa ragu sedikit pun. Namun Valerius sama sekali tidak berniat mundur, ia justru mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke langit yang mengamuk.

"Biarkan malam ini menjadi saksi bisu, bahwa tidak ada satu pun doa yang bisa menghentikan langkah kaki kehancuran," raung Valerius. Badai energi hitam meledak dari tubuhnya, menyapu bersih puluhan ksatria di sekelilingnya hingga hancur menjadi debu darah.

Perang suci ini baru saja memasuki babak klimaksnya yang paling kejam dan tanpa belas kasihan.

Daratan Aethelgard akan segera tenggelam dalam penyesalan abadi atas kelancangan mereka menantang sang narapidana penyulut kiamat.

1
Ysya Jeje
roman
Lucy Sandy
seru caritaanya romantis bantaiii
Roy Kkk
bantaiiiiii
King Salman
seru banget
Sarndi Kurma
menarik
Turki Salman
seru banget
jamanku
cerita baru yang mantap thor
Sofia
seru banget ceritanya
Op L
💪💪
Yuu Li
go napi
Roaffi Jj
menarik dan seru
Lamia Dante
👍👍👍
Lamia Dante
seru nih ceritanya
Irzad
mohon dukungannya terimakasih
Jake King
bantai semua tor
ikyar
💪
ikyar
👍👍
ikyar
bagus seru baantai
ikyar
🤭
ikyar
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!