Kiara, putri tunggal keluarga terkaya, memilih menikah dengan pria biasa karena cinta yang ia pikir sangat kuat dan abadi. Selama sepuluh tahun pernikahan, Kiara hidup dengan rasa bersalah yang besar—ia tidak pernah bisa mengandung dan melahirkan anak, selalu menyalahkan dirinya sendiri, dan terus meminum obat yang dikatakan suaminya sebagai vitamin penyehat tubuh.
Semua kepercayaan dan kebahagiaannya runtuh dalam sekejap mata. Kiara mengetahui kenyataan pahit, suaminya telah berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.
Lebih menyakitkan lagi, obat yang ia minum setiap hari ternyata adalah pil penunda kehamilan. Sepuluh tahun ia pikir dia kurang subur, padahal dialah yang menjadi korban, dan suaminya sendirilah penyebab ia tidak pernah bisa memiliki keturunan. Puncak kehancuran tiba saat Kiara tahu sahabatnya kini sedang mengandung anak hasil perselingkuhan mereka.
Kiara pun memilih pura-pura tidak tahu, untuk membalaskan rasa sakitnya karena telah di tipu oleh mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shanti_San, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 - Orang tua Kiara datang
Beberapa hari setelah Kiara pulang dari rumah sakit, Pak Edward berkunjung ke rumah pasangan itu. Kedatangannya disambut dengan sikap hormat dari Ferdi, yang sejak pagi sudah mempersiapkan segalanya agar terlihat rapi dan sempurna. Di dalam hatinya, ia sangat berharap bisa melunakkan hati ayah mertuanya yang sempat meledak marah dan menamparnya di hadapan banyak orang.
"Ayah, kamu datang, silakan masuk." Sambut Ferdi dengan sopan. Namun Pak Edward masih bersikap dingin pada menantunya. Ia belum bisa memaafkan Kiara, kedatangan nya hanya untuk putri tersayang nya itu.
"Ayah, ibu kalian datang." Kiara memeluk ayahnya. Pak Edward mengelus kepala putrinya.
"Bagaimana keadaan mu sayang?."
"Ayah, aku sudah baik-baik saja, berhenti lah mengkhawatirkan ku, aku sudah pulih."Balas Kiara yang memang tampak lebih segar.
Begitu duduk di ruang tamu, sebelum sempat Pak Edward membuka suara, Ferdi segera berdiri dengan kepala sedikit menunduk, menampakkan sikap yang penuh penyesalan.
“Ayah, saya ingin sekali meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian buruk di acara malam itu. Saya sadar tindakan saya sangat tidak pantas, mempermalukan nama baik keluarga, dan membuat ayah serta Ibu kecewa. Itu benar-benar kesalahan saya, murni karena reaksi spontan yang tidak saya kendalikan, bukan karena ada niat buruk apa pun terhadap Kiara. Saya berjanji akan memperbaiki sikap dan membuktikan bahwa saya bisa menjadi suami dan menantu yang bertanggung jawab,” ujar Ferdi dengan nada tulus, matanya terlihat berkaca-kaca seolah benar-benar menyesali perbuatannya.
"Saya benar-benar tidak menyadari kalau Kiara terjatuh bersama dengan Emely, meski pun kalau itu bukan Emely atau Kiara saya tetap akan menolong siapa pun ayah."Ucapan yang sama yang Ferdi lontarkan saat meminta maaf pada Kiara. Kiara pun hanya tersenyum tipis melihat Ferdi memerankan si paling menyedihkan dengan totalitas.
Pak Edward memandangnya dengan tatapan tajam, mengamati setiap ekspresi dan nada bicara Ferdi. Selama beberapa saat ia terdiam, membiarkan suasana menjadi hening, sebelum akhirnya menghela napas panjang. Ia memang sempat merasa sangat malu dan marah, apalagi kejadian itu sempat menjadi bahan omongan banyak orang di lingkungan bisnis dan sosial mereka. Namun, mengingat perjalanan hubungan mereka selama ini dan melihat kesungguhan yang ditunjukkan Ferdi saat itu, hatinya perlahan melunak.
“Baiklah, Ferdi. Saya terima permintaan maafmu. Memang benar kejadian itu sempat menjadi pembicaraan orang, tapi saya dan istrinya tidak ingin terus mengungkitnya jika kau benar-benar berniat memperbaiki diri. Ingat, kepercayaan itu butuh waktu lama untuk dibangun, tapi bisa hancur hanya dalam sekejap,” jawab Pak Edward tegas namun tidak lagi bernada marah.
"Saya harap kesempatan kali ini tidak kamu sia-sia kan. kami sudah percaya pada mu, jangan sia-sia kan kepercayaan kami." Lanjut pak Edward .
"Iya, lagi pula kau adalah suami putri kami, Kami hanya berharap ini tidak terulang lagi."Sambung Bu Silvia.
Ferdi mengangguk lega, merasa beban berat terangkat dari pundaknya. “Terima kasih banyak, Ayah, ibu. Saya tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan ini lagi.”
Setelah itu, Pak Edward memalingkan wajah ke arah Kiara yang duduk tenang di sampingnya. Ia memeriksa keadaan putrinya dengan pandangan penuh kasih sayang, melihat bahwa Kiara sudah terlihat sehat secara fisik meski tatapannya terasa lebih dingin dan jauh dari biasanya. Namun, ia mengira itu hanyalah bekas kekecewaan yang belum hilang sepenuhnya.
“Syukurlah kau sudah terlihat pulih sepenuhnya, Nak. Jangan pikirkan omongan orang yang tidak penting. Yang terpenting kesehatan dan ketenangan hatimu,” ujarnya lembut pada Kiara, yang hanya membalasnya dengan senyum tipis dan anggukan kepala.
Pak Edward pun kembali menoleh ke arah Ferdi, lalu menyampaikan tujuan utama kedatangannya hari itu.
“Selain menjenguk Kiara, Ayah datang juga untuk memberitahukan satu hal. Setelah melalui berbagai pertimbangan dan melihat kinerjamu selama ini, dewan direksi akhirnya menyetujui pengangkatan jabatanmu. Hari pelantikan dan pengangkatan resmi sebagai Direktur Utama akan dilaksanakan minggu depan. Ini adalah tanggung jawab besar, jadi persiapkan dirimu sebaik mungkin,” jelas Pak Edward dengan nada resmi.
Mendengar pengumuman itu, wajah Ferdi seketika bersinar cerah. Rasa senang dan bangga meluap tak terbendung, bahkan sampai lupa menyembunyikan ekspresinya. Inilah posisi yang sudah lama ia dambakan, tujuan yang membuatnya bersabar dan menyembunyikan segala rahasianya selama ini. Dengan jabatan itu, kekuasaan dan keuangannya akan semakin kokoh, dan ia merasa semakin dekat dengan rencana masa depannya.
“Benarkah, Ayah? Terima kasih, terima kasih banyak atas kepercayaan yang diberikan. Saya berjanji akan menjalankan tugas ini dengan sebaik mungkin dan memajukan perusahaan ini lebih pesat lagi,” jawab Ferdi dengan suara bergetar karena antusiasme yang meluap.
"Saya berjanji akan menjalankan kepercayaan ayah dengan sebaik-baiknya." lanjut Ferdi.
"Mimpi saja Ferdi, bahkan sebelum kau menerima jabatan itu, kau akan ku buat hancur. Semua yang telah kau lakukan pada ku, harus kau bayar semua." gumam Kiara di dalam hati nya, Kiara merasa sangat jijik melihat ekspresi laki-laki yang sangat ia banggakan dari dulu, kini tatapan bangga dan penuh cinta kini sudah berubah jijik dan memuakkan.
Sepanjang hari itu, suasana rumah berubah drastis. Ferdi terlihat sangat bersemangat, melangkah dengan langkah ringan dan senyum tak pernah lepas dari bibirnya. Ia segera mulai menyusun rencana persiapan: memesan pakaian resmi terbaik, mengatur jadwal pertemuan, bahkan menghubungi rekan-rekannya untuk memastikan kehadiran mereka di hari penting itu. Dalam pikirannya, setelah ia menduduki jabatan puncak itu, ia akan merasa lebih aman dan bebas menentukan langkah selanjutnya—baik untuk Emily maupun untuk menutupi segala kesalahannya selama ini.
Namun, di balik kegembiraan Ferdi, Kiara hanya mengamatinya dengan pandangan dingin dan penuh perhitungan. Ia tahu betul apa arti jabatan itu bagi suaminya, dan ia juga tahu bahwa inilah saat yang tepat untuk menunggu sampai Ferdi merasa paling aman dan lengah. Semakin tinggi ia terbang, semakin sakit pula rasanya saat harus jatuh ke dasar nanti.
Di ruangan kerja Ferdi, dari sela pintu yang terbuka sedikit. Ferdi tampak semangat dan memuji muji dirinya sendiri, karena sebentar lagi namanya akan naik begitu jabatan nya. Ia tidak lagi menjadi staf biasa.
Kiara melihat ferdi tampak sibuk menghitung hari dan menyusun persiapan, Kiara hanya melihat dari cela pintu sambil tersenyum sinis, di Dalam hatinya ia bergumam pelan, “Nikmati momen kebanggaanmu ini, Ferdi. Semakin kau merasa berada di puncak, semakin mudah bagiku untuk menjatuhkanmu ke tempat yang seharusnya. Waktuku tinggal menghitung hari saja.”
"Bersiaplah terima semua nya, kau hanya sampah yang bermimpi menjadi permata dengan jalur yang instan.