NovelToon NovelToon
Istri Solehot Dan Raket Nyamuk Komandan

Istri Solehot Dan Raket Nyamuk Komandan

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Kehidupan Tentara / Beda Usia / Perjodohan / Cinta setelah menikah / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

"Paksu... Calla janji tobat dan bakal jadi istri yang solehot buat Paksu! Asal... jangan taroh Calla di barak militer, Calla enggak mau merangkak dilumpur!"
Demi wasiat Papa, Callanta (21 tahun) terpaksa menikah dengan pria berbaju kumal yang dikira karyawan biasa. Namun pasca-nikah, pria itu membuka jaketnya dan berubah menjadi Komandan Pasukan Khusus berusia 38 tahun yang kaku, galak, dan seumuran pamannya!
Takut dididik fisik di barak karena sifat manjanya, Calla langsung mengeluarkan mode cegil (cewek gila): merayu sang suami dengan janji jadi "Istri Solehot" (Solehah tapi Hot).
Dimulailah perang domestik yang kocak: disiplin militer vs daster mini, tangisan bombay vs bentakan bariton, hingga aksi sang Komandan yang terpaksa lari maraton tengah malam demi menjaga imannya—sementara Calla asyik ronda di pinggir lapangan sambil bawa raket nyamuk listrik!
Mampukah Komandan kaku menjinakkan istri kecilnya? Atau justru ia yang takluk di bawah kuasa raket nyamuk sang Ismut (Istri Imut)?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 17

"Paksu, jangan salahin Ismut ya! Ini semua salah Paksu yang rajin banget nyuciin semua daster sama kaus gombrong Ismut sampai basah semua!"

​Pekikan Calla dari ambang pintu kamar langsung membuat Alaric yang sedang menyusun buku-buku taktis di rak ruang tamu menoleh. Begitu pandangannya jatuh pada sosok sang istri, buku di tangan sang Komandan hampir saja merosot ke lantai.

​Calla berdiri di sana dengan melipat kedua tangan di dada. Tubuh mungilnya malam ini dibalut piyama satin premium berwarna merah marun yang sangat kontras dengan kulit putih bersihnya. Masalahnya, piyama itu bermodel potongan celana pendek super minim dengan atasan bertali tipis yang memperlihatkan bahu mulus serta tulang selangkanya dengan sangat jelas.

​Alaric langsung memalingkan wajahnya secepat kilat, berdehem sangat keras hingga tenggorokannya terasa perih. "C-Calla... kenapa pakaianmu seperti itu? Ganti."

​"Nggak bisa! Kan Ismut udah bilang, daster kuning matahari sama kaus loreng Paksu yang biasa Ismut pinjem semuanya lagi diperas di ember belakang!" Calla berjalan mendekat dengan langkah pelan yang disengaja, membuat kain satin itu bergesek halus mengikuti lekuk tubuhnya. "Paksu sih, hobi banget main sikat baju orang."

​"Saya mencucinya karena pakaianmu sudah kotor, Calla," sahut Alaric dengan suara yang mendadak serak. Pria 38 tahun itu meremas pinggiran rak buku, berusaha mati-matian menahan pandangannya agar tidak turun ke bawah leher istrinya. "Udara malam pangkalan dingin. Kamu bisa masuk angin."

​"Ya kalau dingin, makanya angetin dong, Paksu," bisik Calla frontal, sudah berdiri tepat di samping Alaric, menyenggol lengan kekar suaminya yang malam ini hanya memakai kaus dalam militer hitam.

​Sebelum Alaric sempat terkena serangan jantung akibat godaan itu, suara klakson mobil pikap yang cukup besar terdengar dari depan pagar rumah dinas mereka, memecah keheningan malam pangkalan.

​Tin! Tin!

​"Lho, ada tamu malam-malam begini?" Alaric mengernyitkan dahi, merasa aneh karena protokol pangkalan sangat ketat setelah jam sembilan malam.

​"Ah! Paket Ismut datang!" Calla langsung melompat kegirangan, hendak berlari menuju pintu depan.

​"Callanta, jangan keluar dengan baju seperti itu!" bentak Alaric tertahan, langsung menyambar seprei bersih yang kebetulan terlipat di atas meja, lalu melilitkannya ke seluruh tubuh Calla seperti kepompong. "Tunggu di sini. Biar saya yang urus."

​Alaric melangkah keluar. Tak lama kemudian, dua orang petugas ekspedisi pangkalan dibantu beberapa anggota tamtama bawahan Alaric tampak menggotong sebuah kotak kardus raksasa masuk ke dalam area dapur transit rumah dinas.

​Begitu para anggota pamit dengan sikap hormat yang kaku, Alaric kembali ke dapur dan mendapati Calla sudah berhasil lolos dari lilitan seprei, berdiri tegak di samping kardus besar itu dengan senyum selebar langit.

​"Ini... mesin cuci?" Alaric membaca tulisan di kardus dengan dahi berkerut dalam. "Mesin cuci front loading satu tabung dengan fitur washer-dryer otomatis?"

​"Hehehe, iya Paksu! Mesin cuci kering otomatis sekali pencet langsung siap pakai!" Calla memeluk kardus besar itu dengan bangga. "Maaf ya, Ismut nggak izin dulu sama Paksu. Ismut sengaja mau kasih kejutan."

​Alaric menatap mesin cuci mahal itu, lalu menatap wajah polos istrinya. "Calla, rumah dinas ini sudah ada fasilitasnya. Kenapa kamu harus beli lagi? Uangmu—"

​"Paksu dengar Ismut dulu," potong Calla lembut, melangkah mendekat lalu memegang kedua tangan besar Alaric yang kapalan. "Paksu kan larang Ismut nyuci baju karena tangan Ismut langsung merah-merah dan gatal kalau kena detergen biasa. Tapi Ismut juga nggak tega lihat Paksu pulang dinas capek-capek masih harus ngucek baju Ismut di bak belakang. Jadi, pakai mesin ini, Paksu tinggal cemplungin, pencet, terus ditinggal tidur. Besok paginya udah kering total tanpa perlu dijemur."

​Alaric tertegun. Tenggorokannya mendadak tercekat mendengar penjelasan tulus dari istri kecilnya. Rasa hangat yang luar biasa menjalar di dalam dadanya.

​"Terus, Ismut juga ada beli ini," Calla menunjukkan sebuah botol cairan bening dari kantong belanjaan kecil. "Ini sabun cuci piring organik khusus herbal. Jadi nanti kalau Ismut mau bantuin Paksu cuci piring habis makan, tangan Ismut nggak bakal alergi lagi. Ismut beneran pengen belajar jadi istri yang berguna buat Paksu, bukan cuma jadi pajangan aja."

​Alaric menatap lekat-lekat sepasang mata kucing Calla yang berbinar tulus. Rasa gemas, haru, dan sayang bercampur menjadi satu di dalam dadanya, menghancurkan seluruh dinding kekakuan militernya. Alaric mengulurkan tangannya, lalu mencubit kedua pipi Calla dengan gemas hingga wajah istrinya mengerucut lucu.

​"A-Auh, Paksu sakiit!" pekik Calla manja.

​"Kamu ini... benar-benar ajaib, Callanta," ujar Alaric, suaranya melembut sepenuhnya dengan senyum tipis yang lolos di bibirnya. "Terima kasih untuk kejutannya. Tapi lain kali, bicarakan dengan saya dulu, paham?"

​"Paham, Paksu sayang," cengenges Calla, mengusap pipinya yang memerah akibat cubitan sayang sang Komandan.

​Satu jam kemudian, mereka berdua sudah kembali ke dalam kamar tidur. Kamar sudah terasa sejuk karena pendingin ruangan yang menyala. Alaric duduk di tepi ranjang dengan posisi tegap, sementara Calla sudah menyusup di bawah selimut tebal, menyisakan kepala dan bahu mulusnya yang berbalut tali piyama tipis.

​Alaric berdehem, lalu merogoh saku celana training-nya. Ia mengeluarkan sebuah dompet kulit hitam, lalu mengeluarkan dua buah kartu dari sana—satu kartu ATM berisi gaji pokok dinasnya, dan satu lagi kartu kredit sekunder resmi miliknya. Ia mengulurkan kedua kartu itu ke hadapan Calla.

​"Ini untukmu," ucap Alaric serius.

​Calla mengernyitkan dahi, menyembul keluar dari selimut. "Ini apa, Paksu?"

​"Semua gaji, tunjangan kinerja, dan uang simpanan saya sebagai Komandan ada di kartu ini. Mulai malam ini, kamu yang pegang dan kelola seluruh keuangan rumah tangga kita," jelas Alaric dengan nada tegas yang tidak menerima penolakan. "Gunakan untuk keperluanmu, belanja, atau apa pun yang kamu butuhkan."

​Calla menatap dua kartu itu sejenak, lalu perlahan mendorong tangan Alaric kembali dengan ujung jari telunjuknya. Ia menggelengkan kepala sambil tersenyum manis. "Nggak mau. Paksu simpan aja sendiri."

​Alaric mengernyitkan dahi, merasa harga diri suaminya sedikit tercoreng. "Kenapa menolak? Ini kewajiban saya sebagai suami untuk menafkahimu, Calla. Jangan merasa sungkan."

​"Bukan sungkan, Paksu sayang," Calla terkekeh geli, lalu meraih tas tangan kecilnya yang tergeletak di atas nakas. Dengan santai, Calla mengeluarkan sebuah dompet mini bermerek mewah, lalu menjatuhkan isinya di atas kasur di depan Alaric.

​Plak. Plak. Plak.

​Tiga buah kartu berwarna hitam legam dengan kilauan hologram emas yang sangat premium tergeletak manis di atas seprei.

​"Ismut udah punya banyak kartu hitam, Paksu," ujar Calla dengan nada yang sangat polos tanpa maksud pamer. "Satu kartu black card atas nama Ismut sendiri, satu kartu tanpa limit dari almarhum Papah yang udah dialihin ke rekening Ismut, dan satu lagi kartu tambahan dari Om Januar. Uang Ismut di sini kalau dikumpulin mungkin bisa buat beli satu pangkalan tank baja milik Paksu beserta isinya."

​Alaric mematung, menatap tiga kartu hitam legam yang sangat langka itu bergantian dengan wajah polos istrinya. Pria 38 tahun itu mendadak merasa dunianya sedikit terguncang. Selama ini ia tahu Calla adalah anak tunggal pengusaha kaya, tapi melihat bukti nyata di depan matanya tetap saja membuat mental tentaranya sedikit ciut.

​"Jadi..." Alaric menelan ludah kaku. "Kamu tidak butuh uang saya?"

​Melihat perubahan ekspresi Alaric yang mendadak lesu dan kaku, Calla langsung merasa bersalah. Ia buru-buru merangkak mendekat, menangkup wajah tegas suaminya dengan kedua tangan mungilnya.

​"Eh, bukan gitu maksud Ismut, Paksu! Jangan sedih dong mukanya, jadi nggak ganteng lagi nih," bujuk Calla panik, menatap langsung ke dalam mata elang Alaric. "Uang Ismut itu kan uang masa lalu. Tapi kalau uang dari Paksu... itu nafkah cinta pertama Ismut sebagai seorang istri."

​Calla mengambil kartu ATM gaji dinas Alaric, lalu menyelipkannya dengan rapi ke dalam saku piyama satinnya sendiri.

​"Kartu gaji pokok ini Ismut terima dengan senang hati, dan bakal Ismut pakai buat belanja sayur asam sama ikan asin kita tiap hari," bisik Calla lembut, memberikan senyuman termanisnya hingga jarak wajah mereka kembali mengikis. "Tapi kalau kartu kreditnya, Paksu yang pegang ya? Biar kalau Ismut mau minta jajan barang mewah, Ismut tetep bisa minta dengan manja sama suami yang hebat ini. Gimana?"

​Alaric menatap tautan mata Calla yang begitu dalam dan penuh pengertian. Rasa tidak percaya diri sebagai suami seketika menguap, digantikan oleh debaran anarki yang kembali menggedor rongga dadanya melihat posisi Calla yang kini kembali merapat di atas tubuhnya dengan piyama tipisnya.

​"Pilihan yang cerdas, Ibu Alaric," bisik Alaric rendah, suaranya kembali memberat menahan gejolak gairah malam yang mulai tak terbendung.

1
Fitra Sari
lanjut lagi kk 🙏🙏🙏pleasee 😊😊
Muft Smoker
sabar pak suu ,,
resepsi tinggal menghituung hariii detik demi detiik ,,
aseeek aseeek ,, 💃💃💃💃💃
umie chaby_ba
Michelle lo lagian ngapain disitu 🤣🤣🤣
Muft Smoker: jdii nyamuk dy kak ,, 🤭🤭🤭
total 2 replies
umie chaby_ba
lanjutkan thor ...
Ariska Kamisa: siap komandan 👍
total 1 replies
aditya rian
👍👍👍👍👍
Ariska Kamisa: terimakasih jempolnya 🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
gangguannya ada aja ya cal
Ariska Kamisa: begitulah ketika keimanan kita diuji🤣🤣🤣
total 1 replies
umie chaby_ba
cap paten 🤣🤣🤣
Ariska Kamisa: paten no debat🤭🤣
total 1 replies
umie chaby_ba
akhirnya kesampaian ya cal🤣🤣
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
calla calla kamu kok lucu banget sumpah 😄
Ariska Kamisa: terimakasih kak🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
yang sabar ya pak komandan 🤭
Ariska Kamisa: 💪💪💪💪💪
total 1 replies
umie chaby_ba
Calla kayanya paling muda sendiri kali yaa...
Ariska Kamisa: seperti begitu makanya keliatan masih kaya bocah yaa🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
kocak ya calla ini... kaya bocah banget🤣🤣
Ariska Kamisa: terimakasih 🙏🙏🙏
total 1 replies
Fitra Sari
lanjut lagi kk ..ga sabarr nunggu resepsi nya 🥰🥰🥰🙏🙏🙏
Ariska Kamisa: siap kak...
lagi nyiapin resepsinya nih🤭🤣🤣🤣
total 1 replies
Muft Smoker
lanjuuut kak. ,,



pak komandan udh mulai mencair niiih 🤭🤭🤭🤭😁😁😁
Ariska Kamisa: siap laksanakan 💪
total 1 replies
Fitra Sari
uluh2 ...pak alaric mulai2 bucin 😊lanjut lagi pkoknya KK ...TK tunggu slalu 🥰🥰🥰🥰🥰
Fitra Sari: semangat 💪💪 KK ...aku tunggu KK up nya lagi ..minimal sore ini 😊😊
total 2 replies
Muft Smoker
🤣🤣🤣🤣🤣🤣 ,, pinjem kabel ny ke kak author calla ,, 🤭🤭🤭🤭
Muft Smoker: mungkin sapu lidi pak komandan di sangka ny sapu lidi portable kak🤭🤭🤭🤭
total 2 replies
Muft Smoker
🤣🤣🤣🤣🤣🤣 ,,
pengaman tingkat tinggi pak su ,,
jgn lupa kolam air di isi penuhh ,,
sypa tau nnti mlm mau jdi pangeran duyung lgii🤭🤭🤭🤣🤣🤣


kak mksiih buat up ny ,,
sehat selalu
Muft Smoker: sama2 kak 😁😁😁
total 2 replies
Muft Smoker
tu si pak komandan lngsung nyebur ke kolam air kah🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣 ,,
sabar yx pak suu ,,
meski menghadapi calla tu membuat kesabaran setipis tissue 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker: ooo kirain pak komandan langsung nyemplung ke bak mandiii 🤭🤭🤭🤣🤣🤣
total 2 replies
Muft Smoker
🤣🤣🤣🤣 pertahanan bpa komandan udh hancuur lebur 🤭🤭🤭🤭
Muft Smoker: yx kak ,, krn dy udh sedia air dingiin dkamar mandii🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Ariska Kamisa
"Novel ini menyajikan kisah komedi romantis yang ringan, manis, dan menghibur antara seorang komandan berusia 38 tahun yang tegas, kaku, dan disiplin dengan istrinya yang berusia 21 tahun, seorang cegil ceria yang genit, usil, dan selalu berhasil membuat hidup sang komandan jungkir balik.
Perbedaan usia, kepribadian yang bertolak belakang, serta tingkah kocak sang istri menciptakan banyak momen lucu, menggemaskan, sekaligus romantis. Di balik segala kekacauan yang dibuat istrinya, sang komandan perlahan menunjukkan sisi lembut dan posesif yang hanya ia tunjukkan untuk wanita yang dicintainya.
Cocok untuk pembaca yang menyukai romcom penuh tawa, kemesraan pasangan suami istri, dan kisah cinta yang hangat tanpa terlalu banyak drama berat. Selamat membaca dan semoga terhibur!" 💕✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!