NovelToon NovelToon
Terpaksa Menjadi Istri Sang Miliarder

Terpaksa Menjadi Istri Sang Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

Hidup Arumi hancur saat ayahnya terjerat utang besar kepada keluarga konglomerat Wijaya. Untuk melunasi utang tersebut, ia terpaksa menikah dengan Renard, sosok miliarder dingin yang dikenal kejam dan penuh rahasia. Bagi Renard, Arumi hanyalah alat untuk memenuhi tuntutan keluarga. Namun, di balik topeng arogan dan gengsinya, Renard menyimpan sisi lembut yang ia sembunyikan dari dunia, termasuk hobi rahasia yang tidak sengaja terbongkar oleh Arumi. Tanpa Renard sadari, Arumi adalah sosok penyelamat masa kecil yang selama ini ia cari. Mampukah Arumi mencairkan hati sang miliarder sebelum masa kontrak pernikahan mereka berakhir dan rahasia masa lalu terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Langkah Mandiri dan Sayap yang Melebar

Pagi berikutnya membawa atmosfer kesibukan yang sama sekali berbeda di Mansion Wijaya.

Jika biasanya sayap timur rumah raksasa itu selalu sunyi dan hanya digunakan sebagai ruang penyimpanan pajangan seni yang jarang disentuh, kini ruangan luas berlantai parket itu telah disulap menjadi sebuah studio kerja pribadi yang sangat hidup.

Renard benar-benar membuktikan ucapannya.

Tanpa sepengetahuan Arumi, pria itu telah mengutus tim interior dari perusahaannya untuk menata ulang ruangan tersebut dalam waktu singkat.

Kini, di dalam ruangan itu terdapat sebuah meja kerja kayu minimalis, rak-rak estetik yang memajang sampel produk pakan kucing siap edar, pencahayaan studio profesional untuk keperluan live streaming, serta sudut khusus dengan latar belakang ramah kamera demi menunjang optimalisasi konten digital.

Arumi berdiri di ambang pintu, menatap ruangan baru itu dengan mata yang berbinar tak percaya. Ia mendekati meja kerja, menyentuh permukaan kayu yang halus, lalu beralih memandangi deretan pouch kemasan berdesain baru yang sudah tertata rapi di atas rak.

Merek dagang kecilnya, yang dulu dirintis dengan modal seadanya di kamar kos yang sempit, kini terlihat seperti sebuah jenama premium yang siap bersaing di pasar modern.

"Bagaimana? Apa ada tata letak yang kurang sesuai dengan keinginanmu?"

Suara bariton yang familier itu terdengar dari arah pintu. Arumi menoleh dan mendapati Renard sedang bersandar di bingkai pintu dengan kedua tangan di dada.

Pria itu mengenakan kemeja rajut kasual berwarna abu-abu dengan lengan yang digulung rapi hingga siku.

Tatapan matanya lurus mengunci Arumi, memancarkan binar kepuasan tersendiri melihat binar bahagia di wajah istrinya.

Arumi langsung berlari kecil mendekati Renard, memeluk pinggang kokoh pria itu dengan erat tanpa memedulikan gengsi. "Renard... ini terlalu luar biasa. Kamu tidak perlu menyiapkan studio semewah ini hanya untuk bisnis kecilku."

Renard terkekeh pelan, melingkarkan satu lengannya di bahu Arumi dan mengecup puncak kepala wanita itu dengan lembut. "Tidak ada kata 'kecil' untuk sebuah impian yang dibangun dengan kerja keras, Arumi. Aku hanya menyediakan fasilitasnya. Sisanya, eksekusi dan keberhasilan bisnis ini sepenuhnya berada di tanganmu. Aku ingin melihat seberapa jauh kemandirian finansial yang selalu kamu banggakan itu bisa berjalan."

Arumi melepaskan pelukannya, lalu menuntun Renard mendekati meja kerja di mana beberapa sampel produk pengemasan ulang (repack) pakan kucing premium miliknya diletakkan. Ia mengambil sebuah pouch berukuran 800 gram yang telah dikemas menjadi bagian-bagian kecil seberat 200 gram.

"Aku sudah memastikan langsung kalkulasi produksinya semalam," ujar Arumi serius, beralih penuh ke mode profesional sebagai pelaku usaha.

"Setiap satu kemasan besar berukuran 800 gram ini, setelah melalui proses kurasi dan pengemasan ulang yang higienis, berhasil menghasilkan tepat 7 pouch kecil siap jual. Dengan penyesuaian harga bahan baku yang baru, margin keuntungan bersih kita bisa meningkat hingga lima belas persen tanpa harus menaikkan harga jual di pasar digital."

Renard mengambil salah satu pouch kecil dari tangan Arumi, memeriksa kerapian segel plastik dan detail stiker penjenamaan (branding) di permukaannya dengan pandangan seorang analis bisnis ulung.

"Pilihan material kemasannya sangat bagus. Kedap udara dan memiliki estetika visual yang tinggi," komentar Renard, memberikan penilaian yang jujur tanpa ada maksud meremehkan.

"Tetapi, jika kamu mulai melakukan penjualan interaktif secara langsung melalui live streaming, kamu harus memastikan konsistensi pasokan bahan baku. Jangan sampai saat permintaan pasar melonjak akibat algoritma digital yang naik, kamu justru kehabisan stok dari distributor utama."

Arumi mengangguk paham, mencatat setiap poin penting dari ucapan suaminya di dalam benaknya. "Benar. Rencananya, minggu depan aku akan mulai menjadwalkan sesi live streaming pertama untuk memperkenalkan konsep baru ini. Aku juga akan mengoptimalkan konten edukasi nutrisi hewan peliharaan di akun TikTok milikku agar bisa menarik audiens yang lebih loyal."

Renard menatap Arumi dengan gurat kebanggaan yang tak disembunyikan. Wanita di hadapannya ini bukan lagi seorang gadis rapuh yang ketakutan akan bayang-bayang kehancuran masa lalu keluarganya.

Arumi kini telah bertransformasi menjadi seorang wanita tangguh, cerdas, dan penuh rasa percaya diri yang siap mengepakkan sayapnya sendiri untuk terbang tinggi.

"Bagus. Jika kamu membutuhkan relasi untuk jalur distribusi yang lebih luas, katakan padaku. Tapi aku tahu, istriku yang keras kepala ini pasti lebih memilih untuk mengetuk pintu distributor itu sendiri," goda Renard sembari mencubit pelan hidung Arumi, memancing tawa renyah yang seketika mencairkan suasana serius di dalam studio tersebut.

Langkah kaki yang teratur dari arah koridor luar memutus interaksi manis di antara mereka.

Mama Sofia melangkah masuk ke dalam studio dengan senyuman hangat yang menghiasi wajah anggunnya. Di tangannya, beliau membawa sebuah map beludru berwarna biru malam yang dihiasi pita satin emas di bagian tepinya.

"Wah, ruangan ini sekarang kelihatan sangat hidup ya. Mama senang sekali melihatnya," puji Mama Sofia sembari mengedarkan pandangan ke sekeliling studio baru menantunya.

Beliau kemudian berjalan mendekati meja kerja dan meletakkan map beludru tersebut di sana. "Arumi, Renard... ini draf final untuk daftar undangan resepsi pernikahan kalian bulan depan sudah selesai dicetak oleh pihak wedding planner."

Arumi membuka map tersebut dengan hati-hati. Di lembar pertama, tertera deretan nama-nama tamu undangan yang jumlahnya sangat terbatas—tidak lebih dari lima puluh orang.

Tidak ada nama pejabat tinggi korporat yang tidak mereka kenal secara pribadi, tidak ada nama politisi, dan sama sekali tidak ada celah bagi awak media untuk masuk.

Daftar itu hanya dipenuhi oleh keluarga besar Wijaya, beberapa kerabat dekat dari mendiang ayah Arumi yang masih setia, serta sahabat-sahabat karib mereka berdua.

"Mama sengaja memastikan suasananya tetap intim dan sakral, sesuai dengan permintaan kalian," ujar Mama Sofia lembut, menggenggam tangan Arumi dengan penuh kasih sayang.

"Mama ingin hari itu menjadi hari di mana kalian benar-benar merayakan cinta dan komitmen kalian di hadapan Tuhan dan orang-orang yang tulus menyayangi kalian, tanpa ada tekanan dari tuntutan status sosial."

Arumi menatap deretan nama di atas kertas tersebut, dan setitik rasa haru kembali menggenang di pelupuk matanya.

Dahulu, setiap acara formal yang diadakan oleh keluarga Baskoro selalu tentang pamer kemewahan dan jaringan bisnis. Namun di sini, di bawah naungan keluarga Wijaya, ia akhirnya memahami arti dari sebuah perayaan yang sesungguhnya—sebuah momen suci yang didasari oleh ketulusan rasa, bukan sekadar etalase sandiwara dunia luar.

Renard melangkah mendekat, berdiri tepat di belakang Arumi dan melingkarkan tangannya di pundak sang istri, memberikan kekuatan fisik yang menenangkan. "Terima kasih, Mama. Ini sudah sangat sempurna."

Malam mulai turun perlahan di balik jendela kaca studio sayap timur, membawa pendar lampu kota yang mulai menyala satu per satu.

Di dalam ruangan itu, di antara rencana bisnis yang mulai berjalan mantap dan persiapan pernikahan sakral yang kian matang, Arumi tahu bahwa badai masa lalunya telah sepenuhnya berlalu.

Bersama Renard di sisinya, ia siap melangkah menuju hari esok dengan keyakinan penuh, membangun sebuah masa depan baru yang dibangun di atas fondasi cinta yang sejati dan abadi.

1
Rakha Al Badri Yasin
bagus😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!