Diusir keluarga karena hamil di luar nikah dan ditinggalkan pria yang menghamilinya, Kemala bertahan hanya demi satu alasan, yaitu bayinya.
Namun dua hari setelah melahirkan, putranya menghilang tanpa jejak.
Takdir mempertemukannya dengan Bastian Rothmere, pewaris keluarga konglomerat yang sedang putus asa mencari ibu susu bagi seorang bayi yang kehilangan ibu kandungnya.
Sebagai imbalan, Bastian berjanji membantu mencari putra Kemala yang hilang.
Namun tinggal di kediaman Rothmere justru menyeret Kemala ke dalam perang dingin keluarga kaya raya. Terutama ketika istri sah Bastian terang-terangan menolak keberadaan sang bayi pewaris.
Di tengah rahasia, ambisi, dan perebutan kekuasaan yang semakin berbahaya, Kemala mulai menyadari bahwa hilangnya putranya mungkin bukan sekadar kebetulan.
Hingga suatu malam, Bastian menghantam meja rapat dan berkata dengan suara dingin,
“Siapa pun yang berani menyentuh pewaris Rothmere atau anak Kemala, akan kubuat menyesal telah dilahirkan!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N A R I, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Ulang Tahun Madam
"Sebentar lagi ulang tahun Mama." Raline berdiri tepat di depan Bastian.
Wanita itu masih mengenakan gaun mahal dari acara sosialita yang baru saja ditinggalkannya. Namun kali ini tak ada senyum anggun yang biasa Raline tunjukkan di depan publik. Yang ada hanya tatapan tajam penuh ancaman.
"Aku bisa menggunakan kesempatan itu untuk membongkar semua kebusukanmu." Jari telunjuk wanita itu menekan dada Bastian. "Kita lihat nanti. Keluarga besar Rothmere akan lebih percaya siapa? Istrimu atau ibu susu itu?"
Bastian menatap tangan yang menekan dadanya. Lalu menggesernya pelan. Tatapan Bastian sangat dingin. "Kamu sudah selesai bicara?"
Raline hanya membeku. Bastian berbalik tanpa emosi, tanpa kemarahan, dan tanpa ancaman balasan. Bastian hanya pergi meninggalkan Raline yang berdiri sendirian dengan wajah merah menahan amarah.
Pagi berikutnya. Ruang kerja Presiden Direktur Rothmere Group berubah menjadi pusat operasi.
"Semua rekaman CCTV kediaman selama dua bulan terakhir." Bastian membuka dokumen daftar bukti yang sudah disiapkan.
"Ya, Tuan."
"Semua bukti pesan ancaman," ucap Bastian sambil melihat dokumen daftar bukti itu seksama.
"Sudah kami kumpulkan."
"Riwayat panggilan," lanjut Bastian yang sudah membalik lembar dokumen perlahan.
"Sedang diproses."
Bastian duduk di balik meja kerjanya. Tak ada tumpukan dokumen maupun laporan investasi hari itu. Yang ada hanya satu nama, Reza Adiprana. Sekretaris pribadi Bastian menyerahkan tablet.
"Tuan, Ibu Kemala sudah mengirim seluruh tangkapan layar ancaman."
Bastian membuka satu per satu. Tatapan pria dengan setelan jas lengkap itu semakin gelap. Terutama ketika membaca ancaman yang menyebut akan mendatangi Kediaman Rothmere. Pria itu menutup tablet.
"Pastikan semuanya masuk ke jaksa."
"Baik, Tuan."
Di sisi lain kota. Reza mulai menyadari hidupnya runtuh. Nomor pertama yang pria itu hubungi adalah Raline. Namun berapa kalipun Reza mencoba menghubungi nyonya Rothmere itu tetap saja tak tersambung. Tak lama kemudian, nomor pria itu telah diblokir oleh Raline.
"Apa?!" Reza spontan berdiri.
Wajah pria itu langsung pucat. Wanita yang menjanjikan bantuan itu menghilang begitu saja. Dengan panik Reza menghubungi keluarganya. Hanya bapak Reza yang menjawab panggilannya.
"Pak! Tolong saya!"
"Tolong apa?" suara sang bapak terdengar dingin.
"Pak, saya dijebak!" teriak Reza begitu panik.
"Kamu berurusan dengan Rothmere?"
Reza terdiam. Jantung pria itu berdegup kencang. Keringat mulai terlihat di wajah Reza yang sangat penuh dengan kepanikan.
"Bapak sudah dengar semuanya," ucap pria paruh baya itu di balik telepon.
"Pak–"
"Tidak usah hubungi keluarga lagi!" terdengar amarah besar di balik suara bapak Reza.
Reza membelalak. "Pak!"
"Kamu terus memalukan keluarga."
Klik.
Sambungan terputus. Reza kembali menelepon. Namun nomor pria itu langsung diblokir. Tangan Reza mulai gemetar hebat.
Beberapa minggu kemudian, persidangan berlangsung cepat. Bukti terlalu banyak dan terlalu kuat. Pesan ancaman, percakapan pemerasan, saksi, dan rekaman. Termasuk kesaksian Rani yang datang jauh-jauh dari kampung. Wanita itu berdiri di depan majelis hakim.
"Saya mengenal Kemala sejak kecil," ungkap Rani begitu lugas tanpa keraguan.
"Dia tidak pernah meminta uang kepada terdakwa," lanjut Rani kemudian melihat Reza dengan wajah kesal.
"Justru terdakwa yang terus mengganggu hidupnya." Rani menatap Reza lalu akhirnya memalingkan kembali ke hakim persidangan.
"Semua ini karena Raline!" Reza berusaha membela diri. "Raline Rothmere yang menyuruh saya!"
Hakim menatap datar. "Apakah ada bukti?"
Reza terdiam karena memang tak ada bukti apapun. Karena Mira telah membersihkan semuanya. Jejak pesan, jejak panggilan, dan jejak komunikasi semuanya hilang. Reza langsung menyadari bahwa dirinya benar-benar telah dibuang.
Majelis hakim akhirnya membacakan putusan.
"Terdakwa terbukti melakukan tindak pidana pemerasan sebagaimana diatur dalam Pasal 368 KUHP."
"Terdakwa juga terbukti melakukan pengancaman sebagaimana diatur dalam Pasal 369 KUHP."
"Menjatuhkan pidana penjara sesuai ketentuan hukum yang berlaku."
Palu diketuk. Tok! Tok! Tok!
Reza terduduk lemas. Wajah pria itu terlihat sangat pucat. Masa depan Reza telah selesai. Tak lama setelah putusan itu keluar. Instansi tempat Reza bekerja melakukan pemeriksaan etik. Status ASN-nya dicabut dengan pemberhentian tidak hormat. Sementara tunangan pria itu langsung membatalkan pernikahan. Keluarga calon mempelai bahkan menolak bertemu dengan Reza lagi. Dalam hitungan minggu semua yang selama ini dibangun Reza runtuh.
Di luar ruang sidang, Kemala menangis. Namun kali ini bukan karena putus asa. Melainkan karena beban yang selama ini menekan dada wanita itu perlahan terangkat.
"Terima kasih ..." suara Kemala bergetar.
Kemala menunduk kepada Bastian. "Terima kasih banyak, Pak."
Bastian hanya mengangguk. Namun dalam hati pria dengan setelan lengkap itu muncul perasaan yang tak nyaman. Karena satu orang belum tersentuh. Raline sebagai dalang yang sebenarnya. Belum bisa Bastian jangkau dengan sembarangan.
Kemala kembali menangis. Rani langsung memeluk sahabatnya itu.
"Sudah ... Sudah selesai."
Kemala mengangguk sambil terisak. Rani tersenyum tipis.
"Aku harus pulang besok. Kateringku sudah ditinggal terlalu lama," ucap Rani.
Kemala tertawa kecil di sela tangisnya. "Terima kasih, Ran."
"Jangan aneh-aneh." Rani mencubit lengan Kemala pelan.
Kemala akhirnya benar-benar tertawa.
Beberapa hari kemudian. Kediaman Utama Rothmere berubah megah. Lampu-lampu kristal menyala terang. Karpet merah membentang. Puluhan mobil mewah memenuhi halaman.
Hari itu adalah ulang tahun Madam Eleanora. Seluruh keluarga besar Rothmere hadir. Termasuk para sepupu yang memimpin berbagai perusahaan cabang Rothmere di seluruh Indonesia.
Mereka tersenyum, mereka tertawa, dan mereka memberi hormat kepada Bastian. Namun semua orang tahu. Di balik senyum itu tersimpan ambisi. Karena jika Bastian jatuh, mereka adalah orang pertama yang berebut kursi kekuasaan.
"Selamat ulang tahun, Madam."
"Semoga sehat selalu."
"Rothmere semakin berjaya."
Ucapan mengalir silih berganti. Namun di sela-sela percakapan, ternyata bisikan lain terdengar
"Anak itu Nathan?"
"Iya. Pewaris utama."
"Tapi Raline tidak pernah hamil."
"Benar."
"Lalu dari mana anak itu?"
Pertanyaan yang sama terus muncul. Nathan hadir malam itu. Digendong bergantian oleh pengasuh. Namun yang paling sering berada di dekat bayi itu adalah Kemala. Gaun yang dikenakan Kemala terlihat sederhana, sopan, dan tak mencolok.
Tetapi justru itulah yang membuat Kemala begitu terlihat berbeda. Seorang wanita desa berada di tengah lautan konglomerat. Tatapan orang-orang terus mengarah kepada wanita desa itu.
Raline memperhatikan semuanya lalu perlahan tersenyum. Raline begitu memahami situasi yang bisa menguntungkannya. Saatnya tiba untuk Raline merendahkan wanita yang begitu Raline benci. Wanita dengan gaun merah yang begitu mewah itu melangkah mendekati Kemala.
"Kamu terlihat sangat percaya diri malam ini."
Kemala hanya menunduk sopan. "Saya hanya menjalankan pekerjaan saya, Nyonya."
"Pekerjaan?" Raline tertawa kecil.
Beberapa orang mulai memperhatikan.
"Menarik." Raline sedikit mengangkat dagu dan menyilangkan tangannya.
"Biasanya pengasuh bayi memakai seragam," lanjut Raline sambil memainkan rambut yang menguntai mewah.
Tatapan orang-orang langsung mengarah kepada Kemala.
Raline melanjutkan. "Tapi kamu justru memakai gaun."
Kemala diam. "Nyonya, Nathan sedang tidur."
"Oh." Raline mengangkat alis. "Kamu bahkan berbicara seolah anak itu milikmu."
Beberapa sepupu mulai berbisik. Tatapan mereka semakin tajam.
"Siapa dia?"
"Bukan pengasuh biasa?"
"Kenapa bisa hadir di acara keluarga?"
Kemala memilih diam. Fokus memperhatikan Nathan. Namun Raline sama sekali tak berhenti.
"Memang ya. Kadang seseorang lupa posisi setelah terlalu lama berada di tempat yang bukan miliknya."
Ruangan mulai hening. Bahkan musik terasa semakin pelan. Semua orang menunggu reaksi. Kemala tetap diam. Wanita itu hanya membenarkan selimut Nathan. Dan justru sikap itu membuat olok-olok Raline terasa semakin kejam.
"Setidaknya orang harus tahu kelasnya," kata Raline.
"Tidak semua orang bisa menjadi bagian keluarga Rothmere," dengus Raline sambil sedikit memiringkan tubuhnya agar suaranya semakin terdengar oleh semua tamu yang berada di sana.
Kemala menunduk tak membalas dan tak melawan. Situasi itu membuat beberapa tamu mulai merasa tak nyaman.
"Cukup."
Suara berat tiba-tiba terdengar. Semua kepala menoleh. Bastian berdiri dengan tatapan yang lurus kepada Raline.Lalu Bastian menatap seluruh keluarga besar Rothmere.
Ruangan langsung sangat sunyi. Bastian melangkah mendekati Kemala. Kemudian berdiri di samping wanita itu. Secara terbuka di depan seluruh keluarga.
"Jika ada yang masih bertanya siapa Kemala," suara Bastian terdengar tenang. Namun cukup membuat seluruh ruangan membeku. "Kemala adalah ibu susu Nathan."
Bisikan langsung bermunculan. Namun Bastian belum selesai. Tatapan pria yang menjadi pusat perhatian itu menyapu seluruh keluarga besar Rothmere satu per satu.
"Atau bisa dibilang ..." Bastian berhenti sejenak. Lalu berkata dengan jelas. "Kemala adalah ibu kedua Nathan."
Ruangan langsung hening total. Wajah para sepupu Rothmere berubah. Raline langsung membeku. Sementara Kemala sendiri tak mampu berkata apa-apa. Ini menjadi pertama kalinya sejak menginjakkan kaki di Kediaman Rothmere. Bastian secara terbuka menempatkan dirinya di sisi Kemala.
"Jadi.” Tatapan Bastian menyapu seluruh keluarga besar Rothmere. "Kemala harus diperlakukan dengan penuh hormat. Sebagaimana keluarga Rothmere menghormati siapa pun yang menjaga pewarisnya."
Like+ bunga🌹 , semangat thor ✍️
kalo berkenan mampir juga y😉