“Aku hanya membutuhkanmu untuk melahirkan pewarisku. Tidak lebih!”
Itulah kata paling menyakitkan yang diucapkan Duke Cassian Clyvedon kepada Elowen Whitmore. .
Semua orang di kerajaan tahu bahwa Duke Clyvedon adalah pria yang ditakuti, dingin, kejam, dan tak pernah mempercayai siapa pun.
Sementara Elowen Whitmore hanyalah putri kedua dari keluarga bangsawan yang hampir bangkrut… seorang gadis yang bahkan tidak bisa berbicara.
Ia tidak seharusnya menjadi pengantin sang duke.
Namun ketika kakaknya melarikan diri dari perjodohan yang telah diatur kerajaan, Elowen dipaksa menggantikan posisi itu demi menyelamatkan kehormatan keluarganya.
Kini ia terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan pria paling menakutkan di kerajaan.
Semua orang yakin pernikahan ini hanya akan berakhir dengan kehancuran.
Tapi tidak seorang pun menyadari satu hal, bahwa sang duchess bisu mungkin adalah satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hati sang Duke.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farchahcha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Kediaman Whitmore hari itu sangat sibuk. Pelayan berlalu lalang mempersiapkan jamuan, malam ini akan datang tamu istimewa.
“Kau yakin, Duke of Clyvedon yang akan datang malam ini?” tanya Bastian. “Untuk melamar Elowen?” lanjutnya dengan nada terkejut.
Adrian mengangguk, “Ya, dia sendiri yang mengatakan akan berkunjung kemari untuk pertemuan keluarga.”
“Jadi itu benar? Rumor tentang Elowen yang dipilih oleh Duke sendiri sebagai istrinya?” Dylan yang sejak tadi ingin bersuara akhirnya mendapat kesempatan.
“Kau pikir aku akan berbohong di keadaan genting seperti ini?” Adrian menjawab dengan mantap.
Setelah pertemuan mereka di kerajaan, Sang Duke tidak membuang waktu. Pria itu mengatakan akan berkunjung dan melihat langsung kediaman calon istrinya.
Mengenal calon mertua yang akan dilayaninya kelak.
“Dia tidak keberatan dengan keadaan Elowen yang tidak bisa bicara?” tanya Bastian masih ragu dengan berita mengejutkan ini.
Adrian malas menjawab untuk yang satu itu, dia mengabaikan Bastian.
“Aku ingin kalian bisa mengontrol sikap saat Duke of Clyvedon datang.” Adrian berbalik dan meninggalkan ruang tengah kediaman Whitmore.
Senyum mengembang di bibirnya, tentu saja suasana hati Adrian sangat cerah akhir-akhir ini.
Selangkah lagi masalah tentang hutang keluarga Whitmore akan terselesaikan. Para penagih itu tidak mungkin meragukan kedudukan keluarga Whitmore.
Berbeda dengan Elowen, wanita itu duduk termenung di kamarnya. Melihat pantulan dirinya di depan cermin dalam diam, tapi hatinya tidak demikian.
Pikirannya sibuk sendiri, memikirkan banyak hal yang terjadi begitu cepat.
Menikah dengan sang duke?
“Kenapa dia memilihku? Apa dia sudah mengenalku? Padahal itu kali pertama kami bertemu.”
Banyak pertanyaan yang terlintas di benak Elowen.
Baginya, menikah dengan sesama Baron itu hal yang mungkin terjadi. Bukan dengan seorang Duke yang kedudukannya jauh di atas keluarganya.
Dengan keadaannya seperti sekarang, apakah itu mungkin?
Seorang putri bisu dari keluarga status terendah bisa menikah dengan seorang Duke, dimana statusnya langsung di bawah kerajaan.
Duke of Clyvedon itu… dia pria yang sangat kekar, tampan, tidak ada kekurangan apapun yang terlihat. Lalu, kenapa dia memilihnya menjadi seorang istri?
Elowen memijat pelipisnya yang mulai berdenyut.
“Anda baik-baik saja miss?” tanya seorang pelayan yang masuk ke dalam kamar Elowen.
Elowen menggeleng, memaksakan senyum di wajahnya.
“Saya diminta untuk membantu anda bersiap untuk malam ini, Miss.” Pelayan tersenyum lalu meletakkan beberapa perlengkapan yang dibawanya.
Semua adalah hal yang diperlukan Elowen untuk menyambut pria yang akan melamarnya secara resmi. Duke of Clyvedon. Cassian George Arthur Frederick Clyvedon.
Entah apa yang sebenarnya Elowen rasakan, tapi, dia sebenarnya tidak siap untuk pernikahan ini. Elowen merasa ada yang janggal, semuanya begitu cepat dan tidak masuk akal.
***
Pukul tujuh malam, seperti kesepakatan. Sang Duke datang dengan didampingi pengawalnya.
Kereta kudanya berhenti tepat di halaman kediaman Whitmore.
Adrian menyambut langsung pria berkuasa itu.
“Selamat datang di kediaman Whitmore, Your Grace.” Adrian menunduk sopan menyambut Sang Duke.
Cassian menerima penyambutan dari Adrian dengan anggukan tipis. “Terima kasih, Lord Whitmore.” Ucapnya datar tanpa senyum sedikitpun.
Tatapannya dingin untuk seseorang yang datang melamar. Bahkan Cassian melewati Adrian begitu saja ketika pria itu masih menunduk hormat.
Meja makan panjang di kediaman Whitmore sudah penuh dengan berbagai hidangan berhias cahaya lilin yang lembut.
Bastian, Dylan, dan Elowen berdiri di posisinya. Sementara para pelayan berdiri di sisi dinding, menunggu perintah tanpa suara.
Adrian mengambil tempat di ujung meja. “Silahkan, Your Grace,” ujarnya mempersilahkan.
Cassian duduk tanpa banyak kata, gerakannya tenang, angkuh, dan dingin. Elowen melirik pria itu sesaat, tidak ada keramahan dari wajahnya. Pria itu tidak gugup seperti gambaran pria yang ingin mengajukan lamaran.
Makan malam dimulai dalam keheningan. Hanya sesekali terdengar denting halus dari peralatan makan. Percakapan yang terjadi pun hanya formalitas.
Elowen tidak bersuara, karena memang dia tidak bisa.
Sampai akhirnya, Cassian meletakkan sendoknya.
“Saya tidak datang hanya untuk beramah tamah, saya datang untuk mengajukan lamaran resmi.”
Cassian berbicara dengan nada datar. Tidak ada senyum atau perubahan nada, pria itu mengajukan lamaran seolah membaca teks.
“Saya berniat menikahi salah satu anggota keluarga Whitmore. Lady Elowen.”
Elowen mengangkat kepalanya, matanya langsung bertemu dengan Cassian. Sesaat dia bisa melihat wajah tampan yang luar biasa sang duke.
Ruangan mendadak sunyi.
Adrian tidak langsung menjawab, tetap berusaha tenang sambil menatap Cassian.
“Apa yang membuat anda yakin bahwa keluarga Whitmore akan menerima lamaran itu, Your Grace?” ujar Adrian dengan suara terkontrol.
“Bukankah kalian sedang mencari pelamar? Setidaknya itu yang kulihat di kerajaan.”
Sikap Cassian yang tenang mengintimidasi Adrian.
“Benar sekali, kami memang sedang mencari pelamar untuk adik bungsu kami, Elowen.” Adrian menoleh ke arah Elowen di sisi kanan.
“Tapi, seperti yang anda tahu. Keluarga Whitmore tidak bisa memberikan mahar yang besar untuk pernikahan ini.”
Karena memang pernikahan ini hanya untuk membangun aliansi. Mana mungkin Adrian menyiapkan mahar besar untuk pernikahan Elowen.
“Saya tidak membutuhkan mahar.” Cassian tidak butuh waktu lama untuk membalas ucapan Adrian.
Semua orang di sana tampak terkejut dengan ucapan Cassian yang tidak membutuhkan mahar. Lebih terkejut lagi dengan ucapan Cassian selanjutnya.
“Sebaliknya, saya akan memberikan delapan puluh ribu pound untuk Lady Elowen setelah pernikahan,” lanjut Cassian datar.
Angka yang cukup besar untuk sebuah pernikahan.
Mata Elowen bergetar mendengarnya. Delapan puluh ribu pound? Hadiah yang cukup besar untuk sebuah pernikahan. Sangat besar untuk seorang putri bisu sepertinya.
“...dan masing-masing anggota keluarga Whitmore akan menerima tiga puluh ribu pound.”
Semua orang tersentak, menatap Cassian.
Sunyi seketika.
Bahkan hembusan napas kasar Bastian terdengar jelas di ruangan itu.
Tidak cukup memberikan hadiah yang besar untuk Elowen, bahkan semua saudaranya akan mendapat bagian tiga puluh ribu pound.
Seberapa kaya sebenarnya Duke of Clyvedon ini? Batin Elowen sambil melihat ke arah Cassian dengan mata bulatnya.
Cassian menyebutkan nominal yang sangat besar itu begitu ringan seolah bukan apa-apa.
Adrian sampai kehilangan kata-katanya.
Ekspresinya sedikit berubah. Jelas terkejut.
Tawaran macam apa ini? Bukan cuma hutang keluarga mereka yang akan lunas, reputasi mereka di depan bangsawan akan melejit naik. Semua bisa terselesaikan dengan pernikahan ini.
“Tawaran yang… sangat besar, Your Grace,” ucap Adrian.
“Tapi, saya harap anda bisa memahami bahwa adik saya ini bukan putri yang sempurna.”
Adrian mencoba memberitahu sang duke keadaan Elowen sebenarnya dengan banyak kiasan. Sebenarnya dia takut kalau Cassian bertanya lebih jauh tentang Elowen dan menarik semua tawarannya.
Tatapan Cassian beralih ke arah Elowen sesaat kemudian kembali menatap Adrian.
“Soal dia tidak bisa bicara?” ucap Cassian ringan.
Semua orang membeku, Elowen terdiam, tangannya meremas di bawah meja.
“Itu bukan masalah besar. Saya tahu persis siapa yang saya pilih,” jawab Cassian.
Adrian menghembuskan napas pelan, lalu akhirnya mengangguk.
“Kalau begitu… keluarga Whitmore menerima lamaran Anda, Your Grace.”
Elowen masih terpaku pada Cassian. Pria itu… dia mengatakan kalau kekurangannya bukan masalah besar. Putri bisu yang selama ini selalu dipandang remeh, bahkan tidak perlu mengeluarkan sepeserpun untuk sebuah mahar. Melainkan mendapat sebuah hadiah yang cukup besar.
Delapan puluh ribu pound, nominal yang bisa menghidupi selama lima ratus tahun tanpa kekurangan.
“Duke of Clyvedon, seperti apa dirimu sebenarnya?” ucap Elowen dalam diamnya.
***
klo di rupiah kan setara dgn berapa kah...?
auto lsg tanta mbh gogle
you're amazing writer