NovelToon NovelToon
Belenggu Masa Lalu: Menjemput Hatimu Kembali

Belenggu Masa Lalu: Menjemput Hatimu Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: aera_yong

Genre: Romance, Psychological Thriller, Suspense, Drama

Tag: CEO, Mantan Istri, Posesif, Psikopat, Penyesalan, Second Chance Romance

Sinopsis Resmi:
Dua tahun setelah menceraikan Kirana karena keangkuhannya, CEO Adrian Dirgantara didera penyesalan mendalam. Saat ia berniat merebut kembali hati mantan istrinya, Adrian mendapati Kirana telah menikah lagi dengan Rendy Baskoro.

Di mata publik, Rendy adalah suami sempurna. Namun di balik pintu rumah, Rendy adalah seorang psikopat manipulatif yang menyiksa dan menyekap Kirana dalam teror obsesi yang gila.

Menyadari Kirana dalam bahaya maut, Adrian mempertaruhkan nyawa dan seluruh kekuasaannya untuk menghancurkan Rendy. Akankah Kirana yang penuh trauma bisa kembali luluh dan selamat di pelukan Adrian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Singa yang Terbangun (2)

Langkah kaki Kirana yang tergesa-gesa membelah lobi menara SCBD yang megah. Air matanya telah mengering, digantikan oleh kobaran kemarahan yang dingin di dalam dadanya. Ia tidak peduli lagi pada tatapan heran orang-orang yang melihat pakaiannya yang sedikit kusut. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Kirana tidak merasa sebagai korban yang ketakutan. Ia merasa seperti seorang Larasati yang sesungguhnya—darah pengusaha tekstil besar yang pernah berjaya di masa lalu kini bergejolak di dalam nadinya.

Begitu keluar dari pintu kaca lobi, sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti tepat di depannya. Pintu belakang terbuka, dan sesosok pria paruh baya berambut pepat beruban melangkah keluar. Pria itu mengenakan setelan jas formal dengan lencana pin advokat emas di kerah kirinya.

"Nona Kirana Larasati?" tanya pria itu dengan nada suara yang berwibawa namun sopan.

Kirana menghentikan langkahnya, menatap pria itu dengan waspada. "Siapa Anda?"

"Nama saya **Hendra Wijaya**," pria itu membungkuk sedikit, memberikan sebuah kartu nama elegan berpita perak. "Saya adalah mantan kepala divisi hukum Larasati Tekstil, sekaligus sahabat baik mendiang ayah Anda. Saya sudah menunggu momentum ini selama lima belas tahun, Nona. Saya tahu apa yang baru saja terjadi di atas."

Kirana menatap kartu nama itu: *Hendra & Partners Law Firm*. Ingatan masa kecilnya samar-samar memunculkan wajah pria ini yang dulu sering datang ke rumahnya membawa dokumen-dokumen tebal bersama ayahnya.

"Anda tahu tentang konspirasi itu?" bisik Kirana, suaranya bergetar samar.

"Saya tahu segalanya, termasuk bagaimana ayah Anda dijebak," Hendra membukakan pintu mobil lebih lebar. "Dan saya di sini untuk memastikan bahwa putri dari sahabat saya tidak berjalan sendirian ke medan perang. Mari, Nona Kirana. Kita tunjukkan pada Dirgantara dan Baskoro bahwa Larasati belum sepenuhnya mati."

Tanpa ragu lagi, Kirana melangkah masuk ke dalam mobil. Sedan hitam itu melaju membelah jalanan Jakarta yang mulai diguyur rintik hujan, meninggalkan bayang-bayang Adrian Dirgantara jauh di belakang.

---

Sementara itu, di dalam ruang kerja Danuar, atmosfer masih terasa mencekam. Adrian berdiri tegak di tengah ruangan, tatapan matanya begitu menusuk hingga membuat Arissa yang tadinya tersenyum puas kini mulai merasa tidak nyaman.

"Kamu mengira kamu sudah menang, Danuar?" suara Adrian terdengar sangat rendah, namun sarat akan ancaman yang mematikan.

Danuar Baskoro memperbaiki letak kacamata bingkai emasnya, mempertahankan ketenangannya yang kalkulatif. "Secara hukum dan fakta psikologis, ya, Adrian. Istrimu sudah berbalik melawanmu. Fondasi emosionalmu hancur. Dalam dunia bisnis, seorang pemimpin yang emosinya tidak stabil adalah pemimpin yang sudah kalah sebelum bertanding."

Adrian melangkah mendekati meja Danuar perlahan. Setiap langkahnya terasa berat dan mengintimidasi. Ia meletakkan kedua telapak tangannya di atas meja kaca, mencondongkan tubuhnya ke arah Danuar.

"Rendy mengincar tubuh dan raga Kirana, dan aku menghancurkannya dengan peluru," ucap Adrian, matanya berkilat bagai elang yang siap mencengkeram mangsanya. "Kamu mengincar jiwa Kirana dan korporasiku lewat celah hukum kotor. Maka aku akan memastikan, aku akan menghancurkanmu menggunakan hukum yang paling mutlak di dunia ini: kekuatan finansial."

Adrian menegakkan tubuhnya, berbalik menatap Rendra. "Rendra, hubungi komite bursa efek sekarang. Tarik seluruh saham simpanan pribadi keluarga Dirgantara di pasar sekunder. Lakukan *buyback* massal untuk menahan penurunan saham lima persen tadi."

"Tapi Adrian, itu akan menguras hampir empat puluh persen dana cair pribadimu!" seru Rendra terkejut.

"Lakukan saja!" perintah Adrian mutlak. Ia kembali menatap Danuar, yang kini senyumannya mulai memudar. "Aku beri kamu waktu dua puluh empat jam untuk menikmati dokumen obligasi palsumu itu, Danuar. Besok pagi, aku yang akan menyeretmu ke pengadilan atas kasus pemalsuan dokumen otentik dan pencemaran nama baik korporasi."

"Pemalsuan?" Danuar mendengus remeh. "Forensikmu sendiri bilang tanda tangan itu asli."

"Tanda tangannya mungkin asli, tapi klausul pasalnya adalah hasil rekayasa digital yang baru dimasukkan ke dalam kertas lama. Jangan dikira aku tidak tahu teknologi enkripsi lama yang digunakan adikmu," desis Adrian dingin. "Ayo, Rendra. Kita pergi."

Adrian melangkah keluar dari ruangan dengan jubah wibawanya yang kembali utuh. Ia tahu ia terluka karena kemarahan Kirana, namun ia tidak boleh lemah. Untuk melindungi Kirana dari keserakan Danuar, ia harus tetap menjadi singa yang berada di puncak rantai makanan.

---

Dua jam kemudian, di kantor hukum Hendra Wijaya yang terletak di kawasan Menteng, Kirana duduk di depan sebuah meja kayu ek besar yang dipenuhi dengan dokumen-dokumen asli Larasati Tekstil dari tahun 2011.

Hendra Wijaya menyerahkan secangkir teh hangat kepada Kirana sebelum membuka sebuah map tebal berwarna merah.

"Nona Kirana, apa yang dikatakan Danuar Baskoro tentang keterlibatan almarhum ayah Adrian memang ada benarnya, tapi dia memutarbalikkan fakta demi keuntungannya," ujar Hendra dengan wajah serius.

Kirana menghentikan cangkir tehnya di udara. "Maksud Anda?"

"Mendiang Baskoro Dirgantara—ayah Adrian—memang menerima dana lima ratus miliar dari Baskoro Senior. Tapi uang itu bukan untuk menyuap kurator demi menghancurkan Larasati Tekstil," Hendra mengeluarkan sebuah surat perjanjian asli yang memiliki stempel resmi negara. "Uang itu adalah dana talangan (*bailout*) yang dikirimkan ayah Adrian untuk mencoba menyelamatkan perusahaan ayahmu secara rahasia karena mereka berdua sebenarnya adalah sahabat lama sebelum persaingan pelabuhan memecah mereka."

Kirana membelalakkan matanya. Jantungnya berdegup kencang. "Lalu... kenapa perusahaan Ayah tetap bangkrut? Dan kenapa surat Ayah bilang Dirgantara yang menghancurkannya?"

"Karena ayah Rendy dan Danuar—Baskoro Senior—menghianati perjanjian itu di tengah jalan. Mereka memalsukan dokumen aliran dana itu seolah-olah itu adalah uang suap, lalu menunjukkannya kepada ayahmu. Ayahmu yang saat itu sudah sakit-sakitan, mengira sahabatnya sendiri (ayah Adrian) mengkhianatinya. Surat yang Nona temukan di Bali... ditulis oleh ayah Anda dalam kondisi termanipulasi oleh fitnah keluarga Baskoro lima belas tahun lalu."

Kirana membekap mulutnya sendiri. Air matanya kembali tumpah, namun kali ini bukan karena amarah, melainkan karena rasa bersalah yang teramat sangat menderu di dalam dadasnya.

*“Ya Tuhan... Mas Adrian...”* batin Kirana menjerit.

Ia teringat bagaimana beberapa jam lalu ia memuntahkan seluruh kata-kata kasarnya, menuduh Adrian sebagai anak dari pembunuh ayahnya, dan menolak dekapannya di ruang kerja Danuar. Padahal, keluarga Dirgantara justru pernah mencoba menjadi penyelamat yang gagal akibat kelicikan keluarga Baskoro.

"Danuar sengaja menyimpan rahasia ini untuk memecah kalian berdua," lanjut Hendra tegas. "Sebab dia tahu, jika Nona Kirana dan Tuan Adrian bersatu dengan memegang seluruh dokumen asli ini, kepemilikan sah atas tanah pelabuhan senilai triliunan rupiah itu akan jatuh mutlak ke tangan Anda berdua, dan menghancurkan dinasti bisnis Baskoro untuk selamanya."

Kirana bangkit berdiri dengan tubuh yang gemetar, namun matanya kini memancarkan tekad yang bulat. Kesalahpahaman ini harus diluruskan. Ia harus kembali ke sisi Adrian—bukan lagi sebagai wanita rapuh yang butuh dilindungi, melainkan sebagai sekutu sejati yang akan membantu suaminya menghancurkan belenggu masa lalu itu berkeping-keping.

---

Bersambung

1
Aera_yong
terimakasih ya teman-teman udah support novel aku😍😍
Afri
deg deg an baca nya ..👍👍
Afri
sama sama adu kekuatan 💪💪👍
Afri
seruu
Aera_yong
jangan lupa juga beri dukungan dan support novel ini yah🤭
Aera_yong
jangan lupa baca novel terbaru aku yah tentang The Four Elite
Batriani
gaya mafia......
Batriani
dendam membara
Batriani
seru juga baca nya ditengah derunya drachin dan drakor....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!