Saat hamil tujuh bulan, Kayla baru sadar bahwa pernikahannya hanyalah kebohongan.
Suaminya berselingkuh.
Mertuanya membencinya.
Dan rumah mewah yang dulu ia sebut rumah perlahan berubah menjadi neraka.
Padahal tanpa Kayla, Adrian Wijaya bukan siapa-siapa.
Dikhianati saat mengandung, dibuang ketika paling rapuh, Kayla memilih bangkit. Perlahan, wanita yang dulu diremehkan itu berubah menjadi sosok yang tak lagi bisa disentuh.
Kini saat semua pria mulai berlutut memperebutkan hatinya...
mantan suaminya justru kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Frenzy hrp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Taruhan Seorang Ibu
Aroma minyak telon bayi yang lembut perlahan mengusir bau obat-obatan khas rumah sakit di kamar VIP itu.
Kayla bersandar pada bantal yang ditumpuk, menatap lurus ke dalam boks bayi transparan di samping ranjangnya. Di sana, Arsen kecil sedang tertidur pulas. Tangan mungilnya yang kemerahan sesekali bergerak bebas, seolah sedang menyapa dunia baru yang asing ini.
Perlahan, sudut bibir Kayla terangkat. Sebuah senyuman tulus yang sudah berbulan-bulan hilang dari wajah pucatnya, akhirnya kembali hari ini.
"Arsen..." bisik Kayla lirih, suaranya masih agak serak.
Jemari kurusnya terulur, mengusap lembut pipi bayinya yang sehalus sutra. Rasa hangat menjalar ke dadanya. Rasa sakit pasca-operasi sesar di perut bawahnya mendadak menguap begitu saja setiap kali melihat dada kecil itu naik-turun bernapas.
Bagi Kayla, Arsen adalah mukjizat. Di saat dunianya runtuh dan dia didepak ke dalam badai oleh suaminya sendiri, malaikat kecil inilah yang menahannya agar tidak melompat ke jurang keputusasaan.
Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama.
Tok, tok.
Pintu kamar terbuka pelan. Seorang perawat masuk dengan senyum ramah, membawa sebuah nampan berisi obat dan selembar draf kertas di tangannya.
"Selamat pagi, Bu Kayla. Ini jadwal minum obatnya, ya," ucap perawat itu dengan sopan. Sebelum berbalik, dia meletakkan lembaran kertas tadi di atas meja nakas. "Oh iya, Bu, ini dari bagian administrasi bawah. Draf perkiraan biaya kebutuhan khusus untuk bayi prematur selama sebulan ke depan, sebagai panduan Ibu nanti setelah keluar dari rumah sakit."
"Ah... iya, terima kasih, Suster," jawab Kayla dengan senyum terpaksa.
Begitu pintu kamar kembali tertutup, pandangan Kayla langsung tertuju pada kertas tersebut. Dengan tangan yang sedikit gemetar, dia meraihnya.
Mata Kayla bergerak menyusuri barisan angka di kertas itu.
Biaya sewa inkubator harian, vitamin khusus pralahir, susu formula penguat imun bayi prematur, popok sensitif...
Setiap angka nol yang tertera di sana mendadak berubah menjadi monster yang mencekik leher Kayla. Total estimasi biaya hidup dan medis Arsen untuk satu bulan ke depan setara dengan biaya hidupnya selama setengah tahun dulu.
Napas Kayla tercekat. Jantungnya berdebu kencang, memicu rasa dingin yang menjalar hingga ke ujung kaki.
Dia reflex meraih ponsel jadulnya yang layarnya retak seribu di bawah bantal. Dia membuka aplikasi m-banking miliknya.
Layar berkedip sebentar, lalu menampilkan angka yang teramat kejam: Rp 0.
Adrian benar-benar telah memblokir semua akses keuangannya. Pria itu sengaja ingin memotong urat nadinya, membiarkannya mati kelaparan bersama anak yang dikandungnya.
Rasa panik yang luar biasa besar mulai menyerang dada Kayla.
Satu minggu. Devan Xavier memang sudah membayar lunas biaya rumah sakit ini untuk satu minggu. Tapi setelah tujuh hari itu habis, dia harus ke mana? Bagaimana dia bisa membeli satu kaleng susu untuk Arsen jika saldo di dompetnya nihil?
Selama tiga tahun ini, otak Kayla selalu dipaksa berpikir sebagai seorang istri. Bagaimana menghemat uang belanja agar mertuanya tidak mengamuk, atau bagaimana melayani Adrian. Dia selalu menaruh dirinya di tempat paling bawah.
Namun detik ini, saat melihat dada Arsen yang bergerak lembut, identitas sebagai istri itu mati total di dalam diri Kayla. Kini, yang tersisa hanyalah insting seorang ibu.
Aku gak boleh menyerah, batin Kayla, giginya mengetat menahan air mata agar tidak jatuh. Kalau aku lemah, Arsen mau makan apa?
Otak akuntansinya yang telah lama mati suri di dapur mansion Wijaya mendadak berputar otomatis. Dia harus mencari uang. Detik ini juga.
Dengan jemari yang gemetar, Kayla membuka kotak masuk Gmail di ponselnya. Dia menggulir layar ke bawah, mencari email dari Pratama & Co—firma finansial multinasional yang tiga tahun lalu pernah menerimanya sebagai Financial Analyst, pekerjaan impian yang dia lepas demi berlutut pada cinta palsu Adrian.
Kayla menatap nanar tulisan formal di email lama itu. Air matanya menetes, membiaskan kaca ponselnya yang retak.
Menyesali masa lalu tidak akan menghasilkan sekeping rupiah pun sekarang.
Kayla menarik napas panjang, mengabaikan rasa perih yang menyengat di jahitan perutnya. Dia menekan tombol Reply (balas).
Dengan tangan gemetar namun penuh tekad, Kayla mulai mengetik sebuah pesan:
Yth. HRD Pratama & Co,
Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya atas keterlambatan konfirmasi yang terjadi tiga tahun lalu karena alasan pribadi yang mendesak. Saat ini, saya ingin menanyakan apakah pihak firma masih memiliki lowongan, atau proyek kontrak kerja lepas (freelance) jarak jauh yang sekiranya bisa saya kerjakan?
Bersama email ini, saya lampirkan kembali portofolio dan draf analisis keuangan terbaik saya.
Hormat saya, Kayla Anindita.
Klik.
Tombol kirim ditekan.
Kayla mendekap ponsel retak itu di dadanya, memejamkan mata rapat-rapat di tengah keheningan kamar. Ini adalah taruhan nekatnya. Taruhan seorang ibu yang tidak lagi memiliki apa pun di dunia ini, selain otak geniusnya dan seorang bayi kecil yang harus dia hidupi.
Apakah sebuah firma raksasa mau melirik email balasan yang terlambat tiga tahun dari seorang ibu tunggal yang sedang sekarat di rumah sakit?