NovelToon NovelToon
Kuali Penelan Bintang

Kuali Penelan Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Starlope

Di Alam Fana yang kejam, bakat adalah segalanya. Lin Ye, seorang pemuda dengan meridian cacat, ditakdirkan menjadi pelayan seumur hidupnya. Namun, nasibnya berubah ketika darahnya tak sengaja membangkitkan sebuah relik berkarat: Kuali Penelan Bintang.

Kuali kuno ini bukan sekadar alat pelebur pil, melainkan artefak primordial yang mampu melahap esensi langit dan bumi, bahkan menelan energi bintang-bintang. Dalam perjalanan kultivasi yang lambat, penuh perhitungan, dan berdarah, Lin Ye perlahan mengubah fisik fananya, menembus kemustahilan, dan melangkah ke jalan keabadian.

Ini bukan kisah pahlawan instan, melainkan seorang pemuda biasa yang merangkak dari debu, menentang takdir surga, dan pada akhirnya, melahap seluruh kosmos untuk melindungi apa yang ia hargai. Langit kesembilan pun akan gemetar di bawah kualinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starlope, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ekspedisi Hutan Luar

Tiga dentuman lonceng perunggu yang berat bergema dari Puncak Penegak Hukum Sekte Pedang Awan Mengalir. Suara itu menyapu pelataran luar, membawa serta aura penekanan yang membuat burung-burung spiritual di pepohonan terdiam ketakutan.

Bagi para murid sekte, tiga dentuman lonceng berturut-turut berarti satu hal: Dekrit Tetua telah diturunkan, dan sebuah misi wajib berskala besar akan segera dimulai.

Di dalam gubuk kayunya, Lin Ye membuka mata. Hawa panas dan dingin yang saling berbenturan di dalam tubuhnya perlahan memudar, ditarik kembali ke dalam Kuali Penelan Bintang di Dantian-nya. Kultivasinya telah sepenuhnya stabil di Tingkat Keenam Alam Pengumpulan Qi. Fisiknya kini begitu padat hingga jika seorang manusia fana memukul dadanya dengan balok kayu, kayu itu akan hancur menjadi serpihan tanpa meninggalkan bekas merah sedikit pun di kulit Lin Ye.

Brak!

Pintu gubuknya ditendang hingga terbuka. Pengawas Zhao berdiri di ambang pintu, wajah gemuknya berkerut penuh kepanikan dan kekesalan.

"Bangun, Sampah! Jangan pura-pura mati!" bentak Pengawas Zhao sambil melemparkan sebuah keranjang anyaman bambu berukuran raksasa ke lantai gubuk. "Tetua Luar memerintahkan ekspedisi pembersihan ke Hutan Darah Besi. Rumor tentang Kultivator Iblis yang mencuri Binatang Iblis kita telah membuat para petinggi marah besar. Dua puluh murid elit sekte luar dikirim untuk menyelidiki, dan mereka butuh keledai pengangkut. Kau salah satunya."

Lin Ye menunduk, menyembunyikan kilatan tajam di matanya. Ekspedisi? Menyelidiki Kultivator Iblis? Secara teknis, mereka sedang mengumpulkan pasukan untuk memburu dirinya.

"Pelayan ini mengerti," jawab Lin Ye dengan suara serak, napasnya sengaja dibuat sedikit tersengal seolah ia masih sakit-sakitan. Ia memungut keranjang itu—yang nantinya akan diisi dengan puluhan kati tenda, perbekalan, dan ramuan—lalu berjalan tertatih-tatih mengekor di belakang Pengawas Zhao.

Di Alun-Alun Awan Tembaga, angin pagi meniupkan hawa yang membekukan. Dua puluh murid sekte luar yang terpilih berdiri berjajar dengan gagah. Mereka semua setidaknya berada di Tingkat Keempat Alam Pengumpulan Qi. Jubah putih mereka berkibar, dan pedang panjang tergantung di pinggang mereka, memancarkan aura arogansi khas kultivator.

Di posisi paling depan, memimpin rombongan tersebut, berdiri Su Yue. Ia tampak seperti dewi es yang turun dari kahyangan. Matanya yang sedingin pualam menyapu barisan tanpa emosi. Pedang tipis berwarna biru kristal yang disarungkan di punggungnya memancarkan hawa dingin yang membuat para murid pria di sekitarnya menelan ludah karena kagum sekaligus segan.

Di sudut lain barisan, berdiri Wang Hao. Wajah pemuda arogan itu tampak pucat pasi, dan keringat dingin sebesar biji jagung terus menetes dari pelipisnya. Sejak kejadian "serangan balik" saat pembagian teh, Dantian-nya retak akibat hawa Yin es yang menyusup masuk. Kultivasinya anjlok ke Tingkat Kedua, dan ia terus menerus dihantui rasa sakit yang menusuk tulang.

Wang Hao menyogok Diaken pamannya dengan seluruh harta simpanannya agar bisa ikut dalam ekspedisi ini. Tujuannya hanya satu: ia mendengar ada Rumput Yang Api Berdarah yang tumbuh di area dalam Hutan Darah Besi. Hanya rumput berelemen api ekstrem itu yang bisa menetralkan racun es di Dantian-nya. Jika ia tidak menemukannya minggu ini, fondasi kultivasinya akan hancur selamanya.

Lin Ye tiba di alun-alun bersama sepuluh pelayan fana lainnya. Mereka langsung dibebani dengan keranjang seberat dua ratus kati. Bagi pelayan biasa, beban ini akan membuat punggung mereka berdarah setelah beberapa mil. Namun bagi Lin Ye, beban ini seringan keranjang berisi kapas.

Meski begitu, ia sangat mahir berakting. Ia membiarkan bahunya merosot, mengatur pernapasannya menjadi kasar dan terputus-putus, dan dengan sengaja memaksakan Qi panas dari Kuali Bintang ke pori-pori wajahnya agar ia tampak berkeringat deras layaknya manusia yang kelelahan ekstrem.

"Ekspedisi dimulai! Bergerak!" perintah Su Yue dengan suara bening namun mengandung ketegasan mutlak.

Rombongan itu melesat meninggalkan sekte. Para kultivator menggunakan Teknik Langkah Angin ringan, meluncur di atas tanah berlumpur nyaris tanpa bobot. Di belakang mereka, para pelayan fana harus berlari sekuat tenaga, terengah-engah dan memaki nasib mereka di dalam hati agar tidak tertinggal.

Memasuki Hutan Darah Besi pada siang hari memberikan nuansa yang berbeda. Sinar matahari menembus rimbunnya dedaunan ek raksasa, namun udara tetap terasa lembab dan dipenuhi bau anyir darah. Suara burung tidak terdengar; hutan ini dikuasai oleh predator.

Setelah tiga jam berlari terus-menerus tanpa istirahat, setengah dari pelayan fana mulai berjatuhan ke tanah, mulut mereka mengeluarkan busa karena kelelahan.

Su Yue mengangkat tangannya, menghentikan barisan. "Kita istirahat setengah batang dupa. Jangan sampai keledai-keledai ini mati sebelum kita mendirikan kemah dasar," ucapnya dingin.

Para pelayan langsung menjatuhkan diri ke tanah berlumpur, merintih dan menangis tertahan. Lin Ye ikut menjatuhkan diri, duduk bersandar pada akar pohon besar, memejamkan mata, dan berpura-pura mengambil napas rakus.

Su Yue berjalan memeriksa barisan belakang. Mata Es Spiritualnya tanpa sadar memindai para pelayan. Saat pandangannya melewati Lin Ye, ia berhenti sejenak. Alis lentiknya sedikit berkerut.

Pelayan kurus ini... keringatnya membanjiri wajahnya, tubuhnya gemetar, dan penampilannya sangat mengenaskan, persis seperti pelayan lainnya. Namun, Mata Es Spiritual Su Yue yang peka terhadap ritme alam menangkap satu kejanggalan yang sangat kecil. Jantung pelayan ini berdetak dengan ritme yang terlalu stabil. Tidak ada ritme jantung manusia fana yang baru saja berlari sambil memikul beban dua ratus kati yang berdetak seberaturan itu. Detaknya sangat pelan, dalam, dan kuat.

Aneh, batin Su Yue. Apakah dia memiliki kelainan fisik bawaan? Atau... tidak, itu tidak mungkin. Dia tidak memiliki meridian sama sekali.

Su Yue menepis kecurigaannya. Fokus utamanya dalam ekspedisi ini bukanlah mencari Kultivator Iblis fiktif, melainkan mencari jejak energi Yin atau energi kosmik purba. Ia sangat yakin "Senior" misterius yang menyelamatkannya di tambang es beberapa malam lalu berhubungan dengan kejadian di hutan ini. Ia ingin melacak Senior itu, membalas budi, dan jika memungkinkan, memohon bimbingannya.

Di saat Su Yue berbalik menjauh, mata Lin Ye perlahan terbuka. Sebuah celah sempit memancarkan cahaya hitam yang tenang namun mematikan.

Su Yue memiliki intuisi yang tajam. Aku harus menekan detak jantungku lebih dalam lagi saat berada di dekatnya, batin Lin Ye memperingatkan dirinya sendiri.

Tiba-tiba, dari arah semak belukar lebat di sisi kanan rombongan, terdengar suara gerusan daun yang sangat kasar dan cepat. Hawa amis yang ribuan kali lebih pekat dari udara hutan menyapu hidung mereka.

"Hati-hati! Ada pergerakan kawanan binatang iblis!" teriak salah satu murid garis depan sambil mencabut pedangnya.

BAM! BAM! BAM!

Tiga batang pohon berukuran sepelukan orang dewasa tumbang secara bersamaan. Dari balik kabut debu kayu, meloncat keluar tiga ekor Babi Hutan Taring Baja. Ukuran mereka sebesar gajah kecil. Bulu mereka sekeras jarum kawat, dan sepasang taring melengkung di rahang mereka bersinar dengan Qi spiritual tanah yang keruh.

Ini adalah Binatang Iblis Tingkat Dua Awal! Kekuatan gabungan ketiganya setara dengan kultivator Tingkat Kelima puncak.

Kepanikan seketika melanda. Barisan murid luar langsung kacau balau.

"Bentuk formasi Tiga Bintang! Jangan biarkan mereka memecah barisan!" perintah Su Yue sambil menghunus pedang es-nya. Suhu di sekitarnya langsung anjlok.

Namun, babi hutan adalah makhluk yang mengandalkan serangan serudukan membabi buta. Seekor babi hutan terbesar dengan mata merah menyala langsung menundukkan kepalanya dan menyeruduk lurus ke arah sayap kanan, tempat para pelayan dan murid terlemah berada.

Dan di situlah Wang Hao berada.

Wang Hao yang hanya memiliki kekuatan Tingkat Kedua saat ini, merasa jiwanya terbang dari tubuhnya saat melihat monster seberat ribuan kati itu melaju ke arahnya layaknya batu gunung yang jatuh. Kakinya lemas. Alih-alih menghindar ke samping, kepengecutan menutupi akal sehatnya.

Ia melihat Lin Ye yang sedang berjongkok tak jauh di belakangnya. Sebuah ide licik dan penuh keputusasaan melintas di benaknya. Wang Hao mundur selangkah, lalu menendang keranjang perbekalan yang sangat berat ke arah Lin Ye, berniat membuat Lin Ye terjatuh di jalur serudukan babi hutan itu sebagai tameng daging.

"Mati kau, Sampah!" desis Wang Hao dengan mata melotot liar.

Lin Ye melihat keranjang itu melayang ke arahnya, dan di belakangnya, taring babi hutan itu berjarak kurang dari tiga tombak. Di mata Lin Ye yang telah mencapai Tingkat Keenam, gerakan ini sangat lambat.

Jika ia hanya manusia fana, keranjang itu akan menimpanya, mencegahnya lari, dan babi hutan itu akan menusuk tubuhnya hingga hancur berkeping-keping.

Lin Ye tidak panik. Wajahnya sedingin es abadi. Ia menjatuhkan dirinya ke tanah seolah terpeleset lumpur karena panik. Namun, saat tubuhnya menyentuh tanah, jari telunjuk dan tengah kanannya menjepit sebuah batu kerikil yang runcing.

Meminjam tenaga dari Kuali Penelan Bintang, Lin Ye menyentilkan batu kerikil itu menggunakan otot jarinya tanpa menggunakan seutas Qi pun.

Syuuut!

Batu kerikil itu melesat lebih cepat dari anak panah, menembus udara dan menghantam titik lemah di pergelangan kaki kanan Babi Hutan Taring Baja tersebut dengan kekuatan tembus ribuan kati.

KRAAAK!

Tulang pergelangan kaki kanan binatang iblis itu hancur berantakan dari dalam. Kehilangan keseimbangan saat sedang berlari dengan kecepatan penuh, tubuh babi hutan raksasa itu langsung oleng ke arah kanan.

Arah kanan, di mana Wang Hao baru saja berdiri tegak setelah menendang keranjang.

Mata Wang Hao terbelalak lebar melihat monster yang tadinya mengarah ke Lin Ye, tiba-tiba membelok tajam ke arahnya tanpa peringatan sama sekali. Ia bahkan tidak sempat berteriak.

DUAAGH!

Tubuh samping Babi Hutan itu menghantam telak tubuh Wang Hao. Suara retakan tulang rusuk yang patah terdengar mengerikan menutupi keributan di sekitarnya. Wang Hao memuntahkan kabut darah yang tebal ke udara, tubuhnya terpental sejauh sepuluh tombak bagai layang-layang putus, menabrak batang pohon raksasa sebelum jatuh layu layaknya tumpukan kain lap basah.

Babi hutan itu sendiri jatuh berguling-guling karena kakinya yang patah, menerjang semak berduri sebelum akhirnya berhenti, meronta-ronta kesakitan.

Semua itu terjadi dalam waktu tiga kedipan mata.

Tak jauh dari sana, Su Yue baru saja membekukan kepala babi hutan kedua dengan tebasan pedang es-nya yang menawan. Saat ia menoleh, ia melihat Wang Hao sudah tergeletak sekarat, dan babi hutan ketiga meronta-ronta dengan kaki hancur di dekat area para pelayan.

Lin Ye masih berbaring di lumpur, meringkuk dengan tangan menutupi kepalanya, memancarkan postur manusia fana yang sedang ketakutan setengah mati. Tidak ada seorang pun—bahkan Su Yue sekalipun—yang bisa mengaitkan hancurnya kaki monster kulit baja itu dengan jentikan kerikil dari seorang pelayan yang meringkuk ketakutan di tanah.

"Wang Hao!" salah satu murid berteriak panik, berlari memeriksa kondisi pemuda arogan itu. "Kakak Senior, tulang dada Wang Hao hancur, dan Dantian-nya yang retak kini pecah total! Dia... dia cacat permanen!"

Di balik kedua lengannya yang kotor oleh lumpur, sudut bibir Lin Ye tertarik ke atas membentuk senyum yang sangat tipis dan kejam.

Kecelakaan kecil di hutan, batin Lin Ye dengan nada mengejek. Karma memang datang lebih cepat jika kau memberinya sedikit dorongan, Kakak Senior Wang.

Namun, Kuali Bintang di Dantian Lin Ye tiba-tiba bergetar gelisah. Perhatian Lin Ye langsung tersentak. Getaran ini bukanlah pertanda lapar. Kuali purba itu memberikan sinyal peringatan. Ada aura yang jauh lebih mengerikan, jauh lebih mematikan, yang diam-diam mengamati keributan ini dari kedalaman bayang-bayang Hutan Darah Besi.

Sesuatu yang membuat naluri pembunuh Lin Ye merinding.

1
Aman Wijaya
gaaas pooolll Thor menarik ceritanya semoga sampai tamat ceritanya
Aman Wijaya
lanjut terus gaaas njeduk Thor semangat
Aman Wijaya
jadilah kuat su Yue
Imam Abiyu Dzaky
teruss lanjutkan
Andira
mmm
Aman Wijaya
mantab Thor lanjut terus
Wy Pereret
lanjut
SENJA
waaah
Andira
👍
Aman Wijaya
markotop top top lanjut terus
Aman Wijaya
gaaas terus Thor semangat semangat semangat
Aman Wijaya
mantab su Yue
Aman Wijaya
mantab Lin Ye
Aman Wijaya
lanjut terus Thor tambah lagi updatenya 💪💪💪
Aman Wijaya
gaaas njeduk terus Thor
Aman Wijaya
mantab Thor semangat semangat
Aman Wijaya
mantab Thor lanjut
Aman Wijaya
top top markotop lanjut
Aman Wijaya
lanjut terus semangat semangat terus Thor
Aman Wijaya
gaaas njeduk Thor lanjut terus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!